
Seminggu sudah sejak menghilangnya Nathan. Hingga saat ini belum juga mendapatkan kabar apapun. Dari pihak kepolisian ataupun dari anak buah Nabila yang dikerahkan untuk menyelidiki keberadaan Nathan juga Wulan. Sedangkan Darko. Orang yang diduga berkomplot dengan Wulan mempunyai alibi yang kuat pada jam hilangnya Nathan.
Senja duduk bersandar lemah. Kenapa cobaan selalu menimpa keluarga kecilnya. Brama hanya bisa menarik nafas dalam melihat keadaan Senja yang cukup memprihatinkan.
" Wanita itu sama sekali tidak menghubungiku, Bram." Ujar Senja dengan isak tangisnya.
" Apa yang dia inginkan sebenarnya?" Senja kembali tergugu dalam tangisnya.
" Aku dan orang- orang suruhan Nabila sudah berusaha sekuat tenaga agar bisa mencari keberadaan mereka. Tetapi mereka bagaikan siluman. Menghilang dari pantauan CCTV yang ada di jalan. Di titik itulah kami kehilangan jejak mereka." Brama kembali menjelaskan. Brama sudah tidak tahu lagi apa yang harus disampaikannya pada Senja yang sudah hancur.
" Nathan adalah orang yang sangat baik. Tak pernah sekalipun dia menyakiti wanita atau siapapun. Entah apa yang membuat mereka menggilai dia." Randy menimpali.
" Obsesi mereka menghancurkan Nathan secara perlahan." Sahut Brama di setujui Randy.
*****
Di sebuah bangunan rumah yang cukup tua. Nathan terbangun dari tidurnya. Dia meregangkan ototnya dan membuka jendela yang ada di kamarnya. Rumah dengan gaya bangunan yang cukup tua ini berada di daerah terpencil. Jauh dari akses jalan utama dan jauh dari pemukiman penduduk. Nathan yang memang belum mengingat apapun. Hanya bisa mengikuti arus yang membawanya entah kemana.
" Pagi sayang." Sapa Wulan hangat dengan membawa nampan yang di atasnya ada semangkuk bubur ayam serta jus jeruk. Selalu seperti ini kegiatan Nathan. Hanya berdiam di dalam kamar yang cukup luas. Wulan tidak mengizinkannya untuk keluar dari kamar.
" Ya. Pagi." Sahut Nathan menoleh sekilas ke arah Wulan yang sedang meletakkan bubur dan jus itu ke atas meja kecil yang ada di sudut ruangan.
" Bagaimana tidurmu?" Wulan menghampiri Nathan yang masih berdiri mematung menatap keluar jendela dan memeluknya dari belakang.
" Cukup nyenyak." Nathan hanya menjawab dengan wajah datar. Tak di indahkannya sepasang tangan yang melingkar di perutnya.
" Aku rindu kamu. Bisakah kita tidur bersama?" Pinta Wulan dengan nada manja.
" Silahkan kamu tidur di sini. Aku akan tidur di sofa." Ujar Nathan dan melepaskan tangan Wulan.
" Kamu tidak mau lagi tidur denganku?" Wulan terus menatap Nathan yang berjalan menghampiri sofa dan duduk di sana menyantap sarapan yang tadi di bawa Wulan.
" Kita belum menikah. Jika aku pernah melakukannya dulu. Aku minta maaf. Mungkin saat itu aku khilaf." Ucap Nathan setelah menelan sesendok bubur di mulutnya.
Wajah Wulan kembali bertekuk. Rayuannya selama seminggu ini selalu tidak berhasil. Nathan selalu menolaknya. " Besok kita menikah saja." Usul Wulan.
' Uhuk Uhuk Uhuk '
Nathan menepuk- nepuk dadanya karena tersedak dan segera meminum jus jeruk itu hingga habis setengahnya.
" Kamu menolak lagi?" Wulan mulai merajuk.
" Aku belum bisa mengingat apapun. Aku tidak yakin bisa menghidupimu." Nathan kembali beralasan. Entah kenapa seminggu dia selalu menghabiskan waktu bersama Wulan. Tetapi bayangan Senja serta potret kedua anaknya selalu terngiang dalam benaknya.
" Aku tau. Kamu akan lari dari tanggung jawabmu!" Wulan kembali merajuk. Menyilangkan kedua tangannya di dadanya dan membuang wajahnya ke arah jendela.
