
Nathan memijat pelipisnya. Badannya sedikit terasa sakit karena semalaman dia tidur di sofa ruang keluarga. Kepalanya sedikit berdenyut karena hampir semalaman dia terjaga. Tidak ada sapaan mesra dari istrinya. Secangkir kopi pun tidak disuguhkan. Kemarahan Senja masih terlihat jelas pada raut wajahnya. Nathan yang menyadari betul akan perubahan sikap istrinya. Hanya bisa diam dan memilih langsung meninggalkan meja makan.
" Pak. Di luar ada Tuan Jason. Ingin bertemu dengan bapak." Ujar Silvi masih berdiri di ambang pintu.
" Mau apa lagi dia!" Gumam Nathan kesal.
" Saya tidak ingin bertemu dengannya." Tolak Nathan.
" Tapi sayangnya saya akan tetap masuk Tuan Nathan!" Ujar Jason yang sudah menerobos masuk dengan menggeser tubuh mungil Silvi.
" Saya rasa ucapan saya semalam sudah sangat jelas." Nathan menatap Jason tajam.
Jason hanya tertawa kecil dan dengan santainya duduk pada kursi di depan meja kerja Nathan di sampingnya duduklah seorang Mark.
" Silahkan anda keluar Tuan Jason. Sebelum saya mengusir anda dengan tidak hormat." Nathan mempertegas kalimatnya.
" Santai dulu anak muda. Biar saya jelaskan sesuatu." Jason masih bersikap santai dan memberikan isyarat pada Mark untuk membuka tas hitam yang di bawanya.
Mark menuruti perintah bosnya dan memperlihatkan isi tasnya pada Nathan. Meletakkan tas itu di atas meja kerja Nathan.
" Apa maksud anda?!"
" Santai dulu. Relax." Ucap Jason menenangkan Nathan yang seperti tersinggung di hadapkan dengan setumpuk uang.
" Semalam itu sebenarnya hanyalah sebuah ujian." Ujar Jason kini dengan wajah mulai serius.
" Maksud anda?"
" Seperti yang anda bilang kemarin. Ini adalah proyek besar dan saya rela memberikan semua modalnya dimuka. Yang ada di tas ini hanyalah bagian kecil. Saya sudah menyiapkan cek sejumlah kesepakatan yang saya tawarkan kemarin. Saya tahu prinsip perusahaan anda yang tidak akan pernah mengajukan pinjaman pada bank. Maka dari itu saya menyiapkan modalnya untuk anda Tuan Nathan." Jason menjelaskan. " Sebelum saya mengajak anda bekerja sama. Saya mencari tahu tentang anda dan juga pribadi anda. Semalam hanyalah ujian kecil. Saya mencari orang yang dapat dipercaya. Dan ujian semalam saya mendapatkan kesimpulan. Bahwa anda benar- benar bisa di percaya." Lanjut Jason.
.
Nathan semakin terlihat bingung. " Ujian? Maksud anda bagaimana. Sejujurnya saya bingung dengan hal ini."
__ADS_1
" Anda memegang teguh kepercayaan anda pada istri anda. Saya yakin. Anda juga pasti memegang teguh kepercayaan yang diberikan pada anda." Jason mengangkat sebelah alisnya.
Nathan sedikit tertegun mendengar perkataan Jason. " Sejujurnya saya tidak bisa komentar apapun. Tapi terima kasih atas kepercayaan anda. Dan sejujurnya saya akan mengajukan satu syarat." Ujar Nathan.
Jason mengangkat kedua alisnya. Tidak menyangka jika Nathan akan mengajukan syarat.
" Istri saya salah paham atas kejadian semalam karena tanda ini." Nathan menunjukkan tanda merah yang menjadi sumber pertengkarannya dengan Senja semalam. Jason mengerutkan keningnya dan sedetik kemudian dia tertawa.
" Maafkan para wanita itu. Sepertinya yang tergoda adalah mereka Tuan Nathan." Jason memperjelas situasinya. " Saya mengerti arah ucapan anda. Saya akan coba membantu menjelaskan pada istri anda."
