Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
19


__ADS_3

Aku tidak mengerti kenapa Nathan bicara seperti itu di depan ibunya. " Reza bukan siapa- siapa aku." Sanggahku cepat.


" Oh begitu. Maaf kalo aku salah." Ujar Nathan santai dan berlalu dari hadapan kami.


Aku menatapnya tak percaya. Begitu mudahnya kata itu terucap dari mulutnya dan sekarang dia hanya bilang maaf. Entah kenapa aku marah melihat sikap Nathan. Ingin rasanya aku menariknya dan bicara berdua dengannya untuk memperjelas hubungan kami.


" Bicarakan baik- baik, Senja." Nasihat Bu Fitri yang mengerti arti tatapanku pada Nathan.


Aku tersenyum dan segera aku susul Nathan ke kamarnya. Tidak peduli lagi aku untuk tidak memasuki kamar lelaki yang bukan siapa- siapa aku. Bagiku yang terpenting sekarang adalah tahu perasaan Nathan padaku. Aku tidak mau lagi menggantungkan harapan padanya yang berakhir semu.


Nathan seketika menoleh ke arahku yang tiba- tiba saja masuk ke kamarnya begitu saja.


" Mau apa kamu?" Tanya Nathan tak suka dengan kehadiranku.


" Apa maksudmu bilang ke ibu aku sudah punya calon suami?" Aku melotot dan mendekat padanya.


" Memang itu kenyataannya." Jawab Nathan santai dan kini dia harus duduk di tepi tempat tidur karena aku terus mendekat. Sengaja aku lakukan itu. Aku mau lihat bagaimana reaksinya.


" Reza bukan siapa- siapa aku!" Tegasku. " Aku mau tanya sesuatu."


" Silahkan. Tapi bisakah sedikit menjauh?" Pinta Nathan karena jarak kami memang benar- benar dekat.


Aku mundur satu langkah kecil. " Apa perasaanmu padaku sekarang?" Tanyaku yang sudah geram dengan sikap diamnya.


" Tidak ada." Nathan mengalihkan wajahnya.


" Tatap aku Nathan. Katakan kamu tidak mencintaiku." Desakku.


" Aku harus ganti baju." Dia mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Ganti saja." Tantangku. Aku mau dia jujur padaku.


" Senja..."


" Aku tidak akan keluar kalo kamu gak jujur." Rengekku dan duduk di sampingnya.


" Sejak kapan kamu jadi manja?"


" Sejak hari ini. Aku lelah harus bersikap dewasa." Ketusku asal.


Nathan mendengus nafasnya dengan cuek dia membuka kaos oblongnya. Terlihat badannya yang semakin atletis. Deg- deg juga rasanya melihat dia buka baju sementara aku masih di kamarnya.


Aku sedikit memalingkan wajahku. Nathan tersenyum melihat tingkahku. Mungkin menurutnya lucu.

__ADS_1


Dia menghampiriku dengan bertelanjang dada dengan senyum nakalnya.


" Nathan mau apa kamu?!' Tanyaku cemas karena dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku mundurkan wajahku hingga aku terjatuh di atas kasurnya. Mataku terpejam takut sekaligus deg- deg rasanya. Ingin tapi mengingat kami tidak berstatus suami istri. Itu yang membuatku takut.


" Kenapa merem?" Ujarnya meledekku.


Perlahan aku membuka mata dan terlihat dia sudah berganti pakaian. Sial. Kenapa aku ini. Pikiranku kotor sekali. Malunya aku..


" Kenapa kamu dekat- dekat!" Protesku sebal.


" Kamu yang menantang."


" Kamu tidak mau jujur." Aku masih tidak mau kalah.


Nathan menarik nafasnya dalam dan kembali mendekatiku. Kali ini dia duduk di sampingku. Dan menatapku lekat.


Perlahan dia mendekatkan wajahnya pada wajahku dan detik kemudian bibir kami bertemu saling mengecup. Kami berciuman. Aku menikmati kecupan hangat yang diberikan Nathan hingga aku pun berbaring di kasurnya. Nathan terus saja mengecupku lembut dan kecupannya mulai menjalar di teruk leherku. Aku menarik rambutnya pelan dan ******* lolos begitu saja dari mulutku.


" Astagfirullah!" seru Nathan tiba- tiba dan menghentikan aksinya. Dia segera berdiri dan memunggungiku.


Aku terdiam melihatnya dan menyadari apa yang kami lakukan adalah salah. Pertama kalinya Nathan mencumbuku. Aku tertunduk dan malu dengan sikapku.


