
" Ihh.. Kamu gemes banget sih." Ujar Nabila ketika melihat bayi Senja dan Nathan yang berada di dalam boks bayi.
" Semoga kamu bisa cepat menyusul ya." Doa Senja menanggapi ucapan Nabila.
Nabila menatap Senja sekilas dan hanya tersenyum. Dirinya tidak mungkin bisa hamil secepat itu. Karena semenjak menikah hingga saat ini. Nabila dan Randy belum melakukan hubungan suami istri. Nabila merasa belum siap untuk melakukan hal itu dengan Randy beruntungnya. Randy sangat mengerti hal itu.
" Semoga doa kamu terkabul Senja. Aku tidak sabar dengan kehadiran Nabila junior." Sahut Randy sambil memegang bahu istrinya lembut.
' Cklek.'
Pintu ruangan Senja terbuka dan terlihat Nathan yang memasuki ruangan dengan menenteng sekantong belanjaan. " Lho. Kapan kalian datang?" Seru Nathan senang yang melihat pasangan pengantin baru itu.
" Baru saja." Sahut Randy dan bersalaman dengan Nathan tak lupa juga mengadu bahu mereka pelan.
Nabila hanya menatap Nathan sekilas dan kembali menatap bayi kecil yang tengah melihat mereka dengan tatapan polosnya.
" Menurut kalian. Bayi itu mirip siapa? Aku atau Nathan?" Tanya Senja yang melihat Nabila sangat menikmati memandang bayi mungil itu.
" Wajahnya mirip kamu Senja. Namun bibir serta matanya mirip Nathan." Jawab Nabila sambil mengelus lembut pipi halus bayi mungil itu.
" Apa kalian sudah memberikan nama?" Tanya Nabila.
" Muhammad Yusuf Ferdinand." Jawab Senja.
" Kamu bercanda Senja. Kamu hanya mengganti nama tengah Nathan." Sahut Randy merasa aneh nama anak mereka persisi dengan nama Nathan.
" Kamu yakin sayang?" Tanya Nathan yang memang masih mencari nama yang bagus untuk anaknya.
Senja tersenyum dan mengangguk. " Aku ingin dia seperti Nabi Yusuf yang tampan namun imannya tak tergoyahkan oleh perempuan manapun yang sangat ingin memilikinya." Ujar Senja mengungkapkan dengan alasannya.
" Jika itu yang kamu inginkan. Aku tidak keberatan." Nathan menatap putra kecilnya.
" Gio gak kesini?"
" Baru saja dia pulang. Dia sangat senang melihat adiknya dan tidak sabar untuk membawa adiknya pulang."
" Oh iya. Apa yang kamu beli sayang?" Tanya Senja.
Nathan langsung menghampiri kantung belanjanya yang tadi dia letakkan di atas nakas samping ranjang Senja dan mengeluarkan makanan serta minuman yang dia beli.
__ADS_1
" Makanlah." Nathan melempar satu bungkus roti isi pada Randy.
" Hei. Makanan di lempar- lempar." Imbuh Randy pada Nathan yang tertawa.
" Kenapa dia tidak menangis?"
" Dia memang jarang menangis. Apalagi jika banyak orang seperti ini. Sepertinya dia menikmati menjadi pusat perhatian." Sahut Nathan. " Gendong saja jika kamu mau."
" Aku takut." Ujar Nabila menolak.
Nathan mengambil anaknya dari boks bayi dan mengajarkan Nabila menggendongnya. Nabila tampak takjub bisa menggendong bayi mungil itu. Di tatapnya lekat- lekat bayi yang memiliki rambut hitam tebal, hidung mancung, sorot mata yang tajam namun meneduhkan, pipi yang merona dan bibir tipis berwarna kemerahan.
" Aku sangat ingin membawanya pulang."
" Bayinya atau papanya?' Gurau Randy namun di balas dengan tatapan tajam Nathan padanya.
" Kita perlu bicara." Nathan langsung menarik Randy keluar dari ruangan Senja.
Randy hanya menurut mengikuti Nathan yang membawanya ke sebuah taman yang berada di rumah sakit itu. Nathan duduk pada bangku taman.
" Ayolah Nath. Aku hanya bercanda." Ujar Randy santai.
" Hei!" Seru Randy sedikit tersinggung. " Oke aku salah. Aku minta maaf."
" Minta maaflah pada Nabila. Hatinya yang sedang berjuang tapi kamu malah melukainya. Melupakan tidak semudah mengucapkan. Kamu tau hal itu kan?!"
Randy tertunduk dan raut wajah penyesalan terpancar. " Aku sedikit kesal sebenarnya dengan Nabila. Sampai hari ini kami belum melakukan hubungan suami istri."
