
Nathan dan Nabila sontak menoleh kearah sumber suara tersebut dan terlihat Randy yang menatap mereka marah. Rahangnya mengeras dan matanya menyorot tajam menatap Nathan tak suka. Randy menepuk kasar bahu Nathan dan sedikit meremasnya.
" Kita bicara di luar!" Ucap Randy tajam pada Nathan dan segera menarik tangan Nabila membawanya serta.
Nathan yang sudah mengira pasti ada salah paham. Segera menyusul Randy dan Nabila.
" Dia istriku, Nath!" Ucap Randy tegas.
" Lantas?"
" Tega kamu menghamilinya!" Desak Randy lagi.
" Apa aku sebejad itu?!" Sanggah Nathan.
" Dia istriku!" Teriak Randy dan melayangkan tinjunya ke arah wajah Nathan. Namun dengan cepat Nathan dapat mengelaknya.
" Bisakah kamu tenang?" Ucap Nathan enggan untuk memberi perlawanan pada Randy.
" Argh!" Randy terus saja berusaha melayangkan tinjunya ke arah Nathan. Namun berkali- kali Nathan mengelak dan menangkis pukulan Randy hingga tak ada satupun yang berhasil mendarat di wajah ataupun perutnya.
" Dengarkan aku dulu Randy!" Ucap Nathan berusaha agar Randy menghentikan serangannya.
Namun bukannya Randy menjadi tenang. Dia semakin menyerang Nathan dengan brutal. Nathan yang mulai kewalahan menghalau serangan Randy. Kini dia berusaha mengunci tangan Randy agar berhenti menyerang. Dengan cepat Nathan memelintir tangan Randy ke belakang dan mencengkeram kuat bahu Randy.
" Apa kamu pikir aku melakukan itu pada istrimu?!" Nafas Nathan sedikit tersengal- sengal.
" Jika itu bukan anakmu. Kenapa Nabila malah memberitahumu dulu jika dia hamil?!" Randy masih bersikeras dengan apa yang ada dipikirannya.
" Dia juga tidak mau jauh darimu?! Dia juga akan mencarimu! Itu bukti kuat kalau anak yang di kandungnya adalah anakmu!" Racau Randy yang hanya mendengarkan separuh percakapan Nathan dan Nabila.
Nathan melihat sekilas ke ara Nabila yang terlihat takut. Nathan langsung melepaskan Randy dan menatap Randy tajam.
" Apapun yang keluar dari mulut istrimu. Bukan urusanku! Yang perlu kamu tau. Anak itu bukan anakku. Sedikitpun aku tidak pernah menyentuh istrimu!" Ucap Nathan kesal sambil menunjuk wajah Randy dan meninggalkan Randy juga Nabila.
Nathan enggan terlalu banyak menjelaskan. Randy sudah dewasa dan sudah bisa menilai situasi yang ada.
__ADS_1
Nabila tertunduk saat matanya bertemu dengan mata Randy. Perlahan Randy menghampiri Nabila dan mengangkat wajah wanita itu agar menatap wajahnya. Air mata tumpah begitu saja ketika kedua manik mata mereka saling bertemu.
" Bisa kamu jelaskan sayang?" Ucap Randy lembut pada Nabila. Kemarahannya sirna ketika mata elang Nathan menyapu wajahnya. Mata elang yang selalu tersirat jika sang pemilik benar- benar marah.
" Aku berani bersumpah. Ini adalah anakmu, Ran." Ucap Nabila. " Nathan sama sekali tidak seperti yang kamu tuduhkan." Isak tangis Nabila mengiringi ucapannya.
" Kenapa kamu ingin mencari Nathan? Apa kamu masih mencintainya?" Desak Randy. Nabila kembali tertunduk. " Dia masih ada di hatimu?" Cecar Randy lagi.
Nabila hanya mengangguk kecil.
" Pernikahan kita sudah hampir enam bulan. Kenapa masih ada lelaki lain di sana." Ucap Randy kecewa.
" Aku juga gak mau begini, Randy. Tapi semakin aku ingin melupakan. Semakin jelas wajahnya muncul."
" Aku harus apa agar kamu bisa melupakan dia?!"
Nabila kembali menggelengkan kepalanya. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Tidak biasanya cintanya pada lelaki bisa sedalam ini.