" Maafkan aku Senja." Ujarnya dengan penuh penyesalan.


" Bagaimana dengan Reza?"Nathan tampak bimbang.


" Aku tidak ada hubungan apapun dengannya." Aku mendekati Nathan yang masih memunggungiku. Aku mendekapnya erat dari belakang.


Tubuh ini yang aku rindukan. Dia yang selalu memberikan ketenangan pada diri dan jiwaku. Nathan hanya diam dan membiarkan aku memeluknya.


" Apa kamu mencintaiku?" Tanyaku lagi masih memeluknya.


" Kamu tidak pernah hilang di hatiku, Senja."


" Bagaimana hubungan kita sekarang?" Kini aku ingin memperjelas semuanya. Aku sudah lelah dengan perasaan ini.


" Bagaimana maumu. Ku ikuti."


" Nikahi aku, Nathan." Pintaku dan berharap dia mengiyakannya.


" Baiklah." Nathan memutar badannya dan membalas pelukanku.


Aku membenamkan wajahku pada dada bidangnya. Lega rasanya telah mencurahkan semua yang mengganjal di hati. Tak ingin lagi rasanya aku melepas pria ini.

__ADS_1


Nathan memegang daguku dan membuatku menatapnya. perlahan dia mendekati wajahnya dan kembali menciumku lembut.


" Aku mencintaimu, Senja." Ujarnya di akhir ciuman hangat kami.


" Aku juga, Nathan." Ucapku dan semakin mengeratkan pelukanku.


" Aku harus pergi sekarang." Ujar Nathan yang baru saja melihat jam tangannya.


Aku melepaskan pelukanku. " Mau kemana? Bukankah sekarang hari libur?" Tanyaku heran.


" Aku mau bertemu Randy. Dia baru saja sampai ke Indonesia." Jawab Nathan dan segera meraih kunci mobilnya yang berada di meja.


" Aku pergi dulu. Titip Ibu." Ucapnya dan mengecup lembut keningku.


Aku mengelus keningku yang di kecup Nathan. Tanpa sadar aku tersenyum dan berjalan keluar kamarnya untuk melihatnya berlalu dengan mobilnya.


" Ciyeee.. Mama senyum- senyum." Ledek Gio dan gelak tawanya dan Bu Fitri bersahuta.


Seketika wajahku memerah. Malu rasanya ketahuan senyum- senyum sendiri. Hari ini rasanya seperti mimpi.


" Abis di sayang Papa ya?" Ledek Gio lagi.


" Hus..!" Aku mengibaskan tangan didepan wajah Gio yang senang meledek.


Aku duduk di samping Bu Fitri dan memeluknya erat. Sebentar lagi dia akan jadi mertuaku. Senangnya hatiku ini.


" Ada apa? Ngapain saja kalian di dalam sana?" Tanya Bu Fitri lembut.


Aku menggeleng. " Gak ngapa- ngapain, Bu." Jawabku bohong. Tidak mungkin kan aku bilang kami baru saja ciuman. " Tapi tadi Nathan mengecup kening aku." bisikku senang dan kembali memeluk Bu Fitri.


" Kalian pacaran?" Tanya Bu Fitri penasaran. Wajahnya sudah terpancar kebahagiaan. Aku mengangguk dan sekarang Bu Fitri yang memelukku.


" Ibu harap kalian bisa berjodoh kali ini." Doanya penuh harap dan aku mengaminkan bahkan sampai hatiku juga ikut mengaminkan. Agar semuanya lancar tanpa hambatan lagi.


" Senja takut ada kejadian lagi, Bu."


" Berdoa sayang."


" Iya, Bu." Jawabku. Aku benar- benar takut. Bagaiman jika kejadian dulu terulang lagi.


" Apapun yang terjadi. Jangan berpisah." Nasihat Bu Fitri lagi.


Aku mengangguk. Dulu adalah kesalahanku yang meninggalkan Nathan. Padahal dia sudah menerimaku apa adanya. Bahkan ketika aku membawa Gio. Dia menyayangi anakku. Padahal dia bisa saja membenci Gio. Karena anak itu hadir di rahimku. Aku pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Nathan adalah pria yang baik. Aku beruntung karena selama ini aku memiliki hatinya. Bibirku terus saja menyunggingkan senyuman. Entah kenapa tak bisa berhenti aku tersenyum. Bahagia karena apa yang aku harapkan kini jadi kenyataan.


__ADS_2