Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
59


__ADS_3

Dona duduk di sofa kulit berwarna hitam. Dia menopang dagunya dengan tangannya. Memperhatikan Friska yang sejak tadi mondar- mandir tampak sangat gelisah ketika mengetahui jika Nathan sedang sakit. Hatinya sangat gusar. Ingin rasanya dia menjenguk Nathan. Melihat keadaannya hanya untuk memastikan dia baik- baik saja.


" Bisa berhenti gak? Gue pusing liat lu mondar- mandir aja dari tadi." Sergah Dona mulai bete lihat tingkah sahabatnya itu.


" Gimana gak pusing kalo Nathan lagi sakit." Sahut Friska balik mengomel pada Dona.


Dona menarik nafas dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat malas. " Kayanya dulu lu ga begini banget ama mantan lu."


" Bisa diem gak? Jangan banyak protes!" Bentak Friska kesal.


Dona menghembuskan nafas kesal. " Samperin aja ke rumahnya." Ucap Dona kesal dan pergi meninggalkan Friska seorang diri di ruangannya.


Friska seperti mendapatkan ide dengan kata Dona. Segera dia mengambil tasnya dan melangkah keluar dari ruangannya. Dona yang baru saja duduk di kursi kerjanya melihat Friska heran.


" Apa kamu tidak mau ikut?" Tanya Friska yang berhenti sejenak di depan meja Dona.


" Kemana?"


" Ke rumah Senja." Ucap Friska dengan senyum licik.


Dona hanya mendengus kesal dengan sikap Friska yang masih berniat untuk mengejar Nathan. Lelaki yang menjadi suami temannya. Namun dengan terpaksa dia mengikuti langkah Friska.


" Apa kamu tahu rumah Senja?" Tanya Dona pada Friska yang sibuk menelepon Senja. Dia hanya meletakkan telunjuknya pada bibirnya meminta Dona untuk diam.


" Hai Senja." Sapa Friska ramah. " Kemarin aku beli kue terlalu banyak dan ada beberapa mainan. Aku ingin memberikan pada anakmu. Bisa kamu kirimkan alamat rumahmu. Biar aku ke rumahmu." Ujar Friska selembut mungkin.


" Tidak perlu Friska. Aku tidak ingin merepotkan."


" Tidak merepotkan sama sekali. Jadi kemana aku harus mengirimnya?" Tanya Friska masih memaksa.


" Baiklah aku kirimkan." Ucap Senja akhirnya mengalah.

__ADS_1


Friska tersenyum penuh kemenangan ketika mendapatkan alamat rumah Senja.


" Sebaiknya kamu berhenti mengejar Nathan, Fris. Kasihan Senja."


Friska langsung menatap Dona tajam. Seperti ada sebuah dendam yang tersembunyi dari tatapan Friska membuat Dona menelan salivanya kasar.


" Berhenti? Apa kamu lupa bagaimana Riza mengejar Senja. Padahal jelas- jelas ada aku yang selalu di sampingnya." Maki Friska seperti sedang mengeluarkan luka lamanya.


" Itukan masa lalu Fris." Dona masih mencoba menasihati dengan lembut.


" Sekarang hal yang sama terjadi lagi. Lelaki yang aku sukai dimiliki Senja. Aku akan merebutnya." Ucap Friska dengan sorot mata yang tajam.


Dona hanya menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya masih menyimpan dendam lama. Kejadian itu sudah sangat lama sekali berlalu. Lagi pula itu adalah bagian dari cinta monyet mereka.


Friska menghentikan mobilnya pada sebuah toko kue dan dia memilih kue blackforest yang pasti disukai anak- anak pada umumnya. Setelah itu dia mengarahkan mobilnya ke sebuah toko mainan. Friska memilih sebuah lego yang besar. Dona hanya mampu melihat tanpa lagi komentar apapun. Friska tidak bisa di nasihati kali ini. Entah benar hanya karena dendam di masa lalu atau sebenarnya Friska sudah terlanjur mencintai Nathan.


