
Satu jam berlalu.
Friska menghampiri Anggi yang terbaring. Dia cium pucuk kepala putrinya. Berbeda dengan Nathan yang melihat sosok Friska yang belum menyadari kehadirannya. Nathan perlahan menjauh dan tidak ingin ada pembicaraan lagi dengan wanita itu.
" Om mau kemana?" Tanya Anggi yang menyadari jika Nathan ingin pergi.
Friska yang baru menyadari jika sejak tadi ada orang yang mendampingi putrinya segera menoleh.
" Om harus ke kantor lagi." Ucap Nathan cepat dan segera keluar dari ruangannya.
Friska yang sangat mengenal postur tubuh Nathan segera berlari menghampiri Nathan yang sudah berada di luar ruangan UGD.
" Tunggu, Nathan." Friska menarik tangan Nathan.
Namun dengan cepat Nathan menepisnya. " aku hanya menolong putrimu. Tidak ada yang perlu kita bicarakan Friska." Ucap Nathan tegas.
" Nathan. Dengarkan aku sebentar saja." Ucap Friska dengan nada memohon.
Nathan menghentikan langkahnya dan beralih menatap Friska tajam. Perlahan Friska menatap Nathan dengan tatapan sendu. Dan
' Cup'
Friska mendaratkan bibirnya pada bibir Nathan. Hingga Nathan bersandar pada tembok karena Friska seperti menubruk tubuhnya.
Nathan langsung melerai tubuh Friska dari tubuhnya. " Apa kamu sudah gila?!" Omel Nathan.
" Ucapan terima kasihku, Nath."
Nathan hanya menatapnya sinis dan segera meninggalkan Friska dengan wajah kesal. Andai saja Friska bukan seorang wanita. Pasti sudah lama dia menghajar Friska.
Friska tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mencium Nathan. Bibirnya membuat candu. " Aku harus mendapatkanmu, Nath." Ucap Friska yang terus saja menatap punggung Nathan yang menjauh dan menghilang di tikungan.
*****
Senja menyendokkan nasi ke dalam piring Nathan dan meletakkan sepotong ayam goreng juga capcay yang tadi dia masak untuk suaminya. Gio sudah asik dengan makanannya. Anak itu selalu saja memakan apapun yang dimasak Senja tanpa pilih-pilih.
Makan malam berlangsung dengan sunyi. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Senja hanya berusaha mencuri pandang suaminya yang asik dengan makanannya.
' Tok Tok Tok.'
" Masuk, Pak." Ucap Nathan setengah berteriak dan kemudian menghampiri Pak Mamat.
" Ada Mas Randy."
" Suruh masuk saja." Ucap Nathan.
" Parah lo." Sergah Randy kesal karena telah dibuat menunggu.
Nathan hanya tersenyum dan mempersilahkan Randy juga Nabila untuk duduk.
" Kalian sudah makan?" Tanya Nathan yang memang sengaja dia tidak memenuhi ajakan Nabila agar mereka bisa berdua saja.
__ADS_1
" Belum. Kan kita nungguin elu, Nath." Jawab Randy cepat.
Nathan tertawa kecil. " Kebetulan kita lagi makan malam. Gabunglah." Nathan mengajak mereka.
" Oke. Sama aja lah jadinya. Makan malam bersama." Ujar Nabila dan segera berjalan menghampiri meja makan.
" Hai, Nab." Sapa Senja senang dan segera menyiapkan piring serta sendok untuk Randy dan Nabila makan.
" Suamimu parah, Senja. Bikin kita nunggu di restoran." Keluh Randy pada Senja.
" Oh ya?" Tanya Senja yang memang tidak tahu apapun.
" Apa Nathan tidak bilang kalau kita akan makan malam bersama?" Tanya Nabila merasa heran.
" Tidak." jawab Senja.
Nabila segera bangkit dan menghampiri Nathan. " Kamu mengerjai kami ya.." Omel Nabila sambil menyerang Nathan dengan cubitannya.
Nathan yang sangat anti dengan cubitan pada pinggangnya terus berusaha menghindar. " Ampun, Nab." Ujar Nathan memohon.
Nabila menghentikan tindakannya yang menyadari jika semua pasang mata menatap kearahnya dan Nathan yang tengah bercanda.
" Maaf." Gumam Nabila pelan dan segera kembali pada kursinya.
" Aku sengaja. Biar kalian berduaan. Eh kalian malah kesini." ujar Nathan dan kembali duduk.
