Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
63


__ADS_3

Senja menatap jarum jam di tangannya sambil sesekali melirik pintu masuk cafe yang dijadikan tempat untuk bertemu dengan Dona. Sudah lima belas menit Senja menunggu Dona. Pesannya juga belum dibaca.


" Maaf telat. Jalanan macet banget." Ujar Dona dengan wajah lelahnya dan duduk di kursi depan Senja.


" Gak papa. Aku khawatirnya kamu gak jadi dateng karena biar bagaimanapun aku paham posisi kamu, Don. Friska itu bos kamu."


" Iya sih. Tapi aku gak suka cara Friska." Keluh Dona.


" Cara yang bagaimana?" Senja menatap heran pada Dona. " Aku belum mengajukan pertanyaan apapun."


" Aku tahu apa yang mau kamu tanyakan. Friska memang berniat untuk mengambil Nathan darimu. Hati- hatilah Senja. Aku takut Friska akan berbuat apa saja untuk mendapatkan suamimu. Bahkan dia tidak pernah berbuat seperti itu saat bersama mantan suaminya." Dona memperingati Senja dan menyeruput jus alpukat yang telah terhidang di mejanya.


Senja terdiam tak percaya apa yang baru saja dia dengar. " Tapi bukankah kita semua teman baik?" Senja masih mencoba berpikir positif.


Dona sedikit tersenyum. " Diantara kita berlima. Cuma kamu yang sangat tulus, Senja. Itu sebabnya aku memberitahu kamu hal ini." Dona menyuapkan sepotong kue ke mulutnya.


" Tapi.."


" Kamu ingat Riza?" Tanya Dona memotong ucapan Senja. Senja mengangguk. " Entah itu masuk akal atau engga. Tapi Friska mau kamu merasakan kehilangan orang yang kamu cintai. Dulu Friska cinta mati sama Riza. Tapi ternyata Riza malah suka sama kamu."


" Tapi aku kan gak pernah punya hubungan apapun sama Riza."


" Iya aku tahu. Tapi gak tau kenapa Friska menjadikan itu menjadi dasar atas tindakan dia saat ini. Jaga Nathan Senja. Aku sudah berusaha menasihati Friska. Tetapi dia seakan sedang tergila- gila dengan Nathan." Ucap Dona dengan wajah serius.


Senja menelan kasar salivanya. Tak pernah menyangka jika masalah mereka di masa lalu kini harus menghantuinya.


" Oh iya. Jika Friska tau aku ceritakan semua ini ke kamu. Aku pasti dipecat. Apa aku boleh kerja di kantor suamimu? Menjadi karyawan biasa juga tak masalah. Tapi itu nanti kalo Friska pecat aku." Ucap Dona dengan wajah santai.

__ADS_1


" Iya. Nanti aku bicarakan hal ini sama suamiku." Jawab Senja.


Mereka melanjutkan dengan obrolan santai.


*****


Diam- diam Randy memperhatikan Nabila yang tengah termenung di tepi kolam renang. Sejak hari pernikahan Nathan, wanita yang biasanya periang kini lebih banyak termenung. Sedikit banyak Randy sudah hafal dengan sifat dan sikap Nabila yang sangat santai dalam menanggapi masalah apapun. Entah kenapa kali ini berbeda. Nabila yang sekarang bukanlah lagi Nabila yang dia kenal beberapa tahun lalu.


" Ehem.." Randy sengaja berdeham cukup keras ketika mendekati Nabila untuk menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


Nabila hanya melihat sekilas ke arah Randy dan kembali menatap air yang ada di kolam renang.


" Udah jangan terlalu dipikirin." Sindir Randy.


" Mikirin apaan?"


" Gimana tanggapan Nathan tentang komplain kita?" Tanya Nabila tanpa melihat ke arah Randy.


" Besok dia akan meninjau langsung proyek kita. Dia pun gak tau. Karena laporan yang dia terima seharusnya minggu ini sudah mulai pengecoran lantai dua." Randy menjelaskan hasil dari pertemuannya dengan Nathan siang tadi.


" Syukurlah kalau cepat ditanggapi." Sahut Nabila dengan nada dingin.


