
Randy yang memang masih berada di rumah sakit yang sama tiba lebih dulu ke ruangan operasi. Dua polisi berjaga sambil duduk di ruang tunggu. Randy menghampiri mereka dan menjabat tangan mereka satu per satu.
" Apa yang terjadi dengan Nathan?" Tanya Randy dengan wajah cemas.
" Menurut keterangan dari pelapor. Malam itu terdengar suara Wulan berteriak marah karena Nathan sepertinya ingin pergi. Entah kenapa. Wulan menyerang Nathan dengan menghantamkan vas kecil kristal pada kepala Nathan sebanyak dua kali."
" Apa?!" Randy tak percaya dengan apa yang dia dengar. Entah apa yang akan terjadi pada Nathan kali ini. Kepalanya sudah sering cedera parah.
" Anehnya. Wulan tidak kabur. Dia hanya diam berdiri sambil menatap tajam Nathan yang tergeletak. Bahkan dia tidak kabur saat kami datang."
Randy kembali terdiam. Dia kehabisan kata- kata untuk menggambarkan keterkejutannya. Bagaimana mungkin Wulan berniat menghabisi Nathan. Sebentar lagi hari pernikahan mereka. Apa yang mereka ributkan sampai Wulan memukul kepala Nathan. Bahkan dia hanya memandangi Nathan.
Randy segera menghubungi Brama. " Bram. Sebaiknya kamu ke kantor polisi dulu. Cari tau motifnya. Kenapa Wulan sampai memukul Nathan."
" Apa kondisi Nathan parah?" Brama tampak cemas.
" Sepertinya. Aku masih menunggu dokter selesai mengoperasi Nathan."
" Nathan di operasi?!"
" Ya. Kamu tau kan. Kepala Nathan paling rentan dengan benturan. Stres saja bisa membuatnya sakit kepala."
" Ahh ya.. Kamu benar. Ini ketiga kalinya Nathan mengalami cedera kepala yang parah." Brama langsung teringat peristiwa yang pernah menimpa Nathan.
" Aku takut dia tidak selamat kali ini." Ucap Randy tak kuasa lagi membendung air matanya.
" Dia orang yang paling kuat yang pernah aku kenal. Yakinlah dia akan sembuh." Brama menenangkan.
" Ya."
" Emm. Aku belum memberitahu hal ini pada Senja."
" Besok saja. Biar malam ini dia istirahat. Senja pasti lelah."
******
Dua hari sudah berlalu. Randy masih setia berharap agar ada kesembuhan dari Nathan. Randy menatap Nathan lekat dari sofa yang ada di ruangan tersebut. Senja tengah tertidur sambil duduk pada kursi disamping ranjang Nathan. Secara perlahan Nathan menunjukkan pergerakan pada jarinya. Randy yang melihat hal tersebut langsung menghampiri Nathan dan menatapnya penuh harap. Secara perlahan Nathan membuka matanya dan menatap bingung ke sekitarnya.
" Kamu sadar juga Nath." Seru Randy senang dan membuat Senja terbangun.
Tatapan mata Nathan masih terlihat seperti orang bingung. " Siapa kamu?" Tanya Nathan pada Randy dan kemudian menatap Senja bergantian.
Randy dan Senja tersentak karena Nathan tidak mengenali mereka Randy segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Nathan.
Dokter segera memeriksa keadaan Nathan dengan teliti. " Ini apa?" Tanya dokter Samuel seraya menunjukkan sebuah pulpen pada Nathan.
" Pulpen." Jawab Nathan.
" Ini?" Tanya Dokter Samuel lagi seraya menunjukkan ponselnya.
" Ponsel."
" Nama kamu siapa?" Tanya Dokter Samuel lagi kali ini membuat Nathan bingung.
" Nama?" Nathan mengulang pertanyaan tersebut.
