Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
127


__ADS_3

Nabila menatap Randy yang duduk bersandar pada headboard. Wajah Randy yang terlihat lesu. Pikiran dan hatinya sedang tidak kompak. Ingin rasanya dia pergi dari sini. Tapi hatinya enggan meninggalkan Nabila yang sedang hamil.


Perlahan Nabila mendekati Randy dan duduk di sampingnya. Randy hanya menatapnya sekilas dan kembali pandangannya menatap lurus.


" Apa keputusanmu sekarang?" Nabila memecahkan keheningan antara mereka.


Randy menghela nafasnya. " Hatiku masih ingin bersamamu. Tapi pikiranku seolah meyakinkan jika kamu bahagia tanpa aku." Jawab Randy.


Nabila menyunggingkan senyumnya. " Hatiku ingin mencintaimu. Tapi entah kenapa masih tersisa bayang lelaki itu. Kamu pergi dari sisiku. Tidak menjamin aku akan bahagia, Randy."


Randy menatap wajah istrinya yang sejak tadi sedang menatapnya lekat.


" Tetaplah di sini. Aku dan anak ini membutuhkanmu." Ucap Nabila sambil sebelah tangannya mengusap perutnya yang masih datar.


Randy menarik lembut tubuh Nabila ke dalam pelukannya dan mengecup pucuk kepala Nabila lembut. Entah perasaan apa yang menggelayut lagi. Perasaan sangat ingin memiliki Nabila seutuhnya kembali memasuki relung jiwanya.


" Sebentar lagi aku akan berhasil mengusirnya dari hatiku." Bisik Nabila.


" Kenapa saat di cafe kamu akan tetap mencarinya?"


" Entah. Jujur saja. Pagi tadi entah kenapa rasa ingin memilikinya sangat besar hingga membuatku tidak bisa berpikir jernih." Ungkap Nabila. " Maaf telah menyakitimu lagi."


" Maaf sudah menyusahkanmu, sayang." Randy kembali mengecup lembut kening Nabila dan merengkuhnya ke dalam pelukan hangat.


******


Senja terus menatap Nathan yang sejak tadi sibuk membaca email yang masuk. Entah kenapa di hari libur pun masih ada saja email pekerjaan masuk. Nathan sedikit memijat pelipisnya.


" Kamu baik- baik saja?" Tanya Senja yang sejak tadi memperhatikan Nathan yang sesekali memijat pelipisnya. Suatu kebiasaan Nathan jika kepalanya terasa berdenyut.


" Ya. Mungkin karena terlalu lama melihat ponsel." Ucap Nathan dan meletakkan ponselnya pada meja yang berada di sampingnya.


" Apa Randy memintamu menikahi Nabila?" Tanya Senja yang masih penasaran.


" Tidak sayang. Masalah itu sudah selesai." Jawab Nathan dengan senyum dan mengecup kening istrinya.


Senja menyandarkan kepalanya pada dada Nathan. Senang rasanya mempunya suami yang tampan, baik dan yang terpenting dia setia. Senja mengecup dada Nathan yang masih berlapis kaos oblongnya.


" Jangan memancing sayang." Ucap Nathan menggoda Senja.


Senja mendongakkan kepalanya dan kembali mencium dada Nathan.


" Nakal ya kamu." Ujar Nathan dan kini membawa Senja kedalam dekapannya. Tak dihiraukannya lagi kepalanya yang sejak tadi berdenyut.


*****


' Tok Tok Tok.'


" Masuk." Seru Nathan dari dalam ruangannya.


Terlihat Silvi dengan membawa map biru memasuki ruangan Nathan dan hanya sebatas berdiri di dekat pintu.


" Ada yang ingin bertemu dengan Bapak. Namanya Pak Jason dari Australia." Ujar Silvi.


" Jason? Ada perlu apa?" Tanya Nathan sedikit bingung karena merasa tidak mengenal Jason.

__ADS_1


" Dia bilang ingin membahas kerjasama." Ujar Silvi lagi.


Nathan sejenak berpikir dan akhirnya mengizinkan pria itu masuk.


