
Senja menarik nafas panjang ketika akan melangkahkan kakinya kembali ke rumah Nathan. Kedatangannya kali ini hanyalah untuk meminta maaf padanya karena salah paham. Dia terpaksa mengunjungi rumah Nathan karena sepertinya Nathan sudah memblokir nomor ponselnya.
" Senja." Seru Bu Fitri senang melihat kedatangan Senja bersama Gio.
Gio segera mencium punggung tangan Bu Fitri dan memeluknya erat. Kesehatan Bu Fitri sudah jauh lebih baik dari pada keadaannya saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya mulai berisi kembali. Tubuhnya jauh lebih sehat.
" Nathan belum pulang. Mungkin dia pulang malam." Ujar Bu Fitri memberitahukan Senja.
" Aku tunggu saja, Bu. Boleh?"
" Tentu saja boleh. Memangnya kamu tidak telepon dia dulu?" Bu Fitri duduk di sofa panjang di hadapan Senja. Bi Sumi menyuguhkan secangkir teh hangat untuk Senja dan Gio.
" Senja gak bisa menghubungi Nathan, Bu."
" Kalian bertengkar?" Selidik Bu Fitri.
" Ini salah Senja, Bu. Maafkan Senja."
" Nathan sudah lelah dengan semua yang terjadi. Jangan kamu tambahkan." Ujar Bu Fitri menasihati.
" Iya Bu." Senja tertunduk.
" Ibu tinggal ke dalam dulu ya."
" Iya Bu."
Tiga jam lebih Senja menunggu Nathan. Bu Fitri sepertinya sudah tahu permasalahannya hingga dia enggan duduk bersama Gio dan Senja. Bu Fitri terlihat cuek.
" Assalammu' alaikum." Sapa seseorang yang sejak tadi di tunggu- tunggu.
" Wa' alaikumsalam." Jawab mereka berbarengan. Gio langsung turun dari sofa dan berhambur memeluk Nathan yang masih terkejut dengan kehadiran mereka.
" Ada perlu apa?" Tanya Nathan dengan wajah lelahnya.
" Aku mau minta maaf."
" Sudah aku maafkan."
Senja tersenyum. " Aku sudah tahu semuanya, Nathan."
" Baguslah. Aku harap kamu tidak membatalkan kembali rencana pernikahanmu dengan Reza." Sahut Nathan dingin dan meninggalkan Senja di ruang tamu. Gio pun tak luput dari sikap cuek Nathan.
" Kalau begitu kami pamit pulang." Ucap Senja dan sebenarnya sangat berharap Nathan akan mengantarnya pulang.
__ADS_1
" Hati- hati." Sahut Nathan masih dengan sikap cueknya.
Senja yang kecewa dengan sikap Nathan akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah itu. Dan dirinya terpaksa berjanji tidak akan menginjakkan kakinya lagi ke rumah itu. Sikap Bu Fitri dan Nathan sudah menjelaskan bagaimana posisi Senja saat ini.
Senja berdiri mematung di pinggir jalan raya menunggu taksi lewat. Tangannya terus saja menggenggam jemari kecil Gio. Kasihan anak ini. Dia sangat berharap kedatangannya disambut hangat oleh Nathan. Baru kali ini Senja melihat tatapan sedih Gio. Penolakan Nathan sangat membuat luka di hati anak kecil itu.
" Masuklah!" Perintah Nathan dingin ketika dia menghentikan mobilnya tepat didepan Senja.
" Aku naik taksi saja." Tolak Senja.
" Kasihan Gio." Bujuk Nathan masih dengan wajah datar.
Senja melihat putranya yang berdiri lesu. Akhirnya dia menerima tumpangan Nathan. Gio masih tertunduk diam tak berani berbicara dengan Nathan. Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang tercipta antara ketiganya.
" Terima kasih." Ucap Senja dan turun dari mobil Nathan. Senja terdiam ketika melihat Reza sedang berdiri di teras rumahnya menunggu kedatangannya.
Nathan hanya mengangguk pelan dan kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya kembali.
Senja berjalan dengan perasaan serba salah. " Kamu sudah lama?" Tanya Senja gugup.
" Lumayan. Habis bertemu Nathan?" Tanya Reza dengan tatapan tidak suka.
Senja yang gugup kesulitan memasukkan anak kuncinya.
" Om Reza juga mau pergi sama seperti papa?" Tanya Gio sedih. Air matanya yang sejak tadi membendung kini tumpah ruah semuanya.