Nathan menyunggingkan senyumnya. " Mari kita temui istri saya sekarang." Ajak Nathan yang tidak ingin menunda lagi.
" Sekarang?!" Jason sedikit terkejut.
" Ya. Saya tidak ingin kesalahpahaman ini berakhir di meja hijau." Ujar Nathan dan terus berjalan menuju pintu ruangannya.
Jason dan Mark mengikuti langkah Nathan.
" Silvi, tolong siapkan kontrak untuk Pak Jason. Saya tunggu di rumah sejam lagi." Pesan Nathan pada Silvi yang sibuk menulis laporannya.
*****
Senja menatap Nathan lekat. Penjelasan dari Jason membuatnya tak menyangka jika yang terjadi semalam adalah ulah Jason yang menyewa wanita penghibur untuk merayu Nathan.
" Apa kamu mau memaafkan aku?" Tanya Nathan setelah lama istrinya memandangnya lekat.
Senja langsung meraih Nathan dan memeluknya erat. Tangisnya tak terbendung lagi. Senja bahagia karena prasangkanya salah.
" Maafkan aku tidak percaya padamu." Isak Senja.
Nathan mengelus lembut rambut Senja.
"Apa tugasku sudah selesai Tuan Nathan?"
__ADS_1
" Ya. Terima kasih telah membantu saya meluruskan kesalahpahaman ini."
" Suami anda sangat setia, Nyonya. Anda tidak perlu khawatir. Walaupun saya yakin ada banyak wanita yang merayunya.," Gurau Jason.
Senja hanya tersenyum tipis dan melihat wajah suaminya. Wajah tampan yang selalu menarik perhatian banyak wanita.
" Jika saja istriku masih ada. Aku pasti akan membuat satu syarat lagi untukmu Tuan Nathan."
" Nathan saja Pak." Ralat Nathan cepat.
Jason sedikit terkejut mendengar ucapan Nathan dan menyunggingkan senyumnya.
" Baiklah. Nathan." Ucap Jason. Nathan tersenyum.
" Kalau boleh tau. Istri Tuan Jason kemana?" Tanya Senja penasaran.
" Beberapa tahun lalu. Istri dan anak kami satu- satunya meninggal karena kecelakaan pesawat terbang saat ingin menyusul saya di Jerman." Ucap Tuan Jason dengan raut wajah yang tiba- tiba terlihat murung.
" Kami turut berduka." Ucap Nathan prihatin.
" Yah. Sejujurnya saja. Melihatmu, seperti melihat putraku." Ujar Jason pada Nathan sambil menatap Nathan lekat.
Jason menarik nafas dalam. " Waktu kamu magang di tempatku bekerja dulu. Saya selalu berpikir. Jika putraku dewasa nanti. Dia akan tumbuh sepertimu, Nathan. Seorang anak muda dengan semangat tinggi."
" Anda memperhatikan saya?" Nathan seolah tak percaya.
" Ya. Itu sebabnya saya meminta bawahan saya untuk mengajarimu apapun yang ingin kamu ketahui." Ucap Jason dengan senyum khasnya.
" Terima kasih banyak Tuan Jason. Sejujurnya. Karena bekal ilmu saat magang dulu, saya berani mendirikan perusahaan."
" Ya.. Saya sudah menduga hal itu. Kamu bukanlah sekadar pekerja. Tetapi kamu mempunyai bakat pemimpin." Ucap Tuan Jason lagi.
" Sepertinya tanpa kita sadari. Kita sudah akrab ya." Tuan Jason tertawa.
__ADS_1
" Ya." Nathan membenarkan pernyataan Tuan Jason.
Kejadian semalam yang memicu pertengkaran hebat antara dia dengan Senja. Dalam sekejap terlupakan. Ternyata tanpa Nathan ketahui selama ini. Tuan Jason telah banyak memberikan bantuan secara tidak langsung pada Nathan yang memang sudah memiliki minat dalam bidang bisnis.