Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
38


__ADS_3

Nabila diam- diam menatap wajah Nathan yang sedang tertidur pulas. Wajah yang polos dan seolah tanpa cela. Luka memar di wajahnya tak mengurangi ketampanannya. Alis yang tebal. Hidung yang mancung dan bibir tipis berwarna pink cerah. Membuat siapa saja yang memandang tidak bosan. Semakin dipandang semakin ingin melihatnya lebih dekat.


Tanpa sadar, tangan Nabila membelai lembut pipi mulus itu. " Entah bagaimana Tuhan menciptakanmu begitu indah." Gumam Nabila mengagumi ketampanan Nathan.


Nathan sedikit menggeliat seolah merasakan sentuhan pada wajahnya. Nabila seketika menjauh dan merasa malu pada dirinya sendiri. " Bodoh banget!" Nabila mengutuk dirinya dan memukul keningnya dengan telapak tangan.


Nabila mengambil majalah yang tergeletak di atas meja dan berpura- pura sibuk membaca ketika melihat Nathan perlahan membuka matanya.


" Kapan kamu datang?" Tanya Nathan yang langsung menyadari kehadiran Nabila.


" Sekitar sepuluh menit lalu. Aku lihat kamu tidur sangat nyenyak." Ujar Nabila dan melihat Nathan masih sibuk menggeliatkan badannya.


" Hari ini aku sudah boleh pulangkan?"


" Yap." Jawab Nabila singkat dan kini duduk di kursi samping ranjang Nathan.


" Syukurlah. Aku akan langsung pulang ke rumahku."


" Oke. Nanti aku antar. Aku juga sudah menyuruh anak buahku untuk menjemput ibumu."


Mendengar hal itu senyum Nathan mengembang. Sosok yang sangat dia rindukan. Akhirnya akan segera ia temui dan menarik Nabila ke dalam pelukannya. " Terima kasih."Bisik Nathan.


Nabila terdiam karena kaget dirinya tiba- tiba dipeluk Nathan seperti ini. Jantungnya berdegup cepat. Seketika wajahnya merah merona. Pelukan singkat namun sangat berkesan untuk Nabila.


" Hei. Kok diam?" Nathan mengibaskan tangannya di depan wajah Nabila dan menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


" Kalo mau peluk. Bilang- bilang lah!" Protes Nabila asal yang merasa malu karena dia sampai tertegun. Nathan tertawa melihat ekspresi lucu Nabila.


" Aku akan merapikan barang- barangmu." Ujar Nabila mengalihkan pembicaraan dan segera mengambil tas besar dan memasukkan baju serta barang yang lain milik Nathan.


" Aku mandi dulu. Biar wangi." Ujar Nathan asal dan mengambil handuk serta baju ganti yang sudah disiapkan Nabila.


Setelah Nathan masuk ke dalam kamar mandi. Nabila meloncat kegirangan karena di peluk Nathan. Entah kenapa hatinya bisa segembira ini hanya mendapatkan pelukan singkat seperti itu. Walaupun dia tahu pelukan itu tak ada artinya untuk Nathan.

__ADS_1


" Ada kabar dari Senja?" Tanya Nathan sambil menggosok rambutnya yang basah.


Aroma maskulin semerbak keluar dari tubuh pria itu. Dalam diam Nabila menikmati aroma itu dan pikirannya kembali berkhayal jika mereka menjadi pasangan suami istri.


" Belum." Nabila tetap berusaha fokus agar dirinya tidak mabuk kepayang.


" Apa ini benar-benar selesai?!" Gumam Nathan dan terduduk lesu di tepi ranjang.


" Mungkin Senja butuh waktu lebih banyak." Hibur Nabila.


" Udah dua hari dia ngilang tanpa kabar."


" Sabar."


Nathan menarik nafas dalam dan berusaha menenangkan dirinya. Biar bagaimanapun dia harus siap dengan apapun yang akan terjadi.


*****


Nathan sangat membuat hatinya hancur. Tidak pernah terlintas di benaknya jika Nathan akan melakukan hal itu dengan wanita yang belum menikah dengannya. Moral Nathan sudah sangat cacat bagi Senja. Sudah tidak ada yang perlu dia perjuangkan lagi. Semua sudah selesai.


