
Sudah satu jam Nathan terjebak ditengah kemacetan. Mobilnya hanya bergerak beberapa meter saja dari tempat semula. Berkali- kali dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima sore.
" Ini macet kenapa ya. Dari tadi gak selesai." Gerutu Pak Tarno mulai merasa pegal pada punggungnya.
" Biar saya cek dulu, Pak." Ujar Nathan. Belum juga Pak Tarno menjawab. Nathan sudah turun dari mobilnya dan berjalan ke depan.
" Ikutin neng. Takut ada apa- apa sama bos." Ujar Pak Tarno yang merasa khawatir jika Nathan hanya seorang diri.
" Iya, Pak."Silvi ikut turun dan mengejar Nathan.
Nathan berjalan sudah cukup jauh dari mobilnya. Tetapi belum terlihat juga ujung dari kemacetan.
" Puter balik aja Pak. Ada Truk terguling nutupin badan jalan." Ujar seorang lelaki dengan handuk di lehernya setengah berlari.
" Truk apa, Pak?" Tanya Nathan masih penasaran.
" Truk tangki. Ini saya aja juga mau puter balik. Cari jalan lain. Cape dari tadi gak jalan- jalan." Keluh pria tersebut dan berjalan melewati Nathan.
Nathan melihat sebentar ke arah barisan kendaraan yang tak kunjung bergerak. Lalu berbalik.
' Buk'
" Aduh." Ringis Silvi yang terjatuh karena tertabrak Nathan yang tiba- tiba saja berbalik badan.
" Maaf, Sil. Saya tidak tahu ada kamu." Ujar Nathan dan membantu Silvi berdiri.
" Gak apa- apa, Pak." Silvi masih menepuk celananya yang kotor.
" Kita kembali ke mobil." Ujar Nathan dan berjalan mendahului Silvi.
Saat berjalan ke arah mobil. Tiba- tiba ada seorang pria berjalan cepat menghampiri Nathan yang masih santai menuju mobilnya. Dengan sengaja pria itu menabrak tubuh Nathan. Dan..
" Aw.. " Nathan sedikit meringis karena sebuah benda tajam menggores tangannya. Pria yang menabraknya tadi hanya menoleh sekilas dan langsung berlari.
" Hei!" Teriak Nathan.
" Kenapa, Pak.?"
Nathan memperlihatkan tangannya yang mengeluarkan darah segar.
" Ya ampun. Orang itu mau celakain Bapak?" ujar Silvi panik dan segera berlari menuju mobil.
" Ada apa neng?" Tanya Pak Tarno saat melihat Silvi masuk dan langsung mencari sesuatu di tasnya.
" Tangan Bapak berdarah." Sahut Silvi panik.
Dengan santainya Nathan masuk dan duduk di kursi penumpang.
" Biar saya bersihkan luka, Bapak." Ujar Silvi menawarkan.
__ADS_1
" Terima kasih. Biar saya lakukan sendiri saja." Tolak Nathan dan mengambil beberapa lembar tisu yang dipegang Silvi dan mulai membersihkan lukanya.
Entah siapa lagi orang yang menyuruh pemuda itu untuk mencelakakan dirinya. Nathan hanya menarik nafas panjang. Tak pernah sekalipun dia menyinggung orang lain.
******
" Besok teman- teman Gio mau ke rumah, Ma. Boleh ya." Ujar Gio ketika mereka sedang menikmati makan malam tanpa Nathan.
" Besok kan hari libur. Mereka sama siapa kesini?"
" Katanya sama Mama mereka." Ujar Gio dengan santainya dan melahap kembali nasi yang ada di piringnya.
Senja hanya tersenyum dan mengangguk menyetujui.
" Yeay.." Seru Gio senang.
" Nenek buatkan kue untuk teman- teman Gio ya."
" Iya, Nek. Kue buatan nenek kan terenak sedunia." Sahut Gio cepat.
Gio menatap jam dinding dan menoleh ke arah pintu depan. " Papa telat pulang lagi, Ma?" Wajah Gio mendadak murung.
" Iya. Papa lagi terjebak kemacetan. Kata Papa ada truk terguling. Jadi gak bisa jalan sama sekali. Doain Papa ya biar Papa pulang dengan selamat." Ujar Senja menjelaskan keterlambatan Nathan kali ini.
Gio mengangguk. " Kasihan. Papa pasti capek."
Gio mengangguk. " Sayaaaaaaang sekali."
Bu Fitri dan Senja tertawa melihat ekspresi Gio yang lucu.
" Assalammu'alaikum." Sapa suara yang sejak tadi mereka tunggu terdengar.
