
Nathan membuka matanya. Keadaannya masih sama. Masih terikat di kursi kayu dengan penjagaan ketat anak buah Ringgo. Sekujur tubuhnya terasa sakit karena terikat semalaman. Tubuhnya juga terasa lemas karena tidak ada asupan makanan yang masuk ke tubuhnya.
" Masih hidup rupanya." Ejek Ringgo ketika masuk ke ruangan. " Apa kamu menyerah? Nikahi saja putriku. Hidupmu akan enak." Tawar Ringgo dengan gelak tawanya.
" Jangan harap." Sahut Nathan dengan tatapan tajam.
" Bersiaplah kamu mati kelaparan disini." Ucap Ringgo dengan nada meninggi karena melihat sikap keras kepala Nathan.
Nathan hanya diam tidak menanggapi ucapan Ringgo. Matanya hanya menatap tajam mengikuti Ringgo berjalan mondar mandir tak jelas.
Ringgo duduk di kursi sudut ruangan menatap Nathan tajam. Mereka beradu pandang. " Andai saja kamu bukan lelaki yang di inginkan putriku. Sudah aku bunuh kamu!" Oceh Ringgo kesal berteriak kepada Nathan.
Tiba- tiba salah seorang anak buahnya yang lain memasuki ruangan dan berbisik kepada Ringgo. Mendengar kabar berita yang dibawa anak buahnya. Seketika Ringgo berdiri tersentak kaget.
" Jaga dia! Jangan sampai lepas!" Perintah Ringgo pada anak buahnya yang sejak tadi berjaga di sana dan dia berlalu keluar ruangan.
Baru beberapa langkah Ringgo keluar dari kamar tempat Nathan disekap. Terlihat anak buahnya tergeletak tak berdaya. Matanya melotot tajam tak percaya. Anak buahnya di kalahkan dengan mudah.
" Lepaskan Nathan!" Perintah Nabila pada Ringgo sambil mengacungkan balok kayu besar.
" Anak ingusan!" ' Cih' Ejek Ringgo dan memerintahkan anak buahnya yang tersisa untuk maju.
Anak buah Nabila dapat dengan mudah melumpuhkan pasukan Ringgo. Hingga Ringgo yang tersisa.
" Lepaskan Nathan!" Perintah Nabila sekali lagi kali ini dia mengacungkan balok kayu itu tepat di hadapan Ringgo.
" Biarkan Nathan menikah dengan Sintia." Ucap Ringgo dengan wajah memelas.
" Tidak akan aku biarkan. Ada wanita yang jauh lebih pantas sedang menunggu Nathan!"
" Bukankah kamu dan Sintia berteman?!"
" Dulu!"
" Sintia hampir gila karena Nathan pergi. Kasihan Sintia." Pinta Ringgo kali ini.
" Aku tidak peduli. Dia pantas mendapatkan itu." ucap Nabila tegas. Dan segera mengisyaratkan pada anak buahnya untuk menerobos masuk. Percuma dia berargumen dengan pria tua ini. Dia tidak akan melepaskan Nathan.
" Jangan ganggu pria itu!" Racau Ringgo mengamuk. Dan menarik satu persatu anak buah Nabila dengan kasar untuk mencegah mereka masuk.
__ADS_1
" Hei, Pak tua! Sebentar lagi polisi yang akan mengakhiri semua ini." Ujar Nabila dan menghentikan aksi Ringgo yang menggila.
" Apa maksudmu?!" Bentak Ringgo dan menghampiri Nabila dengan mata merah melotot.
" Kamu melapor pada polisi?!" Ringgo seketika beringsut takut ketika mendengar sirine polisi bersahutan mendekat ke lokasi mereka.
Benar saja. Menit berikutnya kediaman Sintia dan Ringgo telah di kepung dan satu persatu anak buahnya di angkut ke mobil polisi tanpa terkecuali. Ringgo semakin terlihat kacau. Terus saja meracau. Sepertinya ayah dan anak itu telah menjadi gila karena perbuatan mereka.
" Kamu baik- baik saja?" Tanya Nabila pada Nathan yang sudah berada di dalam mobil ambulans.
Nathan tersenyum lemah. " Aku sangat lapar." Bisik Nathan dan Nabila tersenyum lebar mendengar hal itu.
*****
Senja menatap sendu Nathan yang kembali terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Luka memar dan luka di pelipisnya sudah jauh membaik. Nathan hanya tersenyum melihat dirinya sedang di tatap selekat itu oleh kekasihnya.
