
Nathan masih diam melihat Randy yang sejak tadi hanya diam memperhatikan rumput yang bergoyang. Nathan menyeruput capuccino yang telah dihidangkan Bi Sumi. Berkali- kali Randy menarik nafas dan tampak gusar.
" Kalo mau diem aja. Gue tinggal dulu ya." Ujar Nathan mulai bosan melihat tingkah sahabatnya yang hanya diam n menarik nafas dalam.
" Gue bingung, Nath." Ucap Randy memulai kalimatnya. " Masa iya kemarin gue bilang sayang ke Nabila." Ucap Randy sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Nathan hanya tersenyum menanggapi. Sahabat yang dia kenal sejak zaman sekolah akhirnya bisa dengan mudahnya bilang sayang pada wanita. Nathan kembali mengambil sepotong kue bolu dan langsung memakannya.
" Malah makan." Protes Randy melihat tingkah Natha. yang terlihat cuek.
" Terus mau apa dong. Baguslah kalo lu bilang sayang sama Nabila. Kalian cocok kok." Nathan menanggapi santai.
Randy berdecak. " Yaa gak begitu juga. Masa iya gue suka ama Nabila." Randy kembali menggaruk kepalanya. Merasa serba salah.
" Gak ada masalah. Kalian sama- sama single."
" Tapi, Nath."
" Nabila masih punya rasa sama gue?" Seloroh Nathan. Randy mengangguk. " Tugas lu buat dia berpaling dari gue." Ujar Nathan santai dan kembali menyeruput capuccinonya yang tinggal setengah.
" Kalo saingannya bom- bom. Masih enteng." Ujar Randy mengingat teman saat SMA mereka yang berbadan gempal. " Lah ini saingannya elu. Berat cuy." Gerutu Randy.
" Elo pasti bisa." Nathan menyemangati dan menyeruput capuccino milik Randy karena miliknya sudah habis tak bersisa.
" Punya gue, Nath." Randy mengingatkan ketika Nathan asik menyeruput capuccinonya.
" Dikit." Ujar Nathan dan meletakkan kembali gelas Randy.
" Dikit. Tapi tinggal setengah." Gerutu Randy yang melihat isi cangkirnya tersisa setengahnya. Padahal dia belum meminumnya sedikitpun. Kebiasaan Nathan sejak dulu tidak pernah berubah.
" Ryan gak diajak?"
" Lagi main ama Pak Danny. Pak Danny sangat memanjakan Ryan. Gue jadi gak enak. Mau pindah. Gak dibolehin sama dia." Ujar Randy.
Nathan kembali tersenyum. " Udah ada lampu hijau tuh dari kakeknya." Ledek Nathan kembali menggoda Randy.
Randy melemparkan remah kue pada Nathan.
******
Bu Fitri tampak tengah bersungut saat merapikan meja makan membantu Bi Sumi. Senja hanya tersenyum melihat mimik wajah tak suka sang mertua. Perlahan Senja menghampiri Bu Fitri dan ikut memindahkan kue- kue yang ada di piring ke dalam box.
" Ibu kenapa? Senja lihat sejak tadi menggerutu tidak seperti biasanya."
" Ibu- ibu itu Senja. Kelihatan sekali mereka mau mencari perhatian Nathan. Apa mereka tidak malu dengan ibu dan istri Nathan." Bu Fitri kini duduk di meja makan.
__ADS_1
Senja tersenyum dan ikut duduk di kursi samping mertuanya. " Biarkan saja, Bu." Senja masih tersenyum.
Nathan yang melihat wajah cemberut ibunya ikut duduk bergabung dengan mereka disusul Randy.
" Ibu kenapa?"
" Kamu jangan tebar pesona lagi, Nath." Omel Bu Fitri pada Nathan dan meninggalkan meja makan.
Nathan terdiam dan hanya menunjuk dirinya sendiri sambil melihat Senja heran. Tak biasanya ibunya berkata ketus seperti itu.
" Ibu tidak suka dengan mama temannya Gio. Caper sama kamu." Senja menjelaskan.
" Nah.. Ada lagi korban lu, Nath." Sahut Randy dengan nada mengejek.
