
Nathan menatap langit- langit kamar. Tangannya menjadi alas kepalanya. Matanya menerawang jauh. Keadaan yang tidak terlalu baik sedang berlangsung pada perusahaannya. Berkali- kali dia menghela nafas berat memikirkan bagaimana nasib keluarganya jika dia tidak bisa menyelamatkan usahanya dengan segera.
Senja menghampiri suaminya yang sedang kalut. Direbahkan kepalanya pada lengan suaminya dan tangannya mengelus lembut dada bidang suaminya.
" Apa ada masalah?" Tanya Senja lembut dan mengecup lembut pipi suaminya.
Nathan menghela nafas panjang. " Jika aku tidak bisa menyelamatkan perusahaanku. Bagaimana nasib kalian."
Senja semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Nathan. Hingga tak ada lagi jarak di antara mereka.
" Aku yakin. Kamu pasti bisa menyelesaikan masalah yang ada." Senja menyemangati.
" Tapi sayang. Kerugian bulan ini sangat besar. Belum lagi menutupi gaji para buruh yang beberapa minggu ini tidak dibayarkan." Nathan memijat pelipisnya. Sebuah kebiasaannya jika dia merasa pusing dengan masalahnya.
Senja kembali mengecup pipi Nathan dengan lembut. " Apapun keadaan kita nanti. Aku akan selalu ada di sampingmu."
Nathan tersenyum melihat istrinya yang selalu mendukungnya tanpa ragu. Dia mengecup kening Senja dengan mesra. " Aku beruntung bisa memiliki kamu." Ucap Nathan.
" Bagaimana kalau langkah pertama kita ajukan pinjaman pada bank." Usul Senja.
" Maaf sayang. Selama ini aku tidak mau meminjam pada bank." Nathan menolak halus usul istrinya.
" Kenapa? Bukankah setiap pengusaha selalu mempunyai hutang pada bank?"
Nathan tersenyum dan menarik hidung Senja dengan gemas. " Bank selalu mengenakan bunga pada setiap pinjamannya. Itu Riba sayang. Aku tidak mau memberikan kalian makan dengan uang Riba."
Senja kagum mendengar jawaban suaminya yang sangat bijak.
" Aku tidak mau kalian ikut menanggung apa yang aku lakukan jika aku memberikan kalian nafkah yang tidak halal." Ujar Nathan lagi.
Senja semakin merapatkan tubuhnya merasa bangga dengan suaminya yang juga memperhatikan halal haramnya nafkah yang dia berikan.
" Kalau begitu. Kita jual saja toko baju milikku juga rumahku." Senja memberikan usul lagi.
" Itu hartamu. Hak kamu. Aku tidak mau." Nathan kembali menolak. Biar aku jual mobilku. Sepertinya cukup untuk membayar gaji karyawan bulan ini. Dan semoga saja Hendra cepat mengembalikan uang perusahaan. Itu akan lebih dari cukup. Setidaknya kerugian sudah tertutupi. Gaji karyawan bisa dibayar."
Senja hanya mengangguk dan mulai mengerti dan tahu bahwa selama ini suaminya menjalankan usahanya tanpa pinjaman dari bank sedikitpun. Nathan selalu mencoba memutar uang yang masuk pada perusahaannya sebisa mungkin. Itulah kenapa dia belum berani mengambil proyek yang bernilai fantastis. Karena modal yang dia miliki belum memadai.
" Aku dengar kamu merambah ke pertambangan. Apa itu betul?"
__ADS_1
" Iya. Tetapi untuk tahun pertama aku tidak mengharapkan untung. Biarlah mereka berjalan. Jika semua telah berjalan. Aku yakin akan bisa membesarkan perusahaanku ini."
" Aamiin." Senja mengaminkan. Mendukung setiap langkah yang diambil suaminya.
" Tidurlah. Kasihan anak kita jika kamu begadang." Nathan mengecup lembut kening Senja.
" Kamu mau kemana?" Tanya Senja pada Nathan yang berjalan keluar dari kamarnya.
" Aku mau menelepon seseorang. Aku tidak macam- macam. Percayalah." Ujar Nathan menjelaskan. Senja tersenyum dan mengangguk.
Senja yang penasaran. Perlahan keluar kamar dan mencari sosok suaminya. Tidak terlihat Nathan di ruang makan ataupun ruang tamu. Senja berjalan mengindik- indik menuju halaman samping dekat kolam renang. Tempat favorit Nathan. Benar saja ada Nathan di sana. Namun, dirinya telah selesai bicara dan sedang menuju ke dalam rumah. Senja yang gelagapan dibuat bingung untuk bersembunyi. Baru saja dia akan berlari menuju dapur. Nathan sudah membuka pintu dan melihat heran tingkah istrinya yang kelimpungan.
" Ada apa sayang?" Tanya Nathan sambil menahan tawanya.