" Harusnya aku membantumu saat itu." Sesal Senja melihat keadaan Nathan.
" Aku baik- baik saja."
" Kamu terluka seperti ini masih bilang baik." Protes Senja dan menyeka air matanya yang telah membendung.
" Entah bagaimana kamu bisa jatuh cinta pada wanita cengeng sepertinya." Ledek Nabila yang tiba- tiba saja masuk.
" Bagaimana keadaanmu hari ini?" Tanya Nabila dan duduk di kursi samping ranjang Nathan.
" Jauh lebih baik." Jawab Nathan. " Terima kasih kamu sudah banyak membantuku."
Nabila tersenyum dan menepuk pelan bahu Nathan. " Keluarga Sintia bukan tandinganmu. Itu sebabnya aku mau membantumu."
" Aku tidak tahu harus bagaimana untuk membalas semua kebaikanmu." Sahut Senja.
" Berikan saja Nathan padaku. Itu lebih dari cukup." Jawab Nabila cepat.
Senja dan Nathan langsung terdiam dan beradu pandang.
" Hahahaa.." Nabila tertawa terbahak- bahak melihat reaksi mereka. " Aku hanya bergurau. Tetaplah bersama. Segeralah menikah." Ucap Nabila.
" Kamu mengagetkanku."
__ADS_1
" Jika aku mau. Aku akan merebutnya darimu. Jadi jaga dia baik- baik." Ucap Nabila dengan wajah serius.
" Sudah berguraunya." Nathan memecah keheningan Nabila dan Senja. " Oh iya. Bagaimana keadaan Sintia?"
" Aku dengar dia harus di rawat di rumah sakit jiwa."
" Kasihan dia." Sahut Senja prihatin.
" Tidak perlu. Dia pantas mendapatkannya." Bantah Nabila kesal.
" Tapi biar bagaimanapun dia tetap wanita."
" Wanita gila yang selalu memaksa pria yang dia mau untuk menemaninya di ranjang." Sergah Nabila kesal.
Senja langsung terdiam dan seketika menatap Nathan tajam.
" Aku bisa jelaskan."
" Jika kamu mau marah. Marahlah pada wanita itu, Senja. Kamu harus percaya dengan Nathan. Dia tidak mengkhianati cintamu." Sahut Nabila yang paham akan situasi dingin Senja.
" Tapi dia bercinta dengan wanita lain!" Bentak Senja kesal. Melihatnya berciuman dengan wanita itu saja sudah membuat hatinya sangat sakit. Kali ini Senja tahu sejauh apa Nathan dan Sintia melakukan hal itu. " Tega kamu, Nath!" Senja masih merasa tidak percaya jika lelaki yang dicintainya akan dengan mudah menemani wanita lain di ranjang. Senja berlari keluar dengan hati yang hancur.
" Senja!" Panggil Nathan mencegah Senja untuk keluar. Namun tidak diindahkan Senja.
" Senja butuh waktu, Nath." Cegah Nabila yang melihat Nathan akan mengejar Senja.
Nathan hanya tertunduk penuh penyesalan atas apa yang pernah dilakukannya bersama Sintia walaupun itu semua terjadi karena terpaksa. Nathan sadar bagaimanapun situasinya. Tidak seharusnya dia mengikuti kemauan Sintia.
" Maaf tidak seharusnya aku mengatakan semuanya." Nabila ikut merasa bersalah.
" Aku sudah mengkhianati Senja. Jadi apapun keputusannya aku akan terima." Nathan bersandar pasrah.
" Tapi Senja harus tahu situasinya Nath!" Protes Nabila keras yang tidak ingin hubungan mereka hancur.
" Apapun situasinya. Aku salah. Aku lelaki. Tidak seharusnya aku mengikuti kemauan wanita gila itu!" Maki Nathan pada dirinya sendiri. Seolah dia mengutuk semua perbuatannya sendiri.
Nabila hanya terdiam dan tidak tahu harus berkata apa- apa lagi. Senja yang masih kalut dengan sakit hatinya sedangkan Nathan yang tenggelam pada kesalahan dan penyesalannya. Nabila menarik nafas panjang. Seolah dia ikut merasakan apa yang sedang Senja dan Nathan rasakan.
Seandainya Senja tahu dan paham situasi Nathan. Pasti tidak akan seperti ini keadaannya.
__ADS_1
" Kamu menyerah begitu saja?" Tanya Nabila.
Nathan hanya menggeleng namun tidak tahu harus berbuat apa. Pikirannya seolah buntu. Biar bagaimanapun. Dirinya tetaplah salah.