
Kilatan cahaya blitz dari kamera wartawan langsung menghujani Nathan yang baru saja keluar dari rumahnya. Nathan memasang wajah dinginnya ketika melihat sekumpulan wartawan diluar gerbang rumahnya sambil berteriak melontarkan pertanyaan- pertanyaan yang berkaitan dengan kejadian semalam.
Nathan menghela nafas dalam ketika melihat Pak Mamat menghalau para wartawan itu agar membuka jalan untuk Nathan yang akan berangkat menuju kantornya. Bagi Nathan, untuk sekarang ini. Klarifikasi apapun tidak akan berguna. Yang ada hanya akan menambah banyaknya judul berita yang akan muncul di media massa.
Nathan tidak langsung menuju kantornya. Dia menemui pengacaranya yang tidak jauh dari kantornya. Untungnya, para pencari berita itu tidak mengetahui dimana kantor pengacara Nathan. Awak media tidak terlihat satupun ada di halaman kantor Brama.
" Apa kamu punya bukti untuk menyangkal semua tuduhan itu, Nath?" Tanya Brama pada Nathan ketika mereka baru saja membahas permasalahan Nathan.
" Tidak ada. Semua saksi yang ada di TKP semua memberatkan aku. Apalagi live dari security itu. Dia seolah menyudutkan ku, Bram." Nathan menggertakkan gerahamnya. Ya. Ini semua terjadi karena penggiringan opini dari security itu. Belum mengetahui titik permasalahannya dia terus saja mencecar Nathan agar mengakui jika prasangkanya benar.
" Sabar. Kita hanya harus membersihkan namamu. Coba kamu lihat berita dimana- mana. Semua menyudutkan mu." Brama memperlihatkan potongan judul berita yang menyangkut kasus Nathan.
" Aku tidak menyangka. Setelah bertahun- tahun tidak bertemu. Waktu merubahnya menjadi wanita licik." Ujar Nathan yang mengingat saat sekolah dulu. Wulan adalah salah satu murid terpandai di sekolahnya dan juga merupakan murid yang santun.
" Jadi kamu mengenalnya?"
" Ya. Dia teman SMA ku. Waktu reuni beberapa waktu lalu. Dia memang berusaha mendekatiku. Bahkan beberapa kali dia mencoba merayuku. Tapi aku selalu menolaknya. Bahkan..." Kedua netra Nathan membesar ketika dia mengingat jika Chat terakhir Wulan masih dia simpan dalam ponselnya. Nathan buru- buru mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan isi chat Wulan yang beberapa kali mengajaknya bertemu namun tidak ada yang ditanggapi Nathan.
" Cerdas." Puji Brama merasa mereka punya satu bukti jika Wulan memang mengejar Nathan.
" Sebaiknya kamu kirimkan semua chat itu padaku. Untuk menghindari hal yang tidak di inginkan." Ujar Brama.
Nathan langsung menuruti kata Brama. Masalah ini harus secepatnya diselesaikan. Belum juga Nathan mengirimkan semua hasil screenshoot chat Wulan pada Brama. Nomor Wulan tertera dilayar ponselnya.
" Angkat dan rekam." Perintah Brama.
Nathan segera mengikuti arahan Brama.
" Bagaimana pagimu hari ini?" Tanya Wulan dengan nada yang menyebalkan.
" Terima kasih. Berkat dirimu. Aku semakin terkenal." Jawab Nathan dengan nada dingin.
" Aku ingin kamu tanggung jawab dengan menikahiku. Atau jika kamu tidak mau. Aku akan mengirim polisi untuk menjemputmu." Ujar Wulan dengan mengancam.
Nathan menyeringai menahan amarahnya.
" Jangan berharap aku akan menikahimu." Ucap Nathan tegas.
__ADS_1
" Aku memberimu kesempatan Muhammad Nathan Ferdinand!" Wulan terdengar kesal mendengar ucapan Nathan yang langsung menolaknya.
" Tidak perlu. Terima kasih atas penawaran mu."
" Kamu akan menyesal!" Bentak Wulan marah dan langsung menutup panggilan teleponnya.
" Good point, Nath." Ucap Brama dan langsung meminta Nathan untuk langsung mengirimkan rekamannya.
" Skandalmu dengan wanita belum habis ternyata. Ku kira setelah kamu menikah dan punya anak. sudah selesai. Ternyata semakin parah." Ejek Brama.
" Sudahlah. Aku harus segera ke kantor sekarang." Nathan menjabat tangan Brama.