Nathan hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
*****
Pak Danny terus saja melihat cucunya yang sedang berlatih bela diri dengan penuh emosi dengan senyum tipis. Dia yang sudah sangat hafal dengan tingkah cucunya tahu jika saat ini ada yang mengganggu pikirannya.
Anak buahnya yang menemani Nabila latihan sampai menyerah karena kelelahan.
" Maju yang lain!" Perintah Nabila tegas. Peluh sudah membasahi seluruh tubuhnya. Seorang anak buah bertubuh cungkring di dorong temannya untuk maju. Pemuda itu baru beberapa minggu bergabung bersama mereka.
" Ahh! Payah kalian." Omel Nabila kesal dan meninggalkan tempatnya bertanding tadi menuju meja yang ada sudut ruangan untuk melegakan tenggorokannya.
" Belum puas juga memukuli anak buah kakek?" Sindir Pak Danny yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.
" Mereka payah. Sepertinya kakek harus melatih mereka lebih keras." Sahut Nabila dengan wajah masam.
Pak Danny tersenyum tipis. " Harus Nathan atau Randy yang menemanimu latihan?"
' Uhuk.. Uhuk. Uhuk..'
Nabila tersedak mendengar dua nama itu terlontar begitu saja dari mulut Pak Danny. Nabila menepuk- nepuk dadanya untuk meredakan sesak.
" Apa maksud kakek?" Tanya Nabila tak suka.
" Siapa yang mengusik hatimu kali ini?"
Nabila hanya melirik sekilas kakeknya dan kembali menuju tempatnya latihan. Anak buah pak Danny yang bertubuh kekar itu telah siap menyambut Nabila.
Tiga puluh menit kemudian...
Nathan dan Randy telah sampai dikediaman Nabila setelah diminta untuk datang oleh Pak Danny. Randy dan Nathan mencium punggung tangan pria tua itu dan duduk di sebelah Pak Danny yang memang duduk di lantai. Karena ruangan itu memang di khususkan untuk latihan bela diri anak buahnya.
__ADS_1
" Ada apa kakek minta aku membawa Nathan juga kesini?" Tanya Randy.
Pak Danny tak menjawab. " Nabila." Panggil Pak Danny pada cucunya yang masih melakukan manuver pada anak buah bertubuh kekar itu. Nabila menoleh sekilas dan..
' Buk'
Nabila ambruk karena kehilangan konsentrasi melihat kedua pria yang ada dipikirannya ada dihadapannya.
" Aku belum siap. Kenapa kamu pukul?!" Bentak Nabila kesal dan segera bangkit lalu meninggalkan pria itu.
" Ada apa kek?"
" Lawan mereka." Ujar Pak Danny.
Nabila menoleh ke arah Nathan dan Randy yang langsung beradu pandang menelan salivanya kasar. Nabila memang seorang wanita. Tetapi dalam hal bela diri. Mereka kalah jauh darinya. Tidak yakin bisa mengalahkan gadis itu.
" Ayo." Jawab Nabila menunjuk ke arah Randy terlebih dahulu.
" Kek. Aku gak bisa berantem." Ujar Randy.
Pak Danny tak menjawab hanya mengisyaratkan untuk maju. Dengan ragu. Randy maju dan tidak tidak sampai lima menit. Randy berhasil dikalahkan Nabila dengan mudah.
" Jika bela diri sendiri aja lo gak bisa. Bagaiman lo mau membela gue?" Sindir Nabila di telinga Randy.
Randy segera bangun dan melirik Nabila tak suka.
" Ganti!" Perintah Nabila dan menatap Nathan yang dengan wajah tenangnya maju menghampiri Nabila.
" Apa kamu tidak ingin istirahat dulu?"
" Tidak perlu!" Jawab Nabila ketus dan telah siap dengan kuda- kudanya.
" Kita taruhan." Tantang Nathan.
" Taruhan apa?"
" Terserah kamu mau apa."
" Jika aku menang. Kamu harus ikuti mauku." Ucap Nabila tegas. Matanya menatap tajam dengan nafas masih sedikit tersengal.
" Jika kamu kalah?"
" Aku ikuti maumu." Jawab Nabila.
" Deal." Nathan dan Nabila saling menjabat tangan tanda menyetujui kesepakatan.
__ADS_1