Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
94


__ADS_3

Nathan menarik nafas panjang melihat laporan keuangan yang sedikit berantakan karena selama sebulan dia tidak masuk kantor. Saham yang terus merosot. Beberapa proyek pun harus tertunda bahkan ada yang mangkrak karena para buruh merasa tidak ada yang melindungi hak mereka jadi mereka melakukan mogok kerja.


Pekerjaan yang menumpuk pasti akan menyita waktu dan tenaganya. Sedangkan istrinya yang sedang hamil pasti akan menuntut waktu dan perhatiannya juga.


" Silvi. Keruangan saya sekarang." Perintah Nathan pada sekretarisnya melalui telepon.


Tak butuh waktu lama. Silvi langsung menghampiri Nathan.


" Apa hari ini saya punya jadwal meeting?"


Silvi melihat ipad yang selalu di bawanya untuk mencatat setiap kegiatan bosnya.


" Tidak ada, Pak."


" Baiklah. Saya akan keluar meninjau proyek yang ada di jakarta timur." Ucap Nathan dan segera bangkit mengambil ponselnya.


" Tapi ini kan hari pertama Bapak mulai kerja." Silvi mencoba mengingatkan.


" Proyek itu harus rampung tiga bulan lagi, Silvi. Dan sudah dua minggu proyek itu mangkrak." Sahut Nathan tak peduli dengan kekhawatiran sekretarisnya.


Silvi menarik nafas panjang dan segera menyusul bosnya.


" Apa Hendra tidak pernah meninjau lokasi ketika saya tidak ke kantor?" Tanya Nathan saat dalam perjalanan.


" Tidak, Pak. Dia selalu beralasan banyak pekerjaan."


" Besok berikan surat peringatan padanya." Ujar Nathan tegas.


" Kenapa, Pak?"


" Dia lalai akan tugasnya. Untuk apa saya mengangkat dia sebagai wakil jika tidak bisa menggantikan saya selama saya tidak bisa hadir!" Ujar Nathan kesal dengan sikap karyawannya itu. Karena selama ini Hendra memang menjadi salah satu karyawan kepercayaan Nathan.


" Baik, Pak."


Nathan turun dari mobilnya dan masuk ke dalam kawasan proyek pembangunan gedung yang belum setengahnya rampung. Terlihat hanya ada beberapa orang pekerja yang masih melaksanakan kewajiban mereka.

__ADS_1


" Bos lagi uring, Neng." Bisik Pak Tarno pada Silvi.


" Iya, Pak. Masalahnya Pak Hendra gak membantu dia sama sekali." Silvi ikut berbisik pula.


" Lha wong selama Bapak gak ngantor. Pak Hendra kerjanya cuma jalan- jalan. Kan saya yang selalu nganterin dia. Alasannya meeting. Tapi meeting kok di mall. Janjian sama perempuan juga."


" Gawat kalo Pak Nathan tahu. Bisa dipecat Pak Hendra."


" Biarin aja neng. Jadi orang kepercayaan kok lalai. Jadi seenaknya aja. Kerjanya santai. Gajinya besar." Ujar Pak Tarno menggerutu.


" Bapak pasti marah- marah lagi tuh!" Ujar Oak Tarno yang melihat Nathan dari kejauhan berbicara pada Mandor proyek dengan mimik wajah kesal.


Nathan mengusap wajahnya kasar. Otaknya kembali berdenyut mendengar alasan utama para buruh itu mogok. Karena gaji mereka selama beberapa minggu tidak turun juga.


" Hubungi mereka. Besok saya akan kembali membayarkan semua gaji mereka." Ujar Nathan akhirinya. Dan di sambut dengan raut bahagia mandor proyek itu.


" Besok kita gajian!" serunya pada yang lain.


Mereka yang tadi asik bekerja Mendengar kalimat mandor mereka. Langsung bersorak gembira.


" Baik, Pak."


" Dan siapkan surat pemecatan secara tidak hormat untuk Hendra." Ujarnya lagi.


Silvi menelan kasar salivanya dan hanya mampu mengikuti keinginan bosnya.


Setelah menempuh kemacetan ibu kota yang padat merayap. Nathan kembali duduk pada kursi kerjanya. Matanya menatap tajam namun kosong. Pikirannya sibuk memecahkan masalah. Dia harus menjual beberapa asetnya untuk menutupi kerugian yang terjadi.


