Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
21


__ADS_3

" Apa sudah selesai?" Tanya Rena tak sabar ketika melihat suaminya pulang.


Randy tak langsung menjawab pertanyaan Rena. Dengan wajah murung dia terus berlalu memasuki rumah meninggalkan istrinya yang terdiam di samping mobilnya.


" Kenapa kamu diam?" Rena masih bertanya tidak sabar dengan jawaban suaminya.


Randy menghembuskan nafasnya kasar juga mengusap wajahnya kasar. Pikirannya benar- benar kusut saat ini.


" Jawab Randy!" Desak Rena kali ini dia mengguncang lengan Randy.


" Kita harus menyiapkan uang ganti rugi untuk Sintia." Ujar Randy lesu.


" Uang darimana?" Rena bertanya dengan intonasi tinggi. Matanya terbelalak marah.


" Nathan sudah punya calon istri. Gak mungkin aku paksa dia buat ninggalin calon istrinya." Kini Randy membentak Rena. Dia bingung harus berbuat apa. Semua yang dia lakukan sekarang ini hanyalah semata karena desakan istrinya.


" Kamu harus paksa dong. Nathan harus bantu kita!" Suara Rena tak mau kalah lantang.


" Harusnya bukan Nathan yang bantu aku. Harusnya kamu!" Tuding Randy kesal dengan sikap istrinya yang selalu mau enaknya saja.


" Enak aja kamu! Aku gak akan jual atau gadaikan apapun harta dari orang tuaku! Itu punyaku dan hak aku!" Rena tidak terima dan berlalu meninggalkan Randy yang gusar.


Masalah ini semua berawal dari Rena. Kalau saja Rena tidak meminta bantuan Sintia. Masalah ini tidak akan terjadi. Mereka tidak akan terjebak dengan permainan wanita licik itu. Ingin rasanya Randy berteriak sekencang- kencangnya.


Nathan bersandar lemah pada kursi yang ada di terasnya. Matanya memandang jauh menerawang. Pikirannya terpaku dengan masalah yang sedang di hadapi sahabatnya. Ingin rasanya dia membantu. Tapi tidak bisa.


" Papa udah pulang?" Sambut Gio yang baru saja keluar rumah.


Nathan tersenyum dan memangku Gio. Dia memeluk Gio erat seakan sedang mencari ketenangan.


" Mau teh?" Tawar Senja yang baru saja menghampirinya.


" Tidak, terima kasih." Tolak Nathan dan kembali diam.


" Gio main di dalam sama nenek ya." Ujar Senja. Gio menurut dan langsung turun dari pangkuan Nathan.


" Ada masalah apa?" Tanya Senja yang melihat wajah suntuk Nathan.


" Gak ada."

__ADS_1


" Baiklah. Aku sudah siap mau pulang. Apa kamu mau antar?"


" Iya. Sepuluh menit lagi." Ujar Nathan yang meminta waktu untuk istirahat.


" Aku tunggu di dalam."


" Senja." Panggilan Nathan menghentikan langkah Senja yang ingin menghampiri Gio.


" Ada apa?"


" Jika suatu saat kita berpisah bagaimana?"


" Kenapa tanya begitu? Apa kali ini kamu yang meninggalkan aku?" Tanya Senja masih dengan senyumnya. Sengaja dia tersenyum untuk menutupi sakitnya hati saat mendengar pertanyaan Nathan.


" Entahlah." Nathan tampak semakin gusar.


" Kalau kamu mau putus. Silahkan dari sekarang. Jangan memberi aku dan Gio harapan." Ujar Senja tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja dan meninggalkan Nathan yang masih terdiam di teras.


" Aku gak tau Senja. Harus pilih siapa. Randy atau kamu." Gumam Nathan bingung.


*****


" Apa kamu akan terus tersenyum?" Tanya seorang pria paruh baya menegur Sintia.


Sintia terbelalak melihat kehadiran ayahnya di rumahnya. Seketika langsung saja dia berhambur memeluk ayahnya senang. " Kapan papi datang?"


" Sejak tadi. Tapi sayang kamu tidak di rumah."


" Maaf Pi. Aku baru saja bertemu pria yang dijanjikan Randy." Ujar Sintia menyesal.


" Oh ya? Bagaimana pria itu?" Tanya Pak Ringgo.


" Dia tampan dan sangat berkarismatik. Bagaimanapun caranya. Aku harus dapatkan dia."