" Aku tidak akan menyentuhmu lagi, Nabila selama ada Nathan di sana." Ujar Randy dengan nada kecewa.
Nabila hanya diam tak bergeming mendengar ucapan Randy. Dia sangat mengerti jika Randy kecewa padanya. Pernikahan ini. Bukan hanya menyiksa dia. Tetapi secara tidak langsung menyakiti hati Randy yang begitu tulus mencintainya. Nabila hanya diam dan menangis.
*****
Randy merapikan bajunya ke dalam koper. Dadanya terasa sesak karena pengakuan istrinya yang masih mencintai sahabatnya. Perhatiannya dan semua usahanya untuk mengambil hati Nabila berakhir sia- sia. Randy begitu terluka. Seharusnya tadi saat dia mendengar percakapan Nabila dan Nathan di telepon tidak dia tanggapi. Atau seharusnya dia tidak mengikuti Nabila secara diam- diam bertemu dengan Nathan. Randy merasa jika keputusannya saat itu adalah sebuah kesalahan besar. Jika itu semua tidak dia lakukan. Tidak akan mungkin ada luka menganga begitu lebar di hatinya.
" Kamu mau kemana?" Tanya Nabila begitu sampai di kamarnya melihat Randy mengepak semua pakaiannya.
" Pernikahan ini salah. Aku terlalu memaksamu. Bukan hanya kamu yang terluka. Aku juga, Nabila." Ujar Randy dengan nada putus asa.
" Aku sedang hamil anakmu, Ran."
" Aku tau. Itulah yang membuatku semakin terluka. Aku akan pergi."
" Aku butuh kamu, Ran." Nabila memohon.
__ADS_1
" Kamu hanya butuh Nathan. Aku akan memintanya menjagamu." Ucap Randy dan segera keluar dari kamar begitu semua barang- barangnya telah rapih.
" Mau kemana kamu?" Tanya Pak Danny terlihat bingung melihat Randy membawa koper besar.
" Aku titip Ryan sementara, Kek." Ucap Randy dan mencium punggung tangan Pak Danny.
" Jika ad masalah. Bisa dibicarakan baik- baik." Pak Danny menahan tangan Randy dengan masih menggenggamnya.
" Tidak bisa, Kek. Nabila masih menyimpan pria lain di hatinya." Ucap Randy tajam sambil melirik Nabila yang berdiri menatapnya di depan pintu kamar mereka.
" Bukankah kamu sudah tau hal itu."
" Iya. Aku pikir akan segera menghapus dia dari hati istriku. Tapi sepertinya tidak sama sekali. Bahkan istriku tetap akan mencari pria itu jika dia menghilang dari hidupnya."
Pak Danny menepuk- nepuk bahu Randy pelan. " Sabarlah. Biarkan kakek bicara dengan Nabila." Ujar Pak Danny sambil menatap Nabila sekilas.
" Aku harus pergi."
" Kembalilah ke kamar. Jangan pernah meninggalkan rumah ini. Apalagi meninggalkan cucu kakek." Ucap Pak Danny sedikit menegaskan kalimatnya.
Randy hanya diam dan tanpa bicara kembali ke dalam kamarnya. Pak Danny menatap Nabila lekat tanpa bicara dan duduk pada sofa besar hitam. Tanpa diperintah oleh Pak Danny. Nabila menghampiri kakeknya dan duduk disamping Pak Danny.
Nabila tertunduk. Tak berani menatap wajah Pak Danny yang sejak tadi hanya diam. Nabila meremas ujung bajunya dan sesekali mengusap hidungnya.
" Kamu tau kan apa kesalahanmu?" Tanya Pak Danny dengan suara beratnya.
Nabila mengangguk masih dengan wajah tertunduk.
" Lupakan Nathan. Mau tidak mau. Suka tidak suka."
" Aku sudah berusaha, Kek." Jawab Nabila.
" Kuatkan lagi usahamu. Fokus pada kebahagiaanmu."
" Kek."
__ADS_1
" Jika kamu tidak melakukan itu. Terpaksa. Kakek akan melenyapkan dia." Ancam Pak Danny dan segera meninggalkan Nabila yang menatap Pak Danny tak percaya.
" Kek. Dia gak salah apa- apa!" Ujar Nabila setengah berteriak. Pak Danny tampak tak menghiraukan. " Jangan ganggu Nathan, Kek. Aku mohon."