Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
126


__ADS_3

" Apa Yusuf masih rewel, sayang?" Tanya Nathan pada Senja yang sedang sibuk menghias kue buatannya.


" Sudah tidak." Senja menatap suaminya yang mencolek krim kue yang baru saja dibuatnya. " Bagaimana kabar Nabila? Kenapa kamu tidak ajak ke rumah?" Tanya Senja yang memang mengetahui jika Nathan akan bertemu dengan Nabila.


" Dia baik." Jawab Nathan singkat.


" Apa ada masalah?" Senja menatap Nathan lekat.


" Sedikit."


" Jika kamu mau. Ceritakan saja. Aku tidak mau mendengar apapun dari orang lain dan membuatku salah paham." Ucap Senja membujuk Nathan.


Nathan menarik nafasnya sebentar dan menatap Senja sendu. " Nabila hamil dan Randy mengira jika anak itu adalah anakku."


" Apa?!" Senja tersentak kaget dengan apa yang didengarnya. " Bagaimana bisa begitu?"


" Aku jadi orang pertama yang tau jika Nabila hamil."


" Kenapa begitu?" Senja masih tidak mengerti.


" Entah. Tapi karena hal itu. Randy berpikiran seperti itu. Aku berharap dia bisa memahami semua situasi yang ada." Ujar Nathan lesu.


Senja mengelus lembut lengan suaminya. Dia mengerti betul bagaimana perasaan tak nyamannya saat ini. " Semoga Randy bisa mengerti jika kamu tidak pernah melakukan hal itu." Hibur Senja.


" Iya."


' Dddrrrttt.'


Nathan segera mengambil ponselnya dari saku hoodienya. Nama Randy tercantum di sana.


" Ada apa lagi?" Tanya Nathan malas.


" Maafkan aku jika menuduhmu." Ucap Randy tanpa salam terlebih dahulu.


" Oke. Lalu?"


" Nabila membutuhkanmu. Aku ingin kamu menjaga Nabila." Ujar Randy.


" Apa kamu sudah gila?" Sanggah Nathan kesal.


" Aku serius, Nath."


" Kenapa tidak sekalian saja kamu memintaku menikahi istrimu?!" Ucap Nathan semakin kesal dengan ucapan Randy.


" Lakukan saja jika itu membuat Nabila bahagia." Ujar Randy lagi.


" Aku akan menganggapmu tidak pernah bicara hal ini!" Bentak Nathan dan menutup panggilan teleponnya.


Nathan melempar kesal ponselnya ke atas meja dan mengusap wajahnya kasar. Tak bisa dipercaya Randy mengatakan hal itu. Andai saja Randy ada dihadapannya. Sudah bisa dipastikan Randy akan mendapat pukulannya saat itu juga.


" Apa ada masalah lagi?" Tanya Senja yang bingung melihat suaminya bisa marah pada sahabatnya.


" Tidak ada sayang." Ujar Nathan dan mengambil kembali ponselnya lalu meninggalkan Senja sendiri dengan tatapan bingung padanya.


'Dddrrrtttt.'


Nathan berdecak kesal ketika melihat nama Randy pada layar ponselnya. Tak dihiraukan panggilan telepon itu. Berkali- kali Nathan mengabaikan telepon dari Randy hingga akhirnya dia lelah sendiri mendengar berisiknya dering ponselnya.


" Ada apa lagi?" Ucap Nathan setengah membentak.

__ADS_1


" Aku serius dengan yang aku katakan, Nath." Ucap Randy lesu.


" Kamu seorang suami. Apa pantas kamu menyerahkan istrimu pada lelaki lain?!" Bentak Nathan kesal.


" Aku tau itu tidak pantas. Tetapi bagaimana dengan pernikahan ini! Yang tersiksa bukan hanya aku. Tetapi juga Nabila." Ujar Randy memberikan argumennya. " Aku juga lelah mempertahankan semuanya sendiri."


" Apa kamu pikir Nabila tidak berusaha?!" Bentak Nathan lagi. " Aku akan ke sana menemuimu. Ingin rasanya aku pukul kepalamu agar seluruh pikiranmu kembali bekerja!" ucap Nathan geram dan segera menutup panggilan teleponnya.


Dengan wajah marah. Nathan kembali keluar dari rumah dan langsung menancap gas menuju rumah Nabila. Nafasnya naik turun. Emosinya tidak stabil. Ingin rasanya dia mencabik sahabatnya karena bersikap terlalu lemah. Hanya butuh waktu tiga puluh menitan Nathan telah sampai di rumah Nabila dan disambut dengan anggukan kepala anak buah Nabila tanda hormat.


" Dimana Randy?" Tanya Nathan pada salah seorang anak buah Nabila.


" Di kamar. Biar saya panggilkan." Jawab lelaki itu dan segera menuju kamar Nabila.


" Kamu ingin bertemu Randy atau Nabila?" Tanya Pak Danny yang muncul begitu mendengar suara Nathan. Di belakangnya berdiri Nabila.


" Aku ingin bertemu Randy, Kek." Jawab Nathan dan mencium punggung tangan Pak Danny.


" Ah.. Sikap inilah salah satunya yang membuat cucuku sangat mengagumimu." Puji Pak Danny namun terdengar seperti sebuah sindiran.


" Mau apa kamu bertemu dengan Randy?"


" Ada hal penting yang ingin aku bicarakan."


" Duduklah."


" Aku hanya sebentar, Kek." Tolak Nathan.


