Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
43


__ADS_3

Nathan menarik nafas panjang. Baru kali ini dia telat menemui klien. Hampir saja dia kehilangan kontrak besar karena kelalaiannya.


" Bapak gak apa- apa?" Tanya Silvi yang melihat Nathan menghembuskan nafas panjang dan menjatuhkan dirinya di sofa setelah kepergian klien mereka.


" Syukurlah kita masih dapat tender itu." Ujar Nathan lega.


" Iya Pak. Sekarang setiap kontrak yang ada. Akan sangat berpengaruh baik terhadap perusahaan, Pak."


" Iya kamu benar. Selama beberapa minggu aku tinggalkan perusahaan. Membuat nama perusahaan kita memburuk." Keluh Nathan.


" Iya. Hilangnya bapak membuat saya bingung. Karena terkadang ada orang berpakaian serba hitam memantau kantor kita."


" Iya." Nathan memijat pelan pelipisnya.


" Bapak udah sarapan?" Tanya Silvi yang sudah sangat hapal dengan riwayat bosnya itu. Nathan menggeleng.


" Saya punya roti lapis. Akan saya ambilkan jika bapak mau." Tawar Silvi pada Nathan yang masih bersandar.


" Iya. Untuk mengganjal perutku yang lapar." Ujar Nathan dengan mata masih tertutup karena sakit kepala yang selalu menderanya jika dia telat sarapan.


Silvi keluar dari ruangan Nathan dan mengambil kotak bekalnya. Baru saja Silvi akan masuk ke ruangan Nathan. Di dahului Nathan yang keluar dari ruangan itu dengan terburu- buru menuju toilet.


Silvi hanya menggelengkan kepalanya yang sudah bisa menebak. Pasti saat ini Nathan sedang muntah. Silvi kembali membuka laci meja kerjanya dan mengambil obat mag dari sana.


" Minum ini dulu, Pak sebelum makan." Ujar Silvi saat melihat Nathan masuk dengan wajah pucat. Nathan duduk lemah di kursinya dan menerima obat yang diberikan Silvi.


" Jaga kesehatan Bapak." Nasihat Silvi yang melihat Nathan masih memegang perutnya.


" Iya." Nathan hanya patuh.


" Saya harus kembali bekerja. Jika ada apa- apa hubungi saya saja." Ujar Silvi dan lagi- lagi. Dirinya selalu didahului saat membuka pintu ruangan Nathan. Kali ini terlihat Nabila menerobos masuk begitu saja. Silvi hanya menggelengkan kepalanya dan tetap keluar dari ruangan Nathan.


" Kenapa kamu pucat begitu?" Tanya Nabila yang melihat Nathan lesu memegang perut dengan wajah pucat dan peluh membasahi dahinya.


" Mag ku kumat." Jawab Nathan lemah menahan sakit di perutnya.


" Kita ke dokter." Nabila mendadak panik.


" Gak perlu. Aku sudah minum obat. Sebentar lagi akan membaik." Tolak Nathan.


" Aku temani." Nabila duduk di kursi yang ada di meja kerja Nathan.

__ADS_1


Perlahan keadaan Nathan berangsur membaik. Reaksi obat yang diberikan Silvi mulai terasa.


" Jangan telat makan kalo punya mag."


" Iya."


" Nathan!" Panggil Reza dengan suara yang tegas. Tiba- tiba saja masuk ke dalam ruangan Nathan.


Serentak Nabila dan Nathan menoleh ke arah Reza. " Ada perlu apa?" Tanya Nathan tenang.


" Kenapa kamu mengacuhkan Gio?!" Tanya Reza namun lebih terdengar seperti bentakan dan mencengkram kerah baju Nathan.


" Hei!" Nabila berusaha melerai namun isyarat tangan Nathan tak membiarkan dia ikut campur.


Nathan masih tetap tenang walaupun di tatap tajam oleh Reza. " Bisa kamu lepaskan aku? Aku masih lemas." Ujar Nathan santai. Sikap tenangnya membuat suasana menjadi dingin kembali.


Reza melepaskan cengkraman tangannya pada kerah Nathan. " Duduklah. Kita bicarakan baik- baik."


" Aku tidak tega melihat Gio menjadi lebih pemurung sekarang Nath."


