
Lalu lintas ibukota yang tak pernah sepi. Meskipun ini adalah hari libur. Entah mau kemana orang- orang ini keluar secara bersamaan hingga membuat jalanan ibukota macet. Nathan melajukan kendaraannya dengan sangat perlahan. Senja terlihat sedikit bosan. Karena pergerakan kendaraan mereka yang sangat lambat.
" Nath. Itu kaya Virni deh." Tunjuk Senja pada perempuan dengan baju lusuh sedang duduk di trotoar berwajah lesu.
Nathan melihat sekilas dan kembali menatap jalan di depannya.
" Berhenti dulu, Nath." Pinta Senja agar Nathan menepikan kendaraannya.
" Biarkan saja." Ucap Nathan cuek.
" Kasihan dia. Mungkin dia kelaparan." Ujar Senja dengan wajah memelas.
Nathan menarik nafasnya tidak tega melihat wajah sendu istrinya. " Aku mohon, Senja. Aku tidak ingin perempuan itu kembali mengusik hubungan kita." Nathan tetap menolak.
" Tapi..
" Tolong kali ini kamu ikuti perkataanku!" Ucap Nathan mempertegas kalimatnya.
" Aku hanya ingin memberinya sedikit uang sayang." Senja masih mencoba membujuk.
" Apa kamu lupa apa yang dia lakukan padaku?!" Nathan mendebat.
" Kamu masih mengingatnya?" Senja balik menatap Nathan kesal.
" Jelas aku ingat. Aku tidak suka dia melakukan itu!" Ucap Nathan tegas.
" Apa kamu menyukainya?"
Nathan menginjak pedal rem mendadak hingga memancing klakson dari kendaraan dibelakangnya. Nathan menatap Senja kesal. Dan kembali melajukan kendaraannya kembali.
Tak mengerti lagi apa yang ada dipikiran Senja saat ini. Kenapa dia selalu membela Virni dan sekarang dia seperti menuduh jika Nathan menyukai Virni.
Nathan mengemudikan kendaraannya tanpa sepatah katapun walaupun berkali- kali Senja menudingnya suka saat dicium Virni saat itu. Bahkan wanita yang pernah mengganggu dalam hidup mereka juga ikut di ungkit oleh Senja.
Nathan membanting pintu mobilnya kasar ketika mereka sampai. Tak ada lagi adegan Nathan membukakan pintu untuk Senja. Dengan wajah kesal dan cuek. Nathan masuk begitu saja ke dalam rumahnya meninggalkan Senja yang menatapnya marah dari dalam mobil.
Nathan meletakkan ponselnya pada meja rias dan juga melepaskan kemeja yang dia kenakan.
'Brak!'
Senja menatap Nathan dengan wajah penuh amarah. Yusuf yang berada dalam gendongan Senja menangis karena terkejut mendengar suara pintu di banting oleh Senja.
Nathan segera mengambil Yusuf dari Senja dan membawanya keluar kamar.
__ADS_1
" Aku mau bicara, Nathan!" Bentak Senja dan mengejar Nathan yang membawa Yusuf ke ruang tengah.
" Bi. Aku titip Yusuf sebentar." Nathan memberikan Yusuf pada Bi Sumi yang tadi sedang merapikan ruang keluarga.
Nathan segera beralih menatap istrinya lekat dan tanpa bicara apapun dia kembali ke kamarnya di susul oleh Senja. Nathan duduk pada tepi kasur dan menatap Senja yang menatapnya dengan tatapan intimidasi.
" Apa yang mau kamu bicarakan?" Nathan berusaha mengendalikan emosinya.
" Apa kamu tidak mendengarkan ucapanku ketika di mobil?" Senja berbalik dengan suara meninggi.
Nathan menarik nafasnya dalam. " Aku tidak punya perasaan apapun pada siapapun. Hanya padamu aku curahkan semua rasa itu, Senja." Ucap Nathan lembut tapi penuh dengan penegasan dalam kalimatnya.
" Bagaimana dengan Sintia? Kamu pernah tidur dengannya." Tuding Senja lagi merasa tidak puas.
Nathan berdecak kesal. " Aku terpaksa, Senja."
" Tidak ada yang namanya terpaksa jika sudah pernah tidur bersama." Sanggah Senja cepat.
" Terserah kamu mau bilang apa. yang jelas. Apapun yang aku katakan sekarang. akan kamu bantah semuanya." Nathan mulai kesal.
" Akhirnya kamu mengakuinya bukan?! Lantas kenapa kamu tetap menikahi aku?!" Omel Senja lagi.
Nathan mengusap wajahnya kasar. Tak mengerti lagi menjelaskan pada istrinya yang entah kenapa secara tiba- tiba menudingnya seolah Nathan telah mengkhianati cinta mereka.
" Istighfar kamu!" Bentak Nathan dan meninggalkan Senja yang masih menatapnya marah.
" Jangan ikuti emosimu, Nath." Ujar Bu Fitri ketika melihat putranya akan keluar. " Kasihan anak- anak kalian."
" Aku harus menenangkan diri, Bu. Senja sudah keterlaluan kali ini." Ucap Nathan dan mengecup punggung tangan Bu Fitri juga pipi Yusuf yang kini berada dalam gendongan ibunya.
" Tidak baik keluar rumah jika kalian masih bertengkar."
" Tapi Bu."