" Anak papi jatuh cinta." Ejek Pak Ringgo pada putri semata wayangnya.


" Papi harus bantu aku." Pinta Sintia dan di setujui Pak Ringgo.


Sementara dikediaman Randy. Terlihat Rena masih merasa kesal dengan suaminya yang tidak bisa membujuk Nathan. Randy terlihat asik bermain dengan Ryan. Anak mereka yang kini sudah berusia lima tahun. Tak dipedulikannya istrinya yang sedang menatapnya marah.

__ADS_1


" Bisakah kamu memikirkan cara untuk meyakinkan Nathan?" Tanya Rena akhirnya karena sejak tadi melihat suaminya cuek dengan sikapnya.


" Biarkan Nathan bahagia dengan hidupnya." Tukas Randy. Dia merasa tidak tega jika harus mengorbankan sahabatnya. Dia sudah banyak mengalami kesulitan dalam hidupnya.


" Kamu biarin dia bahagia sementara anak dan istri kamu sengsara!" Bentak Rena marah kini dia berdiri dan melotot di hadapan Randy.


" Ryan main di kamar dulu ya." Bujuk Randy pada putranya yang melihat Rena marah dengan takut.


Ryan menurut dan segera berlari keluar menuju kamarnya.


" Bisakah kamu tahan sedikit emosimu? Kasihan Ryan. Dia takut." Randy masih berusaha bersikap lunak pada Rena.


" Jangan mengalihkan pembicaraan!"


" Aku harus apa, Rena? Perusahaanku bisa collaps begini juga karena kamu yang boros. Kamu sadar gak?"


" Bukan aku yang boros! Tapi kamu yang sudah gak mampu biayain hidupku!" Bentak Rena tidak mau kalah.


Randy menghela nafas panjang dan berat. Sejak mereka menetap di luar negeri. Sikap dan sifat Rena sangat jauh berubah. Gaya hidupnya serta sikapnya. Semakin seenaknya saja dengan Randy. Tidak ada lagi Rena yang lembut dan penyayang.


Randy hanya diam melihat tingkah laku istrinya yang sekarang. Dia membaringkan tubuhnya di kasur membelakangi istrinya yang masih melotot marah sambil berkacak pinggang.


" Besok kamu harus bisa membujuk Nathan agar menerima Sintia!" Ujar Rena lagi seperti seorang atasan memberikan tugas pada bawahannya.


Randy masih diam tak bergeming mendengar permintaan istrinya. Bagaimana mungkin dia memaksa Nathan. Dia tahu bagaimana Nathan mencintai Senja. Apakah pantas Dia memintanya untuk meninggalkan wanita yang dicintainya. Randy hanya menghela nafas panjang. Dalam hati dan pikirannya berperang. Ingin rasanya dia membela sahabatnya. Tapi saat ini yang jadi lawannya adalah istrinya. Ibu dari anaknya.


" Randy!" Panggil Rena masih dengan nada membentak. " Terserah kamu mau dengar atau tidak. Jika kamu tidak berhasil membujuk Nathan. Aku akan pergi dari sini dan membawa Ryan. Jangan harap kamu akan bertemu lagi dengannya." Ancam Rena.


Randy masih diam. Membiarkan istrinya terus mengancam, mengomel dan menggerutu. Saat ini, semua kata yang keluar dari mulutnya akan selalu salah.


Dering ponsel Rena menghentikan makian Rena pada Randy yang tetap memunggunginya. Rena segera meraih ponsel yang ada di atas nakas dan segera menjawab panggilan telepon itu.


" Hai, Sin." Sapa Rena ramah. Berubah sama sekali ketika berbicara pada Randy.


" Bilang suamimu. Siapkan waktu dan tempat untukku dan Nathan berkencan." Perintah Sintia tanpa membalas sapaan Rena.


" Oh begitu. Baiklah aku akan sampaikan. Apa ada lagi?"


" Jangan terlalu lama dan aku ingin kencanku dan Nathan berlangsung romantis dan tanpa gangguan apapun." Ucapnya lagi dan tanpa salam perpisahan Sintia langsung memutus panggilan telepon.

__ADS_1


Rena menghela nafas panjang. Kepalanya berdenyut kencang. Bagaimana mungkin Nathan akan memenuhi undangan kencan Sintia dengan sendirinya. Dia harus menjebak Nathan. Tapi dengan cara apa agar Nathan tidak menyadari hal itu. Semua masalah ini membuatnya pusing tujuh keliling.


__ADS_2