" Engga sayang. Om Reza akan selalu ada buat Gio." Hibur Reza.
Senja masih tertunduk dan menangis dalam diam. Tak sanggup rasanya dia melihat anaknya terluka karena akibat dari keegoisannya.
" Gio sayang sama papa." Ucap Gio di iringi tangis yang pecah. Reza memeluk Gio dan berusaha menenangkannya.
" Masuklah." Senja mempersilakan.
Reza masih menggendong Gio yang begitu terluka. Cukup lama menenangkan Gio. Hingga anak itu tertidur karena kelelahan menangis.
" Maaf repotin kamu." Ujar Senja merasa tidak enak hati.
" Apa yang terjadi. Kenapa Gio sangat sedih seperti ini, Senja?"
" Nathan mengacuhkan kami." Jawab Senja. " Aku datang ke rumahnya hanya untuk meminta maaf karena telah salah paham." Ucap Senja berhati- hati dengan kalimat yang akan keluar dari mulutnya. Takut akan melukai hati Reza.
" Kenapa? Bukankah selama ini Nathan sangat menyayangi Gio?" Reza masih tidak mengerti kenapa Nathan bisa bersikap seperti itu.
__ADS_1
Senja menarik nafas panjang. " Aku yang memintanya. Agar Gio bisa menerimamu."
Reza mendengus kesal. " Tidak seperti ini Senja. Gio sangat terluka. Aku bisa bersabar agar kamu dan Gio bisa menerimaku dengan tangan terbuka." Reza mendebat pernyataan Senja.
" Tapi Za..."
" Aku akan bicara dengan Nathan!" Ujar Reza marah.
" Tidak perlu, Za." Cegah Senja. " Saat ini aku hanya ingin fokus menata kembali hidupku bersama kamu." Pinta Senja dengan wajah memelas.
Tak tega dengan Senja dan Gio. Reza mengangguk setuju. Walaupun dalam hatinya dia tidak ingin menjauhkan Gio dari Nathan. Dia ingin anak kecil yang sedang terlelap dalam pangkuannya kini bisa bahagia.
.*****
" Kamu gak sarapan dulu sayang?" Tanya Bu Fitri melihat Nathan terburu- buru menuju pintu.
" Di kantor aja, Bu. Aku udah telat." Ujar Nathan lalu bergegas menuju pintu rumahnya.
" Astagfirullah." Nathan tersentak kaget melihat Angel ada di depan pintu rumahnya.
" Kenapa kakak kaget begitu?" Tanya Angel bingung.
" Maaf aku sedang buru- buru." Ujar Nathan dan meninggalkan Angel.
" Aku ikut kak!" Teriak Angel dan tanpa izin dia ikut masuk ke dalam mobil Nathan. Duduk di kursi penumpang bagian depan.
" Aku sedang buru- buru Angel."
" Aku mau ngobrol sama kakak." Ujar Angel manja.
'Ck' Nathan merasa sebal karena dia dikejar waktu. Tidak digubrisnya kehadiran Angel yang terus saja memandang Nathan lekat.
Sesampainya di depan loby. Nathan segera melemparkan kunci mobilnya pada petugas security yang sudah dia percayai. " Tolong parkirkan" Ujar Nathan setengah berteriak. Matanya terus saja menatap jam tangannya.
" Kakak kaya di kejar setoran." Sindir Angel.
Nathan tetap cuek. Dirinya tidak ingin lagi berurusan dengan Angel. Baru saja akan masuk lift. Ponsel Nathan berdering.
" Ya Silvi. Aku sudah di lift." Ujar Nathan dan langsung menutup sambungan telepon itu.
" Apa kamu akan terus mengikutiku?" Tanya Nathan yang risih dengan kehadiran Angel.
Angel mengangguk. " Aku mau cerita banyak sama kakak." Ucap Angel manja.
__ADS_1
Baru mau melangkah keluar dari lift karena sudah sampai di lantai yang mereka tuju. Ponsel Nathan kembali berdering. " Ayahmu menelpon. Pulanglah. Aku tidak mau berurusan dengan kalian lagi. Dan secepatnya aku akan membawa ibuku keluar dari rumah itu. Sampaikan kepada ayahmu rasa terima kasihku atas kebaikannya selama ini." Ucap Nathan dingin dan meninggalkan Angel terpaku di depan lift menatap punggungnya menghilang ketika memasuki pintu kantornya.