
'Prang'
Wulan yang kesal melempar ponselnya ke arah kaca yang ada di meja riasnya usai melihat video wawancara Nathan. Nafasnya memburu seolah naik turun.
" Ada apa, Lan?" Tanya Zizi adik sepupu Wulan yang memang tinggal serumah dengan Wulan.
" Apa kamu tidak lihat video Nathan yang baru?!" Gertaknya kesal.
" Ya. Tapi itu semua memang benarkan?"
" Tapi aku tidak akan melepaskannya, Zi. Setelah bertahun- tahun. Aku menemukannya sudah dimiliki wanita lain." Ucap Wulan kesal.
" Biarkan dia bahagia."
" Jika aku tidak bahagia. Dia juga tidak boleh bahagia." Teriak Wulan kesal.
Zizi menghampiri Wulan yang terlihat kacau. Perlahan Zizi mendekati Wulan dan duduk di sebelahnya.
" Kamu cantik, Wulan. Karirmu di dunia modeling juga sudah besar. Jangan kamu hancurkan semua itu hanya karena lelaki yang tidak pernah mencintai kamu." Nasihat Zizi lembut pada Wulan.
" Karena aku cantik. Harusnya aku yang menjadi pendampingnya. Seharusnya aku tidak mengejar mimpiku jadi model sampai aku harus berkiprah di luar negeri dulu. Ketika yang aku dapatkan adalah ini. Lelaki yang aku incar sejak dulu sudah punya keluarga."
Zizi mengelus lembut rambut panjang Wulan yang tergerai. Zizi yang selalu menemani Wulan. Sudah tahu betul bagaimana Wulan mencintai Nathan. Dia yang berpikir bahwa Nathan juga memiliki keinginan yang sama dengannya. Dengan penuh keyakinan, ketika Wulan mendapatkan tawaran besar menjadi salah satu Brand ambassador produk ternama di Eropa. Memilih mengejar karirnya terlebih dahulu baru dia akan mengejar cintanya.
Bertahun- tahun lamanya, akhirnya kontrak Wulan berakhir dan dia memutuskan untuk kembali ke negerinya sendiri untuk mengejar cintanya. Ternyata kenyataan yang dia dapatkan adalah lelaki yang dia harapkan menjadi pendampingnya telah memiliki keluarga kecil yang bahagia. Untuk itulah Wulan mencetuskan acara reuni agar bisa bertemu dengan pujaan hatinya dan bertekad akan mendapatkan hatinya bagaimanapun caranya.
" Apa aku perlu bicara dengan Nathan?" Tanya Zizi menawarkan diri menjadi perantara.
" Aku akan menyelesaikannya sendiri."
" Jangan gegabah. Dia bisa menjatuhkanmu dengan mudah, Wulan."
" Ya. Aku tau. Itulah sebabnya aku akan menjebaknya lagi, Zizi."
Zizi tampak menelan salivanya kasar. Merasakan firasat buruk.
" Apa tidak sebaiknya kamu meminta maaf saja padanya. Menjadi teman baik. Akan jauh lebih baik."
" Ide bagus. Menjadi teman baik dan perlahan aku akan menghancurkan keluarganya kemudian aku akan merebutnya dari wanita itu!"
Zizi hanya bisa diam mendengar rencana Wulan. Idenya yang hanya ingin Wulan menerima kenyataan. Malah berbalik seperti memberikan ide Wulan untuk menghancurkan keluarga Nathan.
*****
Nathan memijat pelipisnya. Jika berita itu tidak dia luruskan. Maka para investor itu akan menarik semua saham mereka dari perusahaan Nathan. Permasalahan ini sangat merepotkan.
' Drrrttt'
" Ada apa Senja?"
" Pulanglah. Sejak pulang sekolah tadi. Gio menangis. Aku sudah mencoba menenangkan. Tapi dia masih saja sedih." Ujar Senja dengan suara sendunya.
__ADS_1
" Kenapa?"
" Dia diejek teman- temannya karena berita- berita itu, Nath. Gio sangat terpukul." Ujar Senja.
Nathan kembali menarik nafasnya. Kali ini yang menjadi korban bukan hanya dia seorang. Tetapi juga Gio. Gio pasti sangat kecewa dengannya. " Aku akan pulang." Ujar Nathan dan segera mengambil ponselnya juga tasnya.
" Bapak mau kemana?" Tanya Silvi yang terkejut melihat bosnya keluar dari ruangannya sambil menenteng tasnya.
" Aku ada urusan. Kamu handle semuanya ya." Jawab Nathan.
" Baik Pak."
" Nathan!" Panggil Rani ketika Nathan kembali melangkah.
" Ada apa?"
" Aku yakin. Kamu pasti bisa melewati ini semua." Ujar Rani memberikan semangat.
" Terima kasih." Sahut Nathan datar.
Nathan terkejut karena Rani tiba- tiba saja memeluknya di depan semua karyawan. Walaupun hanya pelukan yang sekilas. Tetap saja Nathan merasa risih karena hal itu.
