
Nathan menatap bangunan mewah dan tinggi di hadapannya. Entah rumah siapa yang mereka masuki.
" Rumah siapa?" Tanya Nathan heran karena banyak penjaga yang berdiri di setiap sudut rumah keadaannya mirip di rumah Sintia.
" Rumahku." Jawab Nabila santai dan melenggang masuk kedalam rumahnya.
" Sebaiknya untuk sementara kamu tinggal disini. Ada banyak kamar disini." Ujarnya santai dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.
" Kamu punya rumah besar disini kenapa masih menginap di hotel?"
" Membuntuti kamu." Jawab Nabila santai.
Nathan tidak mengerti.
" Sintia dan aku dulunya berteman baik. Hingga ada suatu masalah yang menyebabkan kami bermusuhan." Nabila mulai menceritakan dirinya dan Sintia. " Aku sedikit terkejut karena mendapat kabar dia menetap disini. Aku yang penasaran mulai menyelidiki. Dan benar saja. Dia mengincar seseorang. Yaitu, Kamu."
" Apa untungnya kamu menyelidiki Sintia?" Nathan masih tidak mengerti.
" Aku tidak suka dia berulah disini. Seolah paling berkuasa dimanapun." Sorot mata Nabila mendadak berubah.
" Ibumu sudah aman. Orang- orangku membantu penyelamatan ibumu." Nabila menunjukkan foto Bu Fitri yang baru saja sampai di kampung Pak Mamat.
" Terima kasih." Entah harus bagaimana membalas kebaikan Nabila. Baginya ibunya adalah segalanya.
" Tapi aku tidak tahu jika masih ada yang harus kamu lindungi." Ujar Nabila penuh sesal.
" Aku harap dia baik- baik saja." Harap Nathan penuh kecemasan.
Baru saja mereka membahas Senja. Dering ponsel Nathan terdengar.
" Bagaimana Za?" Tanya Nathan tak sabar.
" Maaf Pak. Saya terlambat." Tutur Reza penuh penyesalan.
Nathan menghela nafas berat. Di usapnya kembali wajahnya dengan kasar.
" Aku tidak tahu siapa Sintia. Kenapa dia berbuat begini." Ujar Nathan putus asa.
" Tenanglah. Aku akan membantumu."
" Senja tertangkap. Entah dia akan berbuat apa pada Senja." Nathan berteriak marah. Ingin rasanya dia segera menemui Sintia dan mencabik- cabiknya hingga jadi potongan kecil.
" Jangan gegabah Nathan." Cegah Nabila agar Nathan berpikiran jernih.
" Ceritakan padaku siapa Sintia yang sebenarnya."
Nabila terdiam sejenak dan menarik nafas panjang. " Sintia anak dari Ringgo Hermawan dan Fumiko Sora. Kakeknya seorang mafia besar di Jepang yang kini telah melebarkan sayapnya keberbagai negara. Itulah sebabnya dia dengan mudahnya selalu mendapatkan yang dia inginkan. Beberapa lelaki pernah bernasib sama sepertimu. Tapi yang berbeda. Sintia tidak pernah menyentuh keluarga mereka."
" Apa karena aku menolak?" Nathan jadi sedikit aneh.
" Tidak juga. Sintia bisa dengan mudah menggantinya dengan pria lain. Aku yakin jika kali ini Sintia benar- benar menginginkanmu. Itulah sebabnya. Ayahnya ikut mendukungnya." Tutur Nabila menduga.
Nathan menarik nafas panjang. " Kenapa?"
Nabila mengedikkan bahunya. " Tapi dimana kamu kenal Sintia?" Nabila merasa aneh. Karena selama ini Sintia menetap diluar negeri.
__ADS_1
" Temanku yang mengenalkan padaku beberapa minggu lalu."
" Oh ya?" Nabila merasa masih menjanggal. " Apa dia pernah melihatmu sebelumnya?"
" Ya. Dari foto pernikahan sahabatku." Jawab Nathan apa adanya.
" Siapa sahabatmu?"
" Randy. Istrinya bernama Rena."
" What?!!" Pekik Nabila tak percaya.
" Kenapa?" Nathan bingung dengan reaksi Nabila.
" Wanita bodoh itu yang sudah menjebakmu. Dia harus diberi pelajaran." Nabila terlihat marah.
Drrrttt...
Ponsel Nathan kembali berdering. Nama Sintia tertera di Sana. Nathan memberikan isyarat agar Nabila tidak bicara.
" Halo." Sapa Nathan dingin.
" Hai sayang. Mau dengar sesuatu?" Ujar Sintia dan membuka sumpal mulut Senja.
" Siapa kalian! Lepaskan aku!" Teriak Senja marah terdengar oleh Nathan.
Sintia tersenyum picik melihat hal itu. Sangat menyenangkan membayangkan bagaimana reaksi wajah Nathan yang bingung dan akan kembali patuh dengannya.
" Lepaskan dia!" Bentak Nathan pelan namun tegas.
Nathan diam sejenak. Teringat dia dengan wajah polos Gio. Anak itu pasti merindukan dan mengkhawatirkan ibunya.
