
" Nath. Aku boleh bertemu teman lamaku di mall siang ini?" Tanya Senja ketika mereka sedang menyantap makanannya.
" Iya. Gio kamu ajak?" Tanya Nathan dengan mulut masih mengunyah roti.
" Papa. Kalo makan jangan ngomong." Tegur Gio sambil tersenyum melihat Nathan lucu.
Nathan tersenyum dan mengacak lembut pucuk rambut Gio. " Maaf ya sayang." Ucap Nathan gemas. " Nanti siang kamu ikut mama pergi?"
Gio menggeleng cepat. " Gio mau di rumah aja sama nenek." Jawabnya dengan suaranya yang membuat gemas.
Bu Fitri tersenyum senang mendengar jawaban Gio. " Cucu nenek pintar." Puji Bu Fitri sambil mengacungkan ibu jarinya.
" Apa gak merepotkan, Bu?" Tanya Senja cemas dan juga tidak enak jika harus menitipkan Gio.
" Engga dong. Gio kan sudah besar ya. Sudah pintar." Bu Fitri terlihat bahagia.
" Aku berangkat dulu." Ujar Nathan mengakhiri pembicaraan mereka.
Senja langsung mencium punggung tangan Nathan bergantian dengan Gio. Nathan pun. tidak lupa mengecup kening Senja dan Gio juga mencium punggung tangan Bu Fitri.
" Perginya hati- hati ya. Jika ada apa- apa segera hubungi aku." Pesan Nathan ketika Senja mengantarnya sampai pintu depan.
" Iya sayang." Jawab Senja manja.
Hari sudah menunjukkan pukul satu siang. Senja yang sudah rapih bersiap untuk pergi bertemu dengan teman masa sekolahnya.
" Sayang. Mama pergi dulu ya. Jangan nakal. Jagain nenek ya." Pesan Senja pada Gio yang asik menonton acara kesukaannya.
" Iya, Ma." Jawab Gio patuh.
Senja memilih naik taksi online dari pada harus membawa mobil sendiri. Dia masih belum percaya diri jika harus mengemudi sendiri mobil Nathan. Untungnya siang ini kendaraan tidak terlalu padat. Jadi tidak ada kemacetan sama sekali perjalanan Senja menuju mall tempat dia dan teman- temannya janjian.
Rasanya sudah lama sekali dia tidak merasakan hari yang bebas seperti ini. Senja mengedarkan pandangannya ketika sampai di sebuah restoran yang ada di mall tersebut dan benar saja. Prilly terlihat melambaikan tangannya ke arah Senja.
" Hai!" Sapa mereka bersamaan dan cipika cipiki ala cewek- cewek gahooll..
" Yang lain belum datang?" Tanya Senja ketika melihat Prilly hanya seorang diri.
" Nah itu Rayya." Seru Prilly sambil menunjuk temannya yang baru saja tiba.
Beberapa menit kemudian muncul lagi dua orang teman Senja yang datang bersamaan.
" Sorry ya telat. Tadi kita habis ketemu klien dulu." Ucap Friska dan Dona.
" Ya ampun. Udah berapa abad ya kita gak ketemu?" Gurau Rayya senang.
" Gak ada yang bawa anak nih.. Sengaja ditinggal apa emang belum punya anak?" Tanya Prilly dan disambut dengan gelak tawa yang lain.
__ADS_1
" Anak gue gak mau ikut. Mau nemenin neneknya." Sahut Senja.
" Anak gue mah emang selalu gue tinggal ama susternya." Sahut Friska dengan gelak tawanya.
" Siapa yang masih single nih.. Hayoooo..." Tanya Rayya menyelidik.
" Gue baru nikah." Jawab Senja ketika teman- temannya memandangnya.
" Suami gue di luar kota." Jawab Donna.
" Laki gue mah ada. Lagi kerja." Jawab Prilly santai.
" Elu Fris?" Tanya Rayya karena Friska diam saja.
" Gue udah cerai." Jawab Friska dengan wajah sendu. Seketika suasana hening. " Tapi gue udah nemuin gebetan baru." Seru Friska senang.
" Oh ya?" Senja terbelalak tak menyangka.
" Hemm yang nolongin lu waktu di resto ya?" Tebak Rayya.
Friska mengangguk senang.
" Dan kalian harus tahu. Ternyata dia itu klien gue yang baru.. Jodoh banget kan kita." Seru Friska senang dan disambut takjub dengan yang lain.