" Ikuti ucapan ibu nak. Demi keutuhan keluarga kalian." Bujuk Bu Fitri kembali.
Nathan yang merasa ucapan Ibunya benar memutuskan duduk di tepi kolam renang. Di celupkan kedua kakinya ke dalam kolam dan digoyang- goyangkannya.
Senja keluar dari kamarnya dengan membawa tas besar. Dia meletakkan tas itu dekat pintu depan. Dan segera berlari ke atas menuju kamar Gio. Gio yang sejak tadi sedang asik mewarnai gambarnya terkejut melihat Senja memasukkan barang- barangnya ke dalam sebuah tas besar.
" Kita mau kemana, Ma?" Tanya Gio polos dan berinisiatif membantu Senja merapikan barang- barang ke dalam tas.
" Kita tinggal lagi di rumah mama yang dulu." Ujar Senja cepat dan menggandeng Gio.
__ADS_1
" Senja pamit, Bu." Senja langsung mengambil Yusuf dari gendongan Bu Fitri.
" Mau kemana, Senja?" Tanya Bu Fitri cemas.
" Aku mau pulang. Nathan mempermainkan aku!" Ujar Senja sedih.
" Jangan mengambil keputusan dalam keadaan marah." Bu Fitri mencoba menahan Senja.
" Terlalu banyak wanita yang ada di sekitar Nathan, Bu. Aku tidak sanggup lagi." Ujar Senja dengan derai air mata. Tubuhnya berguncang karena isak tangisnya.
Bu Fitri segera memeluk menantunya dan mengelus punggung Senja dengan lembut. Dibimbingnya Senja agar duduk di sofa. Perlahan tangis Senja sedikit mereda. Bu Fitri memberikan segelas air mineral pada Senja.
" Jangan mengambil keputusan saat marah." Ujar Bu Fitri dengan nada lembut. " Ibu akui, memang ada banyak wanita yang menginginkan Nathan menjadi pendamping mereka. Tapi yang ibu tau. Cuma kamu wanita yang diinginkan Nathan menjadi pendampingnya." Ujar Bu Fitri.
Senja menatap wajah renta Bu Fitri yang sorot matanya seolah memutar kembali bagaimana perjuangan anaknya saat belum menikah dengan Senja. Melewati banyak cobaan. Bahkan ketika hendak menikah dengan Senja dan peristiwa naas menimpa Senja. Nathan yang begitu tulus mencintai Senja. Menerima segala keadaan Senja. Hingga akhirnya takdir berkata lain dan mengharuskan Nathan memilih menikah dengan sahabatnya, Ayuna.
Kematian Ayuna yang begitu tiba- tiba membuat Nathan terpuruk. Namun, kondisi ibunya yang sakit saat itu tidak bisa membuatnya terus terpuruk. Nathan tidak pernah bisa terlihat rapuh. Banyak alasan yang selalu memaksanya untuk tetap kuat dan tegar. Banyak peristiwa yang Senja lewatkan selama menjauh dari kehidupan Nathan. Hingga takdir membawa mereka kembali bersatu. Cinta yang sempat terkubur jauh. Begitu cepat muncul dipermukaan ketika sang pemilik hati kembali.
Senja menyeka air matanya. Ada banyak cerita yang tidak dia ketahui tentang Nathan. Cerita Bu Fitri membuatnya terpaku dan menyalahkan dirinya karena meragukan cinta suaminya.
" Ibu berkata seperti ini bukan karena Nathan anak ibu, Senja. Ibu hanya ingin kamu tau. Tidak mudah untuk Nathan melewati semuanya." Ucap Bu Fitri dan berharap mereka bisa saling memahami.
" Iya, Bu. Aku ngerti." Ucap Senja dan kembali membawa tas besarnya ke dalam kamar.
" Gio ama nenek ya. Biar nenek bantu merapikan barang- barang Gio." Ujar Bu Fitri beralih pada Gio yang sejak tadi duduk di ruang makan sambil menatap Ibu dan neneknya berbicara.
Nathan meregangkan tubuhnya yang terasa pegal karena tertidur pada kursi kayu yang ada di tepi kolam. Semilir angin seolah meninabobokannya. hingga tanpa terasa Nathan bisa tertidur. Cukup lama rupanya dia tertidur dalam posisi duduk. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Sudah satu jam lebih dia tidur. Akhirnya Nathan kembali ke dalam kamar bermaksud ingin menunaikan solat ashar.
" Sayang." Senja langsung berhambur memeluk Nathan yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Nathan sedikit terkejut namun dia segera membalas pelukan istrinya.
" Maafkan aku." Ucap Senja yang masih membenamkan wajahnya pada dada Nathan.
" Aku selalu memaafkan kamu. "
" Kamu dari mana?" Senja melerai pelukannya.
" Tidur di tepi kolam." Jawab Nathan dengan nada datar.
Senja sedikit terperangah tak percaya. Tapi ya mau bagaimana lagi. Itulah Nathan yang jika mengantuk dimanapun dia pasti bisa tidur nyenyak.
" Kita lagi berantem. Kamu masih bisa tidur siang ya." Ujar Senja sebal.
__ADS_1
" Maaf." Nathan menggaruk belakang kepalanya dengan wajah polos. " Aku solat dulu ya. Udah sore." Ujar Nathan dan segera berlari ke kamar mandi.