Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
25


__ADS_3

Sintia berjalan berlenggak lenggok bagaikan peragawati berjalan di atas catwalk. Semua karyawan di kantor Nathan menatap heran penuh tanya. Siapa dia.


" Maaf. Ibu mau bertemu siapa?" Cegah Silvi saat Sintia akan masuk ke ruangan Nathan.


Sintia menatap Silvi tajam. " Saya mau bertemu bos kamu." Ucapnya tegas.


" Sudah ada janji, Bu?"


" Saya ini calon istrinya. Apa masih perlu buat janji?" Omel Sintia membuat Silvi tertunduk menahan salivanya.


" Tapi mohon tunggu sebentar. Pak Nathan sedang ada tamu." Ujar Silvi lagi dan mempersilahkan Sintia duduk di sofa panjang yang ada di depan ruangan Nathan.


" Tidak perlu!" Ujarnya ketus dan langsung menerobos masuk.


Melihat hal itu Silvi langsung berlari dan mencegah Sintia masuk.


" Ada apa Sil?" Tanya Nathan merasa aneh dengan kegaduhan yang terjadi di depan pintunya.


" Hai, Sayang." Sapa Sintia yang tiba- tiba muncul dari belakang Silvi.


Nathan sedikit terkejut melihat kedatangan mendadak Sintia. " Baiklah, Saya harap kerjasama kita berjalan baik." Ujar Nathan menyudahi pertemuannya dengan dua orang yang sejak tadi menatap heran.


" Baik pak Nathan. Kami permisi." Ujar pria itu dan menyalami Nathan bergantian.


" Aku kangen." Ujar Sintia manja dan segera menghampiri Nathan juga langsung mengecup pipi Nathan.


" Ini kantor." Nathan merasa risih mendapat perlakuan begitu.


" Yasudah kalau begitu kita ke hotel sekarang." Ajak Sintia tiba- tiba dan menarik tangan Nathan.


" Jangan gila!" Tolak Nathan dan menarik kasar tangannya. Melanjutkan kembali membereskan dokumen yang masih berserakan di atas meja.


" Kenapa sayang?" Sintia kini memeluk dari belakang.


Nathan menarik nafas panjang. " Bisakah kamu pulang? Aku masih banyak pekerjaan."


" Aku akan temani kamu." Tolak Sintia dan masih memeluk Nathan.


" Baiklah. Lepaskan dulu tanganmu yang melingkar ini."


Sintia tersenyum nakal dan melepaskan tangannya yang melingkar di perut Nathan. " Setelah pekerjaan kamu selesai. Kita ke hotel ya."


Nathan tak menanggapi dia mulai menyibukkan dirinya dengan dokumen yang ada di tangannya.

__ADS_1


" Aku tidak suka di acuhkan, Nathan." Sintia merebut dokumen yang ada di tangan Nathan.


" Berikan!"


" Jangan mengacuhkan aku!" Sintia masih menatap marah.


" Apa yang kamu pikirkan sebenarnya? Apa gaya hidup bebas yang kamu mau. Bukan denganku!" Maki Nathan tak kalah marah.


" Kamu berani memarahiku?!"


" Sudahlah. Sintia. Aku tidak akan menyentuhmu sebelum adanya pernikahan." Ujar Nathan seakan menjelaskan maksud dari sikapnya.


" Menarik. Tapi aku bukan orang yang seperti itu Nathan." Seringai licik Sintia mulai terlihat.


" Temani aku ke hotel atau mau tidak mau aku harus menyentuh ibumu." Ancamnya. " Emm sepertinya ibumu masih belajar berjalan." Ujar Sintia dan menunjukkan foto Bu Fitri yang belajar berjalan di halaman rumah mereka.


" Sial!" Rutuk Nathan kesal. Sintia terus mengawasi gerak gerik dia dan ibunya. " Baiklah." Ujar Nathan akhirnya dan mengambil dokumen yang di pegang Sintia dengan kasar.


Nathan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Tanpa bicara apapun dia keluar dari ruangannya.


" Mau kemana?" Tanya Sintia dan berlari menghampiri Nathan.


Di dekapnya lengan Nathan erat. Sesekali dia menciumi lengan kekar itu. Risih sebenarnya. Ingin rasanya dia menendang wanita ini keluar tetapi ibunya yang menjadi taruhannya.


" Bapak mau kemana? Setelah makan siang bapak masih ada meeting."


" Cancel saja. Bosmu mau bersenang- senang dulu dengan saya." Sahut Sintia centil.


