Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
12


__ADS_3

" Papa.." Seru Gio riang berlari menghampiri Nathan yang sudah menunggunya.


Serempak, para ibu- ibu itu menoleh ke arah Nathan. Nathan tampak masih tidak mempedulikan mereka. Dia menyambut Gio dan menggendongnya dan menyerahkan Gio padaku. Lalu dia kembali menghampiri mereka.


" Senja adalah mantan istriku. Gio adalah anakku. Dia bukan anak yang tidak jelas siapa papanya. Dia anakku. Jangan pernah lagi menggunjing orang lain di belakangnya. Jika kalian tidak suka. Katakan di depannya." Ucap Nathan tegas namun dengan sangat tenang. " Apa mantan istriku berbuat sesuatu?" Tanyanya lagi dengan sorot mata tajam.


Tak ada satupun ibu- ibu itu yang menjawab dengan suara. Mereka hanya menggelengkan kepala. "Jangan bicara sesuatu jika kalian tidak tahu persis duduk perkaranya seperti apa." Cetus Nathan lagi dan segera meninggalkan mereka dan berjalan menghampiri kami.


" Biar aku antar." Nathan menawarkan.


Aku hanya mengangguk patuh. Kami berjalan menuju mobil Nathan terparkir. Aku melirik ibu- ibu itu yang sedang saling menyenggol sikut. Sepertinya mereka malu karena sudah menjelekkan ku. Terutama si ibu gendut berbaju merah. Apa salahku. Padahal aku hanya mengenal mereka di sekolah saja. Tak pernah sekalipun aku mengusik mereka.


" Terima kasih." Ucapku saat kami sudah berada di dalam mobil.


" Kenapa diam saja sudah tau jadi bahan gunjingan." Ketus Nathan sepertinya dia lebih tidak terima.


" Aku tidak mau memancing keributan." Jawabku beralasan. Jika aku yang tiba- tiba menyela pembicaraan mereka dan menyangkal semua itu bisa jadi akan lain ceritanya. Bisa saja si ibu baju merah itu akan ngotot membenarkan semua ucapannya. Jadi sebisa mungkin aku lebih baik menahan sakit hati.


" Kamu kenapa di sini?" Tanyaku sedikit heran dengan kemunculan Nathan yang tiba- tiba.


" Aku ada meeting di kota ini. Saat perjalanan, aku lihat kamu dengan wajah sendu. Jadi aku diam- diam mencari tahu dan mendengarkan pembicaraan mereka."


" Kenapa membantuku?"


" Aku tidak suka orang yang menyebarkan fitnah. Jadi jangan salah paham." Jawab Nathan seolah ingin menjaga jarak dariku.


Aku hanya diam dan mengangguk. Gio masih saja nyaman dipangkuan Nathan.


Nathan memerhatikan toko bajuku yang lumayan besar. Dia menatap kagum toko itu.


" Ini usaha kamu?" Tanyanya sembari menunjuk tokoku.

__ADS_1


" Iya. Hasil dari pembagian harta waris dengan kak Gilang." Jawabku. Ada rasa sedih yang teramat jika menyebut tentang warisan. Bukan harta yang aku mau. Jika bisa di ganti, aku ingin orang tuaku bisa hidup kembali.


" Harta waris?" Tanyanya dengan mengkerutkan dahinya. Aku mengangguk pelan. " Orang tuamu?" Tanya Nathan akhirnya yang penasaran.


" Mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan. Setelah kejadian itu Kak Gilang memutuskan persaudaraaannya denganku karena aku punya anak diluar nikah." Ujarku sembari menahan sesak di dada. Kejadian beberapa bulan lalu masih terekam jelas di ingatanku.


Saat tanah kubur orang tuaku masih basah. Kak Gilang sudah membicarakan tentang warisan. Aku sebagai adik dan anak perempuan bisa apa. Aku hanya diam dan menuruti maunya Kak Gilang. Kami menjual semua aset peninggalan kedua orang tuaku. Dan membaginya sesuai dengan hukum agama yang berlaku.


Kak Gilang mendapatkan dua kali lebih banyak dariku. Tak jadi soal untukku. Yang membuatku sedih adalah kalimatnya. Sangat menusuk hatiku.