" Aku tidak mau lagi mengusik hidup Gio dan Senja. Aku tahu kamu lelaki yang terbaik untuk mereka."


Reza mendenguskan nafasnya kasar. " Kamu tidak akan tergantikan dalam hidup mereka."


" Menikah dengan Senja." Jawab Reza lantang. Membuat Nabila yang sejak tadi menjadi pendengar terkejut.


Nathan hanya diam dan seperti berpikir. " Aku tidak akan mengambil Senja darimu."


" Aku menyerahkan Senja padamu."


" Dia bukan barang, Za!" Nathan menggebrak mejanya keras. Kesal dengan kalimat Reza seolah menganggap Senja hanyalah sebuah barang.


" Tidak ada yang lebih pantas. Selain kamu Nath." Ucap Reza dan pergi meninggalkan ruangan Nathan.


" Argh!" Nathan terlihat sangat kesal.


Nabila perlahan menghampiri Nathan. " Jika kalian tidak ada yang mau menurunkan ego. Sampai kapanpun kalian tidak akan bisa bersama." Ujar Nabila.


Nathan menatapnya lekat. " Seperti yang kamu tahu. Aku dan Reza mencintai tapi tanpa dicintai. Jika aku dan Reza ingin. Kita bisa membuat kalian menikahi kami. Tapi kami sadar. Jika hati kalian tidak akan terpisahkan. Aku memang belum maju untuk mendapatkanmu, Nath. Tapi Reza sudah mundur untuk menyerahkan yang berharga kepadamu padahal selangkah lagi dia akan meraihnya. Pikirkan baik- baik, Nath." Nasihat Nabila dan Nathan hanya terdiam mendengarkan.


Nathan berdiri merenung menatap kaca jendela yang menyajikan pemandangan kota. Dia memikirkan semua ucapan Nabila juga Reza.

__ADS_1


" Senja." Sapa Nathan ketika sambungan telepon mereka terhubung.


" Iya. Ada apa?"


" Apakah Gio baik- baik saja?" Tanya Nathan yang memang sedikit mencemaskan Gio.


" Iya. Dan terima kasih. Kamu berhasil membuatnya menjadi pemurung." Ucap Senja terdengar lirih.


" Maafkan aku. Aku tidak..."


" Kamu tidak salah. Itu semua adalah keinginanku."


" Aku akan bertemu dengan Gio dan meminta maaf padanya." Ucap Nathan.


" Tidak perlu. Dia akan terbiasa tanpamu."


" Tapi.."


Tut Tut Tut...


Senja menutup sambungan teleponnya. Nathan menarik nafas dalam. Ego Senja masih terlalu tinggi. Jika dia mengejar kembali cinta Senja. Dia akan semakin mengeraskan hatinya. Nathan berpikir sejenak dan...


" Silvi. Tolong cancel semua jadwal saya untuk hari ini." Ucap Nathan dan bergegas keluar.


Silvi yang melihat hal itu hanya menatapnya bingung. " Punya bos ganteng tapi kisah asmaranya gak kelar- kelar." Gerutu Silvi.


" Kemana lagi si bos?"


" Urusan pribadi." Jawab Silvi singkat.


" Kalo urusannya ama mba Senja. Yaudah pupus sudah harapan kitaaa..." Ujar seorang karyawati dengan nada seperti orang yang sedang bernyanyi.


" Bos kita itu kelewat ganteng makanya cewe yang akan jadi pendampingnya. Banyak saingannya." Sahut karyawati yang lain.


" Eh.. Inget suami di rumah." Lerai seorang karyawan lain.


" Suami kan di rumah. Kalo diluar rumah boleh lah kita cuci mata."


" Bos sendiri dibuat bahan cuci mata." Sambung yang lain. Seketika suasana kantor riuh.


" Hus.. Nanti kalo Pak Nathan tiba- tiba balik lagi. Habis kita." Lerai Silvi mengingatkan.

__ADS_1


Tetapi dia menyetujui apa yang teman- temannya bilang. Untuk mendapatkan Nathan berarti harus siap menghadapi banyaknya pesaing. Entah kenapa tuhan menciptakan seorang Nathan begitu sempurna. Tubuh tinggi, Kulit bersih, Wajah tampan, Sikap yang santun dan hati yang lembut.


__ADS_2