" Halo Senja." Sapa Friska riang ketika melihat Senja yang membukakan pintunya.


" Hai." mereka saling cipika cipiki seperti biasa. Friska sangat pandai bersandiwara.


Mata Friska memandang takjub dengan interior rumah itu. Rumah yang bergaya modern klasik bernuansa putih. Ada beberapa piala yang terpajang dalam sebuah lemari kaca. Friska membaca semua piala itu yang dipersembahkan oleh Nathan. Piala yang dia dapatkan selama masih di sekolah hingga kuliah. Ternyata secerdas itu Nathan. Pantas saja dia mampu membangun sebuah perusahaan yang mulai melebarkan sayapnya kebanyak industri. Menanamkan banyak saham di beberapa perusahaan. Hidupnya tidak glamor seperti dirinya. Tidak akan ada yang menyangka jika Nathan memiliki banyak harta.


Friska semakin kagum dengan sosok Nathan. Pria yang baru saja di kenalnya. Seorang pria yang sudah menyelamatkan nyawanya. Tidak pernah terbayangkan oleh Friska jika saat itu dia mati karena tersedak. Kejadian yang sangat memalukan.


" Itu piala suamiku." Ujar Senja ketika mendapati Friska melihat piala- piala itu dengan saksama.


" Suamimu orang yang cerdas ya." Puji Friska. " Oh iya. Ini kue dan mainan untuk anakmu. Terlalu banyak di rumahku." Friska memberikan bingkisan yang tadi dia beli.


" Terima kasih. Maaf merepotkan."


" Dimana anakmu?" Tanya Friska sambil matanya menyapu penjuru rumah.

__ADS_1


" Dia masih ada di sekolah." Jawab Senja santai. " Silahkan diminum."


" Terima kasih." Friska dan Dona bersamaan menyeruput es lemon tea.


" Bagaimana keadaan suamimu? Apakah sudah baikan?" Tanya Dona setelah kakinya di injak Friska agar membuka pembicaraan itu.


" Oh.. Iya dia sudah baikan. Tetapi masih harus istirahat."


" Memangnya suami kamu sakit apa?" Tanya Friska tidak bisa menahan lagi rasa ingin tahunya.


" Cuma kecapean aja. Belakangan ini dia sangat sibuk." Ujar Senja.


" Sayang." Terdengar suara Nathan.


Friska segera menoleh ke arah sumber suara. Dia tersenyum senang ketika melihat Nathan sedang menuruni anak tangga dengan memakai celana training hitam panjang serta kaos abu- abu.


" Loh. Ada tamu." Nathan sedikit terkejut melihat dua wanita sedang berada di ruang tamu.


" Ada apa sayang?" Tanya Senja mesra.


" Biar aku ambil sendiri. Temanilah tamumu." Ujar Nathan lembut dan menuju dapur.


Tanpa sadar. Senja memperhatikan Friska yang terus saja mengekori kemana Nathan melangkah.


" Apa kamu mengenal suamiku?" Tanya Senja ketika hatinya mulai terbakar cemburu melihat suaminya terus di tatap seperti itu.


" Oh iya. Dia rekan bisnisku." Jawab Friska sebelumnya sedikit gelagapan.


" Oh ya. Kebetulan sekali." Ujar Senja. " Apa dia pria yang kamu ceritakan?" Senja tidak ingin ada lagi orang ketiga yang akan mengganggu rumah tangganya.


" Tentu saja bukan." Friska berbohong.

__ADS_1


" Syukurlah. Aku kira dia adalah pria yang kamu ceritakan. Karena jika iya. Kamu harus menghadapiku dulu." Sindir Senja dengan gurauan.


Friska pura- pura tertawa mendengar gurauan Senja. Dona hanya melirik sekilas Friska menatapnya tidak suka karena Friska terus saja berpura- pura.


__ADS_2