" Harusnya kamu bicarakan hal itu dengan istrimu. Cukup kalian yang tau masalah itu." Nasihat Nathan.
" Aku tidak tau harus apa lagi. Agar dia menerimaku." Randy mengusap wajahnya kasar.
" Sabarlah." Nathan menepuk punggung Randy.
Randy menarik nafas panjang dan mengangguk. Semua memang butuh waktu. Pernikahan mereka juga dibilang sangat singkat. Pak Danny tidak ingin melihat mereka berpacaran. Mengusulkan untuk segera menikah.
" Aku masuk dulu." Nathan menepuk bahu Randy yang masih terdiam memikirkan nasib pernikahannya.
" Randy mana?" Tanya Nabila yang melihat Nathan hanya datang seorang diri.
__ADS_1
" Masih duduk di taman belakang." Jawab Nathan dan mengambil bayi Yusuf dari gendongan Nabila untuk diberikan Asi pada Senja.
Ayuna segera menyusul Randu di taman belakang. Nabila menatap Randy yang duduk dengan kedua tangannya menopang kepalanya yang bertumpu pada lutut. Wajahnya tampak gusar. Entah apa yang mereka bicarakan tadi hingga membuat Randy terlihat gusar seperti itu.
Nabila menghampiri suaminya dan duduk di sebelah Randy. Randy mengangkat kepalanya dan menatap Nabila dengan senyum tipisnya.
" Apa yang Nathan katakan?" Tanya Nabila penasaran dengan pembicaraan dua lelaki itu.
Randy tampak menghela nafasnya dan menegakkan badannya. " Sekarang aku mengerti kenapa banyak wanita cepat jatuh cinta pada Nathan." Ujar Randy membuat Nabila mengerutkan dahinya tak mengerti.
" Maafkan kata- kataku tadi. Aku tidak bermaksud menyinggungmu." Ujar Randy dengan penyesalan yang mendalam.
" Perkataanmu yang mana?"
" Saat kamu bilang ingin membawa baby Yusuf pulang tetapi aku menanggapi dengan gurauan bayinya atau papanya." Randy menjelaskan.
" Lupakan saja Randy. Aku tau kamu cemburu karena aku masih belum bisa menerimamu sepenuhnya." Nabila menarik nafas. " Yang perlu kamu tau. Sekarang aku sangat berusaha untuk melakukan itu. Itu sebabnya aku sedikit menghindari Nathan."
" Maafkan aku, Nabila. Aku mungkin tidak seperti Nathan yang begitu mengerti perasaan wanita. Tidak selembut Nathan dalam memperlakukan wanita."
" Tetapi yang tidak kamu sadari. Hatimu lebih besar dari Nathan." Nabila mengelus lembut pipi Randy yang sangat terlihat kegundahan hatinya. " Kamu mau menerimaku yang masih belajar mencintaimu." Nabila mengecup lembut pipi Randy.
" Aku sungguh mencintaimu, Nabila."
" Aku tau. Dan aku pastikan akan membalas cintamu. Jangan merasa kecil pada Nathan. Dia hanyalah sebuah kenangan bagiku. Dia tidak pernah menjadi bagian masa lalu dalam hidupku, Randy. Tetapi kamu jauh lebih besar dari Nathan. Kamu adalah masa depan untukku."
" Apa yang kamu bicarakan pada Randy?" Senja sedikit penasaran.
" Pembicaraan antar lelaki." Jawab Nathan dengan mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
" Jangan lakukan itu pada wanita lain." Senja tersipu melihat tingkah Nathan yang menggodanya.
" Apa kamu masih takut jika aku berpindah ke lain hati?" Senja mengangguk. " Diantara kita sudah ada pangeran kecil ini. Sepertinya untuk pindah kemungkinannya hanyaaa... Hemmmm.. Nol koma nol nol nol nol nol satu persen."
" Itu masih ada kemungkinannya Nathan." Senja memukul pelan bahu Nathan.
" Hahahha.." Nathan tertawa renyah. " Aku hanya manusia biasa, Senja. Aku selalu berdoa ini adalah pernikahanku yang terakhir. Dan kamu adalah perempuan terakhir dalam hidupku." Nathan menatap lekat wajah wanita yang sedang menyusui putranya itu.
" Kamu selalu berhasil membuatku menangis bahagia, Nathan."
__ADS_1
" Tetapi entah sudah berapa kali air mata kesedihan mengalir dari mata ini karena aku. Maafkan semua atas kesalahanku." Nathan mengecup lembut lengan Senja yang sedang menggendong bayinya.