Senja hanya ikut tersenyum senang mendengar cerita bahagia Friska. " Semoga pedekatenya lancar ya.." Doa Senja menyemangati Friska.
" Makasih Senja." Friska menggenggam tangan Senja erat.
" Ehm.. Ganteng,tinggi, berwibawa, berkarisma, Emhh... Pokoknya semua yang diidamkan wanita itu nempel sama dia semua. Dan satu lagi PR besar buat Friska. Sikapnya dingin banget. Bikin gregetan." Tutur Donna.
" Iya. PR banget nih walaupun jalan mulai terbuka. Tapi kayanya sulit." Ujar Friska.
" Dia masih single?" Tanya Senja lagi.
" Gak tau." Jawab Friska. " Kalaupun udah beristri. Jadi simpanannya juga okelah.." Ucap Friska melanjutkan kalimatnya dan di sambut dengan sorakan teman- temannya.
" Oh iya. Kok lu nikah gak undang- undang kita sih." Prilly beralih bertanya pada Senja.
Senja tersenyum. " Baru ijab kabul aja. Belum resepsi kok." Jawab Senja.
" Jadi penasaran sama suami Senja." Goda Rayya.
Senja hanya tersenyum senang.
" Senja. Kita turut prihatin ya atas kejadian yang pernah menimpa kamu." Donna menggenggam tangan Senja diikuti yang lain.
Senja hanya tersenyum haru melihat sikap teman- temannya yang masih peduli dengannya.
__ADS_1
" Berita kamu sangat besar saat itu." Sambung Donna.
" Jangan dibahas lagi. Itu semua sudah berlalu." Ucap Senja enggan masa lalunya diungkit kembali.
" Iya. Yang penting sekarang. Kamu harus bahagia." Ucap Friska menyemangati.
" Semangat." Sahut yang lain.
Drrtt.. Drrrrtttt. Ponsel Senja berdering dan menghentikan kebisingan mereka.
" Loudspeaker, Senja." Pinta Donna yang sangat penasaran dengan lelaki yang menjadi suami Senja.
Senja menuruti. " Halo." Sapanya.
" Kamu udah sampai?" Tanya Nathan yang khawatir dengan keadaan istrinya karena tidak kunjung memberi kabar.
" Udah. Maaf ya, aku gak kabarin kamu."
" Gak papa. Yaudah kamu lanjut ngobrol lagi. Aku mau rapat dulu."
" Sebentar." Cegah Senja takut Nathan menutup teleponnya. " Teman- teman aku penasaran sama kamu. Boleh aku kasih lihat foto kamu?"
Nathan menarik nafas panjang. " Ga usah. Nanti aja kalo ketemuan lagi dan mereka juga bawa pasangan masing- masing." Jawab Nathan yang merasa enggan dirinya di perlihatkan.
" Oke. Yaudah kamu lanjut kerja lagi." Ujar Senja dan mengakhiri pembicaraan mereka.
" Uhh.. Suaranya sweet banget." Puji Rayya gemas.
" Jadi penasaran deh pengen ketemu." Sahut Donna merasa gemas sendiri.
" Hey.. Dia itu suami gue!" Sergah Senja dan disambut dengan gelak tawa mereka.
Untunglah Senja belum memperlihatkan foto Nathan. Baru dengar suaranya saja reaksi teman- temannya sudah seperti ini. Apalagi jika mereka melihat atau bertemu dengan Nathan. Bisa kacau jika mereka menginginkan Nathan. Gak rela bagi- bagi.
Friska memilih baju kemeja yang pas dengan ukuran Nathan. Maksudnya dia ingin mendekati Nathan dengan memulai memberikan hadiah kecil untuknya.
" Duh yang milih buat gebetan." Ledek Senja ketika melihat Friska bingung memilih warna kemeja.
Friska tersenyum. " Doain lancar ya." Harap Friska.
" Gak cari tau dulu dia udah nikah apa belum." Saran Senja tidak ingin temannya kecewa.
" Mau beristri atau engga. Tak jadi soal lah.." Ucap Friska yang tidak peduli dengan status pujaan hatinya.
Senja hanya menggeleng tak mengerti dengan pikiran Friska.
Setelah beberapa lama mereka memilih- milih baju dan aksesori. Akhirnya mereka antri di kasir juga.
__ADS_1
" Gak jadi kemeja?" Tanya Senja ketika melihat Friska malah membawa dasi.
" Kayanya terlalu mencolok." Jawab Friska santai.