" Aku senang akhirnya kamu kembali setelah beberapa hari kamu menghilang tanpa kabar apapun." Ungkap Reza sambil merangkul mesra Senja.


Senja hanya tersenyum.


" Kapan kamu siap untuk aku lamar?"


Senja menarik nafas panjang dan sejenak berpikir. " Kapan pun kamu mau. Aku siap." Jawab Senja dan membesarkan hatinya. Dia harus siap untuk benar- benar melepaskan Nathan.


" Aku tidak akan memaksamu kali ini. Aku tahu kamu belum siap." Ucap Reza dan kembali menghampiri Gio yang asik melempar bola basket ke dalam ring.


Seketika bulir bening jatuh begitu saja dari pelupuk matanya. Reza adalah lelaki yang sangat baik. Cintanya sangat tulus. Namun entah kenapa hatinya belum bisa menerimanya.


" Aku seneng banget main sama Om Reza." Ujar Gio mengungkapkan rasa senangnya saat mereka sedang menunggu pesanan makanan mereka. Reza mengacak lembut pucuk rambut Gio gemas.

__ADS_1


" Kalo Om Reza jadi papa Gio, Mau?" Tanya Senja lembut pada putranya.


Seketika Gio terdiam dengan wajah bingung. " Emangnya Papa Nathan kemana?" Tanya Gio dengan wajah polosnya.


" Papa Nathan ada. Tapi Papa Nathan gak bisa jadi suami mama."


" Jadi Gio punya papa dua?" Gio masih mencoba mencerna kalimat Senja. Senja mengangguk. " Gio mau sama Papa Nathan." Ucap Gio sedih dan tertunduk.


" Gio gak akan kehilangan Papa Nathan. Om Reza janji sama Gio." Hibur Reza yang tak tega melihat raut wajah sedih.


" Nah makanan kita datang. Ayo kita makan." Seru Reza senang dan berhasil mengalihkan perhatian Gio.


Kedekatan Gio dengan Nathan memang sangat erat. Sulit untuknya menerima orang baru.


" Maafin Gio, Za. Aku akan coba membujuknya terus." Ujar Senja saat mereka tiba di rumah Senja. Gio yang lelah terlelap dalam gendongan Reza.


" Jangan buru- buru Senja. Aku sangat tahu bagaimana posisi Nathan dalam hidup kalian. Walaupun dia bukan ayah kandung Gio. Tetapi Nathan sangat memperlakukan Gio dengan baik." Ujar Reza bersikap santai. Dia tidak ingin hubungannya dengan Senja kembali renggang jika dia harus memaksakan keinginannya. Walaupun dia sangat ingin bersama Senja secepatnya.


" Kemana Nathan? Semenjak penculikan kamu. Aku sama sekali tidak melihatnya."


" Jangan bahas dia." Tolak Senja merasa tidak nyaman jika harus mengungkit Nathan lagi. Sulit untuknya melupakan Nathan.


" Oke. Tapi apakah kamu yakin menikah denganku?"


" Jika kamu tanyakan hal itu lagi. Aku akan mengubah keputusanku." Ancam Senja tak suka dengan pertanyaan Reza.


" Baiklah." Reza mengangkat kedua tangannya dan Senja tersenyum melihat itu. " Aku pulang dulu. Jika ada apa- apa hubungi aku."


" Iya. Hati- hati di jalan." Senja menatap kepergian Reza hingga mobil pria itu menghilang pada kegelapan.


Senja menarik nafas panjang. Pertanyaan Reza kembali mengusik hatinya. Apakah keputusannya sudah tepat tanpa harus mendengarkan penjelasan Nathan. Tetapi apapun alasannya tetap tidak membenarkan perbuatan Nathan. Selalu seperti itulah Senja meyakinkan hatinya untuk tidak menerima Nathan lagi di hidupnya.


Kenapa dia selalu berkaitan dengan Nathan. Lelaki yang pertama kali menyentuh hatinya sangat dalam. Pria yang selalu lembut tutur katanya juga sangat santun dalam sikapnya. Kenapa dia sampai berbuat yang sedemikian rupa pada wanita itu. Apakah kecantikan serta kemolekan tubuhnya begitu menggoda. Senja kembali mengacak rambutnya secara kasar. Semua pertanyaan dan praduga itu selalu mengusiknya. Entah akan sampai kapan.

__ADS_1


__ADS_2