" Baiklah. Aku akan kerumahmu sekarang." Ucap Nathan kembali mengalah.
" Jangan gila Nathan!" Bentak Nabila tidak setuju dengan langkah yang di ambil Nathan.
" Seperti kamu bilang. Aku bukan lawan yang tepat untuknya. Kemanapun aku sembunyi. Dia pasti menemukanku. Masih ada bisnis yang harus aku urus. Ada banyak karyawan yang menggantungkan pencarian mereka di sana. Aku tidak boleh lari." Ujar Nathan.
Nabila tersenyum dan memeluk Nathan. " Aku mengerti kenapa Sintia begitu menginginkanmu. Dan aku yakin ada banyak perempuan di luar sana yang mengagumimu."
" Maksudmu?" Nathan masih tidak mengerti dan menjauhkan Nabila dari tubuhnya.
" Kamu tidak akan mengerti dengan perasaan wanita, Nath." Gumam Nabila.
" Aku berangkat sekarang." Nathan pamit.
" Biar anak buahku yang mengantar."
" Oke. Terima kasih atas bantuanmu. Entah bagaimana harus berterima kasih padamu karena membantu menyelamatkan ibuku." Ujar Nathan dan menjabat tangan Nabila.
" Kembalilah dengan selamat. Jangan pernah tunduk dengan Sintia."
" Aku usahakan."
" Berikan ponselmu."
__ADS_1
" Untuk apa?" Nathan tetap memberikan ponselnya. Nabila mengetikkan nomor ponselnya.
" Hubungi aku jika butuh bantuan."
" Yoo..?" Gumam Nathan membaca nama yang di tulis Nabila.
" Yup." Nabila tersenyum dan melambaikan tangannya melepas kepergian Nathan.
Lelaki yang baru saja dia temui beberapa jam yang lalu. Bisa menciptakan sebuah rasa yang baru di hatinya. Nabila tersenyum dan tangannya terus saja memegang dadanya. Merasakan degup jantungnya yang berpacu cepat.
*****
" Kamu tidak pantas bersaing denganku! Wanita murahan!" Omel Sintia pada Senja yang terikat di sebuah kursi.
" Aku tidak kenal denganmu!" Sergah Senja kesal. " Lepaskan aku!" Senja masih terus meronta.
" Kamu akan kenal dengan seseorang ini." Ujar Sintia sinis.
Senja terus saja meronta agar tali yang mengikatnya terlepas. Sintia dan pengawalnya sudah meninggalkannya sendirian di kamar kosong ini. Hanya ada sebuah kursi yang mengikatnya. Selebihnya hanya tembok dan sebuah jendela kecil di ujung ruangan sana.
Senja tidak mengerti kenapa dirinya di bawa kesini. Siapa mereka dan mau apa mereka. Senja sama sekali tidak mengerti.
" Hai sayang." Sapa Sintia menyambut kedatangan Nathan yang tampak berantakan.
" Lepaskan Senja!" Perintah Nathan tegas.
" Tenang sayang." Sintia merangkul lengan Nathan mesra.
" Kenapa penampilanmu berantakan sekali?" Tanya Pak Ringgo yang baru saja menghampiri mereka.
Nathan tidak menjawab. Wajahnya menatap sinis kepada Pak Ringgo. Pak Ringgo hanya tertawa sinis melihat Nathan yang seolah sedang menantangnya.
" Jangan buat putriku kecewa." Ujar Pak Ringgo santai sambil menepuk bahu Nathan santai.
" Lepaskan Senja!" Bentak Nathan lagi pada Sintia kini tangannya sudah mencengkram leher Sintia keras. Hingga membuat wanita itu kesulitan bernafas.
Seketika pengawal Sintia segera menarik tangan Nathan agar melepaskan cengkramannya. Tapi sia- sia. Nathan mencengkram keras leher Sintia. Kemarahan sudah menguasai dirinya. Mata Nathan yang melihatnya tajam.
" Bocah kurang ajar!" Maki Pak Ringgo kesal karena melihat leher putrinya di cengkram kuat.
Wajah Sintia mulai membiru. Pak Ringgo memukul keras kepala Nathan dengan Guci antik yang ada di dekatnya.
Seketika kepala Nathan merasakan pusing yang teramat hebat. Nathan memegang kepalanya mencoba menguasai kembali dirinya.
Sementara Sintia terduduk lemah di lantai sambil terbatuk- batuk.
" Jangan Papi." Cegah Sintia menghentikan aksi Pak Ringgo yang ingin menebas Nathan yang kini terduduk di lantai.
" Dia ingin membunuhmu!" Maki Pak Ringgo kesal karena dicegah putrinya.
" Aku mohon, Pi." Kini Sintia memeluk Nathan yang masih meringkuk lemah.
Pak Ringgo mengangkat wajah Nathan dengan marah. Hingga terlihat wajah Nathan yang sangat kesakitan Darah segar mengalir dari kepala Nathan. " Beruntung putriku begitu mencintaimu." Ucap Pak Ringgo marah.
" Bawa dia jangan sampai dia kabur!" Perintah Pak Ringgo pada pengawalnya.
__ADS_1