
Senja hanya menarik nafasnya panjang ketika dia membaca pesan dalam grup chating bersama teman sekolahnya. Mereka semua bertanya pada Senja lewat grup maupun secara chat pribadi pada Senja penasaran dengan kasus yang menimpa Friska.
Enggan rasanya menjawab semua pertanyaan itu. Karena Senja merasa pertanyaan mereka lebih kepada rasa penasaran daripada rasa pedulinya.
' Tok Tok Tok.'
Senja segera membuka pintu kamarnya dan terlihat Ibu Fitri berdiri dengan wajah sedihnya. Wanita yang sudah tidak muda lagi selalu di khawatirkan dengan keadaan putra semata wayangnya. Dia langsung menghambur memeluk erat tubuh menantunya yang menatapnya sendu.
" Ibu harus kuat." Ujar Senja dengan suara parau karena menahan tangis.
Suara tangis Bu Fitri pecah dalam pelukan Senja. Lelah rasanya bagi seorang wanita tua terus memendam rasa sedihnya seorang diri.
" Jangan menangis, Bu."
" Ibu takut kehilangan Nathan, Senja." Ucap Bu Fitri disela isak tangisnya. " Sudah lebih dari tiga hari dia belum sadar juga."
" Sabar, Bu. Anakku juga membutuhkan ayahnya." Ucap Senja tak kalah sedih sambil mengelus perutnya.
" Seharusnya kehamilan ini membawa kabar bahagia untuk Nathan. Tetapi.." Bu Fitri kembali menangis terisak.
Senja membimbing mertuanya untuk duduk di tepi kasurnya. Dia menyeka air mata Bu Fitri dengan lembut dengan ibu jarinya.
" Aku yakin, Nathan akan siuman dengan doa ibu."
" Ibu tidak habis pikir. Kenapa Nathan selalu saja ingin dilukai. Salah apa Nathan pada orang lain."
Senja hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Bu Fitri. " Istirahatlah, Bu. Besok kita ke rumah sakit. Siapa tau saja dengan kehadiran ibu bisa membuat Nathan siuman." Hibur Senja.
" Iya Senja. Besok ibu akan melihat Nathan."
Senja memang melarang Bu Fitri untuk bertemu Nathan sejak Nathan dirawat. Keadaan Nathan yang terluka parah tidak ingin membuat Bu Fitri semakin terpuruk dan sedih. Kesehatan Bu Fitri sangat lemah jika pikirannya terganggu.
Besok aku akan membawa Bu Fitri ke rumah sakit. Tolong samarkan keadaan Nathan sebisa mungkin, Ran. Aku tidak ingin Ibu kepikiran.
Senja mengirimkan sebuah pesan pada Randy.
*****
" Kamu mau kemana Senja?" Tanya Dona yang baru saja akan mengetuk rumah Senja namun keburu Senja membuka pintunya.
" Ke rumah sakit." Jawab Senja datar.
" Bolehkah aku ikut?"
" Tentu." Ucap Senja dan mengajak Dona ikut semobil bersamanya dan Bu Fitri.
" Apa aku mengganggumu?" Tanya Dona. Khawatir jika Senja merasa tidak nyaman dengan kehadirannya yang muncul di pagi hari.
" Tidak, Dona."
__ADS_1
" Nama kamu siapa, Nak?" Tanya Bu Fitri yang penasaran karena sejak tadi Senja lupa memperkenalkan Dona pada mertuanya.
" Dona, Tante."
" Kamu cantik sekali." Puji Bu Fitri ramah.
" Terima kasih, Tante."
Obrolan sepanjang perjalanan menuju rumah sakit pun mendominasi obrolan Bu Fitri dan Dona yang saling bertukar cerita. Hingga tak terasa lelah walaupun mobil yang mereka tumpangi saat ini tengah menerobos kemacetan ibu kota.
" Hai, Ran." Sapa Senja saat memasuki ruangan Nathan dirawat.
Randy yang sedang menguap lebar seketika menutup mulutnya yang terbuka. Karena Senja tidak datang sendiri.
" Ini, Dona. Dia temanku saat sekolah." Senja memperkenalkan Dona pada Randy. Mereka saling menjabat tangan.
" Apa sudah ada perkembangan?"
" Masih sama, Senja. Tetapi semalam entah aku bermimpi atau tidak. Aku melihat jari tangan Nathan bergerak. Tetapi aku menunggu dia segera membuka matanya. Tidak juga." Ujar Randy.
" Kamu pikir ini film yang tangannya bergerak kemudian pasien langsung sadar." Ledek Senja pada Randy yang menggaruk kepala belakangnya.
" Aku juga sudah bilang ke dokter."
" Lalu?"
" Itu artinya kondisi Nathan sudah sangat stabil. Syarafnya mulai memberikan responnya." Lanjut Randy.
" Aku berharap Nathan sadar."
" Aku juga." Ucap Randy dan duduk pada sofa yang ada di ruangan itu.
" Pulanglah, Ran. Biar aku yang menjaga Nathan hari ini." ujar Senja yang kasihan melihat wajah lelah Randy.
" Tidak Senja. Aku tidak mau kamu kelelahan."
