
Rumah Senja telah di hiasi oleh bunga- bunga yang tertata dengan cantik. Pernikahan yang sederhana sesuai yang telah Senja dan Nathan rencanakan sebentar lagi akan berlangsung. Sebuah tenda telah terpasang di depan rumah Senja. Untuk membuat teduh menyambut para tamu undangan yang tidak banyak di undang. Hanya warga sekitar rumah Senja juga beberapa kerabat dekat Nathan.
Senja juga telah dirias sedemikian rupa. Impiannya menjadi seorang pengantin kini terwujud sudah. Balutan kebaya putih nan elegan membalut tubuhnya. Hatinya berdebar menanti kedatangan rombongan sang calon suami.
" Senja." Sapa seseorang di ambang pintu.
Senja menoleh dan menatap nanar sosok pria di sana. Gilang dan juga istrinya datang pada pernikahan Senja.
Air mata kerinduan menetes dari pelupuk mata Senja. Walaupun dia pernah di caci dan dibuang oleh kakaknya setahun lalu. Tak membuat Senja membenci kakaknya. Hanya dia keluarga yang Senja punya.
Gilang menghampiri Senja dan memeluk erat adiknya. Bergantian dengan sang kakak ipar yang terisak sambil meminta maaf pada Senja karena dirinya yang telah meminta Gilang menjauhi Senja.
Senja sama sekali tidak menyangka akan hari ini. Bukan hanya menyatukan dia dan Nathan. Tetapi juga mengembalikan keluarganya. Betapa bahagianya Senja.
" Maafkan Kakak, De." Ujar Gilang masih dengan isak tangisnya. Entah kata maaf yang keberapa kalinya keluar dari mulut pria itu.
" Senja senang. Kakak bisa menghadiri akad aku. Kakak mau jadi wali aku?" Tanya Senja dengan isak tangis pula.
" Tentu saja, De. Kamu adik Kakak. Maaf jika membiarkanmu dalam kesulitan selama ini." Tutur Gilang penuh penyesalan.
Senja hanya diam dan kembali memeluk kakaknya.
" Sepertinya rombongan Nathan sudah datang. Kamu sambut mereka. Biar aku merapikan riasan Senja." Ujar Gita, Kakak ipar Senja.
Gilang segera menyeka air matanya dan merubah mimik wajahnya menjadi wajah ceria bersiap untuk menyambut rombongan Nathan.
Gita membungkuk dan perlahan menyeka air mata Senja dengan tisu. Sangat perlahan agar tidak merusak riasan wajah Senja. " Kamu cantik. Maafkan kakak jika kakak terlalu jahat sama kamu." Ujar Gita dengan rasa penyesalannya.
" Iya Kak." Jawab Senja. " Kakak tau darimana aku akan menikah?"
" Nathan." Jawab Gita. " Seminggu lalu dia menghubungi kami meminta restu. Dia juga meminta kakakmu menjadi walinya." Jawab Gita dengan senyum bahagianya. Biar bagaimanapun sebenarnya Gita sangat menyayangi Senja.
__ADS_1
" Kakak senang. Akhirnya kisah cinta kalian yang berliku sampai pada tujuannya. Dia lelaki yang terbaik untuk kamu." Gita melanjutkan.
Senja mengangguk setuju akan perkataan Gita. Selama hidupnya, tidak pernah dia menemukan kembali pria sebaik Nathan.
Gilang menyambut rombongan Nathan. Terlihat Nathan berjalan di dampingi ibunya dan Randy. Di belakangnya berjalan Nabila dan Silvi.
" Selamat datang." Sambut Gilang dan menyalami Nathan juga memberikan kalung melati putih padanya.
Nathan sangat tampan. Wajahnya terlihat sangat bersinar dengan setelan jas berwarna putih senada dengan kebaya Senja. Acara ijab kabul berlangsung lancar. Hingga Nathan dan Senja di pertemukan. Keduanya saling melemparkan senyum malu- malu. Akhirnya mereka disandingkan sebagai pasangan suami istri.
" Sikat Nath." Seru Randy gemas melihat sahabatnya terlihat malu- malu mendekati Senja.
Nabila menyikut Randy dan melotot. " Emang baju pake disikat!" Sergah Nabila.