" Berhati- hatilah. Apa kamu ingin melaporkan Wulan lebih dahulu?" Tanya Brama mengiringi langkah Nathan menuju pintu keluar.
" Bagaimana menurutmu?"
" Laporkan."
" Silahkan. Aku tidak tega sebenarnya dengan security itu. Jika aku melaporkan. Mau tidak mau. Dia akan terseret dengan kasus ini."
" Keadaanmu sedang terjepit. Tapi masih bisa memikirkan orang lain."
" Kau yakin?"
" Ya."
" Baiklah. Hati- hati dijalan." Ucap Brama pada Nathan yang sudah berada di balik kemudi mobilnya.
******
Nabila meletakkan ponselnya kasar di hadapan Randy. Emosinya meluap ketika membaca berita tentang Nathan. Randy yang sedang serius mengetik laporan hanya terdiam melihat istrinya dengan perut yang mulai membesar terlihat sangat kesal.
" Ada apa sayang?"
" Baca berita itu!" Perintah Nabila kesal dan duduk di kursi yang ada di depan meja Randy.
" Gak mungkin!" Sanggah Randy cepat dengan mata yang membulat terperangah membaca berita itu juga melihat video penggrebekan itu.
__ADS_1
" Apa Nathan tidak pernah belajar dari pengalaman! Seharusnya dia tidak kemana- mana sendiri!" omel Nabila.
" Sabar sayang. Biar aku hubungi Nathan." Randy segera menghubungi Nathan.
Dua kali panggilannya tidak terjawab. Ini kali ketiga. Nabila semakin tampak kesal melihat hal itu.
" Ada apa, Ran?" Tanya Nathan.
" Dimana?" Tanya Randy dan langsung meloudspeaker ponselnya agar Nabila bisa mendengarkan pembicaraan mereka.
" Masih dijalan, mau ke kantor. Ada apa?"
" Berita apa itu yang muncul dimana- mana. Kenapa bisa kau digrebek seperti itu, Nath?" Cecar Randy.
Nathan terdengar menarik nafas panjang. " Itu hanya salah paham. Aku sudah membicarakan hal itu dengan Brama."
" Ya. Tapi kenapa bisa? Cepat lakukan klarifikiasi, Nath!"
" Sabar. Biar aku urus satu persatu. Aku pusing. Hari ini para investor mengadakan rapat mendadak. Aku yakin. Perusahaanku akan goyah." Ucap Nathan dengan suara berat.
" Aku akan membantu. Nabila adalah salah satu investor di perusahaanmu bukan. Dia pasti berpihak padamu." Ujar Randy menenangkan.
" Terima kasih."
" Ya. Kami selalu dipihakmu, Nath." Ujar Randy meyakinkan bahwa Nathan tidak sendiri.
Nathan yang baru saja tiba dan mobilnya baru saja terparkir. Langsung dikerubungi oleh para wartawan yang berusaha secepatnya mendapatkan berita itu.
Nathan masih diam tak bergeming dari balik kemudinya. Kilatan blitz dari kamera wartawan kembali menghujaninya. Dengan satu tarikan nafas panjang. Nathan akhirnya membuka pintu mobil dan langsung berdiri menempel pada pintu mobilnya. Dengan wajah tenang. Dia menghadapi serbuan pertanyaan yang menurutnya memang perlu dia luruskan agar berita ini tidak semakin besar.
" Pak Nathan. Apa benar anda mel*cehkan Wulan?"
" Tidak. Jika saya mau mel*cehkannya. Kenapa dia yang tiba- tiba masuk ke dalam mobil saya."
" Tapi dalam video itu anda tertangkap basah oleh pihak keamanan."
" Tertangkap basah hanya karena mobil itu bergoyang bukan berarti saya yang melakukan hal tersebut. Bagaimana jika hal yang terjadi adalah sebaliknya." Jawab Nathan masih dengan wajah tenang.
__ADS_1
" Tapi rasanya tidak mungkin. Wulan itu sangat cantik dan s*ksi. Anda pasti tergoda bukan?!"
Nathan hanya tersenyum mendengar penyataan seorang wartawan itu. " Tidak selamanya yang menjadi korban itu adalah perempuan. Saya punya banyak bukti yang menunjukkan hal itu. Kita lihat saja. Siapa yang akan terbukti benar." Ujar Nathan dan langsung menerobos kerumunan wartawan itu. Baginya sudah cukup dia memberikan keterangan itu pada awak media.