Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
53


__ADS_3

" Istighfar Senja." Ucap Nathan masih dengan nada lembut. Istrinya sedang terbakar cemburu hanya karena sebuah foto.


Senja menangis sejadi- jadinya. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Nathan perlahan mendekat dan berjongkok di hadapannya.


" Berwudhu dan solatlah Senja. Tenangkan pikiranmu. Aku tidak mungkin mengkhianatimu." Ucap Nathan lembut. " Aku sangat mencintaimu, Senja." Lanjut Nathan lagi dan seketika Senja memeluk Nathan erat.


Dia menangis sesenggukan dalam pelukan Nathan. " Maafin aku gak percaya sama kamu." Ujarnya disela tangisnya.


Nathan hanya mengelus lembut punggung Senja dan mencium kepala Senja. Dia sangat mencintai istrinya. Bagaimana mungkin dia berpikir untuk mengkhianatinya. Entah siapa lagi yang mencoba untuk merusak pernikahannya yang baru saja dimulai. Belum ada seminggu mereka menikah tetapi sudah ada yang mencoba merusaknya.


" Tetap tegar dan percaya denganku Senja. Aku membutuhkan itu." Bisik Nathan pada Senja. Senja mengangguk dan segera menyeka air matanya.


" Maafkan aku sudah percaya dengan foto itu."


" Sudah. Lupakan saja ya. Sekarang kita makan. Aku lapar." Ujar Nathan sambil memegang perutnya dan memanyunkan bibirnya seraya anak kecil yang sedang merajuk.


Senja tertawa kecil dan menyeka sisa air matanya. Lalu menggandeng tangan Nathan untuk menuju meja makan.


******


" Apa kamu tidak keterlaluan?" Tanya Grace pada Camila lebih tepatnya seperti protes atas perbuatan Camila.


" Itu belum seberapa." Camila menyeringai licik.


" Ayolah. Kamu bukan orang yang sejahat itu Camila." Grace masih mencoba mengingatkan sahabatnya.


" Aku tidak akan seperti ini jika dia tidak menolakku mentah- mentah." Camila tetap dengan pendiriannya.


" Tapi bagaimana jika hubungan mereka retak. Mereka baru saja menikah." Grace tetap merasa keberatan.


" Kenapa kamu bawel sekali. Kamu memihaknya?!" Bentak Camila tidak suka dengan ucapan Grace.


" Bukan itu maksudku. Dia hanya menolak kerja sama. Tidak ada urusannya dengan istrinya."


" Diamlah, Grace! Atau kamu akan aku pecat!" Ancam Camila kesal.


Grace langsung terdiam mendengar ancaman Camila. Suaranya sudah berubah. Dia benar- benar marah. Grace hanya menarik nafas panjang dan berharap perbuatan Camila tidak berdampak buruk pada keluarga Nathan.


" Apa yang membuatmu benar- benar marah? Jujurlah Camila. Aku tahu kamu." Bujuk Grace kali ini dengan nada suara yang lembut.

__ADS_1


" Lupakanlah! Aku tidak akan melibatkanmu atau meminta bantuanmu!" Acuh Camila dan pergi meninggalkan Grace sendirian di kamar hotel.


Senja menarik nafas panjang ketika melihat lagi foto Nathan yang dikirimkan oleh orang misterius itu. Nomor ponselnya tidak aktif lagi saat Nathan mencoba menghubunginya.


" Apa kamu masih meragukan aku?" Tanya Nathan saat dia baru saja memasuki kamarnya dan melihat Senja berulang kali menarik nafas panjang melihat layar ponselnya.


Senja menggeleng. " Aku penasaran. Siapa wanita itu? Apa maksudnya mengirimkan foto ini?"


Nathan memegang tangan Senja dengan lembut. Di tatapnya wanita yang kini telah jadi istrinya. " Maaf jika aku harus meminta hal ini padamu." Nathan memegang pipi Senja.


" Apa?"


" Percayalah hanya padaku, Senja. Aku tidak akan berpaling darimu. Hanya kepercayaan darimu. Aku bisa melewati semua hal." Ucap Nathan dengan tatapan yang tajam namun teduh.


Senja mencium telapak tangan Nathan berulang kali. " Aku akan selalu berusaha percaya padamu." Janji Senja.


Nathan segera memeluk Senja erat. Tidak akan pernah terbersit di benaknya untuk menyakiti wanita sebaik Senja.