" Lagian malu- malu. Padahal udah gak tahan." Gurau Randy di sambut dengan gelak tawanya sendiri.
Nabila hanya melotot tidak menanggapi. Entah saat ini dia harus bahagia atau sedih. Hati dan pikirannya tidak bisa di ajak kerjasama. Pikirannya berkata dia bahagia melihat cinta mereka bersatu tetapi hatinya terasa begitu sesak melihat dua insan itu bahagia.
" Asal!" Omel Nabila dan meninggalkan Randy.
*****
Acara siang tadi berjalan khidmat dan lancar. Tamu yang datang sangat diluar perkiraan. Lebih banyak dari yang mereka kira. Acara yang rencananya sederhana. Jadi terasa meriah. Karena ternyata beberapa kolega Nathan yang mendengar kabar Nathan menikah ikut datang menghadiri acara mereka.
" Papa tinggal sama kita kan Ma?" Tanya Gio sambil membantu Senja membuka kado.
" Iya sayang." Jawab Senja. " Gio senang ga?"
" Senang sekali. Gio gak diledek lagi karena gak punya Papa." Jawab Gio polos.
Nathan duduk berdua dengan Gilang di teras rumah Senja. Banyak hal mereka bicarakan. Tetapi sepertinya lebih banyak Nathan yang membicarakan Senja setahun terakhir ini. Mata Gilang kembali memancarkan kesedihan dan juga penyesalan karena pernah bersikap tidak peduli pada Senja. Beberapa kali dia menyeka air matanya yang membendung.
__ADS_1
" Kakak berharap tidak ada lagi kesedihan di hidup Senja." Harap Gilang.
" Aku usahakan Kak. Semampuku akan ku bahagiakan Senja dan Gio." Jawab Nathan.
Gilang tersenyum lega karena Senja akan bersama dengan lelaki yang tepat. " Oh iya. Bagaimana dengan lukamu?"
" Oh ini." Nathan memegang perutnya yang masih terluka. " Sudah jauh lebih baik. Maaf aku tidak bisa ke rumah kakak."
" Gak masalah. Kakak senang karena yang akan menikahi Senja adalah kamu. Seharusnya dulu Senja tidak pernah meninggalkan kamu, Nath." Kenang Gilang.
" Mungkin ini sudah jalannya." Timpal Nathan. " Oh iya. Mungkin besok aku akan mengajak Senja dan Gio tinggal di rumahku."
" Silahkan Nath. Kakak akan mengantar kalian. Sekalian kakak akan pamit pulang ke Bandung."
" Istirahatlah Nath. Acara ini pasti membuat kamu lelah. Di tambah lagi kondisi kamu masih kurang sehat." Gilang menyuruh Nathan masuk terlebih dahulu.
" Iya kak. Saya permisi."
Nathan mengetuk kamar Senja. Tak enak rasanya jika dia seenaknya saja masuk. Gio membukakan pintu untuk Nathan. Di sambutnya dengan wajah cerianya. Nathan tersenyum dan mengacak lembut pucuk kepala Gio. Di hampirinya Senja yang duduk di tepi kasur.
" Apa sudah semua kadonya di buka?" Tanya Nathan pada Gio yang masih antusias melihat barang- barang hadiah.
" Sudah. Gio bantu Mama." Sahut Gio bangga.
" Anak Papa hebat." Nathan mengacungkan kedua jempolnya.
" Bagaimana lukamu? Apa sudah sembuh?" Tanya Senja.
" Sedikit lagi." Jawab Nathan dan memperlihatkan lukanya yang sudah mulai mengering. " Maaf sayang. Hari ini kita hanya akan tidur bersama saja." Goda Nathan. Senja memukul lembut bahu Nathan.
" Cepat tidur. Besok kita harus bersiap pindah." Ujar Senja dengan wajah yang merona merah.
__ADS_1
Membayangkan saja sudah membuat Senja malu setengah mati apalagi benar- benar di sentuh Nathan. Senja memilih tidur cepat dan memunggungi Nathan. Tak sanggup rasanya jika dia harus memandang wajah suaminya. Jantungnya selalu saja tidak karuan karenanya. Padahal saat ini Nathan sudah tertidur pulas sambil memeluk Gio.