Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
46


__ADS_3

Nathan dan Nabila serentak menoleh dan terkejut dengan kehadiran pria yang tidak dikenal. Di belakangnya berdiri Thalia yang masih menangis tersedu- sedu.


" Kau apakan istriku?!" Bentaknya menuding Nathan. Dengan cepat dia menghampiri Nathan dan mencengkram kerah baju Nathan tidak lupa juga dia memberikan pukulan keras pada perutnya.


" Apa- apaan ini!" Sergah Nabila kesal dan memukul kepala plontos itu dengan berkas yang ada di meja.


" Kurang ajar!" Dia beralih kepada Nabila.


" Hei. Urusanmu denganku. Jauhi wanita itu!" Seru Nathan kembali memancing amarah pria plontos itu.


Nathan yang sudah mulai bisa bela diri mengelak ketika pria itu akan kembali meninjunya dan sejurus kemudian dia mendorong pria itu hingga tersungkur di meja kerja Nathan.


" Aku tidak melakukan apapun pada istrimu. Dia merobek bajunya sendiri!" Nathan mencoba menjelaskan namun tetap dalam keadaan siaga.


" Kamu pasti tergoda dengan tubuhnya." Geramnya dan kembali menyerang Nathan dan kali ini dia mengeluarkan sebilah pisau lipat yang sejak tadi di simpan dalam saku celananya.


" Hati- hati, Nath!" Seru Nabila ngeri melihat pisau itu di ayun- ayunkan depan Nathan.


Nabila segera menghampiri Thalia yang sejak tadi seperti menikmati pertunjukkan di depannya. Tanpa sadar dia tersenyum picik.


" Puas kamu!" Seru Nabila lantang dan mendorong tubuh Thalia hingga terjerembab.


" Sayang. Tolong aku!" Serunya dan mengiba pada pria plontos itu.


" Kurang ajar!" Geramnya marah dan menghampiri Nabila dengan menghunuskan pisaunya.


Nabila yang masih membelakangi pria itu. Tidak menyadari serangan yang ditujukan kepadanya. Berbeda dengan Nathan. Dia menyadari hal itu dengan cepat dia mendorong tubuh Nabila dan telak. Pisau itu mengenai perut Nathan.


" Nathan!" Seru Nabila panik melihat keadaan itu.


Thalia dan pria plontos itu tak kalah terkejut melihat kejadian itu.


" Amankan mereka!" Perintah Nabila pada seluruh karyawan Nathan.


Seketika mereka menangkap Thalia beserta pria yang mengaku suaminya itu.


" Tunggu." Ujar Nathan mencegah karyawannya membawa pria plontos itu. " Aku sama sekali tidak menyentuh istrimu. Itu sebabnya aku tidak membalas seranganmu. Kejadian ini aku maafkan tetapi jaga istrimu jangan sampai menemuiku lagi." Ujar Nathan sambil menahan sakitnya. Dia terus menekan lukanya agar tidak mengeluarkan banyak darah.


" Kita ke rumah sakit." Ujar Nabila dan memapah Nathan di bantu dengan seorang karyawan lainnya.

__ADS_1


" Santai aja. Aku gak apa- apa." Ujar Nathan santai mencoba menghibur Nabila yang terlihat sangat cemas.


" Darahnya banyak Nath." Ujar Nabila panik. " Cepetan Pak." Perintah Nabila pada supir Nathan.


" Iya, Bu. Tapikan jalanan lagi padat merayap."


" Haduhhh.." Nabila semakin gusar.


" Ke klinik terdekat aja pak. Kayanya di ujung jalan sana ada klinik." Usul Rio, Karyawan yang tadi membantu memapah Nathan.


" Yaudah ke sana aja, Pak!" Perintah Nabila mengikuti saran Rio.


Sesampainya si klinik terlihat lumayan banyak juga pasien yang mengantri. Nabila segera menuju meja pendaftaran sedangkan Nathan di papah Supirnya dan Rio.


" Bisakah teman saya duluan. Ini darurat." Ujar Nabila panik dan menunjuk Nathan yang di papah dua orang itu.


" Iya. Tentu saja. Silahkan masuk. Setelah pasien yang di dalam selesai." Ujar suster yang menjaga di sana.


Melihat keadaan Nathan yang berdarah tentu saja menjadi pusat perhatian pasien lain. Nabila berinisiatif melepas blazernya dan menutup badan Nathan yang penuh dengan darah.


" Nanti noda." Ujar Nathan.