Nathan menyambut tamu barunya yang berbadan tegap dan sedikit lebih tinggi darinya. Nathan menyalami Jason juga seorang pria yang tak kalah tinggi dari Jason sepertinya itu adalah asistennya.


" Sit down, Please." Ujar Nathan mempersilahkan mereka duduk pada sofa di ruangannya.


" Thanks." Ujar Jason.


" This is Mark, My assistant." Jason memperkenalkan pria yang di sebelahnya pada Nathan.


" Oke. Hai, Mark." Nathan menyapa pria itu. " What do you need here?" Tanya Nathan tanpa berbasa basi.


" Kita pakai bahasa Indonesia saja." Ujar Jason pada Nathan.


" Ok. Apa anda pernah tinggal di Indonesia?"


" Ya. Dulu saya pernah bekerja pada perusahaan Fresco company. Tempat dulu anda magang. Benar bukan?" Jason mencoba mengingatkan.


Nathan merenung sejenak dan dia memang pernah magang pada perusahaan tersebut. Tapi entah kenapa dia tidak pernah ingat dengan Jason.


" Mungkin kamu tidak kenal dengan saya. Karena saya selalu berada di ruangan."


" Oh begitu." Nathan senyum canggung.


" Saya ingin bekerja sama dengan anda. Ini mega proyek untuk perusahaan anda."


" Oh ya? Senang mendengarnya." Seru Nathan menanggapi.


" Mark. Berikan proposal itu." Perintahnya pada Mark yang sejak tadi diam mendengarkan pembicaraan mereka.


Nathan menarik nafas panjang. Sebuah keputusan besar untuk sebuah proyek besar. Akan ada untung tetapi juga pasti akan ada rugi jika tak dipertimbangkan dengan baik.


" Kenapa anda menawarkan kerjasama pada perusahaan kecil?"


" Saya percaya pada potensi anda." Jawab Jason yakin.


" Hemm.. Saya setuju." Jawab Nathan dengan mata masih meneliti setiap point yang tertera pada proposal itu.


Jason menyunggingkan senyum lebarnya melihat Nathan sedikit antusias dengan proyek yang dia tawarkan. " Tapi ada syaratnya." Ujar Jason sambil menyunggingkan senyumnya.


Nathan segera beralih melihat Jason.


" Temani saya makan malam di sebuah tempat sambil membahas kerjasama ini dan sekalian kita bertukar cerita." Ujarnya.


" Makan malam?"


" Ya. Hubungan bisnis perlu dijalin dengan hubungan yang intens bukan. Kita harus mengenal. Semua modal pada proyek ini saya akan menanggung semuanya. Anda tidak perlu khawatir akan mengalami kerugian." Jason kembali menjelaskan rincian kerjasama mereka.


" Maaf. Tapi kenapa harus makan malam? Hubungan intens? Maksud anda bagaimana?"


" Bukan hanya kita saja. Ada Mark juga. So anda tidak perlu khawatir. Lagi pula saya sudah menikah." Gurau Jason.


Nathan menanggapinya dengan tawa kecil. Betapa b*dohnya dia berpikir yang aneh- aneh. Nathan menyetujui ajakan makan malam Jason.

__ADS_1


Jason yang sudah menetapkan tempat untuk mereka. Nathan sedikit merasa aneh karena ternyata tempat yang dipilih Jason adalah sebuah club malam. Dengan meyakinkan hatinya. Nathan memberanikan dirinya memasuki tempat tersebut. Pertama kalinya Nathan menginjakkan kakinya pada club malam seperti ini. Terlihat banyak wanita berpakaian minim hingga Nathan menundukkan wajahnya menghindari menatap yang tak pantas. Nathan terus menyusuri tempat itu sesuai petunjuk resepsionis yang berjaga di depan.


Beberapa wanita yang melihat Nathan. Datang menghampiri dan menggoda Nathan. Nathan hanya bisa menolak dan berjalan dengan tubuh sedikit menempel pada tembok menghindari kontak fisik dengan wanita- wanita tersebut.


" Hai Nathan. Selamat bergabung." Sapa Jason pada Nathan yang baru saja muncul dengan wajah yang waspada.


