Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
102


__ADS_3

" Tidak jadi sarapan Vir?" Tanya Senja yang merasa kedatangan Virni sangat cepat dan tidak membawa bingkisan apapun ditangannya.


" Tidak. Mendadak kepalaku rasanya pusing sekali." Ucap Virni berpura- pura tubuhnya lemas.


" Istirahatlah." Ujar Nathan datar dan masih diam di kursinya.


Virni berpura- pura berjalan sempoyongan.


" Bantu Virni, Nath." Ujar Senja pada Nathan yang bersikap acuh melihat Virni lemas.


" Biar aku saja." Ujar Nabila cepat yang masuk tiba- tiba dan langsung memapah Virni menuju sofa.


Melihat hal yang dilakukan Nabila. Virni sedikit menolak namun dipaksa Nabila untuk tetap memapah Virni.


" Apa kamu sakit, Vir?" Tanya Senja lembut.


" Sepertinya hanya kurang tidur saja. Aku tidak bisa tidur semalam." Ujar Virni beralasan.


" Nathan. Kamu antar Virni dulu ya. Biar Nabila yang menjagaku sebentar." Ujar Senja meminta Nathan mengantar Virni. " Kamu tidak keberatankan jika menjagaku sebentar?" Senja beralih pada Nabila.


Nabila langsung menggelengkan kepalanya. " Aku tidak keberatan sama sekali. Tapi bagaimana jika aku yang mengantar Virni pulang?" Tawar Nabila.


" Ide bagus, Sayang." Sahut Nathan mendukung usul Nabila.


" Kamu aja, sayang. Ada yang mau aku bicarakan dengan Nabila." Ujar Senja memaksa Nathan.


Nabila dan Nathan menarik nafas dalam dan saling beradu pandang sekilas seakan berkata rencana gagal. Virni diam- diam tersenyum puas dengan keputusan Senja.


" Baiklah." Nathan mengalah dan segera bangkit. " Ayo." Ajak Nathan datar pada Virni yang terus memegang kepalanya.


" Di bantu, Sayang. Aku takut Virni jatuh." Ujar Senja.


Nathan hanya melirik sekilas istrinya dan mengikuti kemauan istrinya menggandeng tangan Virni.


" Aku pulang dulu Senja." Ujar Virni lemas.


" Iya. Hati- hati di jalan jika suamiku ugal- ugalan. Bilang saja. Biar aku tatar dia kembali." Gurau Senja dan di tanggapi dengan senyum kaku dari Nathan.


Nabila duduk di kursi samping ranjang Senja menunggu Senja memulai pembicaraan.


" Aku boleh tanya sesuatu, Nabila?"


" Silahkan."


" Apa kamu menyukai Nathan?" Tanya Senja dengan tatapan sendunya.


Nabila terhenyak mendengar pertanyaan Senja. " Kenapa kamu tanya itu?"


" Apa kamu menyukai Nathan?" Tanya Senja lagi mengacuhkan pertanyaan Nabila.


" Tidak." Jawab Nabila tegas. " Kamu mencurigai kami?" Tanya Nabila berbalik mendesak Senja.


" Aku harap itu jawaban yang jujur, Nabila."


Nabila tersenyum sini menanggapi ucapan Senja. Tak menyangka jika Senja akan berpikir dia ingin merebut Nathan. " Kamu tidak perlu takut Nathan akan aku rebut. Yang perlu kamu waspadai adalah sahabatmu." Ujar Nabila dengan ucapan sinis.


" Maksud kamu, Virni?" Tanya Senja. Nabila mengangguk pasti. " Itu tidak mungkin. Aku tau sekali siapa Virni." Ujar Senja yakin.


Nabila hanya menarik nafas dalam. " Aku mau mengecek Randy sebentar. Apa boleh?"


" Iya. Maaf jika perkataanku menyinggung mu." Ujar Senja.

__ADS_1


Nabila tersenyum tipis. " Tidak masalah." Ujar Nabila singkat dan meninggalkan Senja.


Virni terus berpura- pura lemas di hadapan Nathan. Ketika sampai di rumah Nathan. Dirinya berpura- pura lemah tak berdaya.


