
"Serius lu mau nikah sama Senja Nath?" Tanya Randy yang masih tidak percaya.
" Iya."
" Secepat itu?" Nabila menimpali.
" Iya."
" Good luck. Semoga berjodoh." Randy menepuk pelan bahu sahabatnya.
Nabila terlihat memaksakan senyumnya. Ada perasaan bahagia dan sedih datang secara bersamaan. Tak menyangka jika ucapannya bisa mengubah keputusan Senja secepat itu. Sesuai yang dia harapkan walaupun itu artinya dia harus merelakan pria yang baru dicintainya.
" Itu mobil Pak David kan?" Tanya Bu Fitri ketika ada sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan rumahnya.
Belum juga Nathan menjawab. Pak David serta Angel turun dari mobil mereka dan beriringan masuk ke pekarangan rumah mereka dengan senyum yang dia buat seramah mungkin.
" Wah.. Sudah siap rupanya." Ujar Pak David ketika menghampiri Bu Fitri dan Nathan.
" Iya, Pak. Terima kasih sudah mengizinkan kami untuk tinggal disini." Ujar Bu Fitri dengan nada dingin.
" Kalian tidak perlu pindah. Kenangan Chandra masih melekat sekali di sini kan." Pak David seperti sedang merayu.
" Kenangan ayah selalu di hati kami, Pak. Kemanapun kami pindah. Dia akan selalu bersama kita." Sahut Nathan ketus.
" Jangan seperti itu, Nathan. Bagaimana dengan taman belakang yang kalian buat bersama ayahmu. Itukan tempat favoritmu." Ujar Pak David.
" Betul, Nathan. Kita bisa tinggal di sini bersama." Angel mulai buka suara.
Nathan menatap Angel tajam. " Ayo, Bu. Kita harus segera tinggalkan tempat ini." Ujar Nathan tak menanggapi ucapan Angel.
" Senja belum sampai, Nath." Bisik Bu Fitri sedikit tidak setuju.
" Biar aku yang tunggu." Nabila mengusulkan.
" Iya. Aku akan memastikan dia akan sampai dengan selamat." Ujar Randy.
" Maaf, Pak David. Kami harus pergi. Ini kunci rumah ini dan sertifikatnya. Silahkan anda balik nama kembali." Ujar Bu Fitri menyerahkan kunci dan sebuah map.
__ADS_1
" Saya sebenarnya tidak ingin kalian pergi. Biar bagaimanapun ini adalah rumah kalian." Pak David masih berusaha membujuk Bu Fitri dan Nathan.
" Terima kasih atas bantuan anda selama ini." Nathan mengacuhkan ucapan Pak David dan tidak ingin berlama- lama melihat wajah Angel.
Angel menghentakkan kakinya kesal karena melihat Nathan terlalu acuh pada dirinya. Jangankan melihat. Melirikpun tidak. Padahal dia sudah berdandan secantik mungkin untuk memikat hati Nathan dan membuat Nathan mengurungkan niatnya.
" Papa. Paksa Nathan nikahin aku." Rengek Angel manja.
Pak David melirik Angel tajam. Wajahnya tampak sangat kesal. Karena ingin menuruti keinginan putrinya dia sudah menjatuhkan harga dirinya di depan anak karyawannya.
" Papa." Rengek Angel tak sabar karena melihat Nathan sudah masuk ke mobilnya.
" Ini. Kamu urus rumah ini. Tidak dapat orangnya. Biarlah kamu tinggal bersama kenangannya." Ujar Pak David kesal dan menyerahkan kunci serta sertifikat rumah itu pada Angel kemudian meninggalkan Angel yang kesal bukan main.
Randy dan Nabila hanya menahan tawa mereka menahan geli karena tingkah dua ayah dan anak ini.
" Awas ya kalian!" Ancam Angel beralih pada Nabila dan Randy.
" Loh.. Kok kita?!" Ujar Randy menahan tawanya sedangkan Nabila seketika tawanya telah pecah melihat tingkah kekanakan Angel.
" Errhh!" Angel semakin geram dan meninggalkan mereka dengan hati yang kesal.
"Barang- barang saya di taro di situ aja, Pak." Ujar Nathan pada anak buah Nabila yang ikut membantu menurunkan barang- barang.
