Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
69


__ADS_3

" Assalammu'alaikum." Sapa Nathan dengan wajahnya yang lelah.


" Wa'alaikumsalam." Sahut Senja, Bu Fitri dan Riza bersamaan.


Senja segera bangkit dan menyambut kedatangan suaminya. " Kenalin, Za. Dia Nathan. Suamiku." Senja memperkenalkan mereka.


Nathan melihat Riza seperti dia pernah melihat Riza. Tapi entah dimana.


" Nathan Ferdinand?" Tanya Riza yang menatap Nathan dengan tatapan sama.


" Maasya Allah. Dunia sempit sekali." Seru Nathan senang dan menjabat tangan Riza.


" Kalian saling kenal?" Senja kali ini melihat mereka dengan bingung.


" Iya sayang. Kita pernah magang di tempat yang sama waktu zaman kuliah. Iya gak bro?" Nathan menjelaskan.


" Iya betul- betul. Dan kebetulannya lagi ternyata aku ini teman sekolah istrimu." Sahut Riza di sambut gelak tawa mereka.


" Sudah ada Nathan. Ibu ke dalam dulu ya. Mau lihat Gio sudah bangun atau belum." Bu Fitri masuk ke dalam tak enak rasanya terus berada di sana. Mereka seperti sedang reuni.


" Gimana kabarnya sekarang? Ada perlu apa ketemu dengan istriku?" Tanya Nathan yang duduk di sebelah Senja. Senja terus saja merangkul lengan Nathan mesra.


" Ga ada apa- apa. Cuma mau silaturrahmi aja." Jawab Riza sesantai mungkin.


" Oh begitu. Sekarang kesibukan kamu apa?"


" Masih menekuni bidang yang sama. Tapi sekarang lagi istirahat dulu sekalian mau mencoba berbisnis. Siapa tahu bisa sukses sepertimu. "


Nathan tersenyum. " Masih usaha kecil- kecilan." Nathan Merendah. " Gimana dengan Alice? Apa masih pacaran dengannya?" Tanya Nathan dan membuat Senja menahan senyum. Dasar playboy cap kadal. Gumam Senja dalam hati.


Riza terlihat tampak salah tingkah mendengar nama Alice disebut Nathan.


" Siapa Alice?" Tanya Senja.


" Mantan pacarku." Jawab Riza cepat sebelum Nathan mendahuluinya. Bisa benar- benar hilang muka Riza dibuat Nathan di hadapan Senja.


Senja hanya ber-O panjang sambil mengangguk- angguk.


" Sepertinya aku tidak bisa lama. Aku ada janji lagi." Riza mohon pamit. Dia tidak ingin ada rahasianya yang terbongkar lagi di hadapan Senja karena Nathan.


" Oke. Lain kali mampirnya kalau hari libur. Aku ada di rumah." Ujar Nathan mengingatkan.


" Iya, pasti." Jawab Riza sedikit gugup dan menjabat tangan Nathan.


Senja memeluk erat suaminya. Mencium dalam- dalam aroma tubuh suaminya. Nathan hanya membelai lembut punggung Senja.


" Jangan disini sayang. Nanti ada ibu." Bisik Nathan dengan guraunya.


Senja tersenyum dan mengiring langkah Suaminya memasuki kamar mereka.


Nathan yang sedang membuka kemejanya terkejut melihat Senja yang tiba- tiba saja menciumi bibirnya. Dan tangannya perlahan membuka kancing kemeja Nathan satu persatu.

__ADS_1


" Apa kamu merindukan aku?" Tanya Nathan sedikit merasa aneh dengan Senja.


" Selalu sayang." Bisik Senja mesra.


Kini dua sejoli itu langsung menikmati betapa hangatnya ranjang mereka. Saling memadu kasih dan mencurahkan rasa.


" Aku mencintaimu." Bisik Senja ketika mereka selesai melakukan ritual mereka.


" Aku juga sayang." Nathan mengecup lembut kening Senja.


*****


Gio mengedarkan pandangannya mencari sosok Nathan. Hari ini adalah hari pertunjukkan seni di sekolahnya. Gio ingin menunjukkan jika dia punya ayah kepada teman- temannya. Selama ini dia terus menahan cemoohan teman- temannya. Gio yang belum mengerti apapun hanya diam tidak membalas ataupun melawan.


" Eh, Gio. Mana papa kamu? Katanya hari ini kamu mau bawa papa kamu?!" Ujar Bagas seorang anak lelaki dengan badan gempal dan terkenal nakal di kelas Gio.


" Papa aku pasti datang kok!" Seru Gio tegas.


" Eh teman- teman. Gio punya papa." Serunya pada yang lain. Dan mereka menertawakan Gio bersama- sama.


" Papa aku pasti datang!" Ujar Gio dengan berteriak pada Bagas. Gio segera berlari ke arah pintu gerbang sekolahnya.


" Mama aku bilang. Kamu itu gak punya Papa!" Bagas meneriaki Gio yang sudah mulai jauh dari tempatnya berdiri.


" Gio kemana?" Tanya Senja ketika dia habis dari toilet pada Ical, teman Gio berbadan kurus.


" Itu." Ical menunjuk Gio tengah berdiri dekat gerbang sambil menunduk sedih.


" Gio kenapa?"


" Makasi ya Ical." Ujar Senja lembut dan menghampiri Gio.


Senja berdecak kesal karena sejak tadi teleponnya tidak di jawab Nathan. Padahal hari ini dia janji akan ke sekolah Gio selesai meeting. Tapi sampai sekarang belum ada kabar juga.


" Papa gak datang lagi ya, Ma?" Tanya Gio dengan raut wajah sedih.