" Turunlah, Vir." Ujar Nathan dingin.


" Kepalaku semakin sakit." Ujar Virni lemah.


Bu Fitri yang baru saja tiba dari belanja sayuran menghampiri mobil Nathan yang baru saja terparkir. Terlihat Virni masih duduk lemas di kursi penumpang.


" Virni kenapa Nath?"


" Kepalanya pusing." Jawab Nathan singkat dan dengan cuek masuk ke dalam rumahnya.


" Bantu Virni, Nath."


" Biar dia jalan sendiri, Bu." Tolak Nathan.


" Ingat, nath. Dia yang membantu Senja kemarin." Bu Fitri kembali membujuk.


Nathan berdecak kesal. Entah kenapa Senja dan Ibunya kompak membela Virni. Tak ingin membantah perintah ibunya Nathan kembali menghampiri mobilnya dan membuka pintu mobilnya. Dengan telaten, Nathan membantu Virni keluar dari mobilnya.


" Sakit sekali Nath." Keluh Virni.


Nathan tidak menanggapi. Virni kembali berulah berpura- pura berjalan sempoyongan karena dia menyadari Bu Fitri ikut melihatnya dengan wajah prihatin.


" Di gendong saja, Nath. Kasihan Virni kalau jatuh."


Nathan kembali berdecak kesal. " Tapi, Bu.."


" Cepat." Bu Fitri kembali mendesak.


Keadaan yang sangat menguntungkan untuk Virni. Kesempatan itu tak disia- siakan begitu saja oleh Virni. Aroma tubuh Nathan sangat tercium oleh Virni semakin membuat wanita itu mabuk kepayang.


Dengan lembut Nathan membaringkan Virni di kasurnya namun dengan sengaja. Virni menarik tangannya yang masih melingkar pada leher Nathan hingga Nathan hampir tersungkur di atas tubuh Virni.


" Maaf." Ucap Virni lemah.


Nathan tak menanggapi ucapan Virni dan segera keluar dari kamar Virni.


" Berikan ini pada Virni, Nath. Ibu mau merapikan Gio." Ujar Bu Fitri memberikan segelas teh hangat.


" Aku harus kembali ke rumah sakit, Bu." Tolak Nathan.


" Sebentar saja." Ujar Bu Fitri dan memberikan teh hangat tersebut pada Nathan.


Dengan terpaksa Nathan kembali memasuki kamar Virni dan meletakkan teh hangat tersebut di atas nakas sebelah kasur Virni.


" Minumlah." Ujar Nathan datar.


" Bantu aku. Kepalaku sakit sekali." ujar Virni sambil terus memijat kepalanya.


" Aku heran. Badanmu tidak demam sama sekali. Tetapi kenapa kepalamu terlihat seperti sakit sekali. Apa kamu pura- pura?" Tanya Nathan mulai muak dengan Virni yang seolah sedang mencari perhatiannya.


" Kepalaku benar- benar sakit, Nathan!" Ucap Virni sambil sedikit meringis.


Nathan kembali berdecak kesal. Dengan terpaksa Nathan kembali membantu Virni meminumkan teh hangat itu.


" Nathan." Panggil Virni kembali ketika Nathan akan keluar dari kamarnya.


" Bisakah kamu ambilkan ponselku?"

__ADS_1


Nathan hanya berdecak kesal dan tanpa bicara apapun dia tetap keluar dari kamar Virni mengacuhkan permintaannya.


Dengan hati yang kesal. Nathan kembali melajukan mobilnya ke rumah sakit. Jalanan yang macet semakin menambah emosinya. Berkali- kali dia menekan klakson mobilnya ketika lampu lalu lintas berubah hijau tetapi kendaraan di depannya tidak kunjung jalan.


Nathan semakin uring ketika tiba di rumah sakit. Tempat dia akan parkir mobil langsung diserobot oleh orang lain.


" Aarrgghh!" Nathan memukul stir mobilnya melampiaskan kekesalannya. Di tariknya nafas dalam- dalam dari hidung dan dibuang melalui mulutnya. Dia melakukan hal itu berkali- kali agar emosinya mereda. Setelah perasaannya membaik barulah dia turun dari mobilnya dan menuju ruangan Senja dirawat.


