
Nabila menatap Randy yang sejak tadi terlihat gusar. Sambil membalas chatting tak lupa juga dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung harus menjawab apalagi.
" Kamu tuh kenapa sih? Dari tadi sibuk terus sama sama ponsel kamu."
" Ini sayang. Teman- teman SMA ku memaksa aku untuk tanya ke Nathan. Setuju atau engga dia jadi ketua." Randy memperlihatkan chat dari teman- temannya pada Nabila. " Nathan juga gak bisa dihubungin. Masa iya harus telepon Senja lagi." Gerutu Randy sedikit gemas dengan Nathan yang menghilang.
" Tumben ponselnya gak bisa dihubungin."
" Dia bilang terlalu berisik."
" Ya udah. Kenapa kamu yang pusing. Biarin aja. Nathan begitu juga pasti punya alasan sayang." Nabila menenangkan.
" Tapi mereka mendesak aku."
" Taro ponsel kamu. Lebih baik kita makan dulu." Ajak Nabila dan menggandeng tangan Randy keluar dari kamar mereka.
" Oke." Randy meletakkan ponselnya begitu saja di atas kasur.
Belum sampai langkahnya keluar kamar. Ponselnya sudah berdering.
" Udah. Ayo." Nabila mencegah Randy yang hendak mengambil kembali ponselnya.
Nabila terus menatap lekat wajah Randy yang terlihat sedikit gusar. Randy mengunyah makanannya dengan cepat seolah ingin segera meninggalkan meja makan.
" Pelan- pelan." Ujar Nabila mengingatkan ketika Randy tersedak makanan.
" Aku perhatikan. Sejak pagi kamu kelihatan sibuk dengan ponselmu. Kalau boleh tau. Kamu sedang bahas apa dengan siapa?" Tanya Nabila yang memang sejak tadi dia penasaran. Karena Randy terlalu sibuk membalas chat di ponselnya.
" Kita lagi bahas program klinik gratis di daerah terpencil, sayang. Sama teman- teman SMA ku." Jawab Randy.
" Bagus dong. Terus apa yang kelihatan kamu gelisah begini?"
Randy meneguk habis air mineral di gelasnya dan kemudian melihat Nabila yang terlihat penasaran. " Teman- temanku banyak yang mau menyumbang dan ikut andil dalam program tersebut. Masalahnya adalah..." Randy menarik nafas panjang. Nabila menunggu kelanjutan kalimat Randy. " Nathan."
__ADS_1
" Lho. Kenapa dengan Nathan?" Nabila tak mengerti.
" Teman- temanku yang menyumbang banyak dari kalangan perempuan. Dan mereka gak setuju jika ketuanya itu Anton. Mereka maunya yang jadi ketua itu Nathan. Dari pagi sampe sekarang. Nathan bagaikan hilang ditelan bumi. Boro-boro dibalas. Di baca juga engga tuh chat di grup." Gerutu Randy.
" Terus yang bikin kamu gelisah apa? Kok aku gak nyambung ya."
" Mereka kan taunya aku sahabatan sama Nathan. Jadi mereka desak aku buat bujuk Nathan biar mau jadi ketua. Udah aku coba sayang. Tapi kayanya dia cuek- cuek aja." Randy mengacak rambutnya.
Nabila mulai mengerti. Nabila menggenggam tangan Randy erat. " Jangan terlalu bingung. Nathan bersikap begitu. Pasti ada alasannya. Biarkan aja mereka desak kamu. Cuekin aja. Jangan dibawa pusing ya." Nabila menatap Randy dengan senyum lembutnya.
" Terima kasih ya sayang. Kamu selalu bisa bikin aku tenang."
" Ehem Ehem." Pak Danny berdehem cukup keras hingga membuat Nabila dan Randy sedikit terperanjat. " Ini di meja makan." Pak Danny mengingatkan. Randy dan Nabila melemparkan senyum canggung mereka.