" Itu hanya sebagai sahabat." Ujar Rani menjawab keterkejutan Nathan.
" Jangan diulangi." Ucap Nathan tegas dan segera berlalu dari hadapan Rani.
Sesampainya di rumah. Nathan langsung berlari memasuki rumahnya. Tak dihiraukannya lagi kilatan blitz yang menghujani dirinya.
Wulan hanya melemparkan senyumnya dan menepuk sofa yang ada di sampingnya agar Nathan duduk.
" Dimana Gio?"
" Dia di kamarnya." Jawab Senja dengan wajah tertunduk. " Duduklah dulu. Aku mau bicara."
" Jika tentang perempuan ini. Maaf Senja. Aku tidak ada waktu." Ucap Nathan dingin.
" Nikahi dia. Hanya itu yang bisa menyelamatkan keluarga ini, Nathan!" Ucap Senja geram melihat suaminya tidak memahami situasi yang terjadi sekarang. Mata Senja melirik ke arah pria berbaju hitam yang sejak tadi berdiri di samping Bu Fitri.
" Jangan sakiti ibuku!" Sergah Nathan cepat. Melihat ibunya di bawah ancaman belati.
" Bertahun- tahun aku mengira kamu juga akan menantiku, Nathan. Tetapi ternyata tidak sama sekali." Ujar Wulan.
" Masalahmu denganku, Wulan!"
" Ya. Tetapi menaklukan singa liar harus dengan orang-orang disekelilingnya bukan." Wulan kembali menyeringai.
" Aku akan pastikan kamu hanya seorang diri jika kamu tidak menikah denganku!" Ancam Wulan.
Nathan kembali memijat pelipisnya. Kepalanya semakin sakit karena permasalahannya dengan wanita selalu saja harus memaksanya dengan pernikahan. " Beri aku waktu."
" Aku tidak ada waktu." Wulan mendekati Nathan yang duduk pada sofa kecil di sudut ruangan.
__ADS_1
Dengan cepat. Nathan mencengkeram kuat leher Wulan hingga wanita itu kesulitan bernafas.
" Lepaskan keluargaku. Atau hidupmu akan berakhir?!" Nathan berbalik mengancam Wulan.
Wulan yang kesulitan bernafas hanya bisa memukul- mukul tangan Nathan agar terlepas. Mata elang Nathan menatapnya tajam. Seperti seekor singa mendapatkan mangsanya.
Wulan memberikan isyarat menyerah. Nathan mengendurkan cengkeramannya. Wulan langsung terbatuk-batuk.
" Kamu akan menyesal!" Ucap Wulan marah.
Bu Fitri dan Senja langsung berhambur menghampiri Nathan yang berdiri menatap Wulan marah.
Sekelompok pria berbaju hitam tampak mengelilingi Wulan agar Wulan tidak terlihat oleh para wartawan itu keluar dari rumah Nathan.
" Kamu bisa membunuhnya." Bu Fitri memukul lengan Nathan.
" Aku lelah, Bu. Masalah ini merambat kemana- mana." Ucap Nathan kesal dan segera menuju kamar Gio.
"Bagaimana ini, Bu? Lagi- lagi keadaan memojokkan agar Nathan menikahi wanita lain." Senja terisak. Sejak tadi dia menahan tangisnya.
" Semoga Nathan bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik, Senja." Harap Bu Fitri.
******
Senja terperangah ketika melihat beberapa anggota kepolisian mencari Nathan.
" Ada apa sayang?" Tanya Nathan dari ruang keluarga ketika melihat istrinya hanya mematung.
" Ada yang mencarimu." Ujar Senja dengan suara bergetar.
Dengan santainya, Nathan menghampiri Senja untuk bertemu dengan tamunya.
" Ada apa?" Tanya Nathan pada anggota kepolisian itu.
" Bisa ikut kami ke kantor?"
" Ada masalah apa?"
" Anda dituduh melakukan penyerangan terhadap saudari Wulan." Ucap Polisi itu tegas dan langsung memborgol tangan Nathan.
" Suami saya tidak bersalah, Pak. Dia hanya korban." Ucap Senja mengiba agar Nathan dilepaskan.
" Sayang." Nathan menenangkan Istrinya yang menangis tersedu- sedu.
" Kamu gak salah."
" Ya. Itu sebabnya aku butuh bantuan kamu. Hubungi Brama." Ucap Nathan sebelum akhirnya dia kembali di tarik oleh polisi itu untuk memasuki mobil polisi.
Senja terus menangis tersedu- sedu meratapi kepergian suaminya.
" Mama. Nenek pingsan!" Teriak Gio yang sejak tadi mereka memang hanya mendengarkan dari dalam rumah.
__ADS_1
Senja bergegas menghampiri Bu Fitri yang tergeletak di dekat ruang keluarga. Dengan segera Senja, Bi Sumi serta Pak mamat dan dibantu supirnya membawa Bu Fitri ke mobil untuk segera dilarikan ke rumah sakit.