" Gak nyangka ya, Nath. Ibu akan tinggal di rumah kamu." Bu Fitri terlihat sedih.
Nathan merangkul ibunya dan membelai lembut bahu ibunya seakan memberikan kekuatan. Nathan tahu betul perasaan ibunya karena harus meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan.
" Apa aku nikah sama Angel aja, Bu."
Bu Fitri tersentak dan langsung menggelengkan kepalanya tidak setuju. " Ibu gak mau punya menantu seperti Angel. Kenapa kamu bilang begitu?"
Nathan menarik nafas panjangnya. " Aku gak mau ibu sedih. Aku tau Ibu sangat berat ninggalin rumah itu. Kalo aku nikah sama Angel. Ibu gak perlu pindah dari sana. Aku mau lihat ibu bahagia." Ujar Nathan lembut dan membuat Bu Fitri menitikkan air mata haru dengan ketulusan cinta yang diberikan putranya.
Bu Fitri memeluk Nathan erat. " Kebahagiaan kamu paling utama. Seperti kamu bilang tadi. Kenangan ayah kamu sudah kita bawa karena dia ada di hati kita." Tutur Bu Fitri dengan isak tangisnya. Dia sangat bersyukur memiliki anak yang sangat berbakti padanya.
" Assalammu' alaikum." Sapa Nabila dan Randy juga Senja bersamaan.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam." Sahut Nathan juga Bu Fitri.
" Papa.. Nenek.." Seru Gio senang dan segera berhambur ke arah Nathan dan memeluk kaki Nathan.
" Gio sama nenek ya. Papa lagi sakit." Bu Fitri segera menggenggam tangan Gio karena anak itu ingin berhambur untuk di gendong Nathan.
" Papa sakit apa?" Tanya Gio penasaran.
" Sakit perut. Makanya gak boleh angkat yang berat- berat dulu." Jawab Senja mendahului Nathan.
" Oh gitu. Cepat sembuh ya Pa." Ujar Gio. Nathan mengacak pucuk rambut Gio gemas.
" Barangnya cuma segini?" Tanya Senja sedikit terheran karena bisa dibilang barang yang di bawa sangat sedikit.
" Iya. Banyak barang yang memang sudah ada. Jadi ibu gak mau bawa." Nathan duduk di sofa ruang tamu.
Senja menyapu seluruh ruangan itu. Rumah yang dulu dia hanyalah tamu dan Nathan menjalani biduk rumah tangga bersama Ayuna. Betapa sulitnya dia saat itu. Berada di posisi dimana dia harus menekan perasaan yang terus tumbuh untuk seorang Nathan yang saat itu sudah beristri. Tanpa di sadari. Air mata menitik di pipi Senja. Nabila dan Randy hanya diam melihat. Nathan menyeka air mata Senja yang membasahi pipinya dengan lembut.
" Maaf. Kalau nanti aku membawa kamu ke masa lalu." Ujar Nathan lembut yang mengerti dengan perasaan Senja.
" Enggak masalah kok. Aku senang akhirnya kita bisa menikah." Senja langsung memalingkan wajahnya yang kembali air matanya menggenang di pelupuk matanya.
" Kalian ngomongin apaan sih?" Nabila tidak mengerti. " Aww!!" Teriak Nabila spontan ketika Randy menginjak kakinya kencang.
" Nanti gue jelasin. Sekarang bisa diem gak?!" Bisik Randy tajam pada Nabila. Nathan hanya menggelengkan kepalanya. Merasa lucu dengan tingkah mereka.
" Berantem mulu. Awas jodoh loh." Ledek Nathan.
Sontak saja membuat Nabila serta Randy saling mencibir dan memperlihatkan ekspresi seperti orang yang sedang muntah.
" Nikah sama duda begini. Gak mungkin!" Sergah Nabila cepat.
" Cewe jadi- jadian begini. Yang ada gue yang dibanting. Ogah!" Randy tak kalah sengit.
Nathan hanya tertawa kecil mungkin jika tidak ada luka di perutnya sudah bisa dipastikan, Nathan akan tertawa terbahak- bahak melihat kekompakan mereka yang saling menolak.
" Jangan ngaco Nath!" Omel Nabila.
__ADS_1
" Tapi kalian beneran cocok loh." Timpal Senja ikut menjodohkan mereka.
" Uwekkk!"