
Senja yang baru saja kembali ke depan panggung untuk melihat pertunjukkan seketika dikerubungi ibu- ibu yang sejak tadi memperhatikan mereka.
" Maaf ni, Bu sebelumnya. Itu benar suami ibu?" Tanya ibu- ibu gendut yang dulu pernah menggosipinya.
" Iya. Bukannya dulu udah pisah sama papanya Gio ya?" Sahut ibu-ibu yang berbadan kurus berbaju motif bunga-bunga.
" Maaf ya ibu- ibu. Dia memang suami saya. Kita memang memutuskan untuk menikah demi kebaikan Gio. Selama ini dia selalu dibilang tidak punya Papa. Sebagai ayah yang baik dan bertanggung jawab. Dia tidak ingin putranya diperlakukan seperti itu hanya karena dia tidak selalu ada di sampingnya." Jawab Senja dengan nada sinis.
" Maaf ya. Selama ini kita gak tahu kalo ternyata Papa Gio setampan itu. Pantes aja Gio juga tampan." Sambung seorang ibu muda dengan make up lumayan tebal.
Senja hanya menanggapi dengan senyuman dan segera menuju kursi yang tadi dia tempati. Senja merasa sedikit heran dengan mereka. Mereka datang kesini untuk melihat pertunjukan anak mereka atau untuk bergosip.
" Masalah Gio selesai sayang." Ucap Nathan ketika baru saja duduk di samping Senja.
Senja tersenyum melihat suaminya. " Selamat juga untukmu. Karena menjadi pusat perhatian." Bisik Senja.
Nathan menatap istrinya tidak mengerti.
" Lihatlah sekelompok ibu- ibu di sana." Senja menunjuk ke arah para ibu- ibu tadi yang mengerubunginya bagaikan lalat masih terlihat mencuri pandang ke arah suaminya.
" Dan di sana juga." Senja juga menunjuk ke arah kelompok guru yang memang terlihat mencuri pandang juga.
Nathan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak mengerti kenapa bisa seperti itu. Dia hanya berniat untuk bertemu dengan teman- teman Gio. Memenuhi janjinya pada Gio.
" Kamu jadi selebriti." Ujar Senja sinis.
" Apa aku pulang sekarang?" Bisik Nathan tidak ingin terus di lihat seperti itu oleh mereka dan membuat istrinya cemburu.
" Tonton sampai selesai. Tidak ada lagi balik ke kantor. Biarkan mereka menikmati pemandangan yang tidak seharusnya." Bisik Senja kesal. Ingin rasanya dia memaki mereka. Senja tidak pernah berbuat masalah pada mereka. Tapi kenapa mereka senang sekali menggunjingnya. Bahkan menghasut anak- anak mereka hingga ada pembullyan kepada Gio.
Hari telah menunjukkan pukul tiga sore hari. Pertunjukan seni di sekolah Gio telah selesai. Satu persatu para murid bersama orang tuanya meninggalkan lokasi.
Gio berlari menghampiri Nathan dan Senja. Dia memeluk erat Nathan.
" Terima kasih ya, Pa. Karena Papa Gio jadi berteman juga sama Bagas." Ucap Gio lembut.
" Sama- sama sayang. Maaf ya, Papa baru bisa kenalan sama teman Gio sekarang."
" Iya. Gak apa- apa. Kan Papa sibuk." Gio mengecup pipi Nathan yang berjongkok di hadapannya.
__ADS_1
" Mama Gio. Permisi sebelumnya." Seru seorang ibu-ibu berambut keriting menghampiri mereka yang ingin menuju parkiran.
" Ada apa?" Tanya Senja.
" Kita mau ajak Mama Gio berfoto bersama. Buat kenang- kenangan." Ujarnya.
Senja menatap Nathan seolah meminta izin. Nathan mengangguk mengizinkan.
" Kalo bisa Bapak juga ikutan." Ujar Ibu itu.
Senja baru mengerti maksud ibu tersebut. Bukan dirinya yang mau diajak berfoto. Melainkan suaminya. Senja berdecak kesal dan segera menarik tangan suaminya menuju parkiran.
Nathan hanya mengikuti kemauan istrinya. Ibu itu hanya diam tak berkutik sama sekali ketika Senja meninggalkannya tanpa permisi.
*****
" Assalammu'alaikum." Sapa Senja dan Gio yang baru saja memasuki rumah mereka.
" Wa'alaikumsalam." Sahut Bu Fitri dan Nabila bersamaan.