" Ya. Apa kamu ingat?" Tanya Dokter Samuel. Nathan menggeleng. Karena memang dia tidak mengingat sama sekali siapa namanya atau orang- orang yang ada disekitarnya.
" Yasudah. Jangan dipaksakan." Ucap Dokter Samuel menenangkan dan beralih menghampiri Senja dan Randy yang berada di sudut ruangan.
" Bagaimana, Dok?" Tanya Randy tak sabar.
__ADS_1
" Nathan mengalami amnesia sementara. Seperti yang saya katakan sebelumnya. Kejadian kali ini melukai sebagian otaknya. Dia masih mengingat benda- benda keseharian. Kemungkinan untuk sembuh masih sangat besar. Jangan dipaksakan. Karena setiap memori yang akan memicu ingatannya akan membuatnya sakit kepala. Jadi kalian harus bersabar." Ujar Dokter Samuel.
Senja hanya terdiam. Tak mampu lagi berkata- kata. Bagaimana mungkin Nathan melupakannya. Perlahan Senja menghampiri suaminya.
" Kamu siapa?" Tanya Nathan masih dengan mata yang menatap penuh tanya.
" Dia istri kamu, Nath." Jawab Randy cepat dan menghampiri Nathan. " Aku, Randy. Sahabat kamu." Randy memperkenalkan dirinya.
" Sahabat?" Nathan kembali merasa asing dengan kalimat sahabat.
" Ya. Kita berkawan sangat dekat sejak SMA. Persahabatan kita sudah terjalin selama Sepuluh tahun lebih. Dan ini adalah Senja. Istri kamu. Perempuan yang sangat kamu cintai. Kamu juga punya dua anak yang lucu. Mereka menunggu kamu di rumah." Randy kembali menjelaskan.
" Maaf. Aku sama sekali tidak ingat." Ucap Nathan penuh penyesalan. Sedikit pun memori itu tidak terlintas di kepalanya saat ini.
" Kamu pasti akan mengingatnya sayang." Ucap Senja dengan suara bergetar.
" Ini Gio dan yang kecil namanya Yusuf." Randy menunjukkan foto Gio dan Yusuf yang masih tersimpan pada ponselnya.
Nathan kembali menggeleng. Ingatannya tentang itu sama sekali sirna dari kepalanya. " Kamu bilang, nama aku siapa?"
" Muhammad Nathan Ferdinand. Kamu seorang CEO. Pemilik perusahaan NATH Group. Perusahaan di bidang property dan kontraktor. Kamu sudah mengembangkan semua asetmu. Kamu juga memiliki beberapa restoran dan kamu punya saham pada perusahaan pertambangan." Randy menjelaskan.
" CEO?!" Gumam Nathan. " Apa aku sehebat itu?"
" Ya."
" Aku tidak ingat, Randy. Apa kamu mau membantuku untuk mengurus perusahaanku?"
Randy menarik Nafas dalam. " Aku tidak bisa, Nath. Tapi ada Brama saat ini yang membantumu menjalankan perusahaan."
" Brama?"
" Ya. Dia orang kepercayaan kamu sekaligus pengacaramu."
" Istirahatlah. Jika kamu belum mengingat apapun. Jangan dipaksakan." Ucap Randy.
Nathan hanya menurut dan kembali membaringkan kembali tubuhnya. Senja hanya bisa menahan air matanya agar tidak tumpah melihat Nathan terlihat seperti orang bingung. Terlebih lagi Nathan sama sekali tidak ingat dengan keluarga kecil mereka.
Di ruangan Nabila...
Nabila tampak sudah rapi merapikan semua barang- barangnya. Hari ini dia sudah diperbolehkan pulang membawa serta malaikat kecilnya. Nabila menarik nafas dalam menatap wajah putri kecilnya yang tengah tertidur pulas. Tak menyangka jika sekarang dia telah menjadi seorang ibu.
' Cklek'
" Kamu sudah siap sayang?" Tanya Randy ketika baru saja memasuki ruangan Nabila.
