Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
75


__ADS_3

Friska menatap dirinya di cermin dengan perasaan marah. Di cengkeramnya kuat rambutnya dengan kedua tangannya.


" Aku kurang apa.. Aku cantik bahkan jauh lebih cantik dari istrimu!" Maki Friska di depan cermin.


" Aku akan mendapatkanmu. Aku harus mendapatkanmu Nathan. Dan menghancurkan hidup Senja. Jika aku tidak mendapatkanmu. Maka tidak ada satup,un yang boleh memilikimu!" Maki Friska lagi sambil berteriak histeris.


*****


" Papa " Panggil Gio pada Nathan yang tertidur di kursi samping ranjang dalam posisi duduk.


Mendengar Gio memanggil, Nathan segera membuka matanya dan tersenyum melihat Gio akhirnya terbangun.


" Syukur Alhamdulillah. Kamu sudah bangun." Ujar Nathan lembut dan mengecup kening Gio.


" Kok Gio disini?"


" Dari kemarin kamu gak bangun dari tidur kamu. Mama dan Papa cemas. Jadi kami bawa kamu ke sini." Ujar Nathan menjelaskan.


" Gio udah gak apa- apa kok."


" Sekarang masih pukul tiga. Kamu tidur lagi ya sayang." Ujar Nathan sambil memgua panjang.


" Papa ngantuk ya?" Tanya Gio dengan nada manjanya.


Nathan hanya tersenyum.


" Gio gak bisa tidur lagi, Papa. Sekarang Papa aja yang tidur. Gio jagain." Ucap Gio dengan senyum cerianya.


" Hemm.." Nathan mengacak gemas rambut Gio. " Kemarin Gio di jemput siapa?"


Gio sejenak berpikir. Matanya melihat keatas seolah sedang mengingat peristiwa kemarin.


" Sama Tante Friska. Dia bilang dia itu temen Mama. Ada foto Mama sama Tante itu juga kok. Makanya Gio mau ikut."


Nathan menarik nafas panjang dan mendekat . " Gio janji ya. Gak akan ikut siapapun kecuali Mama dan Papa. Kalau ada yang maksa. Gio minta tolong guru atau security ya." Nathan menasihati dengan lembut.


" Emangnya kenapa, Pa. Tante kemarin baik kok."


" Gio tau gak kemarin Mama dan Papa cariin Gio?" Gio menggeleng. " Tante itu gak bawa Gio ke rumah. Jadi kita cemas. Karena Mama dan Papa gak pernah minta siapapun buat jemput Gio."


" Gio diculik, Pa?" Tanya Gio mulai memahami situasinya. Nathan mengangguk.


" Maafin Gio ya, Pa. udah bikin cemas." Ujar Gio dengan wajah penuh penyesalan.


" Iya sayang. Jangan diulangi lagi ya." Gio mengangguk cepat.


Gio dan Nathan menghabiskan waktu untuk bertukar cerita. Apalagi Gio yang sangat antusias menceritakan teman- temannya yang kini tidak ada lagi yang membully dia. Bahkan beberapa kali orang tua teman mereka menitipkan makanan untuk Gio. Nathan menjadi pendengar yang baik untuk Gio.


" Selamat pagi." sapa Senja saat memasuki ruangan Gio. Dia menenteng bekal makanan untuk Nathan dan sebuah paper bag berisi perlengkapan Nathan.

__ADS_1


" Untuk kamu sayang." Senja menyerahkan paper bag itu.


" Terima kasih."


Senja langsung menghampiri Gio dan mengecup kening serta kedua pipi Gio. Dia senang sekali akhirnya melihat Gio bangun.


" Kenapa gak kasih kabar kalo Gio udah bangun?!" Protes Senja pada Nathan.


" Surprise." Ujar Nathan dengan wajah datar. " Gio bangun sekitar jam tiga. Aku tidak mau ganggu tidurmu. Jadi biarkan saja kamu tahu sendiri." Ujar Nathan dan langsung berjalan menuju kamar mandi karena melihat istrinya sudah bersiap siaga untuk menyerangnya.


" Hai.." Sapa Nabila riang ketika memasuki ruangan Gio.


" Hai." Sahut Senja riang.


" Nathan sudah berangkat kerja kan?" Tanya Nabila.


Namun belum sempat Senja menjawab. Nathan keluar dari kamar mandi. Dia menyempatkan untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya.


" Lho, Nab. Kamu gak ke kantor?" Tanya Nathan sambil mengancing lengan kemejanya.


