Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
22


__ADS_3

Nathan menghentikan laju mobilnya di depan rumah Senja. Sepanjang perjalanan mereka lalui tanpa obrolan. Hanya obrolan singkat saja yang diciptakan Gio sebelum bocah itu tertidur pulas.


Dengan sigap Nathan menggendong lembut tubuh Gio memindahkannya menuju kamarnya.


" Aku langsung pulang ya." Nathan segera pamit.


Senja hanya diam tak menjawab. Sikap Nathan berubah seolah ingin menghindarinya. " Nathan."


" Ada apa?" Nathan menoleh ketika selangkah lagi kakinya akan melangkah keluar.


" Apa kamu akan meninggalkan aku?" Tanya Senja yang sejak tadi risau dengan ucapan Nathan.


Nathan tak menjawab. Namun dia melangkahkan kakinya mendekati Senja. Dia mengecup lembut kening Senja.


" Aku mencintaimu, Senja." Ungkap Nathan dengan suara lembut.


Senja memeluk erat tubuh Nathan. Nathan hanya mengelus lembut punggung Senja. Tak rela rasanya jika dia harus melepas wanita ini lagi.


" Jangan tinggalkan aku Nathan. Karena jika itu terjadi. Bukan hanya aku yang hancur. Tapi juga Gio." Ujar Senja masih dalam dekapan hangat Nathan.


" Iya, aku tahu itu."


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu menyadarkan mereka yang larut dalam kegalauan mereka masing- masing. Senja segera menghampiri pintu yang sedikit terbuka sejak tadi.


" Lho, Za. Ada apa malam- malam kesini?" Tanya Senja sedikit terkejut dengan kehadiran Reza yang tiba- tiba.


" Kebetulan lewat. Aku lihat ada mobil di depan rumah kamu. Ada tamu?" Tanya Reza sembari melongok sedikit ke arah dalam rumah.


" Emmm.. Ya." Jawab Senja gugup.


" Bolehkah aku bertemu?" Tanya Reza yang penasaran dengan suara pria yang tadi dia dengar.


" Tidak perlu." Cegah Senja gugup. Sesekali dia melirik ke arah Nathan dengan gugup. Nathan yang melihat hal itu sedikit bingung dengan sikap Senja.


" Kenapa?" Reza semakin penasaran dan memaksa masuk.


Senja hanya terdiam ketika tubuhnya di geser Reza dan dia berhasil masuk ke rumahnya dan melihat Nathan masih berdiri manis menatap Senja dengan tatapan bingung.


" Pak Nathan." Reza sedikit tersentak kaget. Ternyata pria yang ada di dalam adalah Nathan. Terlihat ada kedekatan antara keduanya.


" Ada perlu apa Pak Reza di rumah Senja?" Tanya Nathan datar.


" Saya kebetulan lewat dan bapak tau kan kalau Senja calon istri saya."

__ADS_1


" Oh begitu." Sekilas mata Nathan melirik Senja yang terdiam mendengar ucapan Reza.


" Baiklah. Aku hanya mengantar Senja." Ujar Nathan dan pamit pulang.


" Mengantar sampai masuk ke rumah." Sindir Reza tak suka.


" Gio tertidur. Saya cuma menggendongnya ke kamar."


" Apa bapak yakin?" Selidik Reza.


" Jika kejadian selanjutnya kamu bisa tanya Senja. Aku harus pulang." Ujar Nathan dan melangkah keluar dengan mata masih melirik tajam ke arah Senja yang bersikap menutupi hubungan mereka di depan Reza.


" Nathan." Panggil Senja lagi dan menghampiri Nathan yang sudah akan memasuki mobilnya.


Nathan hanya diam menatapnya.


" Aku..."


" Lanjutkan Senja. Mungkin kita bersama hanyalah angan." Ujar Nathan datar dan masuk ke mobilnya.


" Tunggu, Nath. Biar nanti aku menjelaskan ke Reza." Senja mencoba membujuk Nathan.


" Tidak perlu. Aku sudah tahu jawabannya." Nathan sudah sangat malas mendengar penjelasan Senja. Entah apa maksud wanita itu mencoba menyembunyikan semuanya dari Reza. Bukankah dia yang bilang jika mereka tidak ada hubungan apapun. Kini seketika Nathan merasa menjadi lelaki simpanan Senja.