Senja balik badan menatap suaminya dengan senyum canggung. " Aku haus." Ujar Senja beralasan.
Dengan sigap Nathan langsung berjalan cepat menuju dapur dan menuangkan segelas air mineral untuk Senja. " Minumlah." Ujar Nathan dan terus memperhatikan istrinya dengan senyum yang terus merekah.
Senja dengan cepat mengambil air itu dan meneguknya sampai habis tak bersisa. " Terima kasih." Ujar Senja dan segera mendahului suaminya menuju kamar mereka.
Nathan menyusul istrinya ke kamar. Dilihatnya istrinya tidur memunggungi tempat tidurnya. Nathan perlahan menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang. Diciuminya tengkuk leher istrinya lembut. Senja yang memang belum tertidur sedikit bergidik karena geli.
" Kamu cemburu?" Tanya Nathan.
" Kamu cemburu sayang." Goda Nathan lagi dan menarik tubuh Senja hingga berada dalam pelukannya.
" Aku gerah." Senja sedikit meronta.
" Biarkan seperti ini. Aku butuh ketenangan." Nathan mempertahankan posisi Senja.
" Aku gerah Nathan."
" Baiklah. Besok aku cari ketenangan diluar sana." Ucap Nathan pura- pura merajuk pada istrinya dan melepaskan dekapannya lalu berbalik badan memunggungi Senja.
Senja langsung panik mendengar ucapan Nathan hingga menarik kembali tubuh Nathan. " Jangan berkata begitu, Nathan." Senja merajuk sambil terus berusaha membalikkan tubuh Nathan.
Nathan tetap diam tak bergeming.
" Ayolah. Jangan begitu. Mendengar kamu telepon dan menjauh dariku saja membuatku tak nyaman. Bagaimana jika sampai kamu bermesraan dengan yang lain." Ucap Senja dengan nada lirih. Entah kenapa. Selama hamil. Perasaannya menjadi lebih sensitif.
__ADS_1
Mendengar suara lirih dari istrinya. Nathan segera berbalik badan dan menatap wajah istrinya. Matanya telah basah karena air mata. Nathan langsung menyeka air mata yang membasahi pipi Senja. Di kecupnya lembut kedua pipi dan mata Senja. " Hanya kamu yang ada di hati ini Senja." Ucap Nathan dan memeluk mesra Senja.
Senja tersenyum melihat kelembutan dari suaminya. Tak pernah sekalipun Nathan membentaknya. Nathan selalu sangat memperlakukannya dengan lembut dan mesra. Senja membalas pelukan suaminya hingga keduanya terpejam dan merajut mimpi.
*****
" Apa kabar?" Nathan menyambut kedatangan Reza yang memang sudah lama mereka tidak bertemu.
" Baik" Reza menjabat tangan Nathan.
" Bagaimana dengan proyek kita? Apakah ada kendala?" Tanya Nathan.
" Tidak ada. Tetapi Pak Hendra sepertinya ingin sedikit bermain dengan dana perusahaanmu." Reza memulai pembicaraan serius.
" Maksudmu?"
" Ya. Beberapa kali dia meminta aku membuatkan bon kosong dalam laporan ini. Tetapi aku menolak." Ujar Reza.
" Terima kasih sudah membantuku." Nathan segera memeriksa laporan yang diberikan Reza. " Aku sudah memecatnya kemarin."
" Baguslah. Bagaimana kabarmu? Maaf selama kamu di rumah sakit aku tidak menjenguk."
" Tidak masalah. Aku tau kamu pasti juga sibuk mengurus pernikahanmu." Ujar Nathan dan mengeluarkan cek dan menuliskan nominal untuk dicairkan pada Reza.
" Ini undangan untuk kalian. Aku pasti akan sangat senang jika kalian bisa hadir." Reza memberikan sebuah undangan pernikahannya.
" Aku pasti datang." Nathan juga memberikan cek yang telah dia bubuhkan tanda tangan.
" Sebentar lagi gedung itu siap dihuni. Tinggal finishing saja."
" Syukurlah. Sejujurnya saja. Saat ini usahaku juga sedang tidak bagus. Karena sebulan aku tidak ke kantor dan selama itu pula ada yang menggerogoti keuangan perusahaan. Saham yang anjlok." Nathan menghela nafasnya.
" Aku bisa memberikan pinjaman."
" Kamu akan menikah. Sudah pasti akan membutuhkan banyak uang. Insyaa allah aku masih bisa mengatasinya."
" Itulah sebabnya Senja sulit berpaling darimu, Nath." Puji Reza disertai gelak tawanya dan Nathan.
" Baiklah aku harus kembali ke proyek. Mungkin minggu depan aku ambil cuti beberapa hari."
__ADS_1
" Silahkan."
Nathan dan Reza saling berjabat tangan dan Reza pun berpamitan.