" Ke kantor. Tapi mau lihat keadaan Gio." Jawab Nabila terasa canggung melihat Nathan dengan rambut yang masih basah dan aroma maskulinnya semerbak tercium di penjuru kamar.


" Mungkin hari ini Gio sudah boleh pulang. Tapi aku tidak bisa jemput ya. Nanti pulang dengan Pak Budi bagaimana?" Tanya Nathan masih sibuk merapikan dasinya.


" Iya gak apa- apa. Kamu mau kemana memangnya?"


" Aku ada meeting di luar kota. Mungkin aku pulang telat." Jawab Nathan.


" Iya." Nathan mengecup kening Senja dan Gio.


" Nath." Panggil Nabila menghentikan langkah Nathan dan kembali berbalik menatap Nabila. " Hati- hati dijalan."


" Oke." Nathan tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya.


" Mama, Tante ini baik gak?" Tanya Gio pada Senja sambil menunjuk ke arah Nabila.


" Tante ini baik, Sayang. Kemarin yang nolong Gio dari Tante jahat itu kan Tante ini. Ini namanya tante Nabila." Senja memperkenalkan Nabila.


" Hai Tante." Gio melambaikan tangannya pada Nabila.


Nabila membalas lambaian tangan Gio dan tersenyum.


" Aku senang Gio tidak kenapa-napa." Ujar Nabila.


" Iya. Aku juga sudah tenang. Makasih bantuan mu. Aku tidak tahu jika kamu dan Randy datang terlambat. Mungkin sekarang wanita itu menguasai Nathan."


" Jangan khawatir. Aku tau bagaimana sikap suamimu. Dia bisa menguasainya. Tapi tidak akan pernah mendapatkannya." Ujar Nabila menenangkan.


Senja hanya menunduk sedih. Hatinya masih kalut jika mengingat kejadian kemarin.

__ADS_1


" Tenanglah."


' Drrrttt'


Ponsel Nabila berdering. " Ada apa, Ran. Gue lagi jenguk Gio."


" Jenguk Gio apa jenguk Papanya?" Goda Randy.


" Beneran. Ada apa nyariin pagi- pagi begini?"


" Lupa lo ya. Ada meeting setengah jam lagi. Balik sekarang."


" Astaga!" Nabila menepuk jidatnya. " Gue lupa. Gue balik sekarang." Ujar Nabila dan langsung menutup panggilan telepon tersebut.


*****


Randy menatap Nabila dengan tatapan jengkel. Dia telat tiga puluh menit. Klien mereka sudah pergi. Nabila baru tiba.


" Maaf banget, Ran. Jalanan macet banget." Ujar Nabila panik. " Kliennya mana?"


" Udah pulang." Jawab Randy jengkel.


" Loh kok pulang. Terus kontraknya dapet gak?"


" Mereka mau memikirkan ulang. Ujar Randy sebal. Pikirinnya Nathan mulu. Jadi gak konsen kan lu?!" Omel Randy.


" Bukan gitu, Ran."


" Terus apa? Ngapain pagi- pagi udah kesana. Ngarepin apa? Sadar Nabila. Nathan udah ada yang punya." Cecar Randy.


" Gue gak ngarepin apapun!" Bentak Nabila kesal.


" Mustahil! Lo pengen perhatiannya dia? Pengen selalu ada di sampingnya?" Maki Randy.


" Arrhhh..." Teriak Nabila kesal dan pergi meninggalkan Randy.


" Gue gak mau elo terpaku sama kehidupan Nathan. Gue pengen lu juga mencari kebahagiaan elu, Nab." Teriak Randy.


Nabila menghentikan langkahnya dan menatap Randy tajam. " Kenapa lo ikut campur sama hidup gue?"


" Gue pengen lu bahagia. Gue sayang sama elu." Ujar Randy dengan sorot mata yang teduh.


Nabila hanya menyeringai tak percaya apa yang dikatakan Randy padanya.


" Gue sayang sama lo. Gue pengen lo bahagia, Nabila."


" Bahagia sama lo?" Nabila tersenyum meremehkan.


" Gak harus sama gue." Jawab Randy dengan tatapan mata yang tulus.

__ADS_1


Nabila tak ingin terbawa perasaan dan segera memalingkan wajahnya. Berjalan meninggalkan Randy yang hanya diam mematung menatap punggung Nabila hingga menghilang dibalik pintu.


Entah apa yang dia lakukan tadi. Kenapa tiba- tiba saja semua kata- kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Benarkah dia mencintai Nabila.


__ADS_2