Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
74


__ADS_3

" Gue yang nyetir aja." Ujar Randy ketika melihat Nabila ingin duduk di kursi pengemudi.


" Oke." Jawab Nabila dengan wajah lesu.


Randy sesekali melihat Nabila yang sejak tadi hanya diam dan hanya melihat pemandangan dari jendela samping. Tatapannya kosong, hatinya seakan tiba- tiba hampa.


" Kita mampir dulu yuk di warkop. Gue laper." Ujar Randy memecah keheningan mereka.


" Terserah."


" Ayolah. Nabila kemana sih. Kenapa mendadak kalem begini?!"


" Gue lagi males ngomong." Nabila berdecak sebal. Bayangan saat Nathan memeluk Senja dengan mesra masih melekat dalam penglihatan Nabila. Nabila menarik nafas dalam dan bersandar.


" Salut gue ama Nathan. Bisa bikin cewek liar jadi jinak." Sindir Randy sambil melirik Nabila.


" Elo nyindir siapa?!" Nabila protes keras.


" Mulai nyangar lagi." Ledek Randy melihat Nabila melotot kearahnya.


" Ah.. Rese lo!" Nabila memukul pelan bahu Randy.


" Biar bagaimanapun. Gue salut sama lo. Keren." Puji Randy.


" Salut kenapa?" Alis Nabila bertaut tak mengerti.


" Yaaa.. Salut aja."


" Aneh lo!" Omel Nabila keras.


Randy tertawa kecil. Keheningan tercipta kembali. Nabila kembali pada pikirannya.


" Gue heran deh. Kenapa masih ada orang kaya Nathan."


" Kaya Nathan gimana?" Randy tak mengerti.


" Terlalu setia sama pasangan. Walaupun gue yakin banyak yang mau sama dia."


" Ohh.." sahut Randy singkat.


" Dih. Cuma oh doang."


" Emang mau gimana? Bagus kan kalo dia setia. Coba kalo dia playboy. Gak tau dah berapa banyak korbannya."


" Bener juga."


" Lagipula. Senja itu cinta pertama Nathan."


" Oh ya?" Nabila menatap Randy penasaran. " Bukannya dia itu duda ya."


" Dia emang duda. Tapi sebelum nikah sama istrinya yang itu. Senja dan Nathan sempet mau nikah juga. Tapi seminggu sebelum hari H. Ada musibah yang menimpa Senja. Lalu Senja ninggalin Nathan." Cerita Randy. Nabila mendengarkan dengan saksama.

__ADS_1


" Terus setelah dia duda. Mereka ketemu lagi ya. Jodoh banget dong mereka." Sahut Nabila.


" Salah. Masih banyak serangkaian kejadian dalam hubungan mereka. Sampai mereka ada di titik sekarang. Makanya waktu kejadian sama Sintia. Ternyata Nathan baru balikan lagi sama Senja. Makanya gue langsung hubungin lu." Ujar Randy menjelaskan.


" Terus?"


" Terus lo ketemu sama Nathan dan malah ikutan jatuh cinta sama dia." Sindir Randy. " Heran gue. Pake pelet apa sih dia. Kayanya cewek- cewek gampang banget suka sama dia."


" Kalo belum kenal sifat dia. Yang di tangkap perempuan pertama kali itu. Auranya dia. Bikin tenang dan juga karismanya. Bikin kita gak mau berpaling." Tutur Nabila.


" Kalo udah kenal?"


" Makin ingin memiliki. Karena dia lembut, dan bertanggung jawab. Juga rajin ibadah. Gak kaya lo. Solat tar sok tar sok."


" Eh. Kalo tar sok tar sok. Gue gak solat dong!" Protes Randy keras. " Bukan tar sok. Tapi kebanyakan dimolorin waktunya." Ralat Randy dengan mulut manyunnya.


Nabila tertawa melihat ekspresi lucu Randy.


*****


Nathan mengelus lembut rambut Senja yang bersandar pada bahunya. Senja sangat menikmati belaian lembut suaminya. Hatinya terasa hangat jika berada di dekat Nathan seperti ini. Kejadian tadi sangat membuat Senja takut. Beruntung Nabila dan Randy datang tepat waktu.


" Jangan terlalu mencintaiku, Senja." Ujar Nathan lembut.


Senja menatap Nathan saat mendengar kalimat itu. " Kenapa?"


" Allah tidak suka." Nathan menjawabnya dengan senyum.


" Apa kamu tidak mencintaiku?" Tanya Senja.


Senja menarik nafas panjang dan mengangguk mengerti. Lalu dia sandarkan lagi kepalanya pada bahu Nathan. Gio masih terlelap dalam tidurnya. Entah obat apa yang diberikan Friska pada Gio. Hingga anak ini tak kunjung bangun dari tidurnya.


