Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
30


__ADS_3

Senja terduduk lemah tak bertenaga. Sejak kemarin Sintia tidak memberikannya makan ataupun minum. Tubuh Senja terasa gemetar dan dingin mulai dia rasakan sampai menembus tulang.


" Apa kamu masih hidup?" Tanya Sintia sinis sambil memegang dagu Senja dengan telunjuknya.


" Apa maumu?" Tanya Senja lemah.


Sintia hanya tersenyum sinis. " Apa kamu tahu kemarin aku hampir mati karena kamu!" Ujar Sintia marah dan melotot pada Senja.


" Berikan aku minum. Aku sangat haus." Pinta Senja dengan wajah memelas. Dia benar- benar sangat kehausan. Tenggorokannya terasa kering.


" Kasihan. Tenang sayang. Besok kamu baru akan dapat makan dan minum." Ujar Sintia lagi dan berlalu meninggalkan Senja yang gemetar.


Nathan perlahan membuka matanya. Dia memandang ke segala arah. Kepalanya masih terasa sedikit sakit dan dapat di pastikan kepalanya terluka karena Nathan dapat melihat jelas perban yang membalut kepalanya pada pantulan kaca besar.


Bajunya juga sudah berganti tubuhnya juga sudah bersih. Siapa yang memandikannya. Natha. masih tampak bingung dengan kejadian semalam. Dia mencoba mengingatnya. Dan


" Sintia." Gumam Nathan marah dan segera keluar dari kamar mencari sosok Sintia.


" Sintia!" Panggil Nathan dengan berteriak. Tak di indahkannya para pelayan yang menunduk hormat padanya.


" Dimana kamu?!" Tanya Nathan marah pada Sintia melalui sambungan teleponnya.


" Aku disini sayang." Jawab Sintia yang sudah berada di belakang Nathan.


" Aku merindukanmu." Rayu Sintia dan mengecup lembut pipi Nathan.


" Dimana Senja?!" Tanya Nathan tanpa berbasa basi.


" Dia aman." Sintia masih terus mencumbu tubuh Nathan yang terbalut dengan kaos singlet.


" Aku mau bertemu dengannya."


" Tidak sayang." Cegah Sintia yang semakin hanyut dengan cumbuannya sendiri.


" Kamu sudah dapatkan yang kamu mau. Lepaskan Senja!" Bentak Nathan lagi.


" Oke. Aku akan melepaskan dia. Dengan syarat."


" Kamu mempermainkan aku?!" Nathan mulai marah.


Seketika pengawal Sintia dengan sigap langsung memegang tangan Nathan.


" Ckckck." Sintia semakin terlihat licik. " Aku tidak mempermainkan kamu. Aku hanya ingin perempuan itu tidak mengganggu hubungan kita." Bisik Sintia.


" Aku sudah melepas dia."


" Aku ingin dia membencimu."


Nathan terdiam. Entah apa yang dipikirkan Sintia saat ini.

__ADS_1


" Cium aku di depannya." Perintah Sintia.


" Baik." Nathan hanya mengikuti mau Sintia.


" Nathan!" Pekik Senja senang. Merasa ada harapan yang muncul ketika melihat pria itu datang.


Nathan hanya diam tanpa reaksi apapun melihat Senja. Hatinya sedih melihat keadaan Senja yang lemah. Nathan menyalahkan dirinya karena tidak mampu melindungi Senja. Ingin rasanya dia memeluk wanita itu. Tapi keadaan akan semakin membuatnya tersiksa jika itu dia lakukan.


" Kamu kenal dia kan?" Tanya Sintia. Senja mengangguk. " Sekarang dia milikku." Ucap Sintia lantang dan penuh kemenangan dengan rakusnya dia kembali mencium Nathan. Durasi ciuman mereka lumayan lama. Membuat Senja tak kuasa menatap mereka. Senja memalingkan wajahnya. Kini bukan hanya tubuhnya yang sakit tapi juga hatinya. Melihat orang yang terkasih mencumbu wanita lain di hadapan kita.


" Terima kasih sayang." Ujar Sintia mengakhiri kegiatan mereka.


Nathan hanya diam dan hanya bisa mengucap maaf dalam hati. " Lepaskan dia." Bisik Nathan pada Sintia.


" Pasti sayang. Asal kamu tidak akan kabur lagi." Ujar Sintia mewanti- wanti Nathan.


" Iya."


Sintia menghampiri Senja yang masih memalingkan wajahnya dari Nathan. Dia tersenyum licik melihat Senja yang lemah. Sintia melepaskan tali yang mengikat tangan Senja.


