Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
28


__ADS_3

" Tolong jaga ibu ya, Pak." Ucap Bi Sumi penuh harap.


" Baik Bu. Jika si aden tanya. Bilang saja ibu aman sama saya." Ujar Pak Mamat.


" Terima kasih."


Dengan menaiki taksi berwarna biru. Pak Mamat membawa Bu Fitri menjauh. Dari kejauhan Mereka di awasi oleh dua orang yang selalu mengintai Bu Fitri. Tetapi sayangnya mereka kurang pintar. Nathan telah menyiapkan rencana untuk membawa pergi ibunya. Agar lolos dari pengawasan orang suruhan Sintia.


Ketika taksi yang di tumpangi Bu Fitri dan Pak Mamat meluncur. Tiba- tiba ada banyak taksi serupa menyalip kendaraan yang di tumpangi orang suruhan Sintia. Mereka mencoba berusaha untuk mengikuti tetapi sialnya. Mereka mengikuti taksi yang salah.


Nathan keluar di lantai enam dan tidak disadari para pengawal Sintia. Nafasnya masih tersengal mencoba membuka setiap pintu kamar. Berharap ada kamar yang tidak terkunci untuknya bersembunyi.


" Cklek!"


Nathan tersenyum sumringah mendapat kamar tidak terkunci.


" Heh! Siapa kamu!" Teriak seorang wanita dan seketika sebuah bantal meluncur ke arah Nathan


Nathan mendekatkan jari telunjuknya di bibir untuk meminta wanita itu diam. Jantungnya berdegup cepat ketika mengintip dari lubang pintu siapa yang lewat. Benar saja. Pengawal Sintia sedang berkeliling mencarinya.


" Jika mereka mencariku. Katakan aku tidak di sini. Nyawaku ada di tanganmu." Ujar Nathan dan segera bersembunyi dalam lemari yang ada di kamar tersebut.


Dengan wajah bingung. Wanita itu hanya mengangguk patuh dan benar saja. Pintu kamarnya diketuk.


Dengan takut dan penuh keraguan dia melangkahkan kakinya menuju pintu. Terlihat dua orang berbadan besar dan sangar di sana. " Apa Nona melihat pria ini?" Tanyanya tegas sambil menunjukkan foto yang ada di ponselnya.


Wanita itu tampak memperhatikan pria tampan yang ada di foto tersebut dan kemudian dia menggelengkan kepalanya.


" Aku tidak kenal. Maaf ya aku baru saja tiba di sini." Ujarnya sesantai mungkin.


" Apa itu benar?" Selidik pria yang satu lagi.


" Ya. Apa aku terlihat sedang berbohong?" Tantang wanita itu sambil berkacak pinggang.


" Baiklah kalau begitu. Terima kasih."


Wanita itu segera mengunci pintu kamarnya ketika dua pria itu pergi dari kamarnya. Kemudian dia mengetuk pintu lemari. " Kamu sudah aman." Ujarnya.


Perlahan Nathan membuka pintu lemari itu dan menarik nafas lega. " Terima kasih." Ujar Nathan lega.


" Minumlah." Ujar wanita itu memberikan air mineral dalam botol kemasan.


Nathan meneguk habis air itu. Ya, Sejak tadi dia memang belum minum di tambah lagi dia berlari menuruni anak tangga dari lantai 23 sampai di lantai ini.


" Nabila." Gadis itu menyebut namanya dan mengulurkan tangannya.


" Nathan." Nathan menyebut namanya namun tidak menyambut jabatan tangan gadis itu.

__ADS_1


Gadis itu hanya tersenyum tipis mendapati sikap Nathan yang cuek. " Jadi kenapa mereka mencarimu?"


" Ada masalah kecil." Jawab Nathan tak ingin menceritakan masalahnya dengan orang yang baru saja dikenalnya.


" Aku sudah menyelamatkanmu. Tapi kamu tidak percaya denganku. Kamu itu unik."


" Bukan tidak percaya. Aku tidak ingin melibatkanmu dalam masalahku." Ujar Nathan. " Aku harus pergi. Mereka pasti kembali lagi."


" Kita tunggu saja mereka." Cegah wanita itu.


" Apa? Jangan gila." Nathan tidak setuju.


" Baiklah. Aku akan membantumu keluar dari sini." Ujar Nabila dan dengan santainya dia berjalan keluar.


" Kita lewat tangga saja. Tidak perlu. Kita naik lift."


" Ayolah. Tenagaku belum pulih." Keluh Nathan yang masih merasa tubuhnya lelah.


