Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
16


__ADS_3

" Gio, jangan jauh- jauh mainnya sayang." Teriakku yang sedikit repot melayani pembeli. Hari ini toko cukup ramai. Di tambah lagi ada dua orang karyawan ku izin tidak masuk. Membuatku sedikit kerepotan.


" Iya, ma." Sahut Gio yang sudah berlari keluar toko.


Aku melayani pembeli yang ingin membayar sembari ekor mataku melirik ke arah Gio berlari.


" Mama.. Papa datang!" Seru Gio riang sembari memasuki toko dan menghampiriku. Wajahnya sangat senang sambil menunjukkan paper bag ke arahku.


Aku tersenyum dan melihat ada Nathan berjalan di belakang Gio.


" Tolong gantikan aku sebentar." Ujarku pada Tika yang sejak tadi membantuku memasukkan baju- baju yang di beli konsumen kedalam kantong kresek.


Aku menghampiri Nathan yang melihatku dengan wajah datarnya. " Ada apa?" Tanyaku dengan wajah datar pula. Tidak aku tunjukkan rasa senangku karena melihatnya.


" Aku mau ajak kamu dan Gio berkunjung ke rumah."


" Aku sibuk. Toko saat ini sedang ramai. Kamu lihat sendiri kan?!" Jawabku terkesan menolak ajakannya.


" Aku bisa membantu." Ujar Nathan lagi.


" Gak perlu. Nanti calon istrimu marah!" Cetusku masih menyembunyikan perasaanku.


" Gak akan. Aku belum punya calon istri." sahut Nathan dan segera berjalan menuju meja kasir.


Wajah tampannya dan juga postur badannya membuat semua orang beralih menatapnya. Begitupun dengan Tika. Tangannya menscan baju- baju yang ada di meja. Tapi matanya terpaku melihat Nathan.


Haduhh gak beres. Bisa bangkrut aku. Ketika aku melihat Tika memasukkan beberapa baju ke dalam plastik padahal belum masuk hitungan.


Aku segera menghampiri Tika dan memintanya untuk merapikan baju yang ada di display. Dengan terpaksa aku membiarkan Nathan membantuku. Banyak pengunjung toko yang memuji ketampanannya. Bahkan ada yang meminta berfoto bersama. Bagaikan bertemu artis.


Aku hanya tersenyum melihat hal itu dan terkadang menggelengkan kepala melihat tingkah pengunjung.


Entah ada angin apa. Pengunjung di toko ku semakin siang. Semakin ramai. Sangat tidak biasa dan yang lebih anehnya lagi rata- rata yang datang hari ini wanita. Jika ada yang baru saja masuk pasti dengan sengaja berjalan mendekat meja kasir dan berbisik sambil menunjuk ke arah Nathan. Aku tidak tahu Nathan memperhatikan hal itu atau tidak. Tapi hari ini dia benar- benar menjadi sorotan dan objek utama di tokoku.


" Sudah puas?" Gertak seorang wanita muda tiba- tiba ke arahku.

__ADS_1


Aku yang fokus melayani pembeli seketika mendongakkan wajahku melihat ke arahnya.


" Angel!" Bentak Nathan kecil tak suka dia berbicara dengan intonasi tinggi.


Nathan segera meninggalkan kegiatannya dan menarik Angel menjauh dari kami. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku berusaha untuk tidak peduli.


" Mba, di hitungnya nanti aja ya. Tunggu masnya itu." Pinta seorang ibu- ibu sembari menunjuk Nathan yang sedang berbicara dengan Angel.


Aku tersenyum kikuk. Sudah berumur tapi masih suka daun muda. Aku menuruti keinginannya dan melanjutkan untuk menghitung belanjaan pembeli yang lain. Tapi lagi- lagi menolak. Yasudah sementara aku menghentikan kegiatanku dan berjalan menghampiri Nathan dan Angel.


" Cepat kamu pulang!" Seru Nathan terlihat marah ketika aku sudah dekat dengan mereka dan seketika aku menghentikan langkahku.


" Aku akan menghancurkan toko ini. Kamu cuma milikku, Nathan. Tidak akan aku biarkan wanita lain mendapatkanmu!" Ancam Angel tak kalah marah.


" Jangan pernah menyentuh toko ini Ataupun keluarga Senja!" Nathan mempertegas Bicaranya dan segera berjalan ke arahku.


Dengan menghentakkan kakinya. Angel menatapku dengan penuh amarah dan berlalu keluar dari tokoku.


