Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
61


__ADS_3

Nathan segera menuju restoran yang di tunjuk Senja. Restoran yang berada di lantai atas sebuah mall di ibukota. Nathan melepaskan dasi yang masih melingkar di lehernya. Penampilannya saat ini terlalu formal. Dia buka satu kancing baju kemejanya dan kancing jasnya.


" Hai Pak Nathan." Sapa seseorang yang sepertinya dia kenali suara tersebut.


Dengan engga Nathan menoleh dan benar saja. Friska melambaikan tangannya sambil menghampiri Nathan yang sedang menunggu lift di sampingnya berdiri asistennya, Dona.


" Bapak kok ada di sini? Sengaja mengikuti saya ya?" Tanya Friska dengan nada centil.


" Maaf, saya sedang buru- buru." Ucap Nathan enggan menanggapi dan segera beralih menuju eskalator.


Friska mengikuti Nathan dan dengan sengaja mengikuti Nathan. Bahkan tidak ada rasa malunya dia melingkarkan lengannya pada lengan Nathan yang posisinya sedang menaruh tangannya ke dalam saku. Nathan tersentak dan segera melepaskan tangan Friska.


" Maaf. Jangan seperti ini." Tolak Nathan halus dan melangkah beberapa langkah di depan Friska.


Friska yang tidak tahu malu terus berusaha mengejar Nathan agar berjalan beriringan.


" Maaf Ibu Friska. Saya harus menemui istri saya. Tolong menjauh dari saya. Saya tidak mau istri saya salah paham. Nathan mencoba memberikan pengertian pada Friska dan segera meninggalkan Friska yang terpaku menatapnya.


Dona yang sejak tadi hanya diam mengikuti Friska dengan perasaan kesal karena tingkah memalukan sahabatnya yang sekaligus jadi bosnya itu perlahan mendekati Friska dan berbisik. " Sepertinya Nathan bukanlah tipe orang yang suka di kejar, Fris."


Friska segera menatap tajam Dona dan tampak sedang memikirkan ucapan Dona.


" Jadi aku harus bagaimana?"


" Bersikap elegan. Dan lebih baik cari yang pasti aja. Dia suami Senja. Teman kita Fris." Dona mencoba mengingatkan.


Dengan kasar Friska mendorong pelan bahu Dona sambil melotot tajam dan berkata " Aku gak peduli!" Ucapnya tegas dan meninggalkan Dona yang hanya mampu menggelengkan kepalanya.


" Nathan belum sampai juga?" Tanya Reza yang sudah beberapa kali melirik pintu masuk tetapi belum muncul juga orang yang mereka tunggu.


" Dia bilangnya sih udah sampai." Jawab Senja dengan mata tak berkedip menatap pintu masuk. " Nah itu dia." Seru Senja senang dan langsung melambaikan tangannya ke arah Nathan walaupun dia tahu jika Nathan sudah melihat dirinya.


" Maaf menunggu lama." Ujar Nathan. Dan menyalami Senja.


" Ini calon istri saya, Pak." Reza memperkenalkan April pada Nathan.


" Nathan." Nathan memperkenalkan dirinya sambil menjabat tangan April singkat.


" Kalo di luar jangan panggil saya Pak. Panggil nama aja Za."


" Oh iya. Maaf. Terbiasa ketemu di kantor." Ujar Reza dengan tawa kecilnya.

__ADS_1


" Anda akan jadi orang paling beruntung. Dia ini lelaki yang rajin dan jujur. Dan yang pasti orang yang paling tulus" Puji Nathan di hadapan April untuk Reza.


" Jangan berlebihan." Reza sedikit malu mendapat pujian dari Nathan. April hanya tersenyum tipis sambil melirik Reza malu- malu.


" Kapan kalian menikah?" Tanya Nathan lagi.


" Dua bulan lagi." Jawab Reza cepat.


" Hemm.. Artinya anda harus segera mempersiapkan pengganti anda selama cuti."


" Asiapp.." Reza memberi tanda hormat.


Gelak tawa mereka terhenti ketika lagi dan lagi suara yang sejak tadi selalu mengganggu Nathan kembali terdengar.


" Hai."


" Friska." Ucap Senja sedikit terheran karena melihat Friska tiba- tiba saja muncul di dekatnya. Nathan hanya berdecak kesal dan enggan melihat ke arah Friska.


" Teman kamu?" Tanya Reza. Senja mengangguk.