" Wa'alaikumsalam." Sahut mereka bersamaan namun sahutan Gio jauh lebih kencang dan segera turun dari kursinya kemudian berlari ke arah Nathan dan langsung memeluknya.
" Tangan Papa kenapa?" Tanya Gio melihat Tangan Nathan yang terlilit sapu tangan.
" Tadi kena ranting pohon. Jadi berdarah." Nathan berbohong.
Gio membimbing Nathan menuju meja makan. Diciumnya punggung tangan Bu Fitri dan Senja mencium punggung tangan Nathan.
" Kenapa tangan kamu?" Tanya Senja cemas.
" Cuma kena ranting sayang." Ujar Nathan tenang dan ikut duduk di meja makan.
" Kamu mau ikut makan?" Tanya Senja.
" Iya. Aku lapar." Jawab Nathan. Dengan cekatan Senja langsung menyendokkan nasi ke piring Nathan beserta lauknya.
" Kenapa kalian baru makan malam?" Tanya Nathan. Tidak biasanya mereka makan malam pada pukul delapan seperti ini.
__ADS_1
" Gio nunggu Papa. Tapi Papa gak dateng juga. Perut Gio lapar jadi Gio ajak Mama sama Nenek makan duluan. Maaf ya Pa." Jawab Gio menjelaskan.
Nathan tersenyum pada Gio dan mengacak lembut rambut Gio. " Lain kali jangan nunggu Papa. Papa gak mau Gio sakit karena telat makan. Oke?!" Nathan membuat kesepakatan dan Gio mengangguk cepat dan melanjutkan menghabiskan makanannya.
" Katakan padaku. Apa yang terjadi?" Cecar Senja saat Dia dan Nathan berada dalam kamar mereka.
Nathan menarik nafas panjang dan menatap Senja dengan tatapan hangatnya kemudian mendaratkan sebuah kecupan singkat pada bibir mungil istrinya.
" Jika aku cerita. Jangan panik." Nathan memperingatkan. Senja mengangguk cepat.
Nathan duduk di tepi ranjang mereka dan perlahan membuka sapu tangan yang membalut lukanya.
" Ya Allah. Lukanya cukup panjang, Nath." Ujar Senja berubah panik dan segera mengambil kotak P3K dari dapur.
Perlahan Senja membersihkan sisa- sisa darah yang mulai mengering dan meneteskan obat luka.
" Jangan dibalut. Lukanya tidak dalam." Cegah Nathan ketika Senja akan membuka kain kasa.
" Sekarang katakan padaku. Apa yang terjadi?" Desak Senja dengan wajah serius.
" Saat macet. Aku keluar untuk mencari tahu penyebab kemacetan yang tak kunjung terurai. Saat aku mau kembali ke mobil. Ada seseorang berpakaian hodie hitam dan memakai masker berjalan ke arah kemacetan. Aku pikir dia ingin melakukan hal yang aku lakukan tadi. Tapi ternyata dia sengaja menabrakku. Dan inilah. Entah dia mau melukai bagian yang mana sebenarnya. Tapi ternyata tanganku yang kena. Dan dia langsung berlari menjauh."
Senja menarik nafas dalam. Di tatapnya lekat kedua bola mata suaminya dengan tatapan sedih. Dan kemudian dipeluknya erat tubuh suaminya.
" Jangan cemas, Senja. Aku baik- baik saja." Ujar Nathan lembut.
" Seharusnya wajah ini membawa keberuntungan, Nath. Sikapmu yang lembut seharusnya membuat orang senang. Tetapi kenapa ada saja yang ingin mencelakaimu." Ujar Senja dengan suara lirih dan air mata mulai menetes membasahi pipinya.
" Sabar." Nathan menepuk nepuk pelan punggung istrinya yang berguncang karena isak tangisnya.
" Besok. Teman- teman Gio dan orang tuanya mau main ke rumah." Ujar Senja seraya menyeka air matanya.
" Oke."
" Tapi aku tahu, pasti mama mereka ingin melihat kamu." Ujar Senja sebal.
Nathan tersenyum melihat istrinya cemburu. Karena wajah Senja yang sedang cemburu sangat menggemaskan.
" Aku akan temani mereka." Sahut Nathan menggoda istrinya.
" Jangan tebar pesona, Nathan Ferdinand!" Senja memperingatkan Nathan dengan mata melotot.
Nathan tertawa melihat ekspresi lucu istrinya dan kemudian..
' Cup'
Sebuah ciuman hangat kembali dia daratkan pada bibir Senja dan bermain cukup lama.
Kemesraan mereka langsung tercipta dan perlahan mereka hanyut dalam buaian cinta mereka.
__ADS_1