
Berkali- kali Senja menarik nafas panjang agar rasa nyeri pada perutnya berkurang. Seharusnya Senja memang belum diperbolehkan untuk berjalan keluar kamar. Kondisi kandungannya belum sepenuhnya stabil. Rasa penasaran yang teramat besar membuatnya berbuat nekat. Itu semua juga karena dia ingin membuktikan ucapan Virni padanya. Tetapi bukan bukti perselingkuhan yang didapat Senja. Melainkan cerita Nathan tentang sikap Virni padanya.
' Cklek'
Senja buru- buru menghapus air matanya dan berpura- pura sibuk dengan ponselnya ketika Nathan baru memasuki ruangannya.
" Bagaimana kondisi Randy?"
" Sudah lebih baik. Demamnya juga sudah mulai turun." Jawab Nathan dan duduk di kursi samping ranjang Senja.
" Syukurlah." Ujar Senja dengan senyum getir. Perasaan bersalah karena memaksa suaminya menerima kehadiran sahabatnya kembali bergelayut.
" Kamu menangis?" Tanya Nathan melihat mata sembab Senja.
" Iya. Tadi aku melihat video tentang anak kecil yang dibuang orang tuanya. Kasihan dia." Ujar Senja berbohong.
Nathan tersenyum menanggapi dan mengelus lembut pucuk kepala Senja. " Kamu sadar tidak. Kalau semenjak hamil perasaanmu lebih sensitif."
Senja mengangguk.
" Jangan mengkhawatirkan hal- hal yang kecil ya. Kasihan anak kita."
" Iya."
" Masalah perceraian Virni. Jika kamu masih ingin membantu. Aku akan menyewakannya pengacara." Ujar Nathan agar dapat melegakan hati istrinya.
Senja tersenyum senang. " Tidak perlu. Kamu benar. Aku tidak berhak ikut campur masalahnya." Ujar Senja lirih.
" Jangan menangis lagi sayang. Aku tidak mau kamu sedih." Nathan mengecup kening Senja. " Aku akan lakukan apapun asal membuatmu bahagia."
Senja semakin menangis penuh haru. Merasa betapa bodohnya dia dengan mudahnya terhasut jika Nathan dan Nabila mempunyai hubungan khusus.
" Gio bagaimana, Sayang?"
" Dia baik. Mungkin besok dia baru bisa menjenguk kamu. Besok dia libur." Ujar Nathan dan terus memandang Senja dengan tatapan hangat.
*****
Setelah mendapat pesan dari Senja. Virni segera meluncur ke rumah sakit padahal hari sudah menunjukkan pukul delapan malam. Virni merasa sedikit aneh. Namun dia berpikir sangat suntuk berada di rumah seharian lagi pula. Malam ini dia akan berjaga dengan Nathan.
" Bagaimana keadaanmu Senja?" Tanya Virni ketika masuk ke ruangan Senja.
" Jauh lebih baik." Jawab Senja masih bersikap biasa.
" Dimana suamimu?" Tanya Virni yang tidak melihat sosok Nathan.
__ADS_1
" Sedang menjenguk sahabatnya."
" Calon suami Nabila?" Tanya Virni.
Senja mengangguk.
" Apa kamu tidak curiga. Nabila dan Nathan pasti bertemu dan ini sudah cukup malam Senja." Ujar Virni kembali menghasut Senja.
Senja hanya tersenyum menanggapi.
" Biar aku susul mereka." Ujar Virni.
" Tidak perlu." Sahut Nathan yang sebenarnya sejak tadi dia sudah datang dan sedikit menguping pembicaraan Virni dengan Senja.
Virni sedikit gelagapan.
" Kenapa kamu kesini? Bukankah tadi kamu sakit kepala hebat?" Tanya Nathan dan sedikit menyindir Virni.
" Senja memintaku menjaganya malam ini." Jawab Virni. " Setelah istirahat. Sakit kepalaku pulih."
" Oh." Nathan menanggapi dengan cuek dan duduk pada sofa.
Tubuhnya yang lelah membuat Nathan mulai mengantuk. Nathan membaringkan tubuhnya pada sofa. Hanya hitungan menit. Nathan sudah terlelap. Senja yang melihat Nathan sudah terlelap hanya tersenyum tipis. Senja perlahan ikut memejamkan matanya.
Melihat Senja benar- benar terlelap. Perlahan Virni berjalan mendekati Nathan. Di pandangnya lekat wajah Nathan. Virni semakin mengagumi sosok Nathan. Senja sangat beruntung. Nathan bukan hanya baik dan lembut. Dia juga sangat tampan. Karismanya sangat kuat hingga orang enggan berpaling dari menatap wajahnya. Sorot matanya yang teduh namun seketika bisa berubah menjadi tajam. Virni terpaku melihat bibir Nathan. Perlahan dia mendekati bibirnya pada bibir Nathan.
