
Pukul Delapan malam, Nathan sudah kembali ke rumah. Raut wajahnya masih terlihat sama saat dia meninggalkan rumah sore tadi. Tak ada ucapan apapun atau senyuman saja tidak ada.
" Kamu bertengkar dengan Senja?" Bu Fitri menegur Nathan yang sejak tadi memasang wajah masam.
" Aku lelah, Bu." ujar Nathan datar dan masuk ke kamarnya.
Di acuhkan Senja yang menatapnya tajam.
" Kenapa kamu menciumnya?" Tanya Senja. Air mata sudah kembali menggenang.
Nathan tak menggubris pertanyaan Senja dan tetap asik mengganti pakaiannya.
" Jawab Nathan! Kenapa kamu menciumnya?" Senja meninggikan suaranya. " Dia sahabatku. Aku memintanya untuk menghiburnya. Kenapa kamu menciumnya?" Maki Senja.
Nathan menarik nafas dalam berusaha mengatur emosinya. " Apa kamu lihat aku menikmatinya?" Nathan tetap melunakkan suaranya.
" Kenapa kamu menciumnya?"
" Aku hanya mengikuti perintahmu, Senja. Dia cukup terhibur bukan dengan ciumanku?!" Nathan menyunggingkan senyum yang meremehkan.
" Dia bukan perempuan seperti itu, Nathan." Bentak Senja lagi.
" Aku tidak mau berdebat." Ujar Nathan dan mengambil selimut dan bantalnya untuk tidur di luar.
Nathan merebahkan tubuhnya pada sofa yang ada di ruang keluarga. Bu Fitri hanya menarik nafas panjang melihat pertengkaran anak dan menantunya di balik pintu.
" Kembali ke kamar, Nathan!" Senja mengejar Nathan ke ruang keluarga.
" Aku mau sendiri, Senja!" Ucap Nathan mempertahankan posisinya.
" Jangan buatku marah, Nathan Ferdinand." Pekik Senja marah.
Nathan menatap Senja tajam tak suka Senja berteriak di luar kamar mereka. Bu Fitri yang sejak tadi hanya mengintip di balik pintu segera membuka pintu kamarnya dan hal yang sama dilakukan Virni.
Dengan wajah kesal Nathan mendorong kursi roda Senja kembali ke kamar mereka. Tanpa bicara apapun. Nathan menggendong tubuh Senja ke kasur.
" Istirahatlah." Ujar Nathan dingin.
" Kamu mau kemana?"
" Tolong biarkan aku sendiri malam ini." Ujar Nathan datar dan keluar kamarnya meninggalkan Senja yang menangis tersedu-sedu.
Mata Nathan yang kering enggan terpejam dan hanya duduk bersandar sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
" Minum dulu, Nath." Virni menyuguhkan secangkir coklat panas pada Nathan.
Nathan diam tak bergeming.
Virni duduk di sofa kecil yang ada di samping sofa panjang yang ditempati Nathan.
" Seharusnya kamu tidak menciumku tadi." Ujar Virni membuka pembicaraan. Nathan tetap tidak bergeming.
Virni menarik nafas panjang dan memandangi wajah Nathan yang terus tertunduk melihat layar ponselnya.
" Senja pasti salah paham." Ujar Virni lagi.
Nathan menatap Virni tajam dan meletakkan ponselnya di meja. " Bukankah ini yang kamu inginkan?" Tanya Nathan tajam.
" Aku tidak menginginkan kamu dan Senja bertengkar.
" Lantas apa? Menginginkan aku menaruh perhatian lebih kepadamu? Atau menjalin hubungan di belakang Senja?" Nathan kembali menuding.
Virni langsung tertunduk dan kembali memasang wajah sedihnya. " Aku tidak serendah itu, Nathan."
" Oh ya? Maaf jika aku salah. Tapi bagaimana dengan kejadian di rumah sakit saat kamu diam- diam ingin menciumku? Saat aku menggendongmu ke kamar. Kamu sengaja menarik tubuhku? Atau apa ada hal lain lagi yang sudah kamu rencanakan?" Cecar Natah pada Virni.
" Kamu jahat sekali, Nathan." Virni terisak.
" kenapa semua lelaki jahat padaku." Virni kembali terisak. Tangisnya semakin kencang.
" Ada apa, Nath? Kenapa Virni menangis?" Tanya Bu Fitri.