" Apa kamu dengar ucapanku?" Pak Danny yang memang tidak bisa dengan penolakan menegaskan kalimatnya memaksa Nathan untuk duduk pada sofa hitam.


" Masalah dalam rumah tangga cucuku muncul karenamu. Apa kamu tau itu?"


" Iya."


" Apapun."


" Apa cucuku sama sekali tidak memikat hatimu, anak muda?" Tanya Pak Danny menatap Nathan yang sedikit menundukkan wajahnya tajam.


" Maaf, Kek. Tidak. Aku hanya menganggap Nabila sebagai saudara yang harus saya lindungi. Terlebih lagi berkali- kali Nabila membantuku."


Nabila menarik nafas dalam menahan sakitnya sesak di dadanya mendengar Nathan hanya menganggapnya sebatas itu.


" Cucuku begitu mencintaimu. Apa kamu tau?"


Nathan hanya menjawab dengan sebuah anggukan kecil.


" Kenapa kamu tidak menjauh darinya?!" Bentak Pak Danny.


" Sudah saya lakukan. Proyek yang menjalin kerjasama dengan perusahaan kami pun bukan saya yang menangani secara langsung. Baru pagi tadi Nabila meminta bertemu dengan saya lagi." Ujar Nathan menjelaskan.


Pak Danny sontak menatap cucunya yang pipinya telah basah.


" Kenapa kamu mau bertemu dengannya?!"


" Maaf jika keputusan saya pagi ini salah." Ucap Nathan.


" Pertanggung jawabkan perbuatanmu, Anak muda!" Ucap Pak Danny tegas dan meremas kuat bahu Nathan.


" Maksud kakek?"

__ADS_1


Pak Danny tidak menjawab. Dia hanya berdiri dan sedikit melirik pada anak buahnya. Dengan sigap dua orang anak buahnya langsung menyergap Nathan.


" Apa- apaan ini, Kek?!" Nathan sedikit meronta berusaha melepaskan dirinya.


" Saya tidak mau anak yang dikandung cucu saya kehilangan ayah kandungnya."


" Lepaskan, Kek." Nabila memohon.


" Lepaskan Nathan, Kek." Ucap Randy yang baru saja muncul di sana.


Pak Danny tak menjawab apapun. Dia hanya berdiri menatap Nathan yang mulai berdiri tenang dan menatap Randy tajam.


" Lagi- lagi kau menjebloskan aku dalam masalah, Ran!" Ucap Nathan tegas sambil menatap Randy.


" Aku tidak bermaksud seperti ini, Nath." Sanggah Randy dan kembali memohon pada Pak Danny agar melepaskan Nathan.


Melihat Randy dan Nabila yang terus memohon. Pak Danny akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan Nathan.


' Buk!'


Sebuah tinju keras dilayangkan Nathan tepat pada wajah Randy. Sontak saja kedua anak buah Nabila kembali memegangi tangan Nathan.


" Itu untuk ucapanmu tadi!" Ucap Nathan yang masih memandang Randy kesal.


Randy menyeka darah yang mengalir pada sudut bibirnya. " Apa kamu pikir aku senang mengatakan hal itu?" Randy berbalik menatap Nathan tajam.


" Lepaskan aku. Biar aku hajar kepalamu sampai pikiranmu kembali waras!" Geram Nathan semakin meronta.


Pegangan pada tangannya semakin kencang. " Argh!" Teriak Nathan semakin kesal.


" Menyerahlah, Nath. Ikuti mauku!" ucap Randy.


" Tidak akan!" Tolak Nathan.


" Apa yang kalian bicarakan sebelumnya?" Pak Danny menjadi penasaran. Tidak pernah dua sahabat ini terlihat bertengkar seperti ini. Apa lagi sikap Nathan yang berubah menjadi arogan.


" Dia ingin aku menjaga cucumu bahkan tidak segan- segan dia memintaku menikahi Nabila!"


" Dasar anak b*doh!" Ucap Pak Danny dan langsung saja melayangkan sebuah tamparan yang mendarat telak di pipi Randy.


" Kek. Aku ingin Nabila bahagia!"


" Dia sudah menikah dan punya keluarga!" Ucap Pak Danny terdengar marah. " Apa kamu pikir Nabila akan bahagia di atas tangisan anak dan istrinya?!"


Randy tertunduk. Air matanya sontak jatuh membasahi pipinya.


" Jika aku menghendaki hal itu. Maka tidak akan pernah Nabila menikah denganmu, Randy!" Geram Pak Danny dan kembali ingin melayangkan satu tamparan lagi padanya namun segera dicegah Nabila.


" Sudah, Kek. Ini semua adalah salahku. Jangan hukum mereka." Pinta Nabila memohon pada Pak Danny.


Perlahan Pak Danny menurunkan tangannya yang sudah terangkat. Dia menyeka air mata Nabila dengan ibu jarinya dan perlahan menarik Nabila ke dalam pelukannya.


" Kakek ingin kamu bahagia." Ucap Pak Danny.


" Lepaskan Nathan. Kek." Pinta Nabila di sela isak tangisnya.


Pak Danny mengecup pucuk kepala Nabila dan mengabulkan keinginan Nabila.


" Maafkan sikap saya, Nathan."

__ADS_1


" Iya, Kek."


" Sering berkunjunglah dengan anak dan istrimu." Ucap Pak Danny dan segera beralih menatap Randy tajam. " Jika kamu mau menyerah. Itu hakmu, Randy. Saya tidak akan melarang!" Ucap Pak Danny tegas.


__ADS_2