" Sudah. Ikuti saja kataku." Paksa Nabila.


Ketika pintu lift terbuka. Nathan terkejut karena di dalamnya ada Sintia dan ke empat pengawalnya.


" Tangkap dia!" perintah Sintia marah pada pengawalnya yang menurutnya sangat bodoh.


Ketika mereka ingin menangkap Nathan. Seketika itu juga tangan Nabila menepis tangan mereka.


Perkelahian sengit terjadi antara pengawal Sintia vs Nathan dan Nabila. Keadaan mengharuskan Nathan ikut berkelahi. Tak mungkin kan dia membiarkan wanita melindunginya seorang diri.


Dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Keempat pengawal Sintia tumbang.


" Jangan ikut campur urusanku!" Maki Sintia marah.


Nabila menyeringai " Dia bukan lawanmu."


" Dia bukan lawanku. Tapi dia kekasihku." Sintia berteriak tak mau kalah.


Nabila menatap Nathan yang sedang memperhatikan mereka dengan tatapan bingung.


" Jika mau bawa dia. Langkahi aku!" Tantang Nabila.


Sintia yang memang tidak jago bela diri hanya menghentakkan kakinya kesal melihat Nabila membawa Nathan memasuki lift.


" Bodoh! Kalian Semua Bodoh!" Teriak Sintia geram.


Dering ponsel Sintia terdengar hingga menghentikan umpatan wanita itu. " Ada apa?" Tanyanya malas.


" Kami salah mengikuti taksi, Nona. Maaf!" Ujar pria di sebrang sana dengan suara gemetar.

__ADS_1


" Apa!!!" Pekik Sintia dengan mata melototnya. " Bawa Senja ke hadapanku!" Perintahnya lagi.


" Kamu pikir bisa lepas dariku, Nathan." Gumam Sintia licik.


Nathan kembali sibuk menelepon Reza. Sejak tadi dia mencoba melakukan panggilan itu. Tapi tidak terjawab juga. " Sial!!" Maki Nathan kesal.


" Menghubungi siapa?"


" Seseorang." Jawab Nathan singkat dan melakukan panggilan lagi.


" Za." Akhirnya terjawab.


" Maaf, Pak. Tadi saya sedang mandi." Ujar Reza mengungkapkan alasannya.


" Iya. Tolong bawa pergi Senja. Dia dalam bahaya." Perintah Nathan.


Reza mengerutkan dahinya tak mengerti.


" Kenapa?"


.


" Saya tidak bisa menjelaskan sekarang. Tapi bisakah kamu membawa Senja pergi sekarang juga?!"


"Baik, Pak." Reza langsung menutup panggilan telepon itu.


Secepat kilat Reza berpakaian dan dengan segera dia menyambar kunci mobilnya. Melesatkan mobilnya menembus jalanan yang ramai. Beruntung tidak terkendala macet. Dengan gugup Reza menuju rumah Senja dan berpikir mau di bawa kemana Senja .


" Lepaskan!" Teriakan Senja terdengar dari luar.


Reza yang baru saja tiba di depan rumah Senja berhambur masuk begitu saja. Terlihat Senja tengah meronta keras karena di seret paksa oleh pria berbadan besar.


" Lepaskan calon istriku!" Teriak Reza dan memukul pria berbadan besar itu dengan kursi yang ada di teras Senja.


" Kurang ajar!" Teriaknya marah dan membalas memukul Reza. Tubuh Reza terhuyung begitu saja. Pukulan telak mengenai tulang pipi Reza memberikan lebam di wajahnya.


" Reza tolong aku!" Pinta Senja lirih. Reza yang baru saja bangkit kembali tersungkur karena kembali menerima pukulan di perutnya.


Dalam keadaan tak berdaya. Reza menyaksikan wanita yang dicintainya dibawa pergi di depan matanya.


" Senjaaaa!!" Panggil Reza putus asa.


Reza memukul keras lantai rumah Senja. Merasa dirinya tidak berguna karena gagal menyelamatkan Senja.


" Mama mana, Om?" Tanya Gio yang baru saja keluar dari persembunyiannya.


Reza menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya Gio yang ketakutan tengah memeluk pegangan kursi.

__ADS_1


" Sini sayang. Sementara Gio ikut Om dulu ya." Ujar Reza dan memeluk Gio erat. Seketika tangis Gio pecah dia mengerti jika ibunya dibawa orang berbadan besar itu entah kemana.


__ADS_2