" Sayang." Sapa Nathan ketika Senja menjawab teleponnya.


" Iya, Ada apa?"


" Jika aku menjual mobil yang biasa kamu pakai. Apakah boleh?" Tanya Nathan.


" Kenapa? Apa ada masalah?"

__ADS_1


Nathan menarik nafas panjang. " Tidak jadi sayang. Biar aku menjual mobil yang aku pakai." Ujar Nathan dan langsung menutup teleponnya.


Tak tega rasanya jika harus melihat istrinya kembali menaiki taksi jika harus pergi kemana- mana. Nathan masih bisa memakai mobil inventaris kantor.


Silvi datang dengan membawa beberapa berkas pada Nathan. Berkas yang tadi dia minta. Nathan langsung menerimanya dan tanpa banyak bicara. Dia langsung memeriksa laporan tersebut dan mengecek satu persatu.


Dalam waktu singkat. Nathan berhasil memeriksa dan segera mengambil semua laporan yang diberikan Silvi juga hasil yang dia hitung. Dengan muka masam dan berwajah dingin tanpa ekspresi. Nathan menuju ruangan Hendra yang tak jauh dari ruangannya. Karyawan yang melihat ekspresi tidak biasa dari Nathan hanya menelan kasar saliva mereka. Sudah bisa dipastikan jika saat ini bos tampan mereka sedang marah besar.


Tanpa mengetuk pintu Nathan menerobos masuk ke dalam ruangan Hendra yang ternyata sedang suap- suapan mesra dengan sekretarisnya. Hendra dan Novi langsung gelagapan melihat Nathan sudah berdiri tegap di hadapan mereka dengan sorot mata tajam.


" Kembalikan semua yang sudah kamu ambil dari perusahaanku. Atau kamu akan mendekam di penjara!" Ujar Nathan dengan nada mengancam.


Hendra menelan kasar salivanya dan berdiri dengan wajah tersenyum menutupi kegugupan juga ketakutan pada dirinya.


" Duduklah dulu. Kamu kan baru saja kembali. Pasti ada yang mengomporimu bukan. Menyebarkan fitnah." Ujar Hendra berusaha bersikap santai.


Dengan marah. Nathan melempar semua berkas yang tadi dia bawa ke arah Hendra. Hendra hanya diam.


" Lakukan apa yang aku ucapkan atau kalian akan aku pastikan mendekam dalam penjara." Ucap Nathan kembali dengan nada dingin.


Hendra dan Novi saling beradu pandang. " Kamu harus menjual semua barang- barang yang aku belikan." Bisik Hendra tajam pada Novi.


" Enak saja. Aku mendapatkan itu juga tidak gratis!" Novi menolak.


" Ini semua adalah salahmu!"


" Kamu juga tidak memberikan semuanya padaku. Jangan kamu kira aku tidak tau jika kamu juga main gila dengan yang lain." Bisik Novi tajam.


Nathan hanya diam melihat dua orang itu berdebat saling pelotot dan saling beradu argumen.


" Ternyata orang kepercayaanku. Memanfaatkan keadaan. Apa kalian pikir aku akan m*ti jadi kalian menggunakan uang perusahaan seenaknya saja?!" Ujar Nathan dengan ucapan menohok tajam seolah membaca pikiran mereka saat itu.


" Aku akan mengirim orang untuk mengawasi kalian selama tiga hari. Dalam waktu tiga hari jika kalian tidak bisa mengembalikan semuanya. Bersiaplah, kalian akan di antarkan ke hotel paling indah di kantor polisi." Ujar Nathan dan memberikan selembar kertas berjumlah nominal yang dia akumulasikan selama satu bulan.


Hendra menelan kasar salivanya melihat angka yang begitu banyak. Tak menyangka jika selama satu bulan. Uang yang dia hamburkan bersama perempuan- perempuan cantik menyentuh angka lima milyar lebih. Terutama pada Novi. Hendra telah membelikan banyak barang mewah padanya. Dan Novi tidak gratis mendapatkan semua kemewahan itu. Dia harus membayarnya dengan tubuhnya. Memenuhi hasrat gila Hendra padahal dia sudah memiliki anak dan istri.

__ADS_1


__ADS_2