" Boleh gabung?" Tanyanya dan belum dipersilakan dia sudah duduk di kursi yang bersebelahan dengan Nathan.


" Silahkan." Reza mempersilakan.


" Gak masalah kok Nath. Lagipula kursi kita lebih satu. Iya kan?" Ujar Reza dan beralih menatap Senja seperti meminta jawaban Senja.


Senja hanya tersenyum tanpa menanggapi ucapan Reza.


Nathan dengan cepat menghabiskan makanannya. Begitupun dengan Senja dan Gio. Tidak ingin berlama- lama ada di dekat Friska.


Mereka berjalan beriringan menuju parkiran dan saling berpamitan ketika berada di pertengahan ke arah mobil mereka.


" Terima kasih atas jamuan makannya Za." Ucap Nathan.


" Terima kasih juga karena sudah meluangkan waktunya." ujar Reza pula dengan nada canda. Mereka saling tertawa dan saling menjabat tangan.


" Emm.. Senja. Apa aku boleh menumpang?" Tanya Friska berbasa basi.


Sejak tadi mereka tidak menganggap kehadiran Friska dan Senja sedikit menoleh ke arahnya. " Memangnya mobil kamu kemana?" Tanya Senja heran.


" Tadi Dona terburu- buru jadi dia meminjam mobilku." Ujar Friska berbohong.

__ADS_1


" Bagaimana sayang?" Tanya Senja pada Nathan yang sejak tadi hanya diam.


" Baiklah." Ucap Nathan malas dan langsung berlalu menuju mobilnya dengan menggandeng Gio.


Sesampainya di mobil Nathan langsung membukakan pintu mobil belakangnya untuk Gio. Dan pintu depannya untuk Senja. Namun lagi dan lagi. Friska berulah.


" Maaf Senja. Bolehkan aku duduk di depan. Aku suka mual jika duduk di kursi belakang." Friska kembali memberikan alasan palsunya.


Senja hanya berdecak sedikit kesal.


" Sayang. Bisakah kamu mengemudi hari ini?" Tanya Nathan.


" Apa? Aku belum siap." Seru Senja menolak.


" Kalau begitu bagaimana jika kamu saja Friska. Kamu pasti lebih lihai mengemudi daripada Senja." Ujar Nathan kembali beralih pada Friska.


Friska sedikit terkejut. " Tapi hari ini kepalaku sedikit pusing." Friska kembali beralasan.


Nathan yang sejak tadi menahan rasa kesalnya akhirnya dengan terpaksa duduk di kursi pengemudi dengan Friska di sebelahnya.


Senja sedikit takut dengan cara mengemudi Nathan hari ini. Karena sangat tidak biasanya Nathan sedikit ugal- ugalan. Sangat sering dia menyalip mobil- mobil yang ada di depannya. Membuat jantung Senja serasa naik turun.


Begitupun dengan Friska yang sepertinya menggenggam erat seatbelt yang melingkar di tubuhnya. Beberapa kali dia terlihat sedang menahan nafas karena takut ketika Nathan sedang menyalip kendaraan yang ada di depannya. Gio jangan di tanya. Bocah itu kalau sudah ada di dalam mobil dalam waktu lima menit dia pasti terlelap.


" Nathan. Bisa pelankan sedikit." Pinta Senja yang semakin takut.


Nathan tak menggubris. Dia tetap saja fokus dengan jalanan di depan. Hingga mobilnya mulai memasuki komplek perumahan dia baru melambatkan laju mobilnya.


" Di mana rumahmu?" Tanya Nathan ketus pada Friska.


Friska yang baru saja berusaha ambil nafas lega. Sedikit terkejut dengan pertanyaan Nathan. " Di depan lagi ada pertigaan belok kanan. Rumah pagar coklat. Itu rumahku." Jawab Friska.


Nathan segera menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah Friska. Dengan kaki yang sedikit gemetar. Dia paksakan tubuhnya untuk turun dari mobil Nathan.


" Terima kasih." Ujar Friska dengan senyum yang dipaksakan. padahal wajahnya terlihat pucat pasi.


" Lain kali menumpanglah lagi." Ujar Nathan dengan maksud meledek.


" Pasti. Dengan senang hati." Jawab Friska seolah itu adalah ajakan untuknya.


Senja yang mendengar hanya melotot tajam ke arah Nathan.

__ADS_1


" Kami harus segera pulang. Bye." Ujar Senja memutus tindakan Friska yang sepertinya akan mengeluarkan ucapannya lagi.


__ADS_2