
" Nathan, Bangun." Nabila mengguncang tubuh Nathan. Nathan mengerjapkan matanya dan melihat sekelilingnya. Terlihat dia sudah berada di parkiran rumahnya.
" Maaf, aku ketiduran." Ucap Nathan merasa tak enak.
" Gak apa- apa."
Rio dan Pak Tarno kembali membantu memapah Nathan memasuki rumah.
" Loh. Nathan kenapa Nabila?" Tanya Bu Fitri cemas saat melihat Nathan di papah.
" Abis main beranteman, Bu." Jawab Nathan asal.
" Langsung di bawa ke kamarnya aja mas." Pinta Bu Fitri dan bergegas masuk untuk membukakan kamar Nathan.
" Lho. Ibu sama bapak mau pindahan?" Tanya Pak Tarno karena melihat banyak barang yang sudah di masukkan kardus ketika ikut bergabung bersama Nabila dan Bu Fitri.
" Iya, Pak."
" Kapan? Biar saya bantuin." Pak Tarno menawarkan diri.
" Besok, Pak. Tapi Nathan malah luka begitu."
" Biar Nabila bantuin ya Bu." Ujar Nabila ikut menawarkan diri.
" Apa gak ngerepotin?"
" Sama sekali engga." Jawab Nabila riang. " Nanti aku ajak Randy juga. Biar sekalian kita pekerjakan tenaganya."
" Yasudah. Terima kasih sebelumnya loh. dan terima kasih juga sudah mengantar Nathan." Ucap Bu Fitri saat Pak Tarno dan Rio pamit kembali ke kantor.
" Aku juga pamit ya Bu. Soalnya aku nebeng sama mereka." Nabila ikut pamit. " Ini ada beberapa makanan. Bisa bantu memulihkan kondisi Nathan dan juga ada obat. Petunjuknya udah tertera di sana." Nabila menyerahkan kantong belanja pada Bu Fitri.
" Terima kasih ya Nak."
*****
Nabila duduk diam menatap taman di samping rumahnya. Pikirannya kembali terngiang kejadian siang tadi. Siapa wanita itu dan ada masalah apa. Dia sama sekali tidak tahu. Nathan juga tidak menjelaskan secara detail peristiwa itu.
" Ada apaan nih. Tumben tuan putri anteng begini." Ledek Randy yang memang masih menetap di rumah Nabila.
__ADS_1
" Gak papa."
" Gimana meeting siang tadi, lancar?" Tanya Randy berbasa basi.
" Hampir lancar sampe ada kegaduhan di kantor Nathan." Ujarnya masih ada rasa kesal.
" Ada apaan? Kayanya kesel banget."
" Emmm.. Lo kenal Thalia gak?" Nabila mencoba mengorek informasi dari Randy.
" Engga. Kenapa?"
" Tadi ada cewe di kantor Nathan. Namanya Thalia. Ngadu ama suaminya Nathan melecehkan dia. Gak masuk akal banget kan?!" Tutur Nabila dengan berapi- api.
" Terus?"
" Kacaunya lagi tuh suaminya percaya begitu aja dan mau mukul Nathan. Sampe dia ngeluarin pisau." Randy terlihat semakin antusias. " Kesel gue. Niatnya mau nyuruh tuh cewek tenangin suaminya. Malah suaminya mau nusuk gue."
" Lo gak luka kan?" Seketika Randy memperhatikan badan Nabila yang tampak baik- baik saja.
" Gue baik- baik aja. Tapi Nathan yang kena tusuk."
" Syukurnya gak ada yang fatal. Tapi gue jadi merasa bersalah sama Nathan." Ungkap Nabila tertunduk lesu.
" Udah santai aja. Nathan emang begitu kok orangnya. Dulu aja sekretarisnya pernah ditolong juga ama dia. Sampai dia masuk UGD karena koma."
" Oh ya?" Nabila terbelalak kaget mendengar cerita tersebut.
" Kejadiannya beberapa tahun lalu. Dari situ kepala Nathan sangat rentan kalau terkena pukulan. Bisa- bisa mati di tempat dia kalo kena pukul kenceng lagi." Ujar Randy membuat Nabila semakin prihatin dengan keadaan Nathan.
" Oh iya. Besok Nathan pindah rumah. Lo bantuin ya. Kasian ibunya sendirian." Ujar Nabila.
