Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
40


__ADS_3

Gio menatap ibunya yang sibuk menyiapkan makanan untuknya. Bocah kecil yang sangat penurut. Dia hanya duduk diam menunggu makanannya matang. Seperti apa yang ibunya perintahkan kepadanya. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya makanan yang sejak tadi di masak Senja matang juga. Dua porsi nasi goreng lengkap dengan telur ceplok dan kerupuk telah terhidang di meja makan.


Mata Gio berbinar melihat makanan favoritnya yang akan dihidangkan ibunya malam ini. Dengan lahap. Gio memakan semua nasi yang ada di piringnya. Sesekali mulutnya terbuka dengan tangan mengibas- ngibaskan di depan mulutnya karena nasi goreng itu masih panas.


Senja hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu putranya. Tidak butuh waktu lama. Gio dan Senja menyelesaikan makan malam mereka.


" Mama." Panggil Gio lembut pada Senja yang kali ini sibuk mencuci piring.


" Iya sayang." Jawab Senja tetap melanjutkan pekerjaannya.


" Aku kangen Papa." Gio menopang dagunya dengan kedua tangannya. Wajahnya terlihat lesu.


Senja sejenak berhenti melakukan kegiatannya. Lalu kemudian dengan cepat dia menyelesaikan pekerjaannya dan menghampiri Gio yang berubah murung. Dipeluknya putra semata wayangnya. Dan dengan lembut dia belai kepala Gio.


" Nanti Papa akan nemuin Gio kok." Hibur Senja.


" Kapan? Mama bisa telepon Papa?" Tanya Gio dengan mata yang berbinar.


" Papa ganti nomor. Jadi mama gak bisa telepon Papa. Maaf ya sayang." Ucap Senja lembut namun seketika wajah Gio kembali murung.


" Gio tidur aja deh." Ucap Gio lesu dan berjalan menuju kamarnya.


" Besok kalo mama ketemu Papa. Mama akan bilang kalo Gio kangen."


" Gak usah. Aku bisa bilang sendiri." Tolak Gio.


Senja menarik nafas panjang. Entah bagaimana untuk membuat Gio melupakan Nathan. Ada sebuah ketakutan jika suatu hari nanti Gio tahu bahwa Nathan bukanlah ayah kandungnya. Saat Gio tahu hal itu. Bukan hanya hatinya yang akan hancur. Pasti akan melukai mentalnya. Senja tidak akan pernah siap untuk hal itu. Gio terlalu menyayangi Nathan. Dan benar- benar menganggap bahwa Nathan adalah ayah kandungnya.


Setelah menimbang- nimbang. Akhirnya Senja memutuskan untuk menghubungi Nathan. Walaupun dia tahu jika dirinya juga belum siap untuk kembali menemui Nathan.


" Halo." Sapa Nathan menjawab panggilan telepon itu.


" Maaf ganggu. Bisakah besok kamu ke rumah jemput Gio?" Tanya Senja tak ingin berbasa basi lebih lama dengan Nathan.


" Kalo untuk besok. Kayanya aku gak bisa. Ada meeting di luar kota."


" Oh yaudah gak apa- apa. Maaf udah ganggu."


" Jangan di tutup dulu. Aku belum selesai bicara." Nathan menyela ucapan Senja yang memang berniat untuk mengakhiri panggilan telepon itu.


" Yaudah. Lanjutkan."

__ADS_1


" Kalo mau. Besok aku jemput tapi Gio nginep. Boleh?"


" Oke. Nanti aku siapin keperluan Gio. Mau jemput jam berapa?"


" Jam tujuh mungkin."


" Pagi banget." Protes Senja.


" Kalo siang aku gak bisa. Kalo emang kamu gak izinin. Mungkin minggu depan."


" Yaudah minggu depan aja. Lagian aku gak mau kamu terlalu dekat sama Gio." Bentak Senja kesal karena Nathan tidak berusaha memaksanya.


" Kenapa kamu marah? Apa aku ada salah bicara?"


" Kamu gak salah. Yang salah itu aku. Kenapa aku biarin anakku dekat dengan orang yang bukan ayah kandungnya bahkan dia sendiri bukan suami ibunya!" Omel Senja yang sebenarnya marah pada dirinya sendiri.


" Aku akan jaga jarak dengan Gio. Dan tidak akan mengusik lagi hidup kalian. Maaf jika aku sudah menyakiti kalian." Ucap Nathan datar dan menutup panggilan telepon itu.