Aku memaksa diriku untuk kuat dan bertahan dalam situasi apapun. Di saat aku kesulitan aku bertemu dengan Reza. Dialah yang membantuku membangun usaha ini. Mulai dari mencarikan ku ruko ini dan juga rumah yang bisa aku beli agar aku punya tempat tinggal.


Sejujurnya, merasa tak enak hati aku terus menolak cinta Reza karena disisi lain aku merasa berhutang budi padanya. Jika tidak ada bantuannya entah bagaimana aku sekarang.


" Aku turut berduka, Senja." Ujar Nathan sembari menyeka air mataku. " Untungnya sekarang kamu ada Reza. Lelaki yang bertanggung jawab." Ujar Nathan lagi.


Aku hanya tersenyum tipis menanggapi tentang Reza. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Tapi rasanya aku enggan meralat ucapannya. Biarlah saja. Mungkin takdir kita tak akan pernah sejalan.


Aku masih saja terpaku menatap kemana mobil itu membawanya hingga benar- benar hilang di pelupuk mataku. Berat rasanya harus kembali merelakan dia yang kucintai. Padahal saat ini kami bisa bersama jika mau. Tapi baik dia atau aku. Tak ada keinginan kami untuk memaksakan keadaan untuk bersama.


Sikapnya sekarang sudah sangat jelas dia perlihatkan. Dia tidak ingin menggangguku lagi. Sudah benar- benar menghilangkah aku di hatinya. Kenapa masih saja ada perasaan tidak rela jika dia benar- benar melupakan aku. Nathan. Kini kamu kembali dengan membawa sejuta kenangan kita.


*****


Aku menatap rintik hujan yang membasahi rerumputan di halaman rumahku. Hujan gerimis masih saja turun membasahi rerumputan. Udara menjadi lebih sejuk karena sejak kemarin sore kota ini di guyur hujan.


Drrrtttt ddrrrttt .


Aku tersentak ketika ponselku tiba- tiba saja bergetar. Nomor tak dikenal.


" Halo." Sapaku.

__ADS_1


" Jauhi Nathan!" Terdengar suara seorang perempuan marah hingga tanpa basa basi langsung membentakku membuatku menjauhkan sedikit ponselku dari telingaku.


" Maaf, anda siapa?" Tanyaku masih tetao berusaha tenang walau sebenarnya aku merasa kesal.


" Aku calon istrinya." Dia lebih menekankan intonasi bicaranya. Detik berikutnya dia langsung menutup teleponnya secara sepihak membuatku berdecak kesal.


' Calon istri' Gumamku penasaran.


Ada perasaan aneh yang berdesir di hatiku mendengar Nathan punya calon istri. Apakah benar aku masih mencintainya. Atau hanya perasaan saja.


" Hei." Reza tiba- tiba mengagetkanku. Lamunanku membuatku tidak menyadari kedatangan Reza.


" Lamunin apa?" Tanyanya penasaran.


" Enggak." sangkalku dan berjalan memasuki rumahku.


" Enggak tapi gak nyadar aku datang." Ejeknya setengah berteriak karena jika aku belum mengizinkan masuk. Reza tidak akan masuk ke rumahku. Dia duduk di kursi rotan yang ada di teras rumahku tempatku duduk tadi.


" Nih, diminum." Ucapku sedikit ketus sembari menyuguhkan segelas kopi susu kesukaannya.


" Terima kasih, calon istri." Ucapnya lagi dengan senyum menggoda.


Aku mendelik menanggapi ucapannya. " Berharap boleh dong." Tuturnya lagi dengan wajah lucunya.


" Terus aja ngarep."


" Aku akan terus nunggu kamu, Senja." Ujar Reza kali ini dengan wajah seriusnya. " Hemm hari Sabtu ada acara gak?"


" Kayanya enggak ada. Kenapa?" Jawabku sejenak berpikir dan sepertinya aku memang tidak ada janji bertemu dengan siapapun.


" Orang tuaku ingin bertemu denganmu. Apa kau mau?" Tanya Reza dengan tatapan penuh harap.

__ADS_1


" Bertemu denganku?" Aku memastikan. Reza mengangguk. " Untuk apa?" Ya, untuk apa aku bertemu dengan orang tua Reza. Sementara aku sendiri belum memutuskan apapun. Aku masih belum yakin sepenuhnya untuk menerima Reza di hidupku.


__ADS_2