" Dari pada diliatin." bisik Nabila. " ayo buruan masuk." Ujar Nabila ketika melihat seorang pasien keluar.


" Di tusuk orang gila dok." Jawab Nabila asal.


Dokter itu hanya berdecak dan membuka baju Nathan. Dokter itu membersihkan luka Nathan dengan sangat hati- hati.


" Hemm.. Kamu Anton bukan?" Tanya Nathan.


" Iya." Jawab dokter itu dan " Ah.. Nathan!" Serunya senang baru menyadari jika mereka adalah teman lama.


Nabila mengerutkan keningnya. Tidak mengerti.


" Kenapa bisa begini. Siapa yang udah di bikin sakit hati lagi sih?" Sindirnya dan kembali fokus membersihkan luka Nathan.


" Pelan- pelan." Protes Nathan yang merasakan perih.


" Lumayan dalam lukanya. Untungnya gak kena organ dalam." Ujarnya tetap fokus. Dan menyuntikkan suntikan anestesi pada Nathan untuk mulai menjahit lukanya.

__ADS_1


" Ini klinikmu?"


" Iya. Itu istrimu?" Tanya Anton sambil melirik Nabila yang sejak tadi memperhatikan luka Nathan.


" Rekan kerja."


" Belum nikah juga?" Tanya Anton dengan nada candanya. " Pasti yang wanita mundur ya banyak saingannya."


" Udah pernah nikah. Tapi istriku meninggal karena kecelakaan. Dua minggu lagi aku akan menikah lagi." Ujar Nathan.


" Oh ya. di tunggu undangannya." Gurau Anton. " Bulan depan sekolah kita reunian. Ikutanlah."


" Insya Allah."


" Nah selesai." Ujarnya ketika selesai menjahit luka Nathan. " Jangan kena air dulu ya. Aku resepkan obat anti nyeri dan anti peradangan. Rajin dibersihkan dan ganti perban ya. Tiga hari lagi balik kesini. Kita cek jahitannya apakah sudah kering atau belum." Ujar Anton. " Oh iya. Aku resepkan obat penambah darah ya. Karena tadi darah yang keluar cukup banyak. Dan jangan lupa. Pakai dulu bajumu. Aku tidak mau pasien dan susterku terpesona dengan perut kotak- kotak itu." Ujar Anton mengingatkan Nathan untuk kembali memakai bajunya kembali.


" Banyak darah begini. Harus di pakai juga?" Tanya Nathan merasa aneh jika harus memakai lagi baju itu.


" Pakai baju saya aja Pak." Ujar Rio dan segera melepas kemeja yang di pakainya. Untungnya dia masih memakai kaos putih sebagai dalaman.


" Terima kasih. " Nathan mengambilnya dan segera memakainya tentu saja di bantu Nabila juga. Karena pengaruh obat bius itu masih bekerja membuat Nathan masih sulit bergerak.


" Kamu bisa ambil di tempat pendaftaran ya." Anton memberikan resep obatnya pada Nabila. Juga sebuah kartu nama untuk Nathan.


" Aku tunggu kabarnya." Ujar Anton.


Nathan hanya mengacungkan ibu jarinya dan berjalan dengan tertatih.


" Aku tunggu di mobil ya." Ujar Nathan. Nathan keluar dan sebelumnya dia menundukkan kepala mengucapkan terima kasih pada pasien yang sudah merelakan antriannya di serobot Nathan.


Tak butuh waktu terlalu lama. Nabila sudah mendapatkan obat yang sudah diresepkan tadi. Nabila masuk ke dalam mobil dan mendapati Nathan tengah tertidur pulas.


" Nanti kita mampir ke supermarket ya pak. Ada yang harus saya beli." Ujar Nabila.


" Baik Bu."


" Kalo di kantor, Nathan galak gak pak?" Tanya Nabila pada supir dan karyawannya.


Sebelum menjawab. Rio melirik sedikit ke arah Nathan. " Bukan galak, Bu. Tapi tegas. Pak Nathan juga jadi idola karyawati." Jawab Rio dengan suara pelan hampir seperti berbisik malah.

__ADS_1


" Gimana gak jadi idola. Wajahnya apik, Baik dan paling utama. Ibadahnya itu loh. Mantap." Puji Pak Tarno dengan logat jawanya yang masih kental menimpali.


Nabila semakin mengagumi Nathan. Ingin rasanya dia memiliki lelaki ini. Tetapi apa boleh buat. Hatinya bukan milik Nabila.


__ADS_2