Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
67


__ADS_3

" Maaf." Ujar Nathan dan memeluk istrinya erat.


Senja menangis tersedu. Sikap Nathan tadi secara tidak langsung mengingatkan Senja pada peristiwa yang memilukan.


" Maafkan aku, Senja." Ucap Nathan lagi.


" Apa yang terjadi di luar sana?" Tanya Senja berusaha mengendalikan perasaannya yang kembali terkoyak.


" Apa aku menyakitimu?" Tanya Nathan lembut. Dia sangat menyayangi istrinya.


" Tidak. Tapi sedikit mengingatkan aku pada kejadian itu." Jawab Senja kembali air matanya menggenang.


Nathan kembali meminta maaf dan mengecup kedua pipi Senja juga punggung tangan Senja. " Maafkan aku sayang."


" Iya. Apa ada yang berusaha menjebakmu?" Tanya Senja dengan menatap Nathan lekat.


Nathan menarik nafas dalam. " Saat perjalanan pulang. Friska meminta bertemu denganku di kantornya saat itu juga. Dia bilang ada masalah yang mendesak." Nathan memulai ceritanya. " Awalnya aku menolak karena tubuhku terasa sangat lelah. Dia tetap memaksa. Aku pikir mungkin memang ada masalah yang benar- benar mendesak antara kerjasama kita. Jadi aku pergi menemuinya. Dia menyuguhkan secangkir teh hangat. Aku meminumnya. dan..."


" Apa kamu juga melakukan itu pada Friska?" Cecar Senja.


" Tidak sayang. Aku menahan sebisa mungkin. Yang ada di kepala aku hanya kamu tempat aku melepaskan semuanya. Itulah sebabnya sesampainya aku di rumah. Aku sudah sangat tidak tahan. Maaf jika aku kasar." Ucap Nathan dengan nada penuh penyesalan.


Senja menatap Nathan dengan senyuman. Dia senang karena suaminya menahan gejolak yang ada setelah diberi obat perangsang oleh Friska. Rencana perempuan ular itu gagal. Senja memeluk erat suaminya. " Terima kasih sudah menjaga semuanya." Ujar Senja lembut. " Sekarang mandilah. Aku akan menyiapkan makan malam untukmu." Ujar Senja dan melepaskan pelukannya.


Nathan tersenyum dan mematuhi perintah istrinya. Senja kembali tersenyum membayangkan wajah kesal Friska saat ini. Apa yang dia bayangkan. Ternyata gagal karena Nathan bukanlah lelaki yang dengan mudahnya dia rayu seperti itu.


*****


Friska menendang kesal kaki meja di ruangannya. Dona yang hanya diam memperhatikan tingkah Friska yang sudah sejak tadi mengomel tidak jelas.


" Kalo masih mau marah- marah gak jelas. Aku keluar dulu." Ucap Dona. Malas sekali pagi- pagi begini sudah melihat orang marah-


marah.


Friska mendengus kesal. Dia duduk di hadapan Dona dengan wajah kesalnya.


" Apa kamu tidak ada ide lain untuk mendapatkan Nathan?" Tanya Friska dengan nada kesal.


Dona terperangah mendengar ucapan Friska. Jadi sejak tadi dia kesal karena Nathan. Apa yang terjadi? Bukankah kemarin mereka tidak bertemu.

__ADS_1


" Lupakanlah Fris. Dia suami teman kita." Ucap Dona kembali mengingatkan.


" Semakin aku ingat. Semakin ingin aku mendapatkannya." Sahut Friska cepat.


Dona hanya menggelengkan kepalanya. Entah apa yang terjadi dengan sahabatnya itu. Cinta atau obsesi yang kini sedang menguasai diri Friska.


' Tok Tok Tok'


" Masuk." Seru Friska dengan nada jengkel.


" Senja!" Seru Friska terkejut melihat Senja muncul di kantornya dengan senyum manisnya.


" Hai Fris, Hai Dona." Sapa Senja dengan senyum lebar. Lalu dia duduk santai di samping Dona.


Friska menatap Senja tidak percaya. Kedatangan Senja yang tiba- tiba ke kantornya membuatnya penuh tanya. Apalagi Senja muncul dengan rona bahagia.


" Ada perlu apa, Senja? Tidak biasanya kamu ke kantorku." Tanya Friska menutupi kegugupannya.


Senja tersenyum mendengar pertanyaan Friska dan menatapnya lekat. Senja menyilangkan kakinya bersikap sesantai mungkin. " Aku mau ucapkan terima kasih padamu." Ujar Senja.


Friska kembali menatap Senja tidak mengerti. " Un.. Untuk apa?" Alis Friska bertautan.


Dona yang mendengar hal itu menatap Senja tidak percaya dan beralih menatap Friska tajam.