" Lebih baik bunuh saja aku!" Tutur Senja marah.


" Itu mauku. Tapi sayang. Dia tidak mau kamu mati." Ucap Sintia dan menunjuk Nathan.


" Kenapa kamu memberikan dirimu, Nath?!" pekik Senja marah yang sudah mengerti dengan keadaan ini.


Senja berlari memeluk Nathan yang hanya mematung menatapnya. " Kenapa kamu menyerah?" Senja memukul dada bidang Nathan. Nathan masih tidak bergeming.


" Apa kamu bilang?!" Seru Sintia marah dan menjambak rambut Senja.


" Lepaskan Sintia!" Bentak Nathan.


Sintia tersentak dan menghentikan aksinya. " Lebih baik aku bunuh saja wanita ini!" Ujar Sintia kesal dan mengantukkan kepala Senja ke tembok.


Nathan langsung berusaha melerai tindakan Sintia. Senja yang lemah tidak akan sebanding dengan tenaga Sintia.


" Sebenarnya apa maumu?" Tanya Nathan yang kesal pada Sintia. Kini Senja sudah berada dalam dekapannya.


" Sejak awal sampai detik ini. Aku hanya ingin kamu, Nathan!"


" Kamu sudah dapatkan. Kenapa masih menyiksa orang lain?!" Bentak Nathan lagi.


" Aarrgghhh!!" Sintia tampak geram. " Bawa wanita itu kembali ke rumahnya!" Perintah Sintia dan berlalu meninggalkan Nathan dan Senja.


" Kamu jangan menyerah Nath." Pinta Senja.


" keselamatanmu dan Ibu adalah yang terpenting." Ujar Nathan dan melepas kepergian Senja yang kini sudah dibawa oleh pengawal Sintia.


Sintia melempar semua barang yang ada di dalam kamarnya. Kamar yang semula rapi bagaikan kamar kerajaan. Kini berubah menjadi kapal pecah. Pecahan kaca dan guci berserakan dimana- mana. Seprai dan bantal pun ikut jadi sasaran amukan Sintia.

__ADS_1


Nathan membuka pintu kamar Sintia yang sejak tadi terdengar suara barang- barang pecah. " Apa keadaan berubah setelah membuat kekacauan ini?" Tegur Nathan lebih terdengar seperti sedang menyindir.


" Diam kamu!" Teriak Sintia marah dan melempar Nathan dengan botol parfum.


Nathan menghindar.


" Pergi kamu!" Usir Sintia marah.


" Baiklah." Ujar Nathan dan langsung berbalik badan.


" Pengawal! Ikat dia!" Perintah Sintia untuk mengikat Nathan.


Pengawal bingung harus di ikat dimana. Sementara Nathan hanya diam saja mengikuti maunya nona muda yang egois ini.


" Ikat dimana nona?"Tanya pengawal takut. Ngeri juga kalau tiba- tiba ada botol parfum melayang di kepala.


" Ikat di sana." tunjuk Sintia pada jendela.


" Apa kamu yakin akan mengikatku?" Tanya Nathan hanya pasrah. Dia sudah malas meladeni perempuan ini.


" Tutup mulutmu!" Bentak Sintia kesal dan meninggalkan Nathan di dalam kamarnya yang berantakan.


Sementara itu...


Nabila terlihat sibuk mondar mandir di ruang tamu. Tangannya memegang dagu. Entah kenapa wajah Nathan tidak juga pergi dari matanya.


" Ada apa?" Tanya seorang lelaki tua sekitar 70an.


Nabila tersentak dan tersenyum melihat kakeknya baru saja tiba luar kota.


" Kakek baru pulang?" Tanya Nabila menyambut kedatangan kakeknya dan mencium punggung tangan kakeknya.


" Iya. Kakek dengar dari Juan. Kemarin kamu membawa lelaki pulang?" Tanya kakeknya sekalian menggoda cucunya.


Nabila mengangguk.


" Siapa dia?" Tanya kakeknya penasaran karena melihat reaksi cucunya.


" Dia di tahan Sintia."


" Sintia anak Ringgo?"


" Iya."


" Bukankah dia tinggal di luar negeri?" Tanya kakeknya bingung.


" Iya. Tapi..." Nabila kemudian menceritakan masalah Nathan dan Sintia hingga akhirnya mereka bertemu.


" Hemm.. Jadi sekarang kamu juga menyukai lelaki itu?" Selidik Pak Danny.

__ADS_1


" Apaan sih kek." Nabila semakin memerah wajahnya.


Pak Danny tersenyum melihat gelagat cucunya.


__ADS_2