*****


Hari mulai gelap, aku memutuskan untuk menutup toko lebih awal dari biasanya. Lelah rasanya badan ini. Aku tersenyum puas melihat isi tokoku yang nyari kosong. Kebanjiran pembeli seperi hari ini benar- benar membuatku tidak menyangka.


" Makasih yah. Toko aku jadi laris banget karena kamu datang." Ucapku sedikit malu pada Nathan.


" It's ok. Jadi kapan kamu akan ke rumahku?" Tanyanya memastikan aku akan datang.


" Sekarang aja gak apa- apa. Aku akan menginap di rumahmu jika boleh." Ujarku dengan wajah tertunduk. Seharian bersamanya membuatku tidak mampu menatapnya.


" Ok."


*****


Setelah menyantap nasi goreng yang di beli Jerry kami menuju rumah Nathan. Tak pernah terpikirkan lagi olehku untuk menginjakkan kakiku kembali di sana. Dulu aku mengkhawatirkan hubungan Nathan dan Ayuna. Tetapi sekarang aku tidak mengkhawatirkan apapun. Apakah ini pertanda kami berjodoh. Ah, kenapa aku masih berharap berjodoh dengannya. Segera aku membuang pikiran itu.


" Aku boleh menanyakan sesuatu?" Tanyaku membuka obrolan.

__ADS_1


" Silahkan."


" Maaf sebelumnya. Ayuna meninggal kenapa?" Tanyaku sedikit berhati- hati.


" Kecelakaan mobil. Direkayasa seseorang yang entah siapa dalangnya." Jawab Nathan dengan helaan nafas berat.


" Maksudnya bagaimana?"


" Hari itu. Kehamilan Ayuna sudah menginjak usia 7 bulan. Tiba- tiba dia di telepon seseorang. Dia bilang itu salah satu karyawan kantorku diminta aku datang ke kantor sekarang juga. Ayuna yang takut aku kenapa- napa segera mengambil kunci mobilnya dan kecelakaan itu terjadi. Tiba- tiba Mobil Ayuna di tabrak dari depan dengan kecepatan tinggi. Hingga mengakibatkan Ayuna dan calon anak kami meninggal." Nathan terlihat menyeka matanya. Dia pasti sedih kehilangan dua orang yang dia sayangi sekaligus. Nathan menarik nafas panjang untuk melegakan yang sesak di dada. Jangankan Nathan. Aku yang bukan siapa- siapa Ayuna saja merasa sesak.


" Bagaimana kamu tahu kecelakaan itu rekayasa?" Aku masih penasaran.


" Semuanya sangat kebetulan. Tapi penyelidikan polisi, pengemudi yang menabrak Ayuna dalam keadaan mabuk. Dia hanya di penjara sedangkan istri dan anakku.." Nathan tak mampu melanjutkan kata- katanya. Dia terlihat semakin sesak.


Aku menepuk- nepuk lembut bahunya. " Sabar, Nath." Ujarku.


Nathan menepikan mobilnya dan menelungkupkan wajahnya di atas setir. Tubuhnya sedikit berguncang dan berkali- kali dia menarik nafas panjang dan berat.


Nathan- ku benar- benar berduka. Dia pasti sangat terpukul begitupun juga dengan Bu Fitri.


" Maaf Senja." Ujarnya dengan mata yang sedikit basah. Sepertinya dia jauh lebih lega.


" Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih." Aku merasa menyesal. Nathan hanya tersenyum tipis dan kembali mengemudikan laju mobilnya.


Sepanjang perjalanan aku memilih diam dan menatap keluar jendela. Sesekali aku memperhatikan Nathan dari pantulan kaca mobil. Wajah yang lelah dan penuh beban jelas terlihat. Selama ini orang hanya terpaku dengan ketampanannya dan tatapannya yang menghanyutkan.


Ingin rasanya aku memeluknya dan berbagi kesusahannya. Tak ingin aku melihatnya seperti ini.


Dering ponselku membuyarkan lamunanku. Segera ku keluarkan ponselku dari tas. Kulihat nama Reza di sana. Aku segera mengangkatnya.


" Ada apa, Za?" Tanyaku masih malas bicara dengannya.


" Kamu dimana? Aku ada di depan rumahmu." Ujarnya.


" Pulanglah. Aku sedang berkunjung ke rumah temanku."

__ADS_1


" Siapa?" Reza penasaran.


" Bye." Aku mengacuhkan pertanyaannya dan segera mematikan ponsel ku lalu memasukkannya kembali ke tas.


__ADS_2