
Nathan menarik nafas dalam. " Kamu ambil fotoku dan kamu bisa buang. Katakan saja jika fotoku diambil tikus. Selesai."
" Gio bukan anak yang bodoh, Nathan." Senja mengacak rambutnya dan kini penampilannya terlihat sedikit berantakan. " Aku hanya ingin dia melupakanmu. Itu saja."
" Baiklah. aku akan buat dia membenciku. Hapus nomor teleponku. Dan lupakan sepenuhnya tentangku. Lambat laun Gio akan lupa bahkan akan membenciku jika aku tidak pernah lagi ada di hadapannya." Ucap Nathan dan menutup panggilan telepon itu.
Senja kembali menangis. Menangisi hal yang sebenarnya tidak perlu dia tangisi. Jika saja keegoisannya tidak dia pertahankan.
' Tok Tok Tok'
Senja segera menghapus air matanya dan merapikan kembali penampilannya saat terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
" Hai Senja."
" Nabila." Ucap Senja tak percaya jika Nabila datang ke rumahnya.
" Bagaimana keadaanmu?" Tanya Nabila berbasa basi dan duduk di sofa ruang tamu setelah dipersilakan Senja.
" Baik." Jawab Senja dengan senyum yang dipaksakan.
Senja menyuguhkan secangkir kopi capuccino untuk Nabila dan duduk di sofa yang ada di samping Nabila. " Ada apa kemari?"
" Aku kesini ingin menceritakan sesuatu." Jawab Nabila santai dan menyeruput capuccino.
" Tentang Nathan?" Tanya Senja sinis.
" Bukan. Tapi tentang persahabatan aku dulu dengan Sintia." Jawab Nabila cepat.
" Kamu pernah bersahabat?" Senja tampak tidak percaya.
" Iya. Dulu kami bersahabat. Sifat gila dan hyperseksual Sintia memang sudah ada sejak kami duduk di bangku Menengah Pertama. Aku yang terbiasa melihatnya gonta ganti pasangan. Sudah tidak kaget lagi melihatnya. Hingga dia menggoda pacarku untuk menemaninya. Awalnya dia menolak namun yaa. Semakin dia menolak. Semakin ingin Sintia bersama lelaki itu. Itu adalah titik awal perseteruanku dengan Sintia. Entah bagaimana mereka bisa putus. Aku tidak mencari tahu tentang mereka. Hingga suatu hari datanglah Randy padaku, Sahabat Nathan. Dia menceritakan semuanya kepadaku...."
" Bahwa Nathan telah tidur dengan Sintia." Senja menyela.
__ADS_1
" Bukan!" Bantah Nabila cepat dengan sorot mata tajamnya. " Randy bilang. Dia dan istrinya punya hutang yang sangat banyak pada Sintia. Dia mengancam akan membunuh mereka jika tidak segera melunasi hutang mereka. Awalnya begitu ancamannya. Hingga dia melihat foto Nathan di album foto pernikahan mereka. Dan dia kembali mengancam. Membantu dia mendapatkan Nathan maka hutang mereka lunas. Jika menolak hutang mereka di naikkan dua kali lipat. Istri Randy yang sudah haus dengan harta menjebak Nathan agar bertemu dengan Sintia. Dia juga yang memberikan semua informasi tentang Nathan pada Sintia."
Senja menahan nafasnya mendengar penuturan awal permasalahan yang terjadi antara Nathan dengan Sintia. " Lalu?"
" Nathan menolak Sintia mentah- mentah. Tidak ada cara apapun untuk menaklukan Nathan hingga akhirnya dia mengancam keselamatanmu dan ibunya. Itulah sebabnya Nathan mau mengikuti kemauan Sintia."
Bulir air mata Senja seketika lolos begitu saja.
" Nathan berhasil menyelamatkan ibunya. Tapi tidak denganmu. Nathan sangat putus asa ketika mendengar mereka berhasil menculikmu dan memintanya datang untuk menukarnya dengan kebebasanmu." Nabila mengakhiri ceritanya.
" Kenapa Nathan gak pernah cerita." Sesal Senja.
" Kamu yang tidak memberikan dia kesempatan. Di matamu. Apapun alasannya tidak membenarkan perbuatannya. Nathan sangat menyadari hal itu. Itulah sebabnya dia tidak pergi mencarimu. Dia sangat sadar apa yang dilakukannya adalah kesalahan besar. Aku tahu apa yang dia rasakan tanpa dia ucapkan." Nabila tetap menatap Senja tajam. Senja hanya menangis sesenggukan.