' Teeengggg'
" Aw.." Nathan sedikit meringis ketika bayangan Senja muncul di pikirannya. Persis seperti Wulan. Senja yang sedang merajuk.
" Kamu kenapa?" Wulan terlihat panik melihat Nathan memegang kepalanya sambil meringis.
__ADS_1
Nathan masih berusaha mengendalikan rasa sakitnya dan " Senja." Gumam Nathan dan langsung berdiri berjalan keluar dari kamarnya seperti orang yang terkena hipnotis.
" Nathan!" Panggil Wulan dan segera mengejar Nathan yang mulai berlari menuju pintu keluar.
Nathan tetap dalam sikap yang sama. Terus mempercepat langkahnya menjauh dari Wulan.
" Deki! Bimo! Cegah Nathan jangan sampai kabur!" Teriak Wulan kesal pada anak buahnya.
Mereka yang sejak tadi asik bermain catur di teras samping. Segera berlari menuju pintu keluar dan mengejar Nathan yang sudah berlari menerobos hutan.
Nathan terlihat mulai kebingungan ketika dia benar- benar sudah tidak lagi mendengar teriakan Wulan yang sejak tadi memanggilnya. Nathan menoleh ke kiri dan ke kanan. Tak terlihat jalan setapak ataupun manusia yang lewat. Hanya ada pepohonan dan semak- semak yang ada di sana. Entah kenapa bayangan Senja seolah menuntunnya untuk menjauh dari sana.
Nathan terduduk di bawah pohon yang cukup besar. Hari mulai gelap. Kakinya mulai terasa pegal. Dahaga juga sangat terasa. Nathan berjalan sedikit terseok menembus hutan belantara itu. Tak dipedulikannya ranting- ranting serta duri yang mengenai kulitnya. Hingga akhirnya Nathan melihat setitik cahaya dari kejauhan. Nathan berjalan menyusuri hutan itu menuju cahaya itu. Setelah lima belas menit berjalan terseok Nathan mampu keluar dari hutan belantara itu. Jalan setapak mulai dilihatnya. Nathan sampai pada sebuah rumah penduduk. Entah ini rumah atau hanya sebuah gubuk. Karena sekitarnya masih terlihat sepi dan juga gelap.
' Tok Tok Tok'
Nathan mengetuk pintu kayu itu. " Assalammu'alaikum." Sapa Nathan dengan tubuhnya yang mulai lemah.
' Tok Tok Tok.'
Nathan kembali mengetuk pintu itu hingga beberapa kali dan tak lupa mengucapkan salam.
" Wa'alaikumsalam." Sahut seseorang. Bukan dari dalam sumber suara tersebut. Melainkan dari belakang Nathan.
Nathan segera menoleh dan dilihatnya seorang pria paruh baya dengan golok terselip di pinggangnya.
" Mencari siapa?" Tanya pria tua itu.
Nathan melemparkan senyum sebelum menjawab pertanyaan pria itu. " Maaf mengganggu, Pak. Saya Nathan. Boleh saya meminta air minum?" Tanya Nathan yang sangat merasa haus.
" Boleh." Pria itu segera berjalan menuju gubuk tersebut dan masuk untuk mengambilkan air minum untuk Nathan.
" Masuklah." Ajak pria itu pada Nathan yang masih berdiri di depan pintu sambil sesekali menoleh ke belakang.
Nathan tersenyum canggung dan mengikuti ajakan pria itu. Nathan duduk di hadapan pria itu dan menerima air minum dari pria itu. Segera Nathan meneguknya hingga habis tak bersisa.
" Jika boleh tau. Kamu darimana?"
" Saya dari Jakarta. Tetapi saya dibawa oleh beberapa orang ke sebuah rumah di tengah hutan sana." Ujar Nathan mulai menceritakan yang terjadi padanya.
" Kamu lari dari kejaran mereka?"
" Iya, Pak. Saya di paksa menikah dengan wanita itu." Nathan tertunduk mengingat kembali peristiwa yang dialaminya.
Pria itu tampak berpikir dan menarik nafas dalam. " Begini saja. Gimana kalo kamu sementara sembunyi di rumah Bapak?"
" Apa tidak merepotkan?"