Terlihat beberapa botol minuman anggur di samping kiri kanan Jason di apit perempuan berwajah cantik dan berpakaian minim. Sesekali mereka mencium pipi atau leher Jason.


" Bukankah anda sudah menikah tuan Jason?" Tanya Nathan sedikit jijik dengan pemandangan yang ada di depannya.


" Ya. Tetapi itu jika saya di rumah. Duduklah." Perintah Jason.


Nathan duduk pada sofa yang ada di sebelah Jason. Sofa merah yang berbentuk melingkar.


" Silahkan minum." Jason menuangkan segelas anggur pada gelas yang ada dihadapan Nathan.


" Maaf. Saya tidak minum minuman beralkohol." Tolak Nathan masih bersikap sopan.


" Kuno sekali ya." Ledek Jason pada Nathan.


Nathan hanya menanggapi dengan senyum tipis.


Jason membisikkan sesuatu pada wanita yang berbaju merah dengan belahan dada rendah. Wanita itu beralih mendekat pada Nathan dan merengkuh lengan Nathan. Nathan sedikit terkejut dan segera menarik lengannya kembali. Tetapi lagi- lagi Jason kembali berbisik pada wanita yang masih di sebelahnya dan wanita itu juga segera mendekati Nathan. Nathan menghindar karena Nathan mengira wanita itu ingin lewat. Tetapi wanita itu malah duduk di pangkuan Nathan.


Jason tertawa melihat Nathan yang terus menolak disentuh para wanita penghibur itu. Bahkan dengan berani mereka menciumi wajah Nathan.


" Tolong hentikan!" Bentak Nathan akhirnya. Merasa sangat terganggu dengan sentuhan intens mereka pada tubuh dan wajahnya.


Nathan berdiri dan menatap Jason yang seakan menikmati Nathan yang mungkin menurutnya sangat bodoh.


" Jika harus seperti ini syarat yang harus saya penuhi untuk proyek anda. Saya mundur!" Ujar Nathan tegas dan ingin keluar dari ruangan itu.


Tawa Jason langsung hilang mendengar ucapan Nathan yang tegas dan tidak main- main. Dia segera memerintahkan Mark menghalau Nathan yang ingin keluar. Dengan cepat. Mark menghalangi pintu agar Nathan tidak bisa keluar dari ruangannya.


Nathan menarik nafasnya panjang menahan emosi yang mulai meluap.


" Kita belum makan malam tuan Nathan." Ucap Mark masih berdiri di depan Pintu.


" Tidak perlu. Kerja sama kita batal, Mark." Sanggah Nathan menahan emosinya.


" Ayolah Pak Nathan. Bukankah hidup hanya sekali. Kenapa tidak kita nikmati dengan wanita- wanita cantik ini."


" Maaf Tuan Jason! Sepertinya pemikiran kita berbeda."


" Atau jangan- jangan anda tidak menyukai wanita?" Cibir Jason.


Nathan semakin tajam menatap Jason dengan mimik mencibirnya. " Saya tidak peduli dengan yang anda pikirkan." Ujar Nathan tetap bersikap tenang.


" Come on." Bujuk Jason lagi.


" Menyingkir Mark!" perintah Nathan pada Mark.


" Jangan biarkan dia keluar, Mark. Sebelum dia temani saya minum atau bersenang- senang dengan wanita wanita ini." Ujar Jason memperingatkan Mark.


Nathan yang kesal segera menarik tangan Mark . Namun ternyata Mark sudah memasang kuda- kudanya. Nathan segera tetap berusaha menyingkirkan tubuh Mark namun Mark cepat mengelak dan mempertahankan posisinya.

__ADS_1


" Lumpuhkan, Mark!" perintah Jason lagi.


Nathan yang kalah tinggi dan tenaga berusaha keras agar tidak kena serangan Mark yang cepat. Namun tetap kalah lincah dengan gerakan Nathan. Serangan Mark membuat kuda- kudanya tak sempurna dan Nathan mengambil kesempatan itu dan akhirnya Nathan bisa keluar dari ruangan itu.


__ADS_2