" Selamat Senja. Kamu telah berhasil membuat Nathan pergi." Ucap Nabila dan tanpa pamit pergi dari rumah Senja meninggalkan Senja menangis larut dalam penyesalannya.
*****
" Maaf kita telat." Ujar Nabila ketika baru saja tiba di susul Pak Danny di belakangnya.
" Bagaimana Nathan? Udara disini masih sangat sejuk bukan?" Tanya Pak Danny menghampiri Nathan yang masih berdiri di beranda Villa.
" Iya Pak. Sangat sejuk."
" Kita meeting santai aja ya Nath. Jangan kaya kemarin. Tegang. Gak mudeng aku." Protes Nabila yang memang susah di ajak serius.
Nathan tersenyum. " Iya. Mau langsung mulai atau Bapak istirahat dulu?" Tanya Nathan pada Pak Danny.
" Langsung saja." Jawab Pak Danny dan menuju meja besar.
Mereka mulai membuka berkas yang telah mereka siapkan. Ada beberapa revisi yang di ajukan pada Pak Danny. Mendapati hal itu. Nathan mengiyakan namun ujung matanya melirik tajam Nabila yang hanya cengar cengir mendengarkan. Karena semua yang diminta revisi oleh Pak Danny adalah keinginan Nabila. Walaupun Nathan sudah menjelaskan. Dia tetap teguh pada keinginannya hingga ada revisi seperti ini.
Nathan menarik nafas panjang saat Pak Danny meninggalkan ruangan tempat mereka meeting. Dia memijit pelan keningnya. Otaknya harus kembali di pacu lebih keras lagi mengulang semua pekerjaannya.
__ADS_1
" Maaf ya." Ucap Nabila merasa tidak enak.
Melihat dua orang ini akan berbicara. Silvi juga sekretaris Pak Danny meninggalkan ruangan itu juga.
" Kerja dua kali." Keluh Nathan mengusap wajahnya kasar.
" Kan ini pengalaman pertamaku." Bela Nabila pada dirinya sendiri.
" Pengalaman pertama tetapi bersikap paling ahlinya. Ya.. beginilah jadinya." Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Aku harus apa agar kamu memaafkan aku?" Nabila mengatupkan kedua tangannya tanda memohon.
" Lupakan." Ujar Nathan dan akan berdiri namun Nabila menarik tangannya hingga dia kembali duduk di kursinya. Sejurus kemudian bibir mereka bertemu.
Nathan berusaha menolak namun Nabila terus memaksanya dan semakin mendekap erat tubuh Nathan. Hingga akhirnya Nathan mendorong tubuh Nabila lebih keras dan menatapnya tajam tak suka.
" Nathan maafkan aku." Nabila menahan Nathan yang akan keluar dari ruangan itu.
" Aku harus segera pulang dan menyelesaikan proyek ini." Ujar Nathan dingin.
" Nathan. Aku mohon maafkan aku. Aku terlalu terbawa suasana." Nabila kembali memohon.
Nathan menarik nafasnya dalam- dalam menahan semua emosi yang telah menggumpal di dadanya.
" Jangan pernah lakukan itu lagi, Nabila." Ucap Nathan tegas.
" Iya. Aku benar- benar minta maaf." Ucap Nabila penuh penyesalan.
" Aku pamit sekarang. Tolong sampaikan kepada kakekmu." Ucapnya dingin dan keluar dari ruangannya.
Nabila menarik nafas panjang dan menatap lesu kepergian Nathan. Nabila memukul pelan bibirnya dan memaki dirinya sendiri. Dirinya memang sangat terbawa suasana. Udara yang sejuk juga melihat Nathan yang sedang pusing karena banyaknya revisi yang diajukan kakeknya. Padahal seharusnya itu tidak perlu dilakukan Nathan jika sebelumnya Nabila tidak mengajukan revisi terlebih dahulu. Membuat Nabila terhanyut dan ingin menghibur Nathan dengan dirinya sampai dia lupa bahwa Nathan bukanlah lelaki yang mudah hanyut bersama wanita.
Lagi dan lagi untuk dua kebodohannya Nabila mengutuk dirinya. Tidak akan mungkin Nathan memaafkan dirinya dengan mudah
__ADS_1