" Ya."
" Maaf aku tidak membantumu. Nathan baru saja siuman." Ujar Randy merasa bersalah karena perhatiannya terbagi.
" Oh ya?" Nabila tampak senang.
" Ya. Tapi..."
Nabila menatap Randy yang ragu melanjutkan kalimatnya. Raut wajahnya berubah sendu.
" Kenapa?"
" Nathan tidak mengingat kita semua. Bahkan dia juga tidak ingat siapa dia." Ujar Randy dengan wajah tertunduk sedih.
Nabila memeluk suaminya. Dia paham betul bagaimana perasaan suaminya. Melihat sahabat baiknya mengalami banyak masalah dan sekarang dia harus mengalami amnesia.
__ADS_1
" Sabar sayang. Nathan pasti segera sembuh." Nabila menepuk- nepuk pelan punggung Randy.
" Aku mau jenguk Nathan. Apa boleh?"
" Ya. Kamu duduk saja." Randy segera menyambar kursi roda yang berada di sudut ruangan.
" Aku jalan kaki saja."
" Kamu habis operasi. Aku tidak mau kamu kenapa- napa." Randy memaksa.
" Iya."
Randy menyusuri lorong rumah sakit dan berpindah lantai. Karena lantai ruangan Nabila dirawat di khususkan untuk pasien bersalin. Sedangkan Nathan berada di lantai lima.
Randy membuka pintu ruangan Nathan dan terlihat Senja termenung sambil menatap Nathan yang kembali tertidur karena efek obat.
" Senja." Sapa Nabila.
Senja tergagap karena tidak menyadari kehadiran mereka. " Hai, Nab."
Nabila memeluk Senja. " Maaf aku baru jenguk sekarang."
" Aku yang seharusnya minta maaf Nabila. Aku merepotkan suamimu."
" Bagaimana keadaannya?"
" Dia.mengalami amnesia. Semoga itu hanya bersifat sementara." Ujar Senja lirih.
Nabila menarik nafasnya dan memandangi wajah Nathan. Lelaki yang dulu pernah ada di hatinya. Lelaki yang selalu membuat siapapun nyaman berada di dekatnya. Nabila hanya berharap. Semoga kebahagiaan segera menghampiri mereka. Tanpa terasa. Sebuah bulir bening meluncur begitu saja dari pelupuk mata Nabila.
Terlihat Nathan perlahan kembali membuka matanya. Dan menatap bingung kearah Nabila.
" Aku Nabila." Nabila memperkenalkan diri.
" Dia?"
" Istriku, Nath." Jawab Randy cepat.
" Oh. Maaf aku tidak mengingat apapun."
" Tidak masalah. Kami akan membantumu segera mengingat kami." Ujar Nabila meyakinkan.
'Cklek'
" Hai Bram." Sapa Randy begitu melihat Brama yang masuk begitu saja keruangan Nathan.
" Hai. Maaf aku tidak tau." Brama ingin segera balik badan.
" Tidak apa- apa. Aku hanya mampir sebentar."
Brama tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya menghampiri Nathan. " Aku Brama. Aku yang membantumu mengurus perusahaan." Ujar Brama memperkenalkan diri. " Aku sangat berharap kamu segera sembuh, Nath. Perusahaan sangat membutuhkan pemimpinnya." Ujar Brama.
" Apa ada masalah?" Tanya Randy curiga.
" Ya. Investor besar mengancam segera menarik saham mereka jika Nathan tidak segera mengambil alih kursi direktur." Ucap Brama lesu.
" Kenapa?" Tanya Nathan.
" Kamu adalah alasan terkuat mereka." Jawab Brama.
" Besok aku akan ke kantor." Ucap Nathan.
__ADS_1
Randy dan Senja saling beradu pandang. Bagaimana mungkin. Nathan baru saja siuman ditambah lagi, Nathan belum mengingat apapun.