Senja berjalan lemah memasuki rumahnya di ambang pintu berdiri Reza menatapnya tajam. Apa yang harus dia jelaskan pada Reza. Senja mengakui jika ini semua salahnya. Baru saja kemarin dia ingin memberikan kesempatan pada Reza untuk memulai. Tetapi dia malah memulai suatu hubungan dengan Nathan. Senja merasa bersalah pada dua lelaki itu. Terutama pada Nathan. Dia sangat takut dibenci lelaki itu. Lelaki yang selalu mengisi hatinya.


" Pulanglah, Za. Aku lelah." Senja tak mau menjawab.


" Jawab Senja!" Desak Reza tegas.


" Aku tidak mau membahas ini. Jadi pulanglah. Kamu bisa jemput aku besok." Ucap Senja dengan wajah masih tertunduk. Tak sanggup rasanya menatap wajah Reza yang kesal.


" Jangan permainkan aku, Senja."


" Aku tidak mempermainkan siapapun!" Bentak Senja akhirnya dan wajahnya terangkat menatap Reza tak suka. " Jika kamu merasa di permainkan. Tak perlu lagi kamu jemput aku. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini." Senja melunak. Awalnya ingin rasanya dia memaki Reza. Tapi dia sadar. Ini semua karena kesalahannya sendiri.


Senja menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Kejadian tadi masih terngiang di kepalanya. Awalnya dia memang berniat memberikan kesempatan pada Reza karena tidak ada sikap dari Nathan. Ketika dia mendapatkan suatu kepastian dari Nathan. Senja lupa jika ada hati yang akan dilukainya.


*****


Nathan menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerjanya. Rasanya malas sekali memulai hari ini. Paginya selalu saja di hiasi dengan klakson kendaraan yang tidak sabar menembus kemacetan.


" Selamat pagi sahabatku."Sapa Randy ketika memasuki ruangan Nathan. Tanpa dipersilakan. Randy duduk di kursi yang ada di depan meja Nathan.


" Ada apaan?" Tanya Nathan malas sambil memijit pelipisnya.

__ADS_1


" Kenapa lu?"


" Pusing dikit." Jawab Nathan singkat dan membuka laptopnya.


" Nath."


" Hem.." Nathan tanpa menoleh ke arah sahabatnya.


" Nanti sore temenin gue ya."


" Kemana?" Tanyanya tanpa menoleh ke arah Randy.


Randy menarik nafas dalam. " Begini. Ini calon klien gue, Nath. Ya kali aja bisa nutupin yang dua puluh persen kalo lu jadi inves yang tiga puluh persen."


Sejenak Nathan mendengarkan dan menatap wajah sahabatnya mencari kebenaran dalam ucapannya. " Serius?" Tanya Nathan tidak percaya.


" Iya. Jadi oke ya." Ucap Randy senang.


" Iya."


" Thanks Nath." Ujarnya senang. Ingin rasanya dia memaki dirinya sendiri yang memperdaya sahabat yang begitu baik padanya. Semua dia lakukan demi keutuhan rumah tangganya.


Sebelumnya.


Rena meletakkan ponselnya kembali di atas nakas. Helaan nafas panjang dan kasar terdengar darinya membuat Randy penasaran apa yang membuat istrinya gusar.


" Kenapa kamu?"Tanya Randy membalikkan badannya.


" Sintia memintaku untuk mencarikan waktu dan tempat untuknya berkencan.


" Lakukan." Randy masih cuek karena permasalahannya masih dengan Sintia.


" Masalahnya dia ingin berkencan dengan Nathan." Ujar Rena lagi dengan wajah bingung.


" Itu urusanmu dengannya. Jangan libatkan aku lagi!" Tolak Randy seakan tahu maksud istrinya.


" Sintia mengancam. Kamu tahukan dia bisa lakukan apa saja dengan keluarga kita."


" Salah kamu berurusan dengannya. Sejak kamu kenal dia. Aku sudah tidak suka." Randy masih mendebat istrinya.


" Tolonglah untuk kali ini saja." Pinta Rena memelas.


Randy berpikir sejenak. Tak tega rasanya melihat wanita itu kecewa padanya. Randy tak kuasa menolak lagi dengan perjanjian itu adalah yang terakhir.


" Ngapain bengong?" Nathan mengibaskan tangannya di depan wajah Randy.

__ADS_1


" Oh.. Engga." Jawab Randy gugup. " Gue cabut ya. Nanti sore gue jemput. Oke."


" Iya." Nathan melanjutkan pekerjaannya.


__ADS_2