" Tidak. Nama bapak teh Somad. Tapi di rumah bapak punya anak dua. Nanti kamu tidur dengan anak lelaki bapak saja ya." Ujar Pak Somad menawarkan.
Tanpa pikir panjang lagi. Nathan mengiyakan tawaran Pak Somad. Segera Pak Somad bergegas mengajak Nathan menuju rumahnya yang masih membutuhkan waktu 30 menit untuk menuju rumahnya dengan berjalan kaki.
__ADS_1
Jalanan desa yang temaram karena hanya ada beberapa lampu jalan yang menerangi jalan tersebut. Jalanan yang masih berbatu belum terjamah pembangunan. Nathan sedikit meringis kala kakinya yang tanpa alas kaki menginjak kerikil tajam.
Pak Somad merasa iba pada Nathan segera melepaskan sandal yang dipakainya. " Pakai sandal bapak dulu." Ujarnya.
" Tidak usah Pak."
" Sudah. Kamu pakai. Kaki kamu sudah banyak luka. Pasti sangat perih." Pak Somad memaksa. Nathan kembali menerima kebaikan Pak Somad.
Setelah sampai. Pak Somad segera membangunkan istri dan kedua anaknya. Karena hari juga sudah hampir masuk waktu Subuh.
" Ini siapa?" Bisik istri Pak Somad sambil melirik ke arah Nathan yang duduk pada kursi tua di ruang tamu mereka.
" Ada apa, Pak?" Tanya seorang gadis yang baru saja keluar dari kamarnya sambil mengucak kedua matanya karena baru saja kembali dari mimpinya.
" Iya nih Bapak. Ganggu aja. Masih satu jam lagi, Pak.." Protes seroang bocah yang sepertinya masih duduk di bangku SMP.
" Kita kedatangan tamu." Jawab Pak Somad. Membuat ketiga anggota keluarganya yang lain sedikit terkejut dan langsung menatap Nathan. Menyapu seluruh penampilannya yang tampak sangat lusuh.
" Namanya Nathan. Dia sepertinya diculik orang. Dia kabur dari penculiknya. Untuk sementara dia tinggal di sini." Pak Somad menjelaskan.
" Eh.. Si Bapak ini gimana. Kita punya anak gadis!" Istri Pak Somad tampak keberatan.
" Dia kan tidur sama Andi. Bukan sama Amel!" Pak Somad tak mau kalah.
" Maaf, Pak. Biar saya tidur diluar saja." Nathan angkat bicara.
" Jangan!" Pak Somad tidak setuju. " Gimana kalo yang menculik kamu menemukan kamu?!"
" Emang bahaya banget ya, Pak?" Tanya Andi sedikit ngeri.
" Pastilah. Namanya juga diculik!" Sahut Amel cepat.
" Yaudah kalo gitu. Tidur sama Andi aja. Tapi di lantai gak apa- apa kak? Kasur Andi kecil soalnya. Gak muat dua orang."
Nathan tersenyum lega. " Gak papa."
" Yasudah. Kamu bersihkan dulu badan kamu. Sebentar lagi Subuh. Setelah itu kami obati luka- lukamu." Pak Somad mempersilahkan.
" Baik, Pak."
" Nanti bapak ambilkan baju bapak. Tapi maaf. Agak lusuh." Pak Somad merasa tidak enak karena biar selusuhnya Nathan. Tetap saja terlihat jika baju yang dipakai Nathan adalah baju yang bagus.
" Bapak nih sembarangan bawa orang masuk." Gerutu Amel ketika Nathan sudah berada di kamar mandi.
" Kasihan, Mel."
" Pake acara mau pinjamin baju lagi! Dia tinggi begitu. Apa muat pake baju bapak!"
" Namanya darurat, Mel. Di muat- muatkan saja." Jawab Pak Somad santai.
Setelah beberapa menit. Nathan terlihat lebih segar dengan baju dan celana yang tampak kekecilan. Padahal baju dan celana yang dipilihkan Pak Somad adalah ukuran yang paling besar yang dia punya..
__ADS_1
" Ganteng Pak, Bu." Ujar Amel dengan tatapan mata yang tak lepas dari menatap Nathan yang menghampiri mereka dengan rambut yang masih basah. Luka- lukanya semakin terlihat jelas pada tangan kaki serta beberapa di wajah.
"