" A.. A... Apa maksudmu? Aku tidak mengerti." Friska mencoba mengelak.


Raut wajah Senja tidak sesumringah seperti saat dia baru saja masuk. Kini wajah Senja seperti sedang mengintimidasi Friska.


" Aku senang karena suamiku tidak tergoda pada tubuhmu semalam. Dia tetap memilih pulang untuk melepaskan semuanya pada istrinya. Yang membuatku marah adalah kenapa kamu mencoba menjebak suamiku? Apa segitu inginnya kamu tidur dengan suamiku? Apa serendah itu harga dirimu? Yang perlu kamu ingat Friska. Nathan itu suamiku! Milikku! Jika kamu ingin merebutnya dariku. Lewati aku! Jangan memakai cara yang sangat kotor!" Ucap Senja tegas sambil terus menatap Friska tajam.


" Satu lagi. Bersiaplah kerjasama kamu dengan suamiku akan batal!" Ancam Senja dan segera meninggalkan ruangan Friska.


Friska yang sejak tadi berdiri mematung tanpa bisa membela dirinya. Kini tubuhnya lemas dan terduduk di sofanya. Wajahnya berubah pucat pasi.


" Kali ini kamu keterlaluan Fris. Aku kecewa sama kamu!" Dona menambahkan dan pergi meninggalkan Friska seorang diri.


Dona menghampiri Senja yang berjalan menuju pintu lobby. " Senja." Panggil Dona menghentikan langkah Senja.


Senja menoleh dan tersenyum ke arah Dona. Dia berdiri menunggu Dona.

__ADS_1


" Ada apa, Don?"


" Benarkah yang kamu ucapkan tadi?" Tanya Dona penasaran. Senja mengangguk.


" Lalu bagaimana dengan suamimu? Maaf bukan aku mematai. Tapi aku berharap dia bisa lolos dari jebakan Friska." Dona berusaha menjelaskan agar Senja tidak salah paham.


Senja tersenyum. " Suamiku menahannya sampai dia berada di rumah." Jawab Senja santai.


" Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Pantas saja sejak tadi dia marah- marah tidak jelas. Jadi karena itu." Dona baru paham kenapa sikap Friska aneh sejak pagi.


" Suamiku bukanlah seperti pria diluar sana, Don. Aku bersyukur bisa memiliki suami seperti dia. Bukan karena ketampanannya. Yang membuatku bersyukur karena sifat dan sikapnya." Ujar Senja dengan senyum yang terus mengembang.


" Aku senang jika kamu bahagia, Senja. Kamu pantas untuk mendapatkannya. Sepertinya aku mulai tidak betah bekerja dengan Friska."


" Lalu kamu mau kerja dimana?" Tanya Senja.


" Istirahat di rumah mengurus suami dan anak sepertinya seru juga. Kalau aku sudah bosan di rumah aku akan memintamu untuk merekomendasikan aku pada suamimu." Gurau Dona.


Senja tertawa renyah. " Jika kamu butuh bantuan. Hubungi aku saja." Ujar Senja.


" Baiklah. Kamu yang menawarkan ya." Ujar Dona.


" Iya." Ucap Senja di iringi tawanya.


" Baiklah. Aku harus kembali bekerja. Menyelesaikan pekerjaan di hari terakhirku."


" Oke. Aku pulang dulu." Senja pamit.


Dona melambaikan tangannya ketika Senja berjalan menuju mobilnya yang sudah terparkir manis di depan lobby.


" Kamu bersekongkol dengan Senja?" Sergah Friska pada Dona yang baru saja akan menuju lift. Tiba- tiba saja dihadang Friska.


" Aku tidak bersekongkol. Aku hanya mendukung Senja kali ini. Aku tidak suka dengan caramu untuk mendapatkan lelaki." Seru Dona tegas dan pergi meninggalkan Friska.


Friska yang kesal menghentakkan kakinya dan segera menyusul Dona menuju lift. " Aku akan memecatmu." Ancam Friska pada Dona. Walaupun di dalam lift sedang banyak orang.


Dona tersenyum tipis. " Terima kasih. Aku tidak harus menyelesaikan pekerjaanku hari ini." Sahut Dona santai.


" Aku tidak akan membayar pesangonmu!" Ancam Friska lagi yang tidak peduli jika semua pasang mata yang berada di dalam lift itu melirik ke arah mereka.

__ADS_1


" Aku tidak peduli. Rencananya tadi aku ingin mengundurkan diri dan menyelesaikan pekerjaanku hari ini. Tetapi ternyata kamu mempermudah semuanya. Silahkan kerjakan semua pekerjaanku hari ini. Aku hanya mengambil barang- barangku saja." Ujar Dona dan segera keluar dari lift karena pintu lift baru saja terbuka pada lantai yang dia tuju.


__ADS_2