" Bagaimana dengan keadaan Virni?" Tanya Senja ketika melihat Nathan baru masuk dengan wajah suntuk.


" Bisakah membahas itu nanti?!" Nathan enggan membahas masalah Virni.


" Ada apa? Apakah ada masalah dengan kesehatannya?" Tanya Senja lagi merasa khawatir dengan keadaan Virni saat ini.


Nathan berdecak kesal dan mendenguskan nafasnya kasar. Di tariknya kembali nafas dalam- dalam mencoba mengatur kembali emosinya. Begitu khawatirnya sang istri pada sahabatnya hingga dia tidak sadar mimik perubahan Nathan.


Senja masih menatap Nathan menunggu jawaban darinya.


" Virni baik- baik saja sayang. Dia hanya perlu tidur saja." Ujar Nathan berbohong. Saat ini tidak mungkin rasanya dia menceritakan masalah ini pada Senja. Senja yang selama hamil perasaannya menjadi lebih sensitif dan mudah terbebani akan mempengaruhi janin yang dikandungnya.


" Syukurlah." Ujar Senja merasa lega.


" Sudah ada Nathan, bukan. Aku kembali ke ruangan Randy." Ujar Nabila.


" Randy?" Nathan sedikit heran.


" Iya. Semalam keadaannya memburuk. Kami membawanya kesini dan benar saja. Dia terkena typus. Jadi dia dirawat." Ujar Nabila santai dan berlalu.


" Aku temui Randy dulu ya sayang." Ujar Nathan cepat dan menyusul Nabila.


Senja yang masih penasaran dengan hubungan Nabila dan Nathan ikut mengikuti mereka secara diam- diam.


" Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Nathan pada Nabila.


Nabila menoleh kiri kanan dan kemudian duduk di kursi tunggu. Senja diam- diam sembunyi tak jauh dari mereka duduk sehingga apa yang mereka bicarakan dapat terdengar dengan jelas.


" Senja mencurigai aku." Ujar Nabila membuat alis Nathan saling bertaut.


" Lalu?"


Nabila menyunggingkan senyum pada sebelah bibirnya. " Jika aku mau. Sudah aku lakukan sejak dulu. Harusnya dia sadar siapa yang harus diwaspadai sekarang!" Omel Nabila yang masih kesal dengan sikap Senja.


" Iya." Nathan menyandarkan tubuhnya pada kursi. " Aku tau tadi Virni hanya pura- pura sakit kepala." Keluh Nathan.


Nabila membalikkan badannya dan menatap Nathan yang berubah lesu.


" Dia pura- pura tidak berdaya di depan Senja dan ibuku. Herannya mereka percaya. Senja memintaku mengantarnya pulang. Ibuku memintaku menggendongnya masuk ke kamar karena dia bilang kepalanya sangat sakit." Keluh Nathan lagi.


" Lalu apa lagi yang dia lakukan?" Nabila semakin penasaran.


" Dia terus meminta pertolonganku seakan ingin mencegahku kembali ke rumah sakit. Aku kesal dan sudah tidak peduli lagi. Aku tinggalkan dia di rumah."


" Dia harus diberi pelajaran, Nath." Nabila ikut merasa geram dengan tingkahnya yang selalu berpura- pura.


" Bagaimana? Aku tidak ingin dia tau tentang kelakuan sahabatnya padaku. Aku tidak mau jadi beban pikirannya."


" Iya. Sulit juga. Karena yang bisa meminta dia keluar dari rumahmu. Adalah Senja." Ujar Nabila sejenak berpikir.


Nathan membuang nafasnya kasar. " Pikirkan nanti saja urusan itu. Ayo kita temui Randy." Ujar Nathan dan Mereka melanjutkan langkah mereka menuju ruangan Randy dirawat.


Senja yang sejak tadi diam mendengarkan obrolan Nabila dan Nathan merasakan sesak yang teramat sangat karena ternyata sahabatnya yang selama ini dia pikir baik ternyata ingin menikamnya. Senja kembali merasakan nyeri pada perutnya dan berjalan tertatih menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2