Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
54


__ADS_3

Nathan terlihat serius membaca isi berkas yang diserah Randy padanya. Setelah beberapa saat dia mempelajari itu kemudian Nathan menatap Randy tajam.


" Jadi bagaimana dengan perubahan yang kami ajukan?" Tanya Randy dengan wajah serius.


Nathan menatap lekat sahabatnya itu. Di pikirannya yang pertama kali terlintas adalah ' Jadi begini wajah seriusnya kalo lagi berbisnis'. Nathan menahan senyumnya yang akan merekah karena sungguh tidak terbiasa melihat wajah serius Randy.


" Kenapa mukanya begitu?" Protes Randy yang sangat tahu apa yang ada di pikiran Nathan saat ini. " Saya ini serius. Saya ini mewakili perusahaan saya lho!." Ujarnya lagi masih dengan wajah yang dia buat seserius mungkin.


" Hahahahaa..." Tawa Nathan akhirnya pecah juga melihat ekspresi wajah Randy. Nathan mengibaskan berkas yang dia pegang di hadapan wajah Randy.


" Ini penghinaan buat saya." Gurau Randy masih dengan wajah yang serius mungkin jika ada orang lain yang ada di sana akan berpikir jika mereka bertengkar.


" Udahlah. Buang tuh muka serius. Gak cocok." Protes Nathan ketika tawanya mereda.


" Ahh.. Udah latihan dari malem ini biar bisa pasang muka begini." Protes Randy.


" Oke.. oke..!" Nathan menarik nafas panjang untuk mengendalikan tawanya. " Gak masalah. Masih bisa diperhitungkanlah. Nabila kemana?"


" Berarti hasil peras otak gue berhasil ya." Ujarnya bangga.


" Nabila kemana?" Nathan mengulang pertanyaannya lagi karena seharusnya proyek ini di pegang Nabila.


" Mulai sekarang gue yang ambil alih." Ucap Randy.


Nathan hanya tersenyum dan membubuhkan tanda tangannya di berkas tersebut tanda setuju dengan adanya perubahan yang baru.


" Terima kasih atas kerjasamanya Bapak Nathan." Ucap Randy dan menjabat tangan Nathan.


" Semoga lancar." Ujar Nathan menahan kembali tawanya. " Salam buat Nabila."


" Oke." Randy mengacungkan jempolnya.


Nathan menarik nafas dalam sambil menggelengkan kepalanya. Tingkahnya yang jenaka selalu mengundang tawa.

__ADS_1


*****


Senja duduk termenung menatap bunga- bunga dan dedaunan yang bergoyang ditiup angin. Sangat damai melihat suasana seperti ini. Gio sedang tidur siang. Senja menyempatkan diri untuk bersantai di halaman samping rumah mereka.


Teringat dulu saat Nathan dan Ayuna masih bersama. Saat itu Senja hanya datang untuk mengajari Ayuna memasak meskipun sebenarnya Ayuna sudah mulai mahir. Berulang kali Senja menarik nafas panjang dan berat. Tak pernah dia sangka jika Ayuna akan pergi secepat itu. Dia belum sempat ucapkan kata maaf. Tanpa terasa bulir bening jatuh membasahi pipinya.


Nathan yang saat itu tengah mampir sebentar ke rumahnya. Mendapati Senja mengusap air matanya. Perlahan Nathan menghampiri istrinya dan memeluknya erat dari belakang. Senja tersentak kaget dan tersenyum melihat Nathan ada didekatnya.


" Ada apa sayang?" Tanya Nathan lembut dan mengecup lembut pipi Senja.


" Gak ada apa- apa." Jawab Senja dan menyeka kembali air matanya yang menetes.


" Ini." Nathan menyeka air mata Senja.


" Aku ingat Ayuna." Jawab Senja akhirnya. Hatinya berkecamuk mengingat Ayuna.


" Besok kita ke makamnya ya." Ajak Nathan dan kembali mengecup pipi Senja.