Randy segera menyendok nasi ke piringnya juga Nabila. Dengan segera mereka menghabiskan makanannya. Randy dan Nathan duduk bersama di halaman belakang. Tempat favorit Nathan sekarang karena ibunya membuat taman kecil di sana. Nabila mengobrol bersama Senja di ruang keluarga.
" Jadi anak siapa yang lu tolong?"
" Apa? Perempuan itu lagi?!" Seru Randy sedikit terkejut.
" Gue juga kaget liat dia datang dan langsung mencium anak itu. Gue langsung pergi."
" Terus dia gak tahu dong kalo lu yang nolong anaknya?"
" Tahu. Karena anaknya manggil gue. Dia nengok. dan ngejar gue sampe lorong."
" Terus?" Randy semakin mendekatkan wajahnya.
" Dia nyium gue." Bisik Nathan.
" Nyium.." Nathan langsung menutup mulut Randy karena dia sedikit berteriak. Nathan tidak ingin Senja tahu hal ini. Dia tidak ingin membuat Senja sedih jika wanita itu masih terobsesi dengan dirinya.
" Gak ada kapoknya ya tuh perempuan!" Omel Randy setelah Nathan melepaskan tangannya dari mulut Randy.
" Gue juga gak tau kenapa dia begitu banget ke gue."
" Laporin ke polisi aja, Nath."
Nathan menggeleng. " Kasihan anak- anaknya, Ran."
__ADS_1
" Tapi dia ganggu rumah tangga lu Nath."
" Gak taulah. Biar waktu aja yang jawab. Semoga Friska cepat sadar."
*****
Senja menarik nafas panjang dan berat. Pandangan matanya menerawang jauh menatap kaca meja rias. Nathan yang melihat istrinya termenung perlahan menghampiri istrinya dan mengelus lembut bahu Senja.
Senja menoleh ke arah Nathan dan tersenyum.
" Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Nathan.
Senja menghela nafas panjang. " Tadi di grup chat aku dengan teman- teman sekolahku mengabari jika anak Friska kecelakaan siang tadi."
" Lalu?"
" Mereka mengajak untuk menjenguk anak Friska bersama- sama."
Nathan tersenyum dan duduk dilantai menghadap Senja yang duduk di kursi meja rias.
" Kamu berat hati untuk menjenguknya?" Tanya Nathan. Senja mengangguk. " Balaslah kejahatan dengan kebaikan. Semoga perlahan bisa mengikis kejahatan itu."
" Tapi, Nath."
" Aku tidak memaksa, Senja. Jika kamu merasa berat. Tidak perlu kamu jenguk. Jika kamu ingin menjenguknya, aku tidak melarang." Ujar Nathan lembut.
" Maafkan aku. Hatiku tidak sebesar kamu, Nath."
Nathan memeluk istrinya erat. " Tapi aku tidak sekuat kamu Senja." Ujar Nathan yang selalu mengingat betul bagaimana cobaan demi cobaan menimpa hidup Senja.
" Friska sudah sangat keterlaluan, Nath." Ujar Senja lirih.
" Sstt.. Sudah jangan menangis." Nathan mengelus punggung Senja dengan lembut.
" Apa kamu tidak ingin tahu alasan kenapa Friska sampai berbuat seperti ini padaku?" Tanya Senja melerai pelukan Nathan.
" Jika kamu mau bicara. Silahkan. Aku tidak mau bertanya karena aku tidak ingin kamu terluka, Senja."
Senja menyeka air matanya. " Saat sekolah. Friska menyukai seorang pria. Namanya Riza. Tapi ternyata Riza menyukai aku."
" Riza Mahardika?" Tanya Nathan yang mengingat Riza juga teman sekolah Senja.
Senja mengangguk.
" Kalian pacaran?"
" Engga. Aku nolak dia. Karena aku tahu kalo Friska sudah lama menyukai Riza." Sanggah Senja menepis cepat dugaan Nathan.
" Kenapa Friska selalu mengganggu hidupmu?" Nathan mulai penasaran.
Senja menarik nafas panjang. " Dona pernah bilang kalau salah satu faktornya adalah masa lalu kami. Tapi selebihnya adalah obsesinya untuk memiliki kamu, Nath."
__ADS_1
Nathan sedikit terhenyak mendengar hal itu. Nathan menundukkan kepalanya dan menarik nafas dalam. " Apa yang harus aku lakukan agar dia menjauh dariku?"
" Aku gak tahu, Nath. Aku hanya berharap semoga Friska segera sadar jika tindakannya salah." Ucap Senja pilu.