" Tidak akan." Senja meyakinkan. " Kamu bisa sakit jika terus memaksakan keadaan." Senja bersikeras. Karena melihat wajah Randy yang sudah kelelahan karena terus menjaga Nathan yang pasti tidak akan membuat dia tidur dengan nyenyak.
" Baiklah. Aku akan meminta Nabila menemani kamu." Randy mengalah.
" Oke."
Senja menghampiri Bu Fitri yang masih memandangi wajah putranya dan sesekali membelai lembut kepala Nathan. Air matanya kembali menetes membasahi pipinya.
" Salah apa kamu, Nak dengan perempuan itu?" Keluh Bu Fitri yang semakin sedih melihat keadaan Nathan.
" Ibu duduklah. Ibu pasti lelah." Bujuk Senja tak tega melihat mertuanya terus saja menangis.
" Nathan anak yang baik Senja. Tak pernah menyakiti orang lain."
__ADS_1
" Iya, Bu. Senja tau. Yang mendasari motifnya melukai Nathan. Semata menginginkan Nathan menjadi pendampingnya." Ujar Senja berusaha menghibur mertuanya.
Bu Fitri sesenggukan menahan tangisnya. Bu Fitri bersandar lemah sambil matanya terus saja menatap Nathan yang terkulai lemah. Senja terus mengelus lembut bahu Bu Fitri seakan sedang menguatkan wanita tua itu.
" Aku tidak menyangka jika Friska melakukan hal mengerikan seperti ini." Ujar Dona menatap Nathan dengan tatapan ngeri.
" Ibu pulang saja ya. Biar aku menemani Nathan." Ujar Senja.
" Ibu mau menunggu Nathan."
" Bu. Ibu kelihatan lelah. Biar aku saja yang menunggu Nathan. Jika ada perkembangan. Senja akan langsung mengabari ibu." Bujuk Senja lagi.
Setelah beberapa menit Bu Fitri terdiam. Akhirnya dia menuruti perkataan menantunya. Bu Fitri pulang di antar Senja sampai depan lobby rumah sakit. Di antar supir mereka.
Senja duduk bersandar pada sofa. Di sampingnya terlihat Dona memandang Senja penuh tanya. Ada banyak pertanyaan di kepala Dona sejak tadi.
" Apa kamu baik- baik saja?" Tanya Dona melihat Senja tampak sangat lelah.
" Iya."
" Jika kamu tidak ceritakan apa yang terjadi. Bolehkah aku bertanya banyak, Senja?"
" Iya."
" Kenapa kalian bisa ada di rumah Friska?"
" Nathan memintaku menemaninya untuk menjenguk Anggi."
" Nathan kenal Anggi?"
" Iya. Dia yang menolongnya saat kecelakaan. Hari itu Anggi meminta Nathan untuk menjenguknya. Nathan yang sangat menyayangi anak kecil. Tidak tega rasanya jika harus menolak permintaan anak itu." Kenang Senja.
" Lalu?"
" Dia meminta pendapatku dan meminta aku menemaninya untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Aku pun menyetujui dan akhirnya menjelang sore kami ke rumah Friska." Cerita Senja dan membenarkan posisi duduknya. " Aku meminta Nathan turun lebih dahulu. Aku hanya penasaran saja apa reaksi Friska melihat Nathan datang ke rumahnya."
" Lalu?" Dona semakin antusias mendengarkan.
" Nathan disambut dengan senyuman menggoda dengan Friska yang memakai dress seksi. Ketika mereka menuju kamar Anggi. Friska terus saja berusaha untuk mencumbu Nathan. Dan disaat itu aku datang merekam kejadian itu. Awalnya aku hanya ingin menggertak Friska agar menjauh dari suamiku. Tetapi mungkin dia merasa terhina dengan sikapku dan ditambah lagi Nathan yang terus saja menolak Friska."
" Lalu Friska langsung menik*m Nathan?" Terka Dona tak sabar.
" Engga. Kami akan pulang. Nathan membukakan pintu mobilnya untukku. Sebuah kebiasaan yang selalu saja dia lakukan. Kemudian ketika Nathan ingin masuk. Friska datang dan langsung menu*uk Nathan dari belakang." Kenang Senja dan menarik kembali nafasnya. Sesak rasanya jika mengingat kejadian naas hari itu.
" Keterlaluan Friska." Geram Dona.
" Nathan yang terkejut langsung balik badan tetapi kemudian Friska kembali melakukan hal yang sama berulang kali. Nathan tidak sempat memberikan perlawanan. Nathan jatuh bersimbah darah." Ujar Senja dengan suara lirih karena tangisnya kembali pecah mengingat kembali kejadian yang ada di depan matanya sendiri.
" Maafkan aku Senja." Dona merasa bersalah melihat Senja sangat bersedih.
__ADS_1
Senja menyeka air matanya yang mengalir deras. " Aku meminta pertolongan warga sekitar. Dan dengan cepat mereka membantu dan mengawal kami ke rumah sakit. Telat sedikit saja. Mungkin Nathan sudah meregang nyawa karena banyaknya darah yang keluar juga ada beberapa tus*kan yang mengenai organ vitalnya."
" Sudah Senja. Jangan cerita lagi." Ujar Dona yang tidak ingin membuat Senja semakin terpuruk.