" sstt... Sudah sayang. Ini sudah jalannya. Kamu bukan manusia munafik. Kamu wanita yang sangat baik. Kamu wanita yang kuat. Kamu pantas bahagia." Hibur Nathan dan menatap Senja lembut.


Senja sesenggukan dan kembali menyeka air matanya. " Jangan menangis lagi Senja." Ujar Nathan lembut.


Senja menarik nafas panjang dan berusaha untuk tersenyum. " Tumben kamu pulang jam segini?"


" Aku mampir sebentar. Ingin melihat anak dan istriku sebentar." Jawab Nathan dengan senyum hangatnya.


" Gio tidur."


" Kenapa kamu tiba- tiba ingat Ayuna?"


" Gak tau. Aku kangen aja sama dia. Dia wanita yang sangat baik."


" Iya." Sahut Nathan dan menarik nafas panjang. " Aku beruntung pernah menjadi bagian dalam hidupnya." Gumam Nathan.

__ADS_1


" Kamu pasti mencintainya." Ucap Senja sebenarnya ada perasaan yang perih akan menjalar dengan jawaban yang akan dia terima.


" Dia pernah menjadi teman dalam hidupku. Bohong jika aku bilang tidak pernah mencintainya." Ucap Nathan. Matanya menerawang jauh.


Membahas Ayuna membuat Nathan teringat saat kecelakaan yang merenggut nyawa Ayuna. Saat itu, Nathan tengah melakukan rapat dengan kepala bagian staf kantornya. Rapat baru berlangsung lima belas menit dia sudah mendapatkan kabar bahwa Ayuna kecelakaan. Saat itu, tanpa pikir panjang lagi. Nathan langsung berlari menuju parkiran mobil dan segera menuju rumah sakit tempat Ayuna dilarikan.


Ayuna terluka parah. Tubuhnya bersimbah darah. Nathan menggenggam erat tangan Ayuna yang sedang berjuang melawan maut. Sementara tim dokter terus melakukan tindakan untuk menyelamatkannya dan janin yang ada di kandungannya.


" Kamu pasti kuat sayang." Ujar Nathan dengan isak tangisnya.


Nathan sebenarnya tidak diperbolehkan masuk. Tetapi dia tetap memaksa masuk untuk mendampingi istrinya.


" Aku mencintaimu, Nathan." Ucap Ayuna dengan terbata.


" Aku juga mencintaimu. Kamu harus kuat sayang. Demi aku. Demi anak kita." Ucap Nathan lagi.


Ayuna bersyahadat dalam terbata. Nathan melihatnya dan membantu membimbingnya. Dengan isak tangis dan derai air mata. Nathan mencoba ikhlas melepaskan kepergian Ayuna.


" Aku ikhlas sayang. Pergilah." Ucap Nathan dan mengecup lembut kening Ayuna untuk yang terakhir kalinya.


Seketika itu juga. Ayuna memuntahkan banyak darah dan menghembuskan nafas terakhirnya.


Perlahan Nathan mundur membiarkan tim dokter masih mengusahakan agar Ayuna selamat. Nathan bersandar lemah. Tangannya menutupi wajahnya yang kini menangis melepaskan kepergian istri dan calon buah hatinya.


" Sayang." Panggil Senja menyadarkan Nathan dari lamunannya.


" Aku tidak akan pernah melupakannya, Senja. Maafkan aku." Ucap Nathan dan segera pergi.


Senja terdiam menatap punggung suaminya. Ayuna adalah bagian dari masa lalu Nathan. Tidak akan mungkin Senja meminta Nathan untuk melupakannya. Apalagi saat itu mereka sedang bahagia menanti kelahiran buah hati mereka. Tetapi takdir berkata lain.


Senja menarik nafasnya yang terasa berat dan sesak. Entah kenapa masih ada rasa cemburu di hati Senja ketika tahu bahwa hati Nathan telah terbagi.


" Maafkan aku yang sudah egois menginginkan hatimu yang utuh." Gumam Senja yang masih menatap arah Nathan pergi walaupun sebenarnya saat ini sosok Nathan sudah hilang dari hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2