" Tanpa diminta gue pasti bantuin. Sekarang gue cuma punya dia dan elo juga Ryan di dunia ini." Randy tersenyum.
*****
Suasana rumah Nathan pagi- pagi sekali sudah dibuat gaduh oleh kedatangan Randy dan Nabila juga beberapa anak buah Nabila yang membantu membereskan barang- barang di rumah Nathan untuk di bawa ke rumahnya yang pernah dia tempati bersama Ayuna.
" Mobilnya juga belum datang. Jangan terburu- buru." Ibu Nathan terlihat bingung karena terlalu banyak orang yang membantu. Padahal dia hanya akan membawa beberapa barang saja.
__ADS_1
" Ibu sama Nathan istirahat aja. Ini semua serahkan ke kita." Ujar Nabila dengan senyuman yang penuh semangat.
" Nathan belum bangun juga, Bu?" Tanya Randy sambil membawa kardus besar dari kamar Bu Fitri.
" Gak tau. Ibu belum sempat lihat. Coba kamu lihat." Bu Fitri menyuruh Randy mengecek keadaan Nathan.
Ya, Kedatangan Randy dan Nabila sejak subuh tadi memang sedikit membuat Bu Fitri kerepotan. Karena mereka seenaknya saja packing barang- barang yang akan di tinggal Bu Fitri. Karena memang sejak awal mereka tinggal di sana. Sudah ada beberapa perabotan rumah yang sudah tersedia. Itulah sebabnya Bu Fitri tidak akan membawa barang- barang tersebut.
Tepat pukul tujuh. Truk pengangkut barang dari rumah Bu Fitri sudah terparkir manis di depan rumah. Satu persatu barang- barang di masukkan kedalam bak truk. Tak butuh waktu lama. Semua barang sudah rapi tersusun di atas truk.
" Pagi, Bu. Mas Nathan." Sapa Pak Mamat yang kala itu sepertinya baru tiba untuk bertukar shift dengan rekannya.
" Eh, Pak Mamat. Sarapan dulu pak." Sahut Bu Fitri ramah.
" Loh. Mas Nathan kenapa? Kok pucat ya?" Tanyanya saat melihat Nathan hanya bersandar lemas di teras.
" Gak, Pak." Jawab Nathan dengan nada lemah. " Oh iya Pak. Ini ada sedikit buat Pak Mamat dan yang ini buat di bagikan yang lain ya, Pak." Nathan memberikan dua amplop coklat.
Pak Mamat menerimanya dengan ragu. " Kenapa pak?" Nathan merasa sedikit aneh dengan raut Pak Mamat yang berubah sedih.
" Anu, Mas. Kalo boleh saya ikut kerja sama Mas Nathan aja. Saya udah cocok sama Mas Nathan dan Bu Fitri. Yaa jaga rumah juga gak papa." Ujar Pak Mamat sambil tertunduk merasa malu.
" Oh, Yaudah kalo gitu Pak Mamat ikut saya aja. Soal gaji nanti Pak Mamat bicarakan sama Ibu aja ya." Ujar Nathan di sambut dengan wajah ceria Pak Mamat.
" Terima kasih loh. Saya akan bekerja dengan giat." Pak Mamat bersemangat dan menjabat tangan Nathan.
Tingkah lucu Pak Mamat membuat orang- orang di sekitarnya tertawa.
" Senja gak dateng, Nath?" Tanya Bu Fitri sambil melihat ke jalan.
" Gak tau, Bu. Biar aku telpon." Ujar Nathan dan masuk ke dalam rumah. Karena suasana di luar sedikit ramai karena beberapa tetangga mampir untuk memberikan sedikit kenang- kenangan untuk mereka.
" Emang mereka udah baikan ya?" Bisik Nabila sambil menyenggol sikut Randy.
" Gak tau."
Mendengar hal itu. Membuat Bu Fitri tersenyum. " Dua minggu lagi mereka mau menikah." Ujar Bu Fitri.
Mendengar ucapan Bu Fitri yang santai seperti itu tetap saja membuat Randy dan Nabila terkejut mendengar kabar yang sangat mengejutkan.
__ADS_1
" Senja lagi di jalan, Bu. Sebentar lagi sampai." Jawab Nathan. " Kalian kenapa?" Tanyanya bingung melihat Randy dan Nabila yang masih mematung.