Senja menangis sejadi- jadinya. Beberapa kali dia memukul meja makan hingga menimbulkan bunyi berisik. Dia cengkram erat rambutnya dan mengutuk dirinya sendiri. Kenapa dia sangat sulit untuk melepaskan Nathan. Semakin dia ingin melupakan. Semakin ingat dia dengannya. Semakin ingin bersikap biasa dengan perpisahan ini. Semakin terasa sakit yang di rasa.


*****


Nathan melajukan mobilnya menuju rumah Senja. Sebelum berangkat keluar kota dia putuskan untuk mampir sebentar menemui Gio.


" Papa." Seru Gio riang dan berlari menghampiri Nathan serta mencium pipi Nathan. " Gio kangen sama Papa." Ucap Gio dan kembali memeluk Nathan erat.


" Papa juga. Oh iya. Ini buat Gio." Nathan memberikan paper bag yang sejak tadi dia bawa.


" Apa ini, Pa?" Gio antusias dan melihat isi di dalam paper bag itu. " Wah. Baju bola." Ujarnya senang.


" Dipakai dan dirawat baik- baik. Itu hadiah dari Papa. Tapi sementara waktu Papa gak akan ketemu Gio."


" Papa mau kemana?" Tanya Gio dengan wajah memelas.


" Papa mau pergi jauh dulu. Jaga mama baik- baik ya. dan jangan nakal sama Om Reza." Nasihat Nathan lembut.


" Papa berantem sama mama ya?"


" Engga."


" Kok semalam Gio denger mama nangis abis telponan sama Papa." Ujar Gio jujur yang secara tidak sengaja mendengar Senja menelepon Nathan hingga dia diam- diam menguping pembicaraan Senja. walaupun dia tidak mendengar semuanya.

__ADS_1


" Kamu denger semuanya?" Tanya Nathan yang mencemaskan jika Gio mendengar kalimat Senja tentang dirinya.


" Engga sih Pa. Tapi yang aku tahu Mama nangis abis telepon Papa." Gio mencoba menjelaskan.


" Mungkin mama sedang banyak pikiran. Makanya Gio jangan minta yang aneh- aneh ya. Kasihan mama." Nasihat Nathan lagi dan di sambut anggukan mengerti Gio.


Nathan melihat jam tangannya. Dan mengecup kening Gio. " Papa harus berangkat. Kamu baik- baik di rumah ya."


" Iya. Papa hati- hati ya." Ujar Gio melepas kepergian Nathan.


Tak selang beberapa lama. Senja keluar menghampiri Gio dan melihat dengan tanda tanya melihat Gio terus saja melambaikan tangan pada mobil yang sudah ada di ujung jalan.


" Gio dadah- dadah sama siapa?"


" Papa." Jawab Gio polos dan melenggang menuju rumahnya. Senja masih memperhatikan jalan yang sejak tadi diperhatikan Gio. Sudah tidak ada mobil di sana.


" Kok Papa gak mampir?" Tanya Senja menyelidik.


" Engga. Papa mau pergi yang jauh katanya." Gio menjelaskan sambil merentangkan kedua tangannya.


" Kemana?"


" Gak tau." Jawabnya dan asik mengeluarkan barang- barang yang ada di dalam paper bag.


" Ini dari Papa?"


" Iya." Gio mengangguk. Dan kembali asik dengan paper bag. Ternyata isinya bukan hanya baju bola tetapi ada juga game boy keluaran terbaru. Gio berlonjak kegirangan ketika melihat foto Nathan ada di dalam frame juga.


" Gio senang dapat foto Papa?"


" Iya. Kan dikamar Gio belum ada foto Papa." Jawab Gio polos dan berlari menuju kamarnya menyimpan foto Nathan di atas mejanya berdampingan dengan foto Senja dan dirinya.


Senja segera menelepon Nathan. Berulang kali tidak ada jawaban. Entah untuk keberapa kalinya akhirnya Nathan menjawab panggilan telepon itu.


" Apa maksudmu memberikan fotomu pada Gio?" Tanya Senja namun lebih terdengar seperti orang yang sedang memaki.


" Gio pernah meminta hal itu. Aku bisa pergi darinya tetapi aku tidak bisa membuat dia membenciku, Senja." Nathan masih berusaha terlihat tenang.


" Lalu bagaimana caranya agar Gio bisa menerima Reza sebagai Papanya?" Senja semakin merasa putus asa.


" Katakan yang sebenarnya. Dia akan membenciku dan aku tidak akan lagi muncul di hadapannya."

__ADS_1


" Itu akan menghancurkan Gio, Nathan!" Bentak Senja lagi diiringi isak tangisnya.


__ADS_2