" Apa lukamu sudah sembuh?" Tanya Senja saat masih dalam dekapan hangat Nathan.


" Sudah jauh lebih baik. Bahkan sebentar lagi sembuh." Jawab Nathan datar.


Jantung mereka berdegup cepat. Hal ini adalah hal yang pertama untuk mereka. Pertama kalinya Nathan akan menyentuh Senja lebih jauh lagi begitupun dengan Senja.


* Adegan selanjutnya dilanjutkan dalam pikiran masing- masing ya...*


*****


Silvi mendengus sebal melihat wanita yang entah siapa lagi sudah menunggu bosnya sepagi ini. Wanita cantik dan lagi- lagi berpakaian seksi. Entah apa yang ada dipikiran para wanita yang mengejar bosnya selalu berpakaian seksi. Apa mereka tidak tahu jika bosnya akan semakin menjauh jika mereka berpenampilan seperti itu.


Silvi hanya mengirimkan pesan pada Nathan tentang kedatangan wanita yang mengaku bernama Vira ingin bertemu dengannya. Tetapi dengan santainya bosnya itu hanya menjawab 'biarkan dia menunggu'. Apakah dia tidak tahu jika entah sudah berapa kali dia terus menanyakan kapan Nathan akan datang.


" Apakah dia masih lama?" Tanya wanita itu tampak mulai tidak sabar.


" Mana saya tau!" Jawab Silvi dengan nada sebal. " Kalo kelamaan. Sebaiknya ibu pulang saja." Ujar Silvi lagi.


" Apa?!" Pekik wanita itu. " Kamu panggil saya ibu?!" Bentaknya. " Saya belum nikah! Jadi jangan panggil saya ibu!" omelnya lagi.


Silvi hanya nyengir menahan sebalnya. Tetapi detik kemudian Nathan berlalu begitu saja memasuki ruangannya seperti tidak melihat ada orang yang sejak tadi menunggunya.

__ADS_1


" Itu yang masuk Nathan?" Tanyanya buru- buru pada Silvi. Silvi hanya mengangguk.


" Kenapa gak bilang!" Protesnya lagi dan langsung masuk begitu saja ke ruangan Nathan.


Nathan yang baru saja membuka laptopnya agak terkejut dengan kedatangan wanita yang tidak dikenalnya itu tiba- tiba saja masuk ke ruangannya.


" Ada perlu apa?" Tanya Nathan heran karena wanita itu terus mendekat ke mejanya.


Wanita itu hanya menyeringai licik dan malah duduk di tepi meja kerja Nathan.


" Silahkan anda duduk di kursi." Nathan segera menjauh dari wanita itu.


" Jangan munafik Nathan." Rayunya.


Tanpa berbicara apapun. Nathan segera keluar dari ruangannya. " Panggil security ke sini." Perintah Nathan pada Silvi.


" Baik, Pak." Silvi segera menekan ext security. " Punya bos di rayu cewek mulu. Haduhh harus kuat iman kalo jadi istrinya." Gumam Silvi.


" Ayolah Nathan. Aku tau kamu ingin." Rayu wanita itu lagi sambil terus mendekat pada Nathan yang berada di ambang pintu.


" Perempuan gila." Umpatnya kesal. Beruntung detik berikutnya security sudah tiba di ruangannya dan segera mengamankan wanita itu.


" Bagaimana dia bisa masuk?" Tanya Nathan marah pada pihak security setelah mereka berhasil membawa wanita itu keluar.


" Maaf, Pak. Mungkin dia masuk saat saya sedang membeli sarapan." Jawab salah satu security itu.


" Kamu?" Nathan beralih pada security yang lebih muda.


" Maaf, Pak. Dia bilang sudah buat janji sama Bapak." Jawabnya sambil menunduk takut.


Nathan menarik nafas panjang mengatur emosinya. " Sudah berapa lama kamu bekerja disini?"


" Sudah masuk tiga bulan, Pak." Jawabnya semakin menunduk takut.


" Saya maafkan kali ini. Tetapi lain kali jika ada yang mau bertemu saya. Kamu tanya Silvi dulu." Ujar Nathan.


" Baik, Pak."


" Kembali ke tempat kalian. Maaf saya sudah marah- marah." Ujar Nathan.

__ADS_1


" Baik, Pak." Sahut mereka dan segera beranjak dari ruangan Nathan.


__ADS_2