******
Nathan merasa badannya sudah cukup lelah karena aktifitas renangnya sepanjang hari tadi. Setelah selesai membersihkan tubuhnya. Dengan santainya. Nathan menghidupkan kembali ponselnya yang sejak tadi sengaja dia matikan untuk mengecek email yang masuk.
" Ya. Ada apa?" Tanya Nathan datar.
" Akhirnya aktif juga nomor kamu." Ujar Anton terdengar lega. " Kamu sudah baca chat dari teman- teman?"
" Belum. Dan aku tidak berminat." Jawab Nathan cuek.
Anton terdengar menarik nafas panjang. " Aku akan jelaskan. Para cewek- cewek yang ikut program kita...."
" Program mu." Ralat Nathan cepat memotong pembicaraan Anton.
" Ya. Program ku. Mereka mau kamu jadi ketuanya, Nath. Kalo engga. Mereka gak jadi nyumbang."
" Kenapa begitu?"
" Aku gak tau alasannya apa. Tapi mereka mintanya seperti itu."
__ADS_1
" Maaf. Aku sibuk. Jika mereka ingin menyumbang hanya karena aku. Bilang pada mereka. Sebaiknya uang mereka disimpan saja. Cari donatur yang lain." Ucap Nathan terdengar tegas.
" Tapi Nath. Dana yang akan mereka berikan cukup besar nilainya."
" Itu urusanmu. Aku tidak mau ikut campur. Bukan aku tidak ingin ikut kegiatan sosial secara langsung. Tapi untuk menjadi ketua. Aku rasa. Tidak tepat. Aku bukanlah orang yang ahli di bidang itu. Kamu mengerti bukan?!" Nathan kembali mempertegas penolakannya.
" Tapi Nath."
" Biar aku yang akan sampaikan di grup. Aku juga tidak mau di ikut sertakan dalam grup apapun. Terlalu ramai ponselku. Ponsel ini aku gunakan juga untuk bisnis. Bukan sekadar komunikasi dengan teman- teman."
Anton kembali menarik nafas dalam. Ucapan Nathan seakan menampar dirinya yang tanpa izin memasukkan Nathan dalam grup chattingnya.
' Ddrrrtttt.'
Nathan kembali menghembuskan nafas kesal ketika nama Randy tertera dilayar ponselnya. Dengan menahan emosinya yang masih tersisa. Nathan menarik nafasnya dalam.
" Ada apa?" Tanya Nathan dengan nada dingin.
" Santai, Nath." Ujar Randy. " Kemana saja kau hari ini? Tidak biasanya ponselmu tidak aktif."
" Aku di rumah. Jika kamu mau membahas tentang program Anton. Aku sudah membahasnya dengan Anton." Sahut Nathan dingin.
" Kenapa kamu terdengar marah?"
" Ya, aku memang marah. Karena Anton sembarangan memasukkan aku ke dalam grup. Aku tidak akan semarah ini jika tidak ada yang chat secara pribadi padaku dengan menggoda. Aku lelah dengan permasalahan itu." Ucap Nathan menjelaskan pada Randy.
Randy menarik nafasnya dalam dan membenarkan semua kalimat Nathan. Para perempuan yang bersikeras ingin Nathan menjadi ketua. Hanya semata ingin membuat pertemuan mereka lebih sering.
" Ya. Aku mengerti sekarang. Aku akan jelaskan pada mereka." Ujar Randy.
" Tidak perlu. Biar aku sendiri saja." Sanggah Nathan cepat dan segera menutup panggilan telepon mereka.
Nathan menarik nafas dalam dan langsung mengirimkan pesan ke dalam grup chat itu. Ucapan yang dia ucapkan pada Anton tadi. sama seperti yang dia tulis saat ini. Begitu pesan itu terkirim. Tidak sampai lima menit. Grup itu kembali ramai dengan berbagai bujukan teman- temannya yang lain agar Nathan mau menerima jabatan ketua itu. Nathan tidak lagi menjawab ucapan mereka. Melainkan dia langsung keluar dari grup chat itu. Bersikap seolah tidak peduli dengan kegaduhan yang ada.
__ADS_1