Senja sedikit terkejut dengan kedatangan Nabila di rumahnya. Tidak biasanya dia datang ke rumahnya.
" Loh. Tidak biasanya kamu ke rumahku. Ada perlu apa?" Tanya Senja dan duduk di sofa ruang tamu.
" Jujur saja. Aku mau bertemu dengan Nathan. Tadi aku mencarinya di kantor tetapi kata Silvi dia pulang cepat hari ini. Jadi aku kesini." Jawab Nabila sesantai mungkin.
" Oh begitu. Apa ada masalah dalam pekerjaan kalian?"
" Tidak ada. Tapi aku punya urusan lain dengan Nathan. Bolehkah aku mengajaknya keluar sebentar?" Tanya Nabila sekaligus meminta izin.
" Kenapa tidak bicara disini saja?" Senja sedikit keberatan.
" Ini adalah masalah pribadiku, Senja. Dan hanya suamimu yang bisa memecahkan masalahnya." Ujar Nabila.
Senja sedikit berpikir dan akhirnya mengangguk menyetujuinya.
Nabila tersenyum dan kebetulan Nathan baru saja masuk ke rumah. Menatap heran ada Nabila di sana.
" Kita keluar. Ada yang perlu aku bicarakan denganmu." Ucap Nabila dan menarik lengan Nathan.
__ADS_1
Nathan yang bingung menatap Senja penuh tanya dan Senja menjawab dengan anggukan.
" Kenapa tidak bicara di rumah saja?" Tanya Nathan saat mereka sedang dalam perjalanan. Mereka menggunakan mobil Nabila.
" Ini bersifat pribadi. Dan aku tidak mau istrimu salah paham." Ucap Nabila tegas.
Nathan hanya menarik nafas panjang dan hanya diam. Entah apa yang mau dibicarakan Nabila dengannya sampai harus menghindar dari Senja.
Sesampainya mereka disebuah restoran mewah. Nabila memesan tempat VIP di sana. Nathan hanya mengekor mengikuti langkah Nabila. Walaupun kepalanya penuh tanya tapi dia hanya diam. Menahan semua pertanyaannya sampai terjawab dengan sendirinya.
" Apa harus tempat VIP seperti ini?" Tanya Nathan merasa sedikit aneh.
" Harus. Aku tidak mau masuk berita karena makan bersama seorang lelaki yang sudah beristri." Ujar Nabila santai.
Nathan hanya mengangguk mengerti. Dia menatap menu yang ada di meja dan memilih beberapa menu. Begitupun dengan Nabila.
" Jadi apa yang mau kamu bicarakan sebenarnya?" Tanya Nathan tak sabar.
" Sabarlah dulu. Kita nikmati makanan dulu. Baru aku ceritakan masalahnya." Ujar Nabila santai.
Beberapa menit kemudian semua makanan yang mereka pesan sudah terhidang dan dengan lahap Nabila memakan makanannya. Berbeda dengan Nathan. Dia makan dengan sangat santai. Terlihat sedang tidak berselera.
" Makanlah, Nath."
" Kamu tidak ada maksud lain, Kan?" nathan sedikit curiga dengan Nabila. Kejadian ini sangat mengingatkannya saat dengan Sintia dulu. Dia terjebak dalam situasi yang tidak mengenakkan.
Nabila tertawa. " Apa kamu pikir, aku seperti Sintia?" Nathan menggeleng. " Jadi apa masalahnya? Aku hanya mengajakmu makan bersama. Tidak ada maksud ingin menyekapmu." Nabila menjelaskan seolah tahu apa yang dipikirkan Nathan.
" Lalu apa yang mau kamu bicarakan?" Nathan mendesak.
Nabila menatap Nathan lekat. " Aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku. Tidak ada maksud lain. Aku hanya ingin kembali menjalani kehidupanku secara normal lagi. Rasanya tidak enak terus memendam hal ini." Ujar Nabila mengawali percakapannya.
" Hal apa?" Tanya Nathan dan kembali menyuap steak yang memang masih ada separuhnya.
" Saat kita bertemu di hotel hari itu. Jujur saja, Aku jatuh cinta padamu, Nath."
" Uhuk..Uhuk.. Uhuk.." Nathan tersedak.
" Minumlah dulu." Dengan cekatan Nabila menepuk pelan punggung Nathan dan menyodorkan air mineral padanya.
__ADS_1
" Kamu bercanda, kan?" Selidik Nathan ketika batuknya mereda.
" Tidak. Aku serius."