Senja tersenyum dan berjongkok di hadapan Gio. " Papa pasti datang, sayang." Hibur Senja dan menatap Gio dengan tatapan lembut.


" Tapi sebentar lagi Gio mau tampil." Ujar Gio dengan suara parau menahan tangis.


" Sabar. Mungkin Papa masih di jalan." Senja memeluk Gio erat. Sedih rasanya melihat Gio yang biasanya ceria di rumah. Ternyata jika di sekolah dia harus menghadapi berbagai cemoohan dari teman- temannya. Senja tidak mengerti entah dari mana kalimat- kalimat yang anak- anak itu lontarkan untuk Gio mereka dapat. Tidak mungkin jika anak sekecil mereka bisa mengerti dengan sendirinya jika Gio tidak punya Papa. Apakah ibu mereka yang menghasutnya. Jika memang seperti itu. Senja sangat tidak habis pikir.


" Itu mobil Papa." Seru Senja senang ketika sebuah mobil sedan hitam memasuki gerbang sekolah Gio.


" Papa!" Teriak Gio senang.


Teriakannya mengundang beberapa mata yang memandang mereka. Karena acara yang di selenggarakan memang bertema outdoor. Jadi panggungnya dibuat di halaman sekolah.


Beberapa ibu-ibu ada yang berbisik sambil ekor mata mereka melirik ke arah Senja dan Gio yang kini menghampiri mobil tersebut.


Betapa terkejutnya mereka ketika melihat sosok tampan masih memakai setelan jas rapi yang turun dari mobil itu. Senja mencium punggung tangan suaminya begitupun dengan Gio.

__ADS_1


" Papa terlambat ya?" Tanya Nathan yang melihat putranya tengah cemberut padanya.


" Hampir." Jawab Gio dengan wajah lucu.


Nathan mengacak pelan rambut Gio dengan gemas. Mereka yang sejak tadi melirik kini pandangan mereka tidak bisa lepas dari sosok tersebut yang kini berjalan ke arah mereka sambil menggandeng tangan Gio dan merangkul Senja.


Nathan hanya melemparkan senyum ramahnya pada mereka. Ketika Nathan berlalu mereka langsung kembali berbisik- bisik. Suka sekali ya mereka berbisik.


" Gio kenalin ke teman- teman Gio biar gak ada yang ledekin Gio lagi." Ujar Gio senang.


" Oke." Nathan hanya menuruti keinginan putranya.


" Itu Papa kamu Gio?" Tanya Ical berbisik menghampiri Gio.


" Iya." Jawab Gio dan beralih kepada Nathan. " Dia Ical, Pa. Dia baik sama aku." Ujar Gio pada Nathan.


Nathan berjongkok dan menyapa Ical dengan lembut. " Ini buat Ical." Nathan menyodorkan lollipop pada Ical yang sengaja dia persiapkan.


" Terima kasih, Om." Ujar Ical senang.


Gio menghampiri Bagas dan gerombolannya. Terlihat anak- anak itu sedang berbaris dan latihan untuk terakhir kalinya sebelum mereka tampil dan di pandu oleh seorang guru.


" Gio gak ikutan?" Tanya Nathan dengan berbisik pada Gio.


Gio menggeleng. " Gio gak mau. Banyak anak nakalnya." Ujar Gio dengan wajah sebal sambil melirik ke arah Bagas.


" Selamat siang. Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang guru itu yang melihat Nathan tengah duduk bersila sambil menunduk karena sedang mengobrol dengan Gio.


Nathan mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang menegurnya. Karena memang hanya dia seorang diri. Wali murid yang berada di belakang panggung.


Nathan berdiri dan tersenyum. " Maaf. Saya hanya ingin menyapa teman- teman Gio. Agar tidak ada lagi yang meledek Gio. Apa ibu tahu jika selama ini anak saya di bully?" Tanya Nathan dengan mata menatap tajam.


Guru itu tersenyum dan berusaha mengendalikan groginya. " Emm.. Untuk masalah itu saya sudah mencoba untuk memberi pengertian pada mereka. Tapi saya tidak tahu jika itu masih terjadi." Jawab Guru tersebut.


" Tolong kembali awasi mereka. Saya tidak mau anak saya terkena mental di sekolah." Ucap Nathan tegas.


Gio hanya diam dan mendengarkan pembicaraan Nathan dengan wali kelasnya.


" Baik, Pak. Saya mohon maaf untuk ketidaknyamanannya." Ujar Guru itu dan pamit untuk kembali ke depan panggung.


" Teman- teman. Kenalin. Ini Papa aku." Ucap Gio setengah berteriak hingga menarik perhatian teman- teman Gio.


" Wah.. papa kamu ganteng banget Gio. Kaya artis." Seru seorang anak perempuan.


" Tuh kan. Bagas bohong. Papa Gio ganteng. Kalah deh papanya Bagas." Ledek yang lain dan di sambut dengan gelak tawa yang lain.


Anak yang berbadan gempal itu hanya menunduk sedih dan terdiam.


Nathan menghampirinya dan berjongkok di hadapan Bagas. " Kamu Bagas?" Tanya Nathan lembut dan Bagas mengangguk tak berani menatap Nathan.


" Bagas gak boleh ya ledekin teman Bagas lagi. Bukan cuma ke Gio aja. Tapi juga sama yang lain. Bagas itu anak baik. Bukan anak nakal. Janji ya sama Om gak akan ledekin lagi. Harus berteman dengan siapa saja." Ujar Nathan lembut pada Bagas.

__ADS_1


Perlahan wajah Bagas terangkat dan menatap Nathan yang sedang tersenyum ramah padanya.


" Berteman ya sama Gio." Ujar Nathan lagi kali ini Bagas mengangguk dan kemudian menghampiri Gio menjabat tangannya.


__ADS_2