" Dapat salam dari Nathan" Ujar Randy.


Kali ini Nabila menatap Randy dan berusaha mencari tahu apakah Randy berbohong.


" Ngapain liatin gue begitu?!" Randy merasa risih. " Gue gak bohong!" Ujarnya lagi mengerti akan arti tatapan Nabila.

__ADS_1


" Kalo gitu salam balik aja." Nabila berusaha untuk tidak terlalu menanggapi. Karena dia pasti yakin itu hanyalah sebatas salam seorang sahabat.


Mereka sejenak termenung bersama. Randy menatap langit malam yang sedikit cerah. Terlihat sang purnama tak malu- malu ditemani beberapa bintang kecil. Berbeda dengan Nabila. Dia lebih menikmati pemandangan langit malam melalui air dari kolam renang yang terus bergoyang karena sejak tadi Nabila juga memainkan air kolam itu.


" Sebentar lagi akta cerai gue keluar. Gak nyangka akhirnya gue menyandang status duda." Ujar Randy dengan suara lirih. Tatapan matanya masih memandang langit malam yang luas.


Nabila menatap Randy. Seorang pria duduk di bawah cahaya rembulan dengan tatapan sendunya. " Lu pasti dapat pengganti yang lebih baik dari Rena." Nabila berusaha menyemangati.


Randy menarik nafas berat. " Pernikahan yang gue awali dengan cinta dan kasih sayang yang begitu besar. Semua gue kerahkan. Harta, tenaga gue berikan semua buat anak dan istri gue bahagia. Tetapi saat gue terperosok dan jatuh. Wanita yang dulu gue pikir akan selalu menemani gue saat suka atau duka. Ternyata malah berbalik arah. Meninggalkan gue dan anak gue." Cerita Randy sepertinya dia mengeluarkan isi hatinya yang selama ini dia simpan. Tak terasa air matanya menetes. Randy buru- buru menghapus air mata itu.


" Begitulah. Kita tidak pernah tahu apa yang ada di hati dan pikiran manusia." Sahut Nabila dengan suara yang terdengar lebih bijaksana. " Mungkin ilmuwan bisa mengukur dalam dan luasnya samudra. Tetapi hati dan pikiran manusia. Siapa yang tahu. Beruntung luu masih punya Ryan. Harta lu yang paling berharga. Jaga dia dan rawat dia. Gue yakin lu mampu jadi ayah sekaligus ibu yang baik buat Ryan." Nabila menepuk pelan punggung Randy.


Randy menoleh dan melemparkan senyum getirnya. Air mata dan kisah pilu yang telah lama dia pendam akhirnya keluar juga.


" Malah jadi gue yang curhat." Omel Randy pada dirinya sendiri.


Nabila tertawa kecil melihat tingkah Randy yang berusaha menghibur dia.


" Jatuh cinta dan kehilangan itu hal yg wajar. karena sebenarnya mereka selalu berdampingan. Saat ini. Gue gak tau kenapa bisa masih mikirin dia terus. Padahal gue belum kenal lama sama dia." Mata Nabila memandang jauh. Kini gantian dia yang mengungkapkan isi hatinya. Nabila menarik nafas panjang.


" Lucu memang. Tapi yang jelas harus gue akui dia adalah lelaki yang terbaik yang pernah gue temui dalam hidup gue." Ucap Nabila lagi kini dengan nada lirih.


Randy menatap Nabila sendu dan menepuk lembut punggung Nabila.


" Saat lihat dia pertama kali di hotel itu. Seakan gue udah kenal lama sama dia. Nyaman ketika melihat sorot matanya yang teduh. Tutur katanya yang lembut." Ucap Nabila lirih dan menyeka air matanya yang seketika jatuh membasahi pipinya.


" Gue yakin, suatu saat nanti akan ada lelaki seperti itu lagi dihidup lu." Ucap Randy berusaha menghibur Nabila.

__ADS_1


Nabila hanya tersenyum getir melihat Randy. Dia sandarkan kepalanya pada bahu Randy. Lelaki yang kini menjadi sahabatnya.


__ADS_2