" Ibu masuk saja. Maaf jika tangisan wanita ini membuat ibu terusik." Sahut Nathan dingin.
" Jangan seperti itu, Nath. Ingat pesan dari ayahmu." Bu Fitri mengingatkan.
" Aku mohon ibu masuk saja." Desak Nathan lagi. Bu Fitri hanya menarik nafas panjang dan kembali ke kamarnya.
Nathan beralih menatap Virni. " Aku tidak akan membiarkan siapapun memintaku untuk menghiburmu lagi." Ujar Nathan tajam.
Virni tak mampu berkata- kata lagi menerima ucapan Nathan yang sangat menikam jantungnya. Harga dirinya benar- benar jatuh.
" Kembalilah ke kamarmu. Dan jauhi aku." Ucap Nathan tajam dan membaringkan tubuhnya di sofa menutup seluruh tubuhnya.
Virni semakin kesal dengan tingkah Nathan yang mulai menunjukkan keangkuhan di depannya. Virni menarik selimut Nathan dan menarik tangan Nathan hingga menyentuh area sensitifnya.
" Jangan Nathan!" Pekik Virni dan seketika menarik baju Nathan hingga robek juga merobek lengan bajunya.
__ADS_1
" Apa- apaan kamu?!" Bentak Nathan kesal dan berdiri di hadapan Virni yang menangis sesenggukan di lantai.
Senja dan Bu Fitri yang memang belum tertidur langsung keluar kamar. Melihat Virni dengan rambut dan baju yang acak- acakan dan melihat Nathan berdiri dengan wajah marah.
" Astagfirullah. Apa yang kamu lakukan, Nath?!" Pekik Bu Fitri merasa terpukul.
" Tega kamu, Nath." ucap Senja dan membanting pintu kamarnya.
" Apa ibu juga percaya?" Tanya Nathan menatap wajah ibunya yang memandangnya dengan kecewa.
" Kamu harus bertanggung jawab, Nath." Desak Bu Fitri pada Nathan.
" Argh!" Nathan yang kesal mengambil ponsel, dompet serta kunci mobilnya. Dia langsung keluar dari rumahnya.
Bu Fitri menghampiri Virni yang sejak tadi menangis sesenggukan. " Maafkan perbuatan Nathan, Vir." Ujar Bu Fitri dan membantu Virni duduk di sofa.
" Aku bukan wanita murahan, Bu." Virni menangis sesenggukan.
Bu Fitri mengelus lembut punggung Virni. Dengan wajah sembab. Senja keluar dari kamarnya menghampiri Virni yang masih terisak.
" Maafkan suamiku, Vir." Ujar Senja.
" Aku merasa direndahkan."
" Aku akan memintanya bertanggung jawab."
" Dengan apa? Jika kamu mau memintanya untuk membayarku. Apa bedanya aku dengan p*l*cur di luar sana."
Senja menarik nafas panjang. " Aku akan memintanya menikahimu."
******
Nathan mengucek matanya ketika matahari menerpa wajahnya. Tubuhnya yang lelah membuatnya tertidur begitu saja di kamar hotel untuk menenangkan diri. Dirinya masih tidak menyangka dengan kejadian semalam. Apakah seharusnya sejak awal dia mengalah pada Senja. Nathan kembali menarik nafas panjang berharap semuanya sudah kembali baik- baik saja.
Nathan mengambil ponselnya dan terlihat ada pesan disana.
Pulanglah. Mari kita bicarakan pernikahanmu dengan Virni.
Nathan kembali menarik nafas. Bukan hanya ibunya yang mempercayai perempuan itu. Bahkan istrinya memintanya untuk menikahi wanita itu. Nathan yang memang hanya memesan kamar untuk satu malam saja segera chek out dan kembali menuju rumahnya.
Senja, Virni dan Bu Fitri mengikuti arah Nathan berjalan yang dengan cuek melewati mereka begitu saja. Enggan menyapa tak seperti biasa.
Senja segera menghampiri suaminya yang tengah mengganti bajunya yang robek semalam. Dadanya juga ada bekas cakaran dari Virni masih menggores merah.
__ADS_1
" Jika kamu mendesakku untuk menikahi sahabatmu. Sebaiknya setelah kamu melahirkan. Kita berpisah." Ujar Nathan tanpa melihat ke arah Senja.