Nathan hanya diam dan kembali berjalan tentunya diikuti Sintia dan ternyata ada pengawal Sintia yang menunggu di depan ruangan Nathan.


" Kita mau ke hotel mana?" Tanya Sintia yang semakin mendekap tubuh Nathan saat mereka baru saja masuk ke dalam mobil Sintia.


" Terserah kamu!"


" Jika kamu tidak mau menyentuhku. Aku yang akan menyentuhmu sayang." Goda Sintia sembari meraba tiap lekuk wajah Nathan.


" Kita ke rumah saja. Aku mau mengenalkan kamu ke papi aku." Ujar Sintia yang merubah rencananya.


" Terserah." Sahut Nathan malas. Kalau bukan karena ibunya. Tidak akan mungkin dia membiarkan tubuhnya di dekap seperti ini.


Sintia terus saja menyentuh juga menciumi tubuh Nathan. Sebagai pria normal. Rasa ingin membalas memang ada tapi sekuat tenaga Nathan tidak ingin membiarkan dirinya terbuai dan hanyut dalam rayuan Sintia.


" Hentikan Sin. Ini di mobil." Nathan semakin risih karena tangan Sintia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.

__ADS_1


" Jangan malu sayang. Mereka tidak akan melihat kita." Goda Sintia.


" Hemm . Kamu pakai baju berlapis rupanya." Sintia tampak tak sabar. Dengan paksa dia menarik kemeja serta baju Nathan yang terselip di celana panjangnya.


" Kamu tahu. Aku semakin ingin denganmu, Nathan." Sintia menatap Nathan dengan tatapan ingin menerkam.


" Sudahlah. Kita bisa lanjutkan nanti." Nathan mulai tak nyaman. Melihat penampilannya yang di buat berantakan oleh Sintia.


" Nona. Kita sudah sampai." Ujar sang supir .mengingatkan nona mudanya jika mereka sudah sampai.


" Ayo turun." Ajak Sintia segera menarik tangan Nathan.


Nathan yang belum selesai merapikan penampilannya menolak ajakan Sintia.


" Sudah lupakan pakaian berantakanmu!" Maki Sintia dan menarik paksa Nathan agar keluar dari mobilnya.


Nathan menatap bangunan besar itu. Rumah yang sangat mewah dan luas. Banyak orang bersetelan hitam- hitam berjaga di tiap penjuru rumah. Nathan semakin bertanya- tanya. Siapakah sosok wanita ini sebenarnya.


Setiap mereka melewati para pekerja, Pekerja itu pasti menunduk hormat dan baru berani berdiri kembali ketika mereka telah lewat. Sebesar apa kekuasaan mereka. Nathan ingin melawan tapi dia harus tahu siapa lawannya.


" Hai, Papi." Sapa Sintia ramah dan segera mengecup pipi Pak Ringgo.


" Apa itu lelaki yang kamu ceritakan?" Tanya Pak Ringgo pada Sintia.


" Iya. Tampan bukan?"


Pak Ringgo berjalan menghampiri Nathan. Dengan tatapan penuh menyelidik dia memperhatikan Nathan dari atas sampai bawah depan dan belakang. Pak Ringgo tersenyum puas melihat postur serta wajah Nathan yang menurutnya sempurna.


" Apa yang putriku lakukan sampai penampilanmu berantakan begini?" Tanya Pak Ringgo dengan nada mengejek.


" Jangan menggodanya." Sahut Sintia manja.


" Lanjutkan apa yang mau kalian lakukan. Papi mau dia jadi pendampingmu." Ujar Pak Ringgo dan berlalu.


" Maaf. Saya tidak bisa menjadi pendamping Putri anda." Ujar Nathan dengan suara lantang membuat Pak Ringgo menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Nathan tajam.


" Apa kamu tahu berurusan dengan siapa anak muda?"


" Saya tidak tahu. Bagaimana mungkin saya menjadi pendamping putri anda sementara saya tidak tahu apapun tentang keluarga ini." Nathan kembali berujar dan membalas tatapan Pak Ringgo.


Pak Ringgo tersenyum puas dan menepuk bahu Nathan. " Saya sangat suka dengan pemuda seperti kamu. Tegas berani dan berwibawa. Sintia. Jangan lepaskan dia." Ujarnya memberi restu dengan tindakan Sintia dan tertawa.


Nathan yang melihat hal itu semakin merasa aneh dengan keluarga Sintia.

__ADS_1


" Kamu dengar papi bilang apa. Jangan harap kamu bisa lepas dariku sayang."


__ADS_2