Jarak mereka hanya tinggal satu sentimeter. Nathan tiba- tiba terbangun dan segera mengelak.
" Mau apa kamu?" Tanya Nathan sambil melotot tajam pada Virni.
Virni yang ketahuan ingin mencium Nathan menjadi canggung dan gugup. " Tadi ada nyamuk." Jawabnya asal.
Nathan terus melihat Virni tajam. Dia berpindah pada kursi yang di duduki Virni tadi. Dilihatnya istrinya masih tertidur. Nathan kembali duduk dan menempelkan kepalanya pada tepi ranjang Senja bertumpu pada kedua tangannya. Matanya yang masih terasa lelah. Kembali membuatnya mudah terlelap.
Virni berdecak kesal dan menghentakkan kakinya lalu keluar dari ruangan Senja. Tak sanggup rasanya melihat Nathan begitu mencintai istrinya.
Hari telah pagi. Tidak biasanya Nathan masih terlelap. Senja sedikit terkejut melihat suaminya tertidur di sampingnya dalam posisi duduk.
" Sayang." Panggil Senja sambil mengelus lembut pucuk kepala Nathan.
" Emhh.." Nathan mengucek matanya. " Maaf. Aku lelah sayang."
Senja tersenyum. Tak selang beberapa lama. Dokter dan suster datang memeriksa Senja. Setelah selesai memeriksa. Nathan dan Senja berkali- kali mengucap rasa Syukur mereka karen akhirnya Senja diperbolehkan pulang hari ini. Nathan langsung mengurus administrasi Senja agar bisa cepat pulang.
" Apa kamu lihat Virni?" Tanya Senja ketika menyadari sejak tadi Virni menghilang.
__ADS_1
" Tidak. Mungkin dia sudah pulang." Jawab Nathan sambil membereskan barang- barang Senja ke dalam tas.
Setelah semuanya rapi. Nathan menggendong Senja dan mendudukkannya pada kursi roda yang dia beli. Dokter masih menyarankan agar Senja jangan banyak berjalan dulu hingga seminggu ke depan.
" Maafkan aku jadi merepotkan mu." Ujar Senja.
" Sama sekali tidak sayang." Nathan mendorong kursi roda istrinya.
" Aku mau jenguk Randy."
" Baiklah." Ujar Nathan dan segera menuju kamar Randy.
" Cepatlah sembuh. Aku lelah terus bolak balik ke rumah sakit." Terdengar suara Nabila sedikit mengomel pada Randy.
" Orang sakit jangan di marah." Sindir Nathan yang baru saja masuk ke kamar Randy dan terlihat Nabila tengah menyuapi Randy makan.
" Senja sudah boleh pulang?" Tanya Nabila dengan wajah senang karena melihat Nathan menyandang sebuah tas besar.
" Alhamdulillah. Sudah." Jawab Senja dengan senyumnya. " Bagaimana keadaanmu, Ran?"
" Sudah lebih baik. Walaupun dia galak. Tetapi sangat telaten mengurusku. Bahkan dia tidak pernah pulang." Jawab Randy sambil memuji Nabila.
" Cepat sembuh. Kasihan Nabila harus mengurus bayi sepertimu." Ledek Nathan pada Randy.
Randy melempar Nathan dengan kulit jeruk yang masih tergeletak manis pada nakas samping ranjangnya.
Setelah berbincang beberapa saat. Nathan dan senja pamit pulang. Nathan sengaja tidak memberikan kabar pada ibunya dan Gio. Dia ingin memberikan kejutan untuk mereka.
Nathan memarkirkan mobilnya dan mengeluarkan kursi roda juga mengambil tasnya. Pak Mamat yang melihat bosnya menyandang tas besar segera menghampiri dan mengambil tas itu dari Nathan.
" Biar saya aja, Den."
Nathan melemparkan senyum dan memberikan tas itu pada Pak Mamat dan segera menghampiri Senja yang masih duduk di kursi penumpang. Senja hanya menuruti perintah Nathan yang melarangnya turun dari mobil. Dia ingin menggendong istrinya.
" Pak tolong sekalian bawa kursi rodanya ya." Ucap Nathan pada Pak Mamat yang terlihat senang melihat Senja telah pulang.
Nathan memasuki rumahnya dan
" Mama..." Gio yang asik menggambar langsung bersorak girang melihat Senja digendong Nathan.
Nathan mendudukkan Senja pada sofa di ruang keluarga. Bu Fitri dan Virni yang sibuk di dapur langsung menuju ruang keluarga ketika mendengar suara Gio berseru senang. Bu Fitri ikut tersenyum senang melihat Senja sudah kembali ke rumahnya.
" Alhamdulillah." Bu Fitri menghampiri Senja dan mengecup kening menantunya. " Ibu senang sekali." Ucap Bu Fitri penuh haru.
Berbeda dengan Virni yang melihat tak suka dengan kepulangan Senja yang cepat. Dia belum menjalankan rencananya.
__ADS_1