Senja dan Nathan segera membawa Gio ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaannya. Biar bagaimanapun mereka sama sekali tidak tahu obat apa yang sudah diberikan Friska padanya hingga Gio masih saja terlelap.


" Jadi bagaimana keadaan anak saya, Dok?" Tanya Nathan ketika melihat dokter selesai memeriksa Gio.


" Kita tunggu hasil labnya ya, Pak. Tapi jika dari pantauan saya. Dia minum obat tidur dengan dosis tinggi." Ujar dokter itu membuat Nathan dan Senja sedikit terkejut.


" Apa ada efek sampingnya?" Tanya Senja cemas.


" Tergantung dari daya tahan tubuhnya. Semoga obat yang diminumnya tidak memberikan efek samping."


" Berapa lama hasilnya keluar?"


" Kurang lebih satu jam." Ujar dokter itu dan meninggalkan tempat Gio terbaring beralih memeriksa pasien lain.


Senja memandang nanar anaknya. Perasaan bersalah sangat menggelayuti hatinya. Nathan merangkul dan mengelus lembut bahu Senja.


" Mungkin seharusnya aku tidak pernah hadir lagi di hidup kalian." Ujar Nathan dengan perasaan bersalah.


" Harusnya aku tidak telat menjemput Gio." Tangis Senja akhirnya pecah.

__ADS_1


" Jangan menangis Senja." Ujar Nathan lembut dan menyeka air mata Senja.


" Kamu jangan bicara seperti itu lagi, Nath. Kehadiranmu membawa kebahagiaan untuk kami." Ucap Senja.


" Iya sayang."


Satu jam berlalu terasa cukup lama untuk Nathan dan Senja. Dokter yang tadi memeriksa Gio datang kembali dan membacakan hasilnya. Dugaan dokter itu benar. Jika obat yang diminum Gio sejenis obat tidur yang biasa digunakan untuk pasien yang mengidap depresi hingga sulit tertidur. Untuk memantau keadaan Gio. Dokter menyarankan agar Gio dirawat inap. Setidaknya sampai Gio terbangun.


" Kamu pulang saja sayang. Biar aku yang menjaga Gio." Ujar Nathan lembut. Dia tidak tega melihat wajah lelah istrinya.


" Aku mau disini."


" Pulang saja. Besok pagi baru kamu kesini lagi gantikan aku. Oke." Nathan masih berusaha membujuk.


" Tapi kalau ada apa- apa pada Gio. Segera hubungi aku." Ucap Senja tegas.


" Iya sayang."


" Ah, iya. Ini ponselmu. Ada banyak pesan disana." Ujar Senja dan memberikan ponsel Nathan.


" Terima kasih sayang." Nathan mengecup mesra kening Senja.


" Bye."


Nathan menarik nafas panjang dan berat. Dia duduk termenung menatap Gio yang sejak tadi sangat lelap. Hampir seharian ini Gio tertidur. Ada perasaan takut menghantui Nathan.


" Maafin Papa, Sayang. Gara- gara masalah Papa kamu jadi begini." Ujar Nathan sambil mengelus lembut kepala Gio.


" Selamat malam, Suamiku."


Nathan langsung menoleh. Ternyata Friska yang tiba- tiba saja masuk ke kamar Gio.


" Tau darimana kamu, aku disini?" Bentak Nathan pelan.


" Aku mengikutimu. Ingat. Aku ini istrimu." Ujar Friska dengan nada menggoda.


" Pernikahan kita tidak sah, Friska." Sanggah Nathan cepat.


" Itu sah sayang."


" Tidak ada wali darimu. Tidak akan sah sebuah pernikahan jika salah satu rukunnya tidak terpenuhi."


" Aku tidak peduli. Kamu tetaplah suamiku." Goda Friska kini menyentuh bahu Nathan.


Nathan segera menepis tangan Friska dan kemudian berbalik mencengkram erat tangan Friska dan menyeretnya keluar dari kamar Gio.


" Jika kamu pikir pernikahan kita siang tadi adalah sah. Maka saat ini juga aku ceraikan kamu!" Ucap Nathan tegas. Rahangnya mengeras menahan amarah.


" Kamu tidak bisa menceraikan aku!" Friska membentak Nathan dengan suara yang cukup keras hingga ada pihak security muncul menghampiri mereka.


" Maaf, Pak, Bu. Mohon jangan berisik." Security itu memperingati.

__ADS_1


" Bawa dia, Pak. Dia adalah orang yang mau mencelakakan anak saya. Tandai dia. Jangan sampai dia masuk ke ruangan anak saya." Perintah Nathan tegas dan kembali masuk ke ruangan Gio.


" Kamu gak bisa giniin aku Nathan!" teriak Friska dan mengejar Nathan untuk masuk ke ruangan Gio namun terhalang oleh security itu